
Mamah Maurin bersama Habibi datang ke kediaman Papah Regar seperti yang sudah di rencanakan sebelum nya karena hari ini kedua keluarga itu akan membicarakan tentang hubungan antara Wulan dan Habibi yang berencana akan bertunangan dan akan segera melangsungkan pernikahan setelah kedua nya sama sama lulus kuliah...
"Jadi semua sudah di putuskan oleh anak anak, dan pertunangan nya akan di laksanakan satu minggu setelah ini.." ucap Papah Regar setelah sama sama setuju. Semua yang hadir di acara pertemuan keluarga itu pun mengangguk setuju atas keputusan yang telah di sepakati oleh kedua belah pihak.
"Selamat ya dek, Kakak doakan kalian selalu bahagai.." ucap Arka yang duduk di sebelah Habibi juga Farhan dan berhadapan dengan Wulan serta Risa, Ziyan sendiri sedang bermain bersama dengan Bibi.
"Makasih Kak, Wulan mohon doa dari kalian ya!" ujar Wulan memeluk Risa yang duduk di sebelah kanannya sedangkan sebelah kiri ada Syakira yang ternyata di undang juga sebab atas bantuan dari Rangga pula lah Wulan bisa sehat seperti saat ini.
Rangga dan Regar tersenyum menatap kebahagiaan yang terpancar dari wajah orang orang yang mereka sayangi, begitupun dengan Maurin, Hans dan juga istri dari Hans yang ikut hadir ke acara itu atas permintaan Maurin langsung.
"Kalau begitu kami permisi, dan semua persiapan pertunangan nya akan saya juga Asisten saya yang akan mengurus kita akan kembali bertemu tepat di acara pertunangan anak anak kita nanti.." ucap Maurin mengulurkan tangannya pada Regar selaku Papah dari Wulan.
Regar menyambut uluran tangan dari Maurin dan tersenyum tipis. "Ya, kalau memang seperti itu maka terimakasih banyak dan sampai jumpa di hari yang berbahagia satu minggu lagi.." jawab Regar. Maurin hanya mengangguk dan tersenyum membalas senyum tipis dari Regar beberapa detik me it berikutnya tangan kedua nya terlepas.
Maurin beranjak dari tempat nya di ikuti oleh Habibi, Paman Hans dan istri begitupun dari belah pihak perempuan, mereka semua ikut berdiri.
"Kami permisi, Assalamualaikum.." ujar Maurin.
"Waalaikumsalam.." jawab semua keluarfa dari Wulan yang ada di sana.
Wulan dan Habibi hanya diam saja sejak tadi dan mereka hanya mendengarkan percakapan antara orang tua tentang kelangsungan kisah cinta mereka, namun persetujuan dari kedua pemuda pemudi itu sangat di perlukan hingga Wulan dan Habibi hanya akan menjawab jika mereka di tanya kan sesuatu yang penting saja laku akan kembali diam sambil terus menatap satu sam lain.
"Cukup dulu tatap tatapannya, nanti kalau sudah sah terserah kalian lah mau tatapan sampai kapan saja..." goda Farhan menyenggol lengan Habibi.
Habibi dan Wulan sama sama merasa malu akan godaan dari Farhan, bahkan Wulan sampai memanyunkan bibirnya menatap tajam pada Kakak iparnya. Semua orang tertawa renyah melihat tingkah malu malu dati kedua orang yang sedang kasmaran inj.
__ADS_1
"Mas, jangan gitu kasihan Wulan.." tegur Risa menatap suami nya sambil kedua tangannya mengusap lengan adik nya yang mengangguk kecil menyetujui perkataan sang Kakak perempuan nya.
"Ya, sayang..." jawab Farhan tak lagi berniat menggoda adik iparnya karena takut jika nanti tak di beri jatah malam...
"Hahaha,, ternyata Kak Farhan suami takut istri ya!" cecar Wulan menatap Kakak iparnya, sekarang gantian diri nya yang mengolok suami dari Kakk nya itu, salah sendiri sudah mancing anak singa...
Farhan mendelik kan mata nya menatap Wulan yanga malah semakin menahan tawanya. "Bukan takut, taoi menghargai istri.." bantah Farhan memutar bola matanya menatap ke arah lain.
Wulan tersenyum miring mendengar jawaban dari Farhan, padahal jelas jelas tadi itu sangat terlihat jika Kakak ipar nya itu memang takut akan tatapan yang di berikan Risa Kakaknya.
"Ah, kalo maling ngaku kan penjara penuh ya... hahaha..." Wulan semakin gencar menggida Farhan apa lagi seletah melihat wajah kesal Kakak ipar nya itu semakin membuat jiwa kejahilan serta kenakalan Wulan kembali bangkit padahal saat ini di sana maaih ada keluarfa Habibi yang tentu saja melihat pertengkaran antara Kakak dan adik ipar itu.
"Wulaaaann, kau-" Farhan menggantung ucapannya saat melihat Risa memelototkan mata ke arah Farhan, pria satu anak itu tak lagi mampu berkutik dan sekarang memilih diak dengan memendam rasa jengah dan kesal pada adik ipar nya itu.
Wulan memerlebar senyum smirk nya, ia sudah menang sekarang karena Kakak nya Risa tentu saja berpihak pada nya. Wulan menjulurkan lidah nya ke arah Farhan yang membuka mata nya lebar melihat tingkah konyol adik ipar nya itu, semakin jengkel saja ia pada Wulan. Namun, berbeda dengan Farhan yang terlihat jengkel pada gadis belia itu, justru seluruh keluarga Habibi malah tersenyum dan sangat menyukai gadis yang saat ini berada di belakan punggung Risa sambil terus mengolok Farhan, mereka semua sangat terhibur akan tingkah lucu Wulan begitupun dengan Habibi yang semakin mencintai gadisnya.
"Ya, tentu saja karena itu Mamah merestui kalian..." sahut Mamah Maurin yang tak sengaja mendengar gumaman Habibi yang tentu saja kaget dan segera menoleh ke arah Mamahnya.
Mamah tersenyum karena tahu jika anak nya sedng memelrhatikan diri nya. "Mamah juga sudah jatuh cinta pada Wulan sejak pandangan pertama, jadi tentu saja Mamah akan merestui kalian berdua..." ucap Mamah yang mengerti akan tatapan dari anak nya.
Habibi tersenyum mendengar perkataan Mamah Maurin, ia mengangguk kemudian kembali beralih menatap Wulan yang sudah berdiri seperti semula meski pun masih ada sisa tawa di bibir nya saat melihat wajah kesal Farhan. "Dia memang gadis yang ceria, juga baik karena itulah Habibi sangat menyukai nya.." ujar Habibi pelan.
Mamah mengangguk kecil ia juga masih menatap Wulan. "Benar, Mamah pasti akan selalu mendukung kalian berdua dan jangan lepaskan gadis itu karena Mamah hanya ingin dia yang menjadi menantu Mamah.." ujar Mamah juga pelan bahkan sedikit berdempetan ke telinga Habibi.
Habibi tersenyum tipis mendengar perkataan Mamah yang menurutkan sedikit agak memaksa, walau begitu ia bahagia karena Mamah nya sangat menyukai gadis pilihannya bahkan mau mendukung nya penuh. "Makasih Mah..." ujar Habibi tulus, menatap Mamah Maurin yang juga menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Sama sama, tapi Mamah harap kamu harus mempertahan kan calon mantu Mamah dan menjaga nya dengan baik!" ucap Mamah semakin berbisik. Habibi hanya mengangguk penuh keyakinan, ia semakin memperlebar senyuman nya. kedua nya saling tersenyum kemudian beralih menatap Wulan yang sudah tak lagi berniat menggoda Kakak ipar nya setelah sadar jika di sana masih ada keluarga Habibi.
"Maafkan putri kami, dia masih sangat polos dan terkadang memang sangat suka menggoda Kakak ipar nya.." ucap Papah Regar merasa tak enak akan sikap anak gadis nya.
Di luar ekspektasi, leluarga Habibi justru malah ikut tertawa akan tingkah Wulan dan mereka sama sekali tak marah karena merasa terhibur. "Kau beruntung Tuan Regar, memiliki putri seperti Nak Wulan yang ceria dan penuh tawa tanpa kepalsuan, jika dia putri ku tentu saja aku akan sangat merasa bahagia dan beruntung.." jawab Hans di sela tawa nya.
"Benar Tuan, sayang kami rak memiliki putri daj hanya punya satu putra itu pun berada jauh dari kami, karena itu saya sangat menyangi Habibi dan sangat bahagia saat dia memutuskan ingin menikah dengan putri anda yang ternyata sangat menggemaskan sekali.." sahut Istri Hans tak kalah senang, ia sampai mencubit pelan pipi chaby Wulan yang sudah tersenyum malu karena di puji oleh keluarga Habibi.
"Syukur kalau begitu, saya senang mendengar nya.." ucap Papah Regar lega, ia tak menyangka jika keluarga Habibi begitu baik menerima anak nya.
"Kalau begi kqmi permisi Tuan Regar, Tuan Rangga dan semua nya.." pamit Maurin menatap keluarga Wulan bergantian dan giliran Wulan sedikit agak lama dengan senyum yang sangat bahagia.
"Tante pamit sayang, kamu harus bersiap untuk menjadi menantu Tante nanti.." ujar Mamah Maurin memeluk Wulan.
Wulan mengangguk juga tetsenyum bahagia karena ternyata Mamah Habibi sangat baik dan mau menerima diri nya. "Ya, makasih Tante..." jawab Wulan membalas pelukan Mamah Maurin.
Setelah berpamitqn, keluarga Maurin pun pulang dengan satu mobil. Maurin dan Habibi duduk di belakang sedangkan Hans duduk di depan dan di dampingi istri tercinta nya tentu saja.
Sudah di pastikan jika pertunangan antara Wulan juga Habibi satu minggu setelah hari pertemuan ini.
Lanjut up....
Akan kah semua rencana bisa berjalan dengan lancar? dan mungkinkah Habibi juga Wulan bisa melewati masa masa sulit setelah mereka memutuskan untuk bertunanga?
Makasih orang baik....
__ADS_1
😊🙏🙏