
"Kapan loe mau ke rumah?" tanya Wulan saat mereka sudah berada di mobil Habibi.
"Nanti gue ngomong dulu sama Nyokap soal itu, dan loe tunggu aja kabar dari gue. Ok!" jawab Habibi tersenyum tipis sedikit melirik Wulan yang juga melihat ke arahnya.
"Umm, gue tunggu kabar dari loe secepatnya.." Wulan ikut tersenyum malu.
Mobil Habibi sampai di depan gerbang rumah Wulan dan pemuda itu segera turun untuk membukakan pintu mobil gadis nya. "Silahkan Tuan Putri ku.." ucap Habibi setelah ia membuka pintu mobil dan meletekan aebelah tangannya di dada kemudian sedikit menunduk.
Wulan tersenyum, bahkan ia sampai tertawa kecil melihat tingkah Habibi. "Makasih..." ujar Wulan menatap lembut pada Habibi yang tersenyum.
"Mau mampir?" tanya Wulan setelah ia keluar dari dalam mobil dan Habibi yang sudah menutup kembali pintu mobil nya.
Habibi menggeleng kan kepalanya dan tersenyum tipis. "Sekarang gak, soalnya gue mau cepet cepet ketemu Nyokap. buat bahas soal kita." jawab Habibi mencubit hidung Wulan pelan.
"Hmm, Bi jangan di tarik entar gue jadi pinokio.." rengek Wulan memukul lengan Habibi pelan. Kedua nya saling tatap dan beberapa detik berikutnya saling tertawa kecil.
"Gue masuk ya!" ucap Wulan setelah puas bercengkrama dengan Habibi.
"Ya, sampai ketemu sayang..." jawab Habibi di sertai godaan.
Wajah Wulan seketika memerah bak tomat kematangan, gadis itu segeta mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Loe nih ah...." ucap Wulan malu berusaha menyembunyikan wajah merah nya.
Habibi terkekeh geli melihat sikap Wulan yang berubah malu malu padanya. "Biasa nya juga loe biasa aja kalo gue panggil sayang! kok sekarang jadi malu sih!" Habibi semakin menggoda gadisnya, ia merasa sangat lucu melihat Wulan yang malu malu tapi mau...
"Beda lah, udah ah sana balik gue mau masuk.." ucap Wulan khirnya tak ingin lagi di goda oleh Habibi dan semakin membuat diri nya malu. Wulan mendorong tubuh Habibi menuju tempat kemudi dan membukakan pintu mobil untuk pemuda itu lalu mendorong nya kembali hingga Hbibi masuk ke dalam sana.
"Loe ngusir gue nih cerita nya?" tanya Habibi dengan kedua alis di tarik ke atas menatao Wulan yang masih berdiri di samping nya.
"Terserah loe lah..." jawab Wulan kemudian ia menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya padahal Habibi belum menghidupkan mobilnya.
Habibi menggeleng kecil, ia membuka kaca jendela hingga wajah Wulan kembali terlihat. "Love you Lan..." ujar Habibi memberikan kis nya dengan tangan yang ia tempelkan di bibir lalu di letakan di bibir gadis itu.
Wulan semakin merasa malu akan keromantisan Habibi yang tak pernah ia duga. "Bi...." ucap Wulan kembali mengalihkan pandangannya karena semakin malu. "Dah sana balik.." ucap Wulan ia berbalik dan kembali ke depan gerbang yang sudah di buka oleh penjaga rumahnya.
Habibi melmbaikan tangannya begitu pun Wulan, pemuda itu kembali melajukan kendaraannya menuju kantor Mamahnya karena ia yakin jika saat ini wanita paruh baya itu maaih berada di kantor dan akan kembali malam hari atau bahkan tak pulang sama sekali.
Butuh waktu sekitar Sejam lebih untuk sampai di kantor Mamah nya dan ia segeta memakirkan mobilnya di tempat yang sudah dis sediakan. Habibi segera naik ke lantai atas menuju ruang CEO lewat lift khusus CEO.
"Mah..." sapa Habibi saat ia sudah berada di hadapan Mamahnya yang terlihat sangat sibuk dengan berkas berkas di hadapannya.
__ADS_1
"Loh Bi, kamu di sini Nak?" tanya Mamah nya lembut, ia segera menghentikan kegiatannya membuka lembaran kertas dan segera menutup berkas berkas itu lalu menyingkirkan nya sedikit ke pinggir, ia menatap anaknya yang sudah duduk di hadapannya kini.
"Ada apa?" tanya nya heran karena tak biasa putra nya datang ke kantor.
"Ada yang mau Habibi bicarakan sama Mamah." jawab Habibi serius.
"Hmm, kita duduk di sana Nak biar lebih nyaman.." ajak Mamah nya menuju sofa lalu duduk di sana dengan nyaman, Habibi pun melakukan hal yang sama. Mereka duduk berhadapan dan saling memandang.
"Mah, Habibi sudah yakin jika Habibi akan segera melamar Wulan dan Habibi harap Mamah bisa menemani Bibi ke rumah Wulan. minggu depan.." ujar Habibi segera menyampaikan keinginannya pada sang Mamah yang tentu saja terkejut karena tak menyangka jika akan secepat ini putra semata wayang nya akan memutuskan menikah.
"Kamu yakin Nak! kalian masih sangat muda!" tanya Mamah ragu dan tak meyakini keputusan putra nya.
"Habibi dan Wulan sudah sama sama takin Mah, lagian kami gak langsung menikah tapi lamaran lalu tunangan lebih dulu baru nanti setelah kami lulus kuliah baru lah kami akan menikah..." jawab Habibi semakin serius dan tanpa ada rasa keraguan di hati juga ucapannya.
Mamah mengangguk pelan menatap intens anaknya dan ia sama sekali tak melihat ada keraguan di mata sang putra. Mamah menghembuskan nafasnya pelan, ia memejam kan matanya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Baiklah Nak, Mamah akan menemani kamu untuk menemui keluarga gadis itu dan melamar nya untuk mu.." jawab Mamah akhirnya tak lagi bisa menolak keinginan anaknya, karena tak ingin jika Habibi kembali terluka akan sikapnya.
"Thank's Mah, Habibi pulang dulu kalo gitu, Mamah jangan terlalu keras dan istirahat yang cukup.." ucap Habibi berpamitan sekaligus memberikan perhatian kecil pada sang Mamah yang selama ini selalu sibuk bekerja tanpa ada waktu untuk dirinya sejak perceraian Mamah juga Papah membuat pemuda itu kian jauh dari kedua orang tuanya dan lebih dekat dengan Bi Kokom pembantu sekaligus yang menjaga nya selama ini.
"Ya, makasih sayang.." jawab Mamah.
Habibi mengangguk kecil kemudian ia berdiri dari tempatnya. "Bibi pulang Mah, jangan pulang terlalu malam.." ucap Bibi kembali mengingatkan sang Mamah yang hanya mengangguk dengan senyum hangat juga terharu akan sikap putranya yang semakin dewasa dan mau memaafkan kesalahannya yang selama ini selalu mengabaikan putra satu satu nya.
Habibi kembali mengangguk, ia berbalik dan segera keluar dari ruangan sang Mamah menuju parkiran di mana mobilnya berada.
"Hufff syukurlah Mamah langsung setuju dengan keputusanku...." gumam Habibi saat ia sudah berada di dalam mobil, senyum kecil terpaut di bibir nya pemuda itu sekarang bisa bernafas lega.
Habibi segera melajukan kendaraannya kembali menuju ke kediaman mereka. Sepanjang perjalanan Habibi terus tersenyum, hatinya sedang berbunga bunga saat ini hingga tanpa sadar ada mobil yang terus mengikuti nya dan tepat di persimpangan mobil itu menabrak mobil Habibi hingga Habibi yang terkejut menabrak pembatas jalan, untuk saja saat itu tak terlalu ramai hingga tak membuat Habibi terluka parah.
"Arkhhhh, shhhhht.." eingis Habibi memegang keningnya yang terluka hmdan mengeluarkan darah, juga tangannya yang terluka karena terkena pecahan kaca. Orang yang menabrak nya dari belakang sudah kabur saat pemuda itu baru saja menabrak pembatas jalan, para pengemudi lain yang melihat kecelakaan Hbibi pun segera membantu pemuda itu keluar dari mobil yang sudah mengekuarkan asap di depan.
"Adek gak papa?" tanya salah seorang pria paruh baya yang juga membantu Habibi keluar dan membawanya menjauh dari mobil nya.
"Gak papa Pak, terimakasih.." jawab Habibi masih memegng kening nya yang masih mengeluarkan darah juga tangannya yang terluka cukup dalam..
"Sebaiknya kamu ke rumaj sakit Nak, ayok biar Bapak antar.." tawar pria paruh baya itu lagi sekli lagi menuntun Habibi untuk menuju mobilnya di bantu dengan orang orang yang juga membantu diri nya sebelumnya .
"Makasih Pak, maaf merepotkan Bapak dan yang lain.." ucap Habibi tulus, wajahnya mulai pucat sebab darah terus mengalir dari kening juga tangannya yang memang terluka cukup parah.
__ADS_1
Habibi segera di bawak ke rumaj sakit, sebelumnya ia pun sudah mengabari Mamah nya dan sudah menuju ke rumah sakit di mana ia di rawat.
"Makasih Pak atas bantuannya.." ujar Mamah Habibi pada pria paruh baya juga orang orang yang sudah membantu Habibi dan membawa anak nya ke rumah sakit hingga bisa mendapatkan penanganan dari Dokter.
"Sama sama Buk, syukur Nak Habibi bisa menghindari kecelakaan dan memilig menabrak oembatas jalan setelah seseorang menabrak mobil nya dari arah belakang, namun sayang kami tak bisa menangkap nya karena keburu kabur.." jawab pria paruh baya yang ternyata seirqng Rt di tempat tak jauh dari tempat Habibi mengalami kecelakaan.
"Di tabrak!" ulang Mamah masih tak yakin dengan pendengarannya.
"Benar Buk, seperti nya orang itu memang sengaja menabrak mobil anak Ibuk dari belakang karena saya lihat sendiri kalo mobil itu terus mengikuti mobil anak Ibuk.." jawab salah seorang pria yang mungkin seusia dengan pak Rt yang juga membantu Habibi
Mamah semakin merasa cemas, setahu nya mereka tak punya musuh lalu siapa yang sudah berniat ingin mencelakai putranya? Mamah kian takut dan fikirannha semakin kemana mana.
"Baik Buk, kalau begitu kami semua permisi dan semoga Nak Habibi bisa segeta pulih.." ucap Pak Rt ramah berpamitan begitu lun yang lainnya mengikuti Pak Rt.
"Sekali lagi terima kasih ya Bapak Bapak semua..." ujar Mamah sedikit menundukkan wajahnya.
Pak Rt juga Bapak Bapak yang lain segera keluar dari rumah sakit setelah merwka pamit pulang.
Mamah segera masuk ke ruangan anaknya dan melihat Habibi yang duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan kepala yang di perban begitupun tangannya. "Mah.." panggil Habibi pelan menatap wajah Mamahnya yang terlihat cemas dan takut.
"Mah..." ulang Habibi kembali memanggil Mamahnya yang hanya diam saja.
"Hmmm..." jawab Mamah sedikit kaget menatap anaknya
"Mamah kenapa? mikirin orang yang nabrak Habibi!" tanya Habibi yang seperti nya tahu akan fikiran Mamahnya.
Mamah sedikit mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan sang anak yang tepat sekali. "Ya Nak, merwka bilang jika orang itu memang sengaja menabrak mobil kamu Nak! Mamah jadi sangat takut.." jawab Mamah mengutarakan rasa takut, cemas dan khawatirnya pada sang putra.
Habibi yang mengerti perasaan takut dan khawatir sang Mamah oun segera menggenggan tangan Mamah dan menatap lembut ke arah wanita paruh baya yang telah melahirkannya.
"Mamah gak usah khawatir, mungkin emang nasib Bibi aja kena tabrak kayak tadi. Lagian, Habibi bisa jaga diri kok jadi Mamah tenang aja ya!" ucap Habibi mencoba menenangkan perasaan Mamah.
Mamah mengangguk pelan ia mencoba mempercayai anak nya. "Ya, Mamah percaya sama Bibi.." jawab Mamah membalas genggaman tangan Habibi, mereka saling melempar senyum hangat.
'Siapa yang ingin mencelakai gue, sampai nekat nabrak mobil gue dari belakang?' batin Habibi bermonolog memikirkan kejadian yang baru saja ia alami dan hampir merenggut nyawanya.
Siapakah orang yang sudah nabrak Bibi ya? Yok, pantengin terus kisah mereka, dan Author bakalan fokus sama kisa mereka dulu ya...
Menurut kalian kisah Arka sama Kalisa lanjut di sini apa buat kisah baru aja ya? yok yang punya sarang boleh banget loh!!!!
__ADS_1
Makasih orang baik....
😊🙏🙏