
Hari berganti, Bulanpun terlewati dan sekarang sudah masuk bulan ke tujuh kehamilan Syakira.
"Awww, shhhttt..." ringis Syakira saat ia merasakan sakit di perutnya, ya selama kehamilannya yang semakin membesar, Syakira kian merasakan sakit di bagian perutnya apalagi semenjak Dokter memfonis jika di rahimnya ada tumor saat kehamilannya yang masuk ke 4 bulan.
"Akhh, Ya Allah... Sakit..." Syakira semakin meringis saat rasa sakirnya kian mendera. Syakira jatuh terduduk di dalam kamar yang sepi karena Rangga yang sedang berada di bawah untuk sarapan pagi bersama Arka.
"Ma-sss.." ia memanggil suaminya dengan suara lirih, meski ia tahu itu tak kan berhasil. Syakira berusaha bangkit dengan berpegang di dinding kamar menuhu pintu.
"Akhh..." rasa sakit kian menjadi, bahkan darah sudah mengalir di balik kedua paha hingga menetes ke bagian kakinya.
"Mas..." lirihnya lagi sambil terus berusaha berjalan ke arah pintu yang sudah dekat. Ia segera membuka pintu dan saat pintu terbuka Rangga sudah berdiri di hadapannya.
"Sayang..." pekik Rangga terkejut saat melihat istrinya yang sudah kesakitan dan akan jatuh, untung dengan sigap ia menabgkap Syakira hingga berada di dalam pelukannya.
"Mas, sakit..." Syakira semakin meringis kesakitan air mtapun sydah mengalir deras di matanya.
Memang sejak ia di fonis jika di rahimnya ada tumor, Syakira di haruskan menggugurkan kandungannya hanya saja Syakira menolak karena dia merasa mampu dan tak akan pernah membunuh anaknya sendiri. Rangga dan Arka hanya mampu memberikan dukungan baginya.
"Kita ke rumah sakit sekarang! kamu bertahan sayang!" ucap Rangga panik, ia segera menggendong Syakura yang terus neringis kesakitan.
"Pah, Bunda!" Arka yang melihat Bundanya sakitpun ikut panik ia berjalan mengikuti Rangga yang menuju ke arah mobilnya dan segera memasukkan istrinya ke dalam mobil sedang ia duduk di samping Syakira.
"Ke rumah sakit Ton.." perintah Rangga pada supirnya, yang segera melajukan kendaraan itu menuju rumah sakit.
"Bunda..." lirih Arka yang duduk di depan ia terus meboleh ke arah Bundanya yang hanya bisa terpejam merasakan rasa sakit di perutnya, sesekali Syakira terdengar meringis dan mengeratkan peganganannya pada Rangga yang senantiasa memeluknya.
"Sayang..." lirih Rangga, sungguh ia tak pernah berharap lebih saat Dokter memfonis penyakit Syakira, dan menyetujui jika anaknya harus di gugurkan karena ia tak ingin jika istrinya harus menderita seperti saat ini, namun Syakira tetap bersikeras untuk mempertahankan anak mereka.
"Mas.. Akhhhh.." Rasa sakitnya mulai terasa lagi, Rangga dengan sigap mengeratkan pelukannya dan mengelus perut Syakira, hingga mobil yang mereka naiki berhenti tepat di depan rumah sakit.
Rangga segera membawa istrinya ke ruang UGD, Arka terus mengikuti langkah Rangga dan menggenggam sebelah tabgan Syakira untuk sekedar memberikan kekuatan bagi Bundanya.
"Bunda, bertahan Arka mohon..." lirih Arka, remaja itu sangat takut saat melihat Bundanya yang merasa kesakitan juga darah segar yang terus mengalir di kakinya.
"Dokter istri saya, tolong!" pinta Rangga saat ia dan Arka di suruh keluar karena Dokter dan suster yabg akan memeriksanya.
"Kami akan melakukan yang terbaik Pak!" ucap Dokter, ia segera masuk dan mulai menangani Syakira yang hampir tak sadarkan diri dengan wajah yang kian memucat.
Hampir satu jam sudah, tapi Dokter ataupun suster yang menangani Syakira tak kunjung keluar membuat Rabgga dan Arka yang menunggu di depan menjadi gusar dan semakin khawatir.
Rangga duduk di kursi tunggu sedang Arka yang terus saja mondar mandir di depan pintu UGD di mana Bundanya sedang di rawat. Tak lama, Dokter keluar dengan wajah muram karena ia sudah memprediksi ini sebelumnya karena itulah ia menyarankan agar Syakira menggugurkan kandungannya saat itu.
"Dokter, bagaiaman keadaan istri saya?" tanya Rangga, ia merasa cemas saat melihat wajah Dokter yang baru keluar. Arkapun tak kalah cemasnya bahkan sejak tadi ia sudah menangis.
"Keadaan Bu Syakira saat ini sangat tidak baik, dan kami harus melakukan oprasi secar secepatnya. Hanya!" Dokter menggantung ucapannya, ia tertunduk sesaat menghela nagmfas panjang dan melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Kami tak yakin bisa menyelamatkan keduanya, jadi Anda harus memilih antara Ibu atau Anak Anda!" Seketika tubuh Rangga ambruk ke kursi, sudah sangat jauh dan ia akhirnya harus di hadapkan memilih antara anak juga istrinya yang saat ini sedang sama sama berjuang di dalam sana. Air mata Rangga jatuh seketika, wajahnya pucat bukan karena sakit tapi karena ia sangat takut dan sedih.
"Pah..." lirih Arka mendekati Papahnya, ia duduk bersimbah di bawah kaki Rangga yang masih menangis dalam diam dengan wajah tertunduk.
"Tolong Bunda Pah!" lirih Arka, kini ia meletakkan kepalnya di paha Rangga.
Rangga menarik nafas dalam, ia berusaha agar tetap tenang demi istri juga anaknya. Ia kembali berdiri setelah menyuruh Arka duduk di kursi.
"Selamatkan istri saya Dok!" tegas Rangga, meski setetes kemudian air matanya kembali jatuh di hadapan Dokter yang segera mengangguk kemudian undur diri untuk segera menyiapkan segalanya.
Arka sempat terkejut sebenarnya saat Rangga memilih Bundanya, ia sungguh tak menyangka dan air matanya oun semakin deras mengalir. Arka ikut berdiri dan memeluk Rangga dari belakang, ia sampai sesenggukkan.
"Makasih Pah!" ucap Arka, Rangga berbalik menatap putranya yang sangat ia sayangi seperti anaknya sendiri.
"Kita berdoa sama sama semoga Bunda selamat dan sehat ya Nak!" ujar Rangga, ia berusaha tersenyum di balik duka dan sakit yang harus ia sembunyikan.
"Ya Pah.." jawab Arka dan kembali memeluk Rangga yang juga membalas pelukan anaknya.
Dua jam lagi berlalu setelah ruang oprasi di tutup, hingga lampu di ruanga oprasi mati keluarlah Dokter yang sejak awal memang sudah menangani Syakira istrinya.
"Dokter, bagaimana keadaan Istri saya?" hanya itu yang terucap di bibir Rangga. Dokter menunjukkan senyuman tipis, meskipun masih ada raut cemas di wajahnya.
"Selamat Pak, Anak Anda selamat dan berjenis kelamin perempuan sangat cantik seperti Ibunya. Tapi kami harus membawanya ke ruang bayi karena anak Anda lahir sebelum waktunya juga tubuhnya masih sangat lemah, selama 24 jam kami akan mengawasi kondisi putri Anda." jawab Dokter panjang. Rangga bahagia karena anaknya selamat, namun sekian detik berikutnya ia kembali muram karena Dokter belum menjawab pertanyaan awalnya tentang keadaan sang istri.
"Istrinya Anda selamat, hanya saja saat ini ia masih kritis kami juga akan terus mengawasinya hingga 24 jam kedepan." jawab Dokter. lagi Rangga jatuh terduduk di kursi, ia sangat terpukul atas kondisi istri tercintanya saat ini.
"Sayang..." lirihnya, air mata kembali jatuh membasahi pipinya, Arkapun segera mendekati sang Papah dan memeluknya dari arah samping mereka berdua saling memeluk dan menangis dalam diam hanya aur mata saja yang terus berjatuhan dan sesekali terdengan suara isakkan dari Arka.
"Selamatkan istri saya Dok!" pibta Rangga tanpa menatap lawan bicaranya yang masih setia berdiri di sana.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk istri Bapak, tapi kembali lagi semua pada yang Maha Kuasa Pak.." jawab Dokter dan Rangga kembali diam.
"Saya permisi..." pamit Dokter Rangga hanya mengangguk.
"Pah, Bunda!" Arka sangat takut, ia tak ingin kehilangan Bundanya
"kita masuk Nak!" ajak Rangga dan Arka hanya mengangguk dalam diam dan isakkannya.
Rangga dan Arka membuka pintu kamar Syakira yang sudah di pindahkan ke ruang rawat. Mata mereka nanar menatap wanita yang begitu mereka cintai dan sayangi selama ini dengan segala alat medis yang melekat di tubuhnya, belum lagi wajah pucat Syakira yang terlihat sangat memilukan hati.
"Bunda.." tangis Arka semakin pecah, sungguh ia tak bisa menahannya sejak masuk dan melihat sang Bunda yang begitu memprihatinkan. Rangga mengusap punggung Arka, ia juga menangis meskipun tak samapi terisak seperti putranya.
"Papah keluar bentar!" ucap Rangga.
"Kemana Pah?" tanya Arka menatap Rangga.
__ADS_1
"Telpin Kak Maira sama Paman dan Bibi Nak, mereka juga berhak tahu kondisi Bunda.." jawab Rangga dan Arka hanya mengangguk kemufian kembali menatap wajah Bundanya sambil memenmgng erat tangan Syakira.
Rangga keluar, ia akan mengabari kekuarganya juga keluarga Syakira istrinya.
"Assalamualaikum, Rangga tumben pagi pagi nelpon Kakak! Ada apa?" tanya Maira panjang lebar, bahkan Rangga belum sempat menjawab salamnya.
"Waalaikumsalam, maaf Kak ganggu pagi pagi.." jawab Rangga dengan suara yang agak serak karena ia memang baru menangis bahkan sekarangoun sedang menahan tangisnya.
"Ngga, ada apa?" tanya Maira yang merasa jika nada duara adik iparnya berbeda.
"Syakira masuk rumah sakit Kak, sekarang masih kritis setelah Dokter melakukan oprasi secar beberapa waktu lalu." jawab Rangga, air matanya jatuh meskioun sudah ia tahan sedemikian rupa taoi tetap saja jatuh.
"Astagfirullah, ka-kamu ber-canda kan?" ucap Maira yabg kaget nya setengah mati, baru saja ia merasakan sakit saat hampur kehilangan Regar adiknya dan sekarang Syakira pula adik sepupunya yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya juga adiknya selama ini.
"Bisa ke rumah sakit Kak! Aku yakin Syakira juga butuh Kakak juga Regar di sisinya saat ini.." ucap Rangga. Maira mengangguk, walau ia tahu Rangga takkan bisa melihat anggukkannya.
"Ya, Kakak ke sana sekarang sama Regar dan Mara." jawab Maira, ia segera memutus sambungan telpinnya dan mencari Regar juga Mara yang masih berada di dalam kamar. Setelahnya mereka segera ke rumah sakit untuk melihat Syakira.
Rangga juga menghubungi Mamahnya juga Paman serta Bibi Syakira, ia juga memberitahukan kabar itu pada Risa karena ia tahu bagaimana Syakira sangat menyayangi anak dari wanita yang sudah merebut suaminya dulu dan sekarang tentu saja hanya mantan suami.
Rumah sakit sudah ramai dengan kehadiran dari keluarga Syakira juga Risa, sedangkan Mamah Rangga belum bisa hadir karena sedang berada di luar negri.
"Syakira..." lirih Maira saat ia melihat Syakira dari balik kaca kecil yang ada di pintu kamar.
"Kak..." Mara memeluk Kakak iparnya dengan sebelah tangan karena sebelahnya ia gunakan untuk menggendong anaknya juga Regar yang baru berusia lima bulan.
"Syakira dek!" lirihnya lagi menatap Mara dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi.
Regar segera mendekati sang Kakak, ia menuntun Maira menuju kursi panjang dan duduk di sana agar bisa menenangkan diri. Semua irang yabg ada di sana menangis sedih atas apa yang menimpa Syakira, mereka juga tahu akan kondisi Syakira karena itulah mereka sangat sedih.
Rangga sendiri sedang berada di ruangan bayi, namun ia tak bisa menyenyuh anaknya hanya bisa melihat dari balik kaca dan mulai mengazaninya dari sana.
"Doakan Bunda Nak, agar bisa bertahan dan kita bisa berkumpul bersama!" ucap Rangga pilu, ia mengusap usap kaca seolah olah sedang mengusap pipi anaknya. Seakan memberi respon, sang bayi tersenyum sangat cantik dan benar benar mirio Bundanya membuat hati Rangga sedikut lebih tenang saat melihat senyuman putrinya.
"Papah akan kasih kamu nama Daneen Durriyan, yang artinya Putri yang Bersinar Terang." ucap Rangga tersenyum menatap putrinya yang kembali tersenyum seolah menyukai nama yang di berikan sang Papah.
Rangga menatap lekat lekat wajah anaknya, benar benar sangat mirip istrinya. Seny man tipis terpaut di bibirnya yang agak keluh, meski begitu air mata tak berhenti menetes sejak ia memberikan nama bagi anaknya. Ia hanya bisa berharap kepada sang Khalik agar kiranya mereka bisa kembali bersama..
Rangga kembali ke ruang rawat Syakira yang kini sudah di penuhi oleh keluarganya.
Lanjut up...
Makasih yak, dah setia selama ini....
😊🙏🙏
__ADS_1