Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Dua Hati yang Harus Berpisah


__ADS_3

Setelah hari itu, Arka dan Kalisa mulai dekat dan menjadi teman termaksud dengan sahabat-sahabat Kalisa juga Habibi selaku sahabat Arka. Mereka berlima sering menghabiskan waktu bersama.


"Gak terasa ya, udah mau lulus aja!" ucap Kalisa yang langsung di anggukkan kepala oleh teman-teman nya yang lain, sementara Arka menatap Kalisa yang memandang ke halaman sekolah.


"Iya, ya. Perasaan baru kemaren deh kita bisa akrab kek gini." ujar Melda memandangi teman sepermainannya satu persatu.


"Ahh, aku mau sama kalian terusss..." ucap Sasya yang langsung memeluk Melda juga Habibi yang kebetulan mereka duduk bersebelahan, sedangkan Kalisa berada di sebelah kanan Melda dan Arka yang berdiri sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana sambil terus curi-curi pandang ke arah Kalisa yang tersenyum. Namun, sesaat kemudian mata Arka dan Kalisa bertemu, mereka saling pandang dalam diam entah apa yang mereka fikirkan.


"Ka, lo mau lanjut dimana?" tanya Habibi membuyarkan lamunan Arka dan Kalisa. Mereka segera mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Apa?" ucap Arka yang tak mendengar pertanyaan Habibi.


"Haish, makanya jangan kebanyakan melamun bro.." ujar Habibi memukul lengan Arka yang hanya tersenyum


"Lo, lulus ini mau lanjut ke mana?" ulang Habibi


"SMA favorit in sya Allah." jawab Arka, membuat semua yang ada di sana menoleh ke arahnya tak terkecuali Kalisa.


"Serius lo?" tanya Habibi meyakinkan pendengarannya.


"Ya, kenapa?" ucap Arka heran dengan ekspresi teman-temannya


"Lo, lo tahu kan itu sekolah favorit! lo pasti tahu kalo yang bisa masuk situ hanya orang-orang yang genius." jelas Habibi.


"Entahlah, tapi ku rasa sekolah yang sudah merekomendasikan, jadi mungkin aku akan masuk sana." jawab Arka semakin membuat mereka ber4 melotot sempurna. Ya, mereka baru sadar jika Arka teman mereka satu ini memang murid genius dan tentu saja layak masuk ke sekolah itu.


"Gue lupa, lo kan salah satu anak genius dari sekolah kita." ujar Habibi memasang wajah sedih, pasalnya ia akan berpisah dengan Arka, alasannya tentu kalian semua tahu lah...


"Kalo lo Kalisa?" tanya Melda menatap Kalisa yang sejak tadi hanya diam, serempak yang lainpun ikut memandang ke arah Kalisa yang membuang wajahnya ke arah lain.


"Gue, mungkin ikut nyokap pindah ke luar negri." jawab Kalisa menghindari tatapan keempat temannya.


"Apa?" ujar Sasya beranjak dari duduk nya kemudian pindah ke sebelah Kalisa.


"Lo, lo bercanda kan Kal?" tanya Sasya saat ia sudah di sebelah Kalisa


"Gue, serius." jawab Kalisa mencoba tersenyum. Melda dan Sasyapun segera memeluk sahabat mereka yang mungkin hampir 10 tahun bersama.


"Ahhh,, lo jahat banget mau ninggalin kita." ucap Melda merasa sedih karena akan kehilangan sosok Kalisa yang cerewet tapi juga baik dan perhatian.


"Gue gak lama kok, ya palingan sekitar 10 tahun lah." ucap Kalisa mencoba mencairkan suasana, namun bukannya cair justru ia membuat kedua sahabatnya menangis.

__ADS_1


"Huaaaaaa... Kalisaaa jangan pergi.." tangis Sasya pun pecah, ia tak lagi mampu menahan air matanya membuat siswa dan siswi yang lewat atau duduk di tempat yang sama dengan merekapun melihat ke arah Sasya.


"Hei, hei, jangan gitu malu di liatin orang tahu.." bisik Kalisa sambil mengusap punggung Sasya yang mencoba menahan tangisnya hingga sesenggukkan.


"Kal, lo serius mau 10 tahun di sana?" taya Melda serius menatap Kalisa yang langsung tersenyum hangat.


"Ya gak lah, mana betah gue jauh dari kalian selama itu." jawab Kalisa menjentik kening Melda hingga sang empunya meringis.


"Aduh, sakit Kal.." rengek Melda memegang keningnya, beberapa detik iapun ikut tersenyum sambil memeluk Kalisa.


"Syukurlah..." ucap Melda. Arka dan Habibi hanya menatap ketiga sahabat di hadapan mereka, Habibi ikut tersenyum menyaksikan adegan di depannya sedang Arka, entahlah seperti nya ia mulai memiliki perasaan terhadap Kalisa si gadis imut. Arka terus memandang ke arah Kalisa yang masih berpelukan dengan Melda dan Sasya, perasaannya bercampur aduk. Arka sendiri tak memgerti, perasaan apa yang saat ini ia rasakan, ketika mendengar Kalisa akan pergi jauh hati nya serasa sakit. Arka tak bisa melepaskan pandangannya terhadap Kalisa, hingga yang di tatappun tanpa sengaja melihat Arka dan tatapan mereka kembali bertemu. Hingga Kalisa yang menyudahi tatapan mereka dengan memandang ke arah lain membuat Arka memicingkan sebelah alisnya, karena biasanya ialah yang akan mengakhiri tatapan mata mereka ketika bertemu seperti tadi, dan biasanya Kalisa akan tersenyum. Tapi kali ini terlihat berbeda, tak ada senyuman di balik wajah imut dan bibir tipis Kalisa, hanya ada raut sedih dalam pandangan Arka.


"Balik kelas yok!" ajak Kalisa pada kedua sahabatnya yang lansung mengangguk.


"Kita duluan ya.." ucap Melda pada Arka dan Habibi, kemudian mereka bertiga kembali ke kelas sambil bergandengan tangan. Arka hanya diam, ia bingung dengan sikap Kalisa yang seperti menghindari tatapannya.


"Enak ya jadi cewek!" tutur Habibi memandangi ketiga sahabat yang berjalan bergandengan tangan di hadapannya saat ini hingga tak terlihat lagi.


"Kenapa?" tanya Arka hendak masuk ke dalam kelasnya.


"Ya, enak aj. Kalo ke mana-mana bisa gitukan gandengan tangan, lah coba ko kita!" ucap Habibi menarik tangan Arka kemudian menggandeng tangannya. Arka segera menghempaskan tangannya dari Habibi.


"Nah ini, coba kalo kita pasti udah di kira G*y.." ujar Habibi memasukkan tangan nya ke dalam saku celana. Arka dan Habibipun saling pandang, dan beberapa detik mereka tersenyum hingga tertawa, membuat siswa yang ada di sana semakin menatap heran ke arah mereka berdua.


"Gila kamu.." ucap Arka mendorong punggung Habibi agar berjalan duluan menuju kelas.


"Hahaha..." Habibi masih tertawa, sambil terus berjalan dan menyejajarkan langkahnya dengan Arka yang kini hanya tersenyum.


Kelas Arka dan Kalisa memang berbeda, biasanya Kalisa dan gengnya akan datang ke kelas Arka saat jam istirahat dan mengajak mereka makan bersama di kantin sekolah. Terus berlanjut hingga beberapa tahun belakangan ini dan hari ini adalah ujian terakhir bagi mereka semua. Itu artinya setelah ini mereka akan segera lulus dan masuk SMA.


"Ka, malam ini gue nginep di rumah lo ya?" pinta Habibi saat mereka berjalan keluar gedung sekolah yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan.


"Hmm." jawab Arka, Habibi tersenyum dan terus mengikuti langkah Arka yang berjalan di sampingnya.


"Kamu duluan aja ke mobil, aku ada urusan sebentar." ucap Arka kemudian berjalan meninggalkan Habibi yang belum sempat menjawab pernyataannya barusan.


"Uh, dasar bocah.." ucap Habibj kesal, namun tetap mengikuti perintah Arka untuk menuju mobil.


"Kalisa.." panggil Arka saat mendekati Kalisa yang masih berdiri sendirian karena kedua temannya sudah lebih dulu di jemput.


Benar, saat Arka menuju mobilnya bersama Habibi, ia melihat Kalisa yang sedang sibuk dengan hpnya di pinggir jalan sendirian.

__ADS_1


"Ada yang mau aku bicarain sama kamu." ucap Arka berjalan semakin mendekat ke arah Kalisa


"Bisa bicara sebentar kan?" tanya Arka menatap Kalisa penuh harap.


"Ya, mau bicara apa Ka?" jawaban sekaligus pertanyaan ia lontarkan pada Arka.


"Arka..." panggil Kalisa saat Arka hanya diam sambil menatapnya.


"Aku suka sama kamu." ucap Arka, Kalisa terdiam tak mampu berucap.


"Aku tahu, agak telat tapi ya aku suka sama kamu." lanjut Arka


"Sejak kapan?" tanya Kalisa setelah sadar dari rasa terkejutnya.


"Entah sejak kapan, tapi saat kamu bilang kamu akan ikut pinda Mamah kamu ke luar negri, aku merasa beda." ucap Arka


"Aku juga suka sama kamu Ka, tapi..." jawab Kalisa membuat Arka tersenyum bahagia.


"Aku gak mau ngajak kamu pacaran, tapi saat kita sama-sama dewasa nanti aku sangat berharap jika kita bisa berjodoh dan aku pasti akan datang menjemput kamu untuk jadi istriku." jelas Arka


"Arka..." lirih Kalisa berkaca-kaca menatap Arka yang tersnyum lembut ke arahnya.


"Aku janji akan datang..." ucap Arka kemudian neranjak dari tempat nya dan melihat mobil mewah mendekat ke arah Kalisa yang segera masuk, namun ia sempat menoleh ke arah Arka untuk sesaat dan menatap. mata Arka dengan tatapan sedih, yang seharusnya tatapan itu adalah kebajagiaan.


("Aku harap, kita benar-benar bisa berjodoh Ka, karena aku juga sangat mencintai kamu.") batik Kalisa. kemudian masuk ke dalam mobil yang segera berjalan melewati Arka.


("Aku janji akan datang menjempit kamu Sa.") batin Arka emelihat mobil yang di naiki Kalisa melewati nya.


"Woy, lama. banget sih? ngapain!" tanya Habibi yang tiba-tiba saja muncul dari balik belakang Arka yang kaget.


"Ya, sebentar." jawab Arka kemudian berjalan berdampingan bersama Habibi menuju mobil di mana Regar sudah menunggu mereka.


Ok, ini kisah Arka dan Kalisa,, Author masih mikir juga nih, apa mereka di satuin apa gak. Pokoknya pantengin terus ya 😇


Akhirnya Arka benar-benar bisa move on dari Mara dan merelakan nya bersama dengan Regar, ya meskipun masih proses juga sih belum tahu kapan bisa bikin kisah nya Mara dan Regar.


Ok deh, makasih buat yang udah mampir baca, jangan lupa like dan komen yang mendukung ya biar author makin semangat lagi....


Makasih orang baik...


🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2