
Wulan hendak membuka matanya, namun saat di rasa matanya sialau ia kembali menutup sejenak kemudian mengerjab beberapa kali barulah i mampu membuka matanya secara sempurna.
Wulan melihat sekelilingnya, dan merasa ada yang berbeda dari tempat terakhir ia lihat saat menjalani oprasi. "Di mana ini?" gumam nya dengan suarah yang begitu kecil karena masih belum kuat.
Habibi yang berada di ruangan itu terdiam, ia melihat Wulan yang sudah sadar bahkn ia juga bisa mendengar perkataan gadis itu, namun sungguh Habibi masih syok dan juga terkejut sebab Wulan secara tiba tiba sadar di hadapannya.
"Air..." lirih Wulan menatap Hbibi yang sejak tadi hanya diam saja. Habibi tersentak kemudian ia segera mengambilkan minum di gelas yang sudah di sediakan di sana.
Habibi dengan sangat hati hati dan telaten memberikan minum pada Wulan, ia begitu bahagia namun tak bisa di utarakan dengan kata kata dan hanya bisa diam saja
"Bi..." panggil Wulan saat ia sudah kembali berbaring dan menatap Hbibi yang juga menatapnya tanpa berkedip.
"Bi..." panggil Wulan lagi karena tak ada sahutan dati Hbibi yng masih diam tak bergeming sedikitpun.
"Lan..." Habibi sontak memeluk Wulan saat ia merasa jika ini bukanlh mimpi, sebenarnya Hbibi mendengar panggilan Wulan akan tetapi ia sengaja diam agar gadis itu mengulang memanggil namanya.
"Gue seneng banget loe sadar Lan, gue takut kehilangan loe..." ucap Habibi, air mata jatih seketika dan mengenai baju Wulan.
"Loe nangis Bi?" tnya Wulan, ia mengelus punggung Hbibi yang masih memeluknya. Habibi segera mengusap air matanya, ia melepaskan pelukannya dari Wulan dan kembali menatap gadis itu dengan seksama.
"Loe nangis Bi?" ulang Wulan karena tak ada jawaban dari Habibi.
Habibi menggeleng dan tersenyum, ia menggenggam erat tangan Wulan. "Gue bahagia tahu, loe akhirnya mau bangun. Lagian loe betah banget sih tidur kayak gitu sampe gak bangun bangun!" ucap Habibi seolah kesal. Wulan tersenyum tipis ia melepas genggaman Habibi kemudian beralih ia yang menggenggam tangan pemuda itu.
"Gue juga gak mau Bi, tapi mau gimana lagi kan loe tahu sendiri kondisi gue gimana!" ucap Wulan lembut. Habibi mengangguk mengerti, ia bahkan sangat tahu bagaimana kondisi gadis itu.
"Bentar gue panggil Dokter Karina sama Arka juga Papah loe ya!" ucap Habibi, dan Wulan hanya mengangguk saja meskipun ia penasaran siapa Dokter Karina karena yang ia tahu jika sebelumnya yang merawat dirinya adalah Dokter Khalit.
Habibi setengah berlari, ia mencati ruangan Dokter Karina dan bertepatan dengan itu Dokter Karina juga Arka batu saja kembali dari luar. Habibi seger menghampiri keduanya.
"Dok, Wulan sudah sadar..." ucap Habibi dengan raut wajah begitu bahagia. Dokter Karina juga Arka terkejut, namun keduanya buru buru menuju ke ruangan Wulan meninggalkan Hbibi yang masih mengatur nafas bahkan Habibi belum selesai bicara.
"Ah elah, main tinggal tinggal aja! dasar Oma sama cucu sama sama kang ghoting...." gumam Habibi kesal, ia pun hendak kembali ke ruangan Wulan untuk melihat kondisi Wulan.
"Bi..." panggil Regar yang baru saja keluar dari kamar dan melihat Habibi mengoceh sendiri.
"Eh, Om..." Habibi berbalik dan melihat Regar yang memanggilnya
"Kamu kenapa?" tanya Regar
"Iru Om, Wulan udah sadar dan lagi di periksa sama Dokter Karina.." jawab Habibi, Regar tak kalah terkejutnya dengan Arka dan Dokter Karina bahkan tanpa terasa air matanya jatuh, dadanya berdetak begitu cepat juga mata yang melebar sempurna.
"Om..." panggil Habibi menyentuh lengan Regar pelan.
"Kita ke sana Nak!" ajak Regar tanpa menoleh pada Habibi dan melewati pemuda itu begitu saja.
__ADS_1
Habibi diam, ia mengikuti langkah Regar yang tergesa gesa menuju ruangan Wulan.
Keduanya sudah tiba di ruangan khusus Wulan dan melihat Arka yang masih menunggu di depan ruangan Wulan karena Dokter Karina masih memeriksa keadaan Wulan di dalam sana.
"Ka.." panggil Regar, sejak tadi air matanya tak bisa berhenti.
Arka menoleh dan melihat Regar yang menangis tanpa isakan dan suara. " Yah...." jawab Arka memeluk Regar, dan di balas oleh Ayahnya Regar.
"Wulan bangun Yah, Wulan bangun..." lirih Arka, ia juga menangis dalam pelukan Regar dan sama seperti Ayahnya, ia menangis tabpa isakkan dan hanya air mata saja yang terus keluar dari pelupuk mata
Hening, Ayah dan anak saling berpelukkan, sedangkan Habibi hanya diam sambil menunggu Dokter Karina keluar dari dalam sana.
Tak lama dari itu, Dokter Karina bersama Susternya keluar dengan senyuman membuat sedikit kelegaan di hati ketiganya.
"Dok..." ucap Regar, dan Dokter Karin mengangguk.
"Wulan sudah sadar dan keadaannya sekarang sangta baik karena sebelumnya Wulan juga sudah menjalani tranplantasi jantung juga serangkaian pengobatan tradisional hingga memperkecil kanker yang ada dalam tubuhnya, namun karena kankernya masih ada jadi Wulan masih harus menjalani sisa pengobatannya di sini sampai sembuh.." ucap Dokter Karina memberikan penjelasan tentang kondisi Wulan.
"Lakukan apa saja Dok, asalkan putri saya bisa sembuh kembali.." ucap Regar, ia semakin yakin dan mempercayai kemampuan Dokter Karina.
Dokter Karina tersenyum. "Baiklah, sekitar dua atau tiga hari lagi, jika kondisi Wulan semakin baik maka Wulan akan segera menjalani sisa dari pengobatannya." ucap Dokter Karina. Regar mengangguk setuju begitupun Arka dan Habibi yang sejak tadi hanya diam menyimak obrolan Regar juga Dokter Karina.
"Kami boleh masuk Dok?" tanya Regar ragu namun Dokter Karina mengangguk membuat ketiga orang itu tersenyum cerah.
Dokter Karina kembali tersenyum. "Saya permisi..." Dokter Karina bersama Susternyapun meninggalkan ketiga pemuda itu di sana namun saat baru beberapa langkah, Arka memeluknya dari belakang.
"Makasih Oma..." ucap Arka tulus. Dokter Karin berbalik dan menatap cucu sambungnya yang juga sangat ia sayangi ssperti cucunya sendiri
"Sudah tuga Oma sayang.." ucap Oma mengelus kepala Arka sayang.
"Sana, lihat adikmu dia pasti ingin bertemu dengan kamu juga..." ucap Dokter Karina dan Arka hanya mengangguk dan berjalan menuju ruangan Wulan.
"Anda sangat menyayanginya Nyonya!" ucap Susternya tersenyum ramah setelah ia melihat betapa Dokter Karina menyayangi Arka.
"Tentu saja, dia cucuku dan aku akan selalu menyayangi apapun yang menjadi milik keponakanku.." jawab Dokter Karina.
Suster hanya tersenyum saja setelah mendengar ucapan Dokter Karina, ia juga tahu betapa sayangnya Dokter Karina kepada Rangga dulu saat mereka masih berkumpul bersama karena Suster itu juga sudah mengikuti Dokter Karina sejak Rangga maaih sangat kecil. Keduanya pun segera pergi dari sana dan menuju ruangan Doktee Karina untuk membahas tentang pengobatan Wulan selanjutnya.
Di dalam ruanga Wulan, sudah berkumpul ketiga pria yang sudah menunggu hari ini di mana mereka bisa melihat Wulan membuka matanya dan tersenyum pada mereka.
"Pah..." panggil Wulan, meski maaih lemah namun masih bisa di dengar oleh ketiganya.
Regar tersenyum, ia memeluk Wulan erat. "Jangan buat Papah khawatir lagi Nak.." ucap Regar, ia melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Wulan ia juga mencium kening anak gadisnya.
"Maaf Pah, Wulan bikin Papah dan Arka khawatir.." ucap Wulan sedih.
__ADS_1
Regar kembali tersenyum dan mencium kening Wulan. "Setidaknya sekarang Wulan sudah sadar dan membuat Papah sangat bahagia Nak.." ujar Regar menggenggam tangan anaknya kuat. Wulan mengangguk pelan dan matanya beralih menatap Arka yang aejak tadi hanya diam saja memperhatikannya.
"Ka, loe gak mau gitu bilang sesuatu ke gue?" tanya Wulan menatap Arka yang tersentak kaget san segera memeluk Wulan.
"Kamu ini nakal banget dek, bikin Kakak jantungan aja..." ucap Arka tanpa melepaskan pwlukannya pada adiknya, Wulan tersenyum ia memukul pelan lengan Arka hingga pemuda itu segeta melepaskan pelukannya dan menatap adiknya yang maaih tersenyum lembut.
"Gue fikir loe seneng gue gak bangun kemaren, kan gak ada lagi yang bakal gangguin loe Ka!" jawab Wulan meledek namun Arka menjutak kening adiknya hingga gadis itu sedikit meringis sambil memegangi keningnya.
"Kakak lebih meilih kamu isengi tiap hati asalkan kamu tetap sehat dan selalu berada di sisi Kakak dek..." ucap Arka lantang dan tegas membuat Wulan terharu saja.
"Makasih, loe mau jagain gue..." lirih Wulan memegang tangan Kakaknya.
Arka tersenyum. "Apapun buat adek Kakak.." jawab Arka mengelus punggung tangan Wulan yang menggenggamnya.
"Khem, boleh gantian gak? gue juga mau ngomong sama Wulan kali!" sinir Habibi karena sejak tadi ia juga ingin bicara dengan Wulan, walaupun sebelumnya ia sudah lebih dulu bicara bahkan sampai memeluk gadis itu.
Arka mendelik menatap Habibi yang segera membuang mukanya ke arah Wulan dan berjalan mendekati gadis itu lalu duduk di kursi yang ada di sisi ranjang. Arka pun segera mundur ke samping Regar yang tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Lan..." panggil Habibi menatap. lekat Wulan, sinar kebahagiaan jelas terlihat di mata juga wajahnya.
Wulan tersenyum hangat. " Gue gak nyangka loe bakal ikut gue sampe ke sini dan mau jagain gue selama ini Bi. Makasih..." ucap Wulan ia memegang tangan Habibi karena tahu jika Habibi pasti tak akan berani memegangnya karena ada Arka di sini. Benar saja, Arka sudah melotot di sana saat tangan keduanya bertemu namun Regar menahan Arka agar tetap berada di sampingnya.
Habibi menatap tangannya sejenak dan tersenyum, ia beralih menatap wajah Wulan. "Gue akan lakuin apapun demi loe Lan, gue gak bisa jauh dati loe dan gue gak bisa hidup tanpa loe.." ucap Habibi tanpa keraguan apalagi malu, padahal di sana masih ada Arka yang menjelit menatapnya dari belakang dan Regar yang hanya bisa tersenyum geli namun juga bahagia.
Wajah Wulan memerah saat mendengar ucapan Habibi yang terlihat tulus dan jujur. "Makasih, maaf selama ini gue dah gantungin loe Bi.." ucap Wulan merasa bersalah.
Habibi menggelengkan kepalanya, ia menatap Wulan lebih dalam lagi seolah jika di sana hanya ada mereka berdua saja.
"Meskipun loe gak bales cinta gue, tapi asalkan loe selalu sehat dan selalu ada di sisi gue dan ngeliat loe bahagia itu udah cukup buat gue Lan.. " ujar Habibi tegas ia menggenggam erat tangan Wulan seolah ingin menyalurkan perasaannya pada gadis itu.
"Gue tahu Bi..." gumam Wulan juga menatao dalam manik mata Habibi.
Arka di sana mulai memans, ia tak suka jika ada yang lebih dekat dengan adiknya selain ia dan Papah Regar. "Sudah sudah..." ucap Arka membuyarkan tatapan keduanya. Habibi mendengus kesal menatap Arka yang masih di tahan oleh Regar di belakangnya. Tatapan keduanya pun bertemu dan saling melemparkan tatapan permusuhan.
Regar dan Wulan tertawa kecil melihat keduanya, dan setelahnya Arka serta Habibi sama sama membuang muka ke arah lain dengan wajah yang sama sama tak enak di pandang..
'Dasar posesif...' batin Habibi kesal karena sudah mengganggu keromantisannya bersama Wulan tadi
'Dasar pencitraan...' batin Arka kesal melihat Habibi dan Wulan yang saling tatap mengabaikan dirinya juga Regar walaupun sebenarnya ada kebahagiaan di hatinya melihat betapa besarnya cinta sahabatnya untuk adiknya dan berharap jika itu bukan sementara tapi selamanya hinga mereka halal dan tua nanti.
Lanjut lagi....
Makasih....
😊🙏🙏
__ADS_1