
Wulan sedang di periksa oleh Dokter Karina di ruangn khusus. Regar, Arka juga Habibi hanya bisa menunggu di luar dengan berbagai macam perasaan yang mereka rasakan.
"Ya Allah, tolong sembuhkan anakku.." lirih Regar menatap nanar pintu ruangan di mana anaknya sedang di periksa.
Regar tak bisa tenang, ia terus mondar mandir di depan pintu ruangan Wulan, Arka yang melihat kerisauan Ayahnya pun bangkit dari duduknya dan mendekati Regar.
"Yah.." panggil Arka, Regar segera menoleh dan melihat Arka yang tersenyum ke arahnya membuat hatinya sedikit merasa tenang.
"Duduk dulu Yah, kita serahkan semuanya sama Allah dan juga Oma.." ucap Arka, ia sudah memanggul Dokter Karina dengan sebutan Oma.
"Ya Nak.." jawab Regar mengikuti anaknya yang kembali duduk.
Satu jam berlalu, Dokter Karina dan seorang Suster keluar dari dalam ruangan Wulan dan menghampiri ketiga pria yang sedang menunggu.
"Dokter!" ucap Regar menatap Dokter Karina yang sudah beridiri di hadapannya.
"Tenang lah Tuan, putri anda masih baik baik saja dan karena kanker yang di derita anak anda masih ada maka saya akan melakukan pengobatan tradisional agar tak menyebar ke jantung yng baru saja di transplantasi." jelas Dokter Karina dengan nada tenang membuat Regar semakin mempercayai wanita di depannya ini.
"Saya serahkan pada Dokter, tolong selamatkan anak saya.." ucap Regar dengan tatapan memohonnya.
Dokter Karina tersenyum hangat untuk pertama kalinay pada Regar setelah beberapa hari mereka di sana.
"Saya akan melakukan yang terbaik bagi semua pasien saya, namun semua tetap atas kehendak yang Maha Kuasa Tuan.." ujar Dokter Karina.
"Ya, dan saya yakin Dokter Karina adalah orang yang Allah kirim untuk membantu putriku.." ucap Regar tetap meyakini jika Dokter Karina adalah penyelamat putrinya dan dikirim Allah untuk anaknya.
Dokter Karina hanya tersenyum tipis, ia tak lagi menyahuti ucapan Regar dan beralih menatap Arka yang juga terlihat cemas akan kondisi adiknya.
"Arka.." panggil Dokter Karina..
"I-iya Oma.." jawab Arka terbata sebab ia tafi melamun dan di kejutkan dengan Oma nya yang tiba tiba saja menepuk pundaknya.
"Jangan terlalu di fikirkan, adikmu baik baik saja dan Oma akan merawatnya dengan baik.." ucap Oma serius. Arka mengangguk ia percaya pada Omanya yang terkenal sebagai ahli segala penyakit itu.
__ADS_1
'Andai saja dulu Bunda bisa bertemu dengan Oma Karina, pasti Vunda dan Daneen gak perlu sampai oprasi dan Bunda harus koma.' batin Arka menatap Omanya yang sudah berlalu dari sana hingga hnya meninggalkan mereka bertiga juga seirang suster serta dua pengawal Arka dari Papah Rangga.
"Saya boleh masuk gak Sus?" tanya Regar
"Boleh Tuan, tapi hanya bergantian ya karena Nona Wulan harus banyak istirahat.." jelas Suster serius. Suster ini hampir sama seperti Dokter Karina, cuek dan dingin nmun sangat profesional.
"Terimakasih.." ucap Rangga segera masuk ke dalam ruangan Wulan.
Arka dan Habibi kembali menunggu Regar keluar dari dalam sana dan nanti akan bergantian dengan mereka.
"Nanti kamu duluan aja Bi, aku tahu kamu sangat khawatir sama Wulan.." ucap Arka tersenyum tipis menatap Habibi yang memang sejak tadi selalu merasa cemas.
"Makasih Ka, tapi gue gak papa kok kalo loe mau duluan.." jawab Habibi tak ingin egois karena tahu akan posisinya yang hanya sebagai orang yang mencintai Wulan bahkan mereka belum ada status hubungan. Sedangkan Arka, dia adalah Kakak dari wanuta yang di cintai tentu saja Arka lebih berhak darinya.
"Gak papa, setelah kamu baru aku.." ucap Arka semakin mempelebar senyumannya dan Habibi hanya bisa mengangguk.
20 menita waktu yang di berikan, Regar sudah keluar dari ruangan Wulan dengan wajah yang sedikit baik karena ia bisa melihat kemajuan putrinya yang di mana wajahnya tak lagi terlihat begitu pucat walaupun masih belum sadarkan diri atau koma.
"Ayah.." panggil Arka, dan Regar segera mendekat duduk di samping Arka.
"Bagaimana adek Yah?" tanya Arka saat Habibi sudah masuk.
"Cukup baik, Ayah merasa Dokter Karina memang hebat Nak.."ucap Regar tersenyum lega.
"Tentu saja, Oma memang sehebat itu Yah Arka yakin.." ucap Arka, Regar hanya mengangguk dan tersenyum. Keduanya kembali diam, Arka menunggu gilirannya setelah Habib dan Regar yang sedikit merasa lega atas kondisi anaknya yang mulai menunjukkan kemajuan.
Di dalam ruangan Wulan, Habibi masih terfiam hingga beberapa menit. Habibi masih memandang wajah gadisnya yang sudah tak begitu pucat, hatinya menghangat saat melihat itu dan bibirnya menunjukkan senyuman lega.
"Gue rindu loe Lan, gue harap loe bakalan segera bangun ya! gue pengen loe kasih jawaban buat gue yang udah nunggu loe selama ini.." gumam Habibi, ia menggenggam tangan Wulan pelan dan memberikan belaian lembut di sana. Habibi tak. lagi memikirkan ucapan Arka, ia hanya ingin lebih dekat dengan wanita yang ia cintai.
"Gue bakalan nungguin loe di sini sampe loe bngun Lan, dan gue janji akan selalu jagain loe.." lanjutnya, suaranya sedikit melemah dan ada getaran di nada suaranya karena Habibi sedang menahan tangisnya.
"Gue tunggu Lan." lirih Arka.
__ADS_1
"Ah! waktu gue habis jadi gue harus keluar. Nanti kalo Kakak loe masuk jngan bilang kalo gue habis pegang tangan loe ya, yang ada nanti dia marah marah ke gue.." ucap Habibi semakin mengeratkan genggamannya, ia tersenyum tipis.
"Gue keluar dulu, loe harus cepet bangun dan gue bakal nagih jawaban cinta gue ke loe.." Habibi melepaskan genggamannya dari Wulan, ia menatap dalam wajah gadisnya barulah ia keluar dengan perasaan berat.
Habibi sudah keluar, ia menunjukkan wajah sedih di hadapan Regar juga Arka yang langsung panik setelah melihat wajahnya karena mereka fikir terjadi sesuatu pada Wulan.
"Bi Wulan kenapa?" tanya Arka panik segera menghampirinya Habibi yang mengerutkan keningnya mendapati tatapan aneh dari Arka juga Regar.
"Wulan kenapa Bi? Tadi Om masuk masih baik baik aja?" tanya Regar dengan tatapan tajam mengarah pada Habibi.
Habibi menelan salivanya dengan susah payah mendapat tatapan tajam dari dua pria di hadapannya kini. "O-om Wulan baik baik aja kok.." jawab Habibi gugup.
Arka segera saja memukul lengan Habibi dengan kuat, wajahnya begitu kesal pada sahabatnya itu.
"Aduh...sakit Ka..." adu Habibi namun tak di huraukan Arka karena pemuda itu justru langsung masuk ke ruangan Wulan masih dengan wajah kesalnya.
Habibi yang masih memegang lengannya beralih menatap Regar yang juga sudah duduk kembali.
"Om, Arka kenapa sih?" tanya Habibi dengan wajah polosnya.
"Kamu tadi keluar dengan wajah kayak gitu, menurutmu apa yang Arka dan Om fikirkan!" jawab Regar tak menatap lawan bicaranya sebab ia pun masih sedikit kesal pada Habibi yang sekarang sedang berfikir keras.
"Eh! hahahahaha...." tawa Habibi menggelegar di sana membuat Regar mengalihkan pandangannya menatap pemuda di sampingnya.
"Maaf Om, aku tadi sedih soalnya Wulan belum sadar bukan karena apa apa.." gumam Habibi di sela tawanya. Regar tak menggubris dan hanya ikut tersenyum saja melihat tingkah konyol Hbibj
Arka di dalam pun sudah culup waktu dan segera keluar dari sana setelah puas berbincang sendiri dan melepas rindu pada adiknya, sebab sudah hampir tiga hari mereka di sana dan Dokter Karina melarang mereka bertiga untuk menemui Wulan.
Ketiganya pun segera kembali ke kamar masing masing karena hari yang memang sudah agak malam, cukup puas atas peningkatan dari kondisi Wulan hari ini.
Lanjut lagi...
Makasih
__ADS_1
😊🙏🙏