
Dua bulan sudah, sejak hari itu Arka tak pernah sekalipun cuek atau berdikap dingin terutama terhdapa Wulan karena ia sadar jika sebentar lagi adik nya itu akan menikah.
"Thank's Kak, loe dah mau repot repot nyiapin semua nya buat gue..." ucap Wulan bahagia, i memeluk Arka dengan penuh suka cita fan kebahagiaan.
Arka tersenyum dan membalas pelukan Wulan. "Seharusnya Kakak yng makasih dek, kamu udah sepeduli ini sama Kakak buat nemuin Kalisa walau pada akhirnya masih belum ada kabar..." jawab Arka, wajahnya sedikit berubah saat mengingat Kalisa yang tak kunjung ada kabar nya.
Wulan melepas pelukan nya, ia menatap dalam manik mata Kakak nya yang begitu ia sayangi.
"Sorry, gue belum bisa nemuin Kak Kalisa Kak, gue udah berusaha..." ujar Wulan menunduk menyesal sebab tak mampu menemukan cinta pertama Kakak ny.
Arka tersadar, ia tersenyum dan memegang kedua pundak sang adik yang masih menunduk. "Gak dek, kamu sudah banyak membantu dan sekarang waktu nya kamu bahagia biarkan takdir yang akan memprtemukan Kakakk dengan Kalisa jika memang kami berjodoh..." jawab Arka penuh keyakinan.
Wulan kembali mengangkat kepalanya dan menatap Arka yang masih setia dengan senyum nya.
"Umm, gue yakin kalian pasti bisa ketemu lagi karena gue yakin kalo, Kak Kalisa masih hidup, cuma gue bum bisa. nemuin tempat nya..." ucap Wulan penuh keyakinan dan Arka hanya mengangguk seyuju tanpa menyurutkan senyumanan nya.
"Udah malam, istirahat karena besok akan jadi hari melelahkan buat adek Kakak yang sebentar lagi akan jadi istri orang..." ujar Arka mencubit lembut pipi sang adik.
"Ummm, Kakak juga..." jawab Wulan dengan anggukan kecil.
Arka segera keluar dari kamar Wulan setelah berbincang ringan dengan sang adik, sedangkan Wulan segera istirahat karena besok akan jadi hari bersejarah dalam hidup nya.
Pagi menjelang, semua orang terlihat sibuk dengan pekerjaan masing masing. Kana dan Fatimah sedang sibuk dengan pakaian mereka dan karena kebetulan mereka menginap di sana hanya Arka melarang kedua nya untuk tidur di kamar yang sma dengan Wulan karena pemuda itu tahu jika ketiga nya bersama pasti mereka akan lembur menonton drakor sampai pagi.
Wulan sendiri sudaj bangun sebelum subuh, ia melaksanakan sholat tahajut terlebih dahulu baru lanjut sholat subuh barulah diri nya di make up ala korea sesuai keinginan nya.
"Wah, mbak nya cantik sekali..." puji perias menatap wajah cantik Wulan yang baru saja selesai di poles melalui pantulan cermin di hadapan mereka.
Wulan hanya tersenyum malu, ia pun menatap wajahnya yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Emang dasarnya cantik, mau di apain juga tetep cantik..." sahut perias satu nya juga mengangumi kecantikan Wulan.
"Terima kasih, ini semua juga berkat kerja keras kalian..." jawab Wulan tersenyum manis.
Kedua perias tersenyum dan mengangguk saja mendengar jawaban Wulan yang merendah.
Habibi dan rombongan sudah datang, kedua belah pihak sudah duduk di tempat yang telah di siapkan. Habibi terlihat gugup, namun di mata nya jelas bahagia.
Ijab kobul di laksanakan, Habibi melafalkannya dengan sekali ucap saja hingga para saksi mengatakan sah, barulah ia merasa lega begitupun dengan keluarga Wulan.
Wulan di tuntun keluar dari dalm kamar untuk menemui mempelai pria yang telah menjadi suami nya. Dengan senyuman yng terus terpaut di bibir indahnya Wulan berjalan perlahan dengan Kana dan Fatimah di samping kanan kiri.
"Maa syaa Allah..." gumam Arka dan Habibi berbarengan menatap Wulan.
Arka tersenyum bahagia melihat kebahagiaan sang adik, ia bahkan di beri kepercayaan oleh Ayah nya untuk menyambut tangan Wulan kemudian menyerahkan nya pada Habibi dan Arka dengan senang hati menerima tanggung jawab itu.
"Kak...." Wulan meneteskan air mata nya saat Arka memberikan tangan nya dan segera ia sambut.
__ADS_1
Arka tersenyum, meski di pelupuk mata nya telah membendung air mata yang masih berusaha ia tahan. Kedua nya berjalam beriringan menuju Habibi yang menunggu istri nya, bahkam Habibi pun meneteskan air mata saat melihat Wulan wanita yang ia cintai kini telah resmi menjadi istrinya.
"Jaga Wulan dengan baik, kalo sampe dia tersakiti aku yang akan kasih kamu pelajaran Bi.." ujar Arka saat ia menyerahkan tangan adik nya pada Habibi yanh segera di sambut.
"Gue gak bisa janji, tapi gue akan berusaha untuk selalu membuat Wulan bahagia Ka..." jawab Habibi yakin, sekilas ia menatap Wulan yang juga menatap nya haru lalu kembali menatap Arka.
"Aku percaya..." ucap Arka kemudian ia mundur kebelakang ke samping Bunda juga Papah Rangga.
Habibi dan Wulan saling memasang kan cincin pernikahan mereka. Setelah semua nya selesai Wulan dan Habibi di tuntun ke pelamainan yang sudah di siapkan di dalam rumah yang megah milik Regar.
"Gue bahagia banget, sekarang kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri..." ujar Habibi menggenggam erat jemari Wulan.
"Gue juga Bi, mulai hari ini hidup gue milik loe dan gue harap kita bisa jalani rumah tangga dengan penuh kebahagiaan..." ujar Wulan keduanya sama sama mengangguk dan tersenyum.
"Duh, penganten baru tatap tatapan mulu inget masih di depan umum ini..." ucap Fatimah agak keras sehingga banyak tamu yang mendengar dan ikut tersenyum.
Wulan tersipu malu, sedangkan Habibi hanya bisa tersenyum.
"Awas loe Fat.." gumam Wulan sambil menunjukkan gumpalan tangan nya dan di arahkan pada Fatimah yang bukan nya takut justru gadis itu semakin tertawa.
"Loe nih Fat, ada ada aja..." timpal Kana tak hbis fikir akan sahabat satu nya itu. Fatimah cengengesan di tegur oleh Kana yang kembali fokus pada kedua mempelai.
Papah Regar mendekati Wulan dan memeluk anak gadis nya dengan erat seolah jika ia masih belum sanggup melepas putri kecil nya itu untuk laki laki lain yang kini sudah berstatus suami anak nya.
"Papah titip Wulan ya Bi, tolong jaga anak Papah dengan baik dan jika kamu sudah tak mencintai nya maka, kembalikan dia pada Papah dengan baik baik selerti saat kamu meminta nya dengan baik.." ujar Papah Rangga sambil menahan tangisnya.
Wulan juga tamu undangan sudah berlinangan air mata saat mendengar penuturan Regar, tak menyangka jika pria itu begitu menyayangi putrinya.
Papah Regar mengangguk dan tersenyum tipis, ia menepuk pundak Habibi sebagai tanda jika ia percaya akan ucapan pemuda itu. Papah Regar pun turun dari sana setelah sekali lagi memeluk putri nya dan mengecup kening sang anak kesayangan.
"Berbahagialah Nak, jika kmu tak bahagia maka datanglah pada Papah..." ucap Regar, Wulan hanya mengangguk mengerti tanpa bisa mengatakan apapun, hanya air mata nya yang terus mengalir sebagai tanda jika ia begitu menyayangi sang Papah dan begitu terharu akan ucapan Papah nya.
Acara resepsi selesai setelah para tamu undangan memberikan ucapan selamat kemudian berangsur pulang, dan hanya meninggalkan bebetapa orang saja di sana.
"Baiklah Pak Regar, kami permisi dulu.." pamit Mamah Maurin
"Iya, hati hati..." Papah Regar mengantar besan nya sampai ke depan pintu begitu juga dengan Habibi dan Wulan.
"Jaga Wulan, jangan sampai kamu bikin menantu Mamah sedih, akan Mamah hajar kamu..." peringatan sang Mamah pada anak nya.
Wulan tersenyum. "Iya Mah, lagian mana berani Bibi buat Wulan nangis yang ada sebelum Mamah Bibi udah di hajar sama menantu Mamah ini..." jawab Habibi
"Bagus lah..." ujar Mmah Maurin tersenyum kemudian beralih pada. menantu nya.
"Kalo Bibi ngapa ngapain kamu bilng aja sama Mamah ya sayang, biar Mamah kasih prlajaran dia..." ucap Mamah Maurin sambil memegang kedua tangab Wulan.
"Iya Mah, makasih lagian Bibi gak akan berani kok..." jawab Wulan, sambil mengedipkan satu mata nya pada Habibi yang langsung bergidik ngeri.
__ADS_1
"Kalian, kompak banget..." sungut Bibi merasa terintimidasi.
Wulan dan Mamah Maurin tersenyum bersamaan. Papah Regar juga Arka yang sejak tadi berada di san hanya ikut tersenyum.
"Ka, Bunda sama Papah juga pulang dulu ya Nak.." Bunda Syakira mendekati Arka dan berniat pamit.
"Ya Bun, makasih banyak udah mau hadir.." jawab Arka, sekilas melirik ke arah Papah Regar yang juga merasakan hal yang sama.
"Sama sama Nak." ujar Syakira tersenyum
"Hati hati ya Bun, Pah, dah Danen sayng..." ujar Arka mengantar kedua orang tua nya menuju mobil sambil melambaikan tangan pada adik kecil nya.
"Dah, Kak Alka nanti besok main sama Danen ya.!" teriak Danen kecil menatap penuh harap pada sang Kakak yang beberapa bulan ini sibuk dengan urusan pernikahan Wulan.
"Hmm, besok kita main ya sayang.." jawab Arka tersenyum, tangan nya mencubit gemas pipi gembul sang adik kecil.
"Dahhhh..." lagi Danen berteriak melambaikan tangan nya pada Arka juga Wulan yang kebetulan memang sudah dekat.
"Assalamualaikum..." salam Syakira juga Rangga berbarengan.
"Waalaikumsalam...." jawab semua nya. Mobil Rangga pun menjauh dari sana kemudian di susul dengan mobil Mamah Maurin yang juga sudah mulai menjauh dari kediaman Papah Regar.
Malam itu semua orang tengah berbahagia, Kana dan Fatimah pun masih menginap di sana atas permintaan Wulan juga Papah Regar.
Malam yang melelahkan, mereka semua akhirnya masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat.
...*******...
Di tempat lain, Farry juga Safira semakin sering bertengkar. Bahkan kini usia kandungan Safira sudah semakin membesar namun nampak nya Farry sama drkali tak memperdulikan hal itu.
"Gue capek nikah sama loe, tiap hari gue menderita karena harus muntah muntah, tapi loe sama dekali gak perduli..." teriak Safira mrlampiaskan sesak di dada nya yang sudah ia pendam beberapa bulan ini
"Bukan urusan gue, lagian itu anak loe.." jawab Farry sekenan nya tanpa melihat wajah pucat Safira bahkan berat tubuhnya kian menyusut.
Safira semakin di buat kesal. "Ini juga anak loe bre**sek..." maki Safira melempar bantal ke arah Farry yang sibuk main game.
"Sia*an loe..." bentak Farry bangkit dari tempat nya kemudian keluar dari sana.
"Akhhhhhhh....." teriak Safira menjambak rambut nya kasar. Gadis itu benar benar frustasi akan per ikahan nya belum lagi ngidam yang selalu ia rasakan dan juga mual muntah yang setiap pagi melanda.
"Gue gak sanggup..." tangis Safira pecah, sungguh tangisan nya begitu pilu.
"Mah, Pah Fira mau pulang..." lirih nya, Safira duduk meringkuk di bawah tempat tidur dengan tangisan yang masih terdengar sampai satu jam lama nya.
Karena kelelahan, Safira tertidur dalam ke adaan meringkuk memeluk kedua lututunya, wajahnya kian pucat dengan mata sembab dan sedikit terlihat lingkar hitam pertanda jika ia jarang tidur.
........
__ADS_1
Lanjut up semua....
🙏🙏