Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Ada Hati yang di Jaga


__ADS_3

Berbulan-bulan berlalu, Arka kini berpisah dari teman-temannya juga pujaan hatinya yang mungkin saja sekarang berada di luar negri. Walau begitu Habibi dan Arka tak putus komunikasi, mereka masih sering bertemu atau hanya sekedar telpfonan dan watshap.


"Bunda, Arka berangkat!" ucap Arka hendak keluar rumah dan menunggu sang Bunda di depan pintu utama.


"Ya, hati-hati Nak jangan ngebut-ngebut." ujar Syakira saat di hadapan sang putra, ia agak khawatir sebenarnya melepas Arka untuk membawa motornya sendiri ke sekolah karena Syakira masih trauma akan kekadian benerapa tahun yang lalu saat Arka kecelakaan.


"Arka akan hati-hati Bun." ucap Arka mencium tangan Syakira juga pipinya. Syakira hanya mengangguk lalu tersenyum mencoba menghilangkan kekhawatirannya terhadap sang putra sematawang.


"Assalamualaikum." Arka menaiki motornya dengan gagah dan semakin terlihat tampan dan keren


"Walaikumussalam..." Syakira melihat ke arah Arka yang sudah melajukan motornya ke jalanan hingga tak terlihat di pandangan Syakira.


"Ya Allah. tolong jaga anakku." batin Syakira kemudian masuk ke dalam rumah untuk bersiap ke Cafe.


Hanya butuh setengah jam bagi Arka untuk tiba di sekolah, bahkan saat tiba pun ke adaan masih agak sepi. Arka segera menuju kelas setelah memarkirkan motornya.


"Arkaa." panggil seorang gadis cantik sambil berlari ke arahnya dengan senyuman manis yang terus saja ia tunjukkan. Mendengar namanya di panggil, Arka segera menoleh dan mendapati gadis yang sudah berdiri di sampingnya, ia hanya memutar bola matanya malas dan menambah kecepatannya berjalan.


"Arka, tunggu..." rengek gadis di sampingnya yang mulai ketinggalan dengan langkah Arka yang lebar dan cepat. Arka hanya diam dan terus berjalan tanpa memperdulikan rengekan sang gadis. ("Sial banget pagi-pagi harus ketemu nih cewek.") batin Arka.


Arka dan gadis itupun tiba di kelas, beberapa orang yang memas sudah lebih dulu datang memandang ke arah mereka, pasalnya Arka yang cuek dan dingin bisa berjalan bersama dengan gadis cantik tapi juga cerewet seperti yang sedang bersama Arka saat ini.


"Ciee, tumben bareng udah jadian ya?" tanya salah satu siswa yang juga teman sekelas Arka


"Gue sih mau aja, cuma yang di kejar malah ngejauh mulu." jawab si gadis menatap ke arah Arka yang duduk di sebelahnya. Arka sama sekali tak menggubris perkataan kedua orang di samping juga di belakangnya, ia mengeluarkan buku dan kemudian berpura-pura membaca hingga guru mapel matematika masuk dan meminta tugas sekolah di kumpulkan.


"Arka, kamu kumpulkan tugas sekolah teman-temannya." perintah guru dan langsung di anggukkan kepala oleh Arka, ia segera berdiri dan mengambil buku teman-temannya.


"Yang gak buat maju ke depan!" lanjut guru di hadapan mereka semua dengan raut wajah menyeramkan.


"Mana tugasnya?" tanya Arka saat ia sudah berada di depan gadis yang menyukainya.


"Ehehe,, lupa.." jawabnya cengengesan. Arka tak menghubris dan langsung memutar badannya menuju ke meja guru.


"Wulan gak gak ngumpul bu." ucap Arka saat menyerahkan semua buku di tangannya dan kembali ke tempatnya.


"Wulan maju kamu!" perintah guru di hadapan mereka.


"Gadis bernama Wulanpun maju dengan wajah santainya.


"Kenapa bu?" tanya nya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


"Kamu ya, anak malas gak pernah ngerjain tugas. Heran saya sama kamu, kok bisa masuk sekolah ini!" bentak nya membuat seisi kelas hampir menertawainya kecuali Arka yang menolehpun tidak apa lagi tertawa.


"Baru berapa kali bu?" jawabnya membuat guru di hadapannya tersulut emosi dan kesal, iapun menarik telinga Wulan hingga gadis itu merasa panas di telinganya.

__ADS_1


"Kamu hari ini ibu hukum membersohkan wc, dan jangan coba-coba kabur ya!" ucap guru lalu menyuruh Wulan segera pergi dari hadapannya.


"Ah elah, ibu mah.." ucapnya berbalik berjalan keluar sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Wulan melaksanakan hukumannya untuk membersihkan wc, tangan nya terus bekerja juga mulutnya yang tak berhenti ngomel.


"Awas aja gue bakalan laporin ibu Memes ke Bokap biar tahu rasa dia." ujarnya kesal.


"Ahhh, capek haus lagi." lirihnya menyeka keringat di dahinya yang sudah bercucuran sambil memegangi tenggorokannya yang terasa kering.


"Wulannn." panggil seseoranh dari balik pintu. Wulan menoleh dan melihat dua orang gadis cantik sedang memperhatikannya dengan kasihan.


"Kana, Fatimah, capek.." lirihnya.


"Kasihan, nih minum dulu pasti haus deh." ucap Kana memberikan air mineral pada Wulan dan langsung meneguknya hingga tersisa setengah.


"Tega banget sih Buk Memes hukum kamu kayak gini!" ujar Kana kesal. Wulan hanya manggut-manggut setuju dengan wajah memelas.


"Lain kali kalo ada pr di kerjain, kalo kamu gak bisa kan bisa tanya aku atau Kana." ujar Fatimah yang sudah membantu Wulan membersihkan sisanya hingga selesai.


"Ah, kalian katak gak kenal aku aja." jawabnya tersenyum


"Dah selesai nih, balik ke kelas yok." ajak Fatimah setelah menyelesaikan hukuman untuk Wulan.


"Gue?" tanya Kana menunjuk dirinya sendiri.


"Lo juga." jawab Wulan, merekapun keluar dari sana dan langsung menuju kelas karena jam pelajaran berikutnya akan segera di mulai.


"Wulan.." panghil Bu Memes guru matematika yang memberikan hukuman padanya barusan.


"Udah selesai bu.." jawab Wulan, dan berlalu pergi tanpa menyapa guru di hadapannya membuat Bu Memes menjadi semakin geram namun tak mampu lagi berkata-kata dengan sifat dan sikap anak dari pemilik sekolah ini.


"Permisi bu..." ucap Fatimah sopan kemudian mengejar Wulan dan Kana yang sudah jauh meninggalkannya.


"Gak sopan banget kayak gitu." tutur Fatimah memarahi kedua sahabatnya.


"Habisnya gue kesel di hukum kek tadi." jawab Wulan dengan wajah kesal.


"Lan, walau gimanapun kan emang kamu yang salah, dan lagi Bu Memes guru kita." nasehat Fatimah.


"Lihat aja nanti, gue pasti bakalan ngelaporin dia ke Bokap biar di pecat sekalian." ujar nya menatap Fatimah yang hnya geleng-geleng saja


"Serah kamulah." jawab Fatimah pasrah.


Ketihmga orang itupun masuk ke dalam kelas dan melanjutkan belajar dengan santay, karena rata-rata para guru takut untuk menghukum Wulan selaku anak dari pemilik sekolah meskipun ia tak pernah mengerjakan tugas sekolah ataupun belajar dengan baik di kelas, kecuali Bu Memes.

__ADS_1


Lonceng berbunyi pertandan jam pelajaran telah berakhir dan waktunya pulang. Para siswa mulai berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing dan menuju ke parkiran.


"Arka.." panggil Wulan mendekat ke arah Arka yang masih membereskan buku-bukunya.


"Arkaaaa..." panggilnya lagi karena tak ada jawaban dari orang di hadapannya. Arka menengok ke arahnya sebentar kemudian berdiri dan hendak pergi


"Ghe nebeng lo ya?" tanyanya yang langsung di tolak oleh Arka.


"Gak." jawab Arka berlalu pergi meninggalkan Wulan yang terdiam di tempat menataoa punggung Arka yang semakin tak terlihat


"Ishhh, lihat aja gue pasti bakalan dapetin lo." ucapnya kesal menghentakan kakinya beberapa kali dan keluar menuju mobil mewah jemputannya.


"Non, hari ini Papah dan Mamah pulang." ucap Supirnya sambil memperhatikan wajah Wulan dari kaca depan.


"Hmm..." jawab Wulan, ia masih kesal dengan sikap Arka yang dingin padanya dan bahkan tak mempedulikannya meskipun ia sudah mencoba dan berusaha dengan berbagai cara untuk bisa dekat dengan Arka selama beberapa bulan ini, tapi tetap saja usahanya sia-sia.


("Apa sih yang kurang dari gue, sampe Arka nolak gue?") batinnya memandang ke arah Arka yang masih di parkiran seperti menunggu seseorang


"Non!" panggil supirnya lagi


"Jalan pak." perintah Wulan masih memandang ke arah Arka. Tanpa bertanya lagi, supir Wulan segera menyalakan mobil dan melajukannya menuju rumah.


"Siapa ya cewek cantik itu! apa pacarnya Arka? tapi kok kayaknya dia lebih tua dari Arka?" lirihnya setelah melihat wanita menghampiri Arka dan terlihat sangat akrab dan bercengkrama dengannya.


"Arka.." Arka menoleh dan tersenyum ramah saat melihat Mara menghampirinya.


"Kak, Mara kok tumben mau bareng!" ucap Arka tersenyum menyambut Mara


"Gak papa, pengen aja di boncengin sama adik kecil Kakak yang udah boleh bawak motor sendiri." jawabnya tersenyum setelah mengacak-acak rambut Arka yang langsung merapikannya kembali.


"Udah balik yo!" ajak Mara. Merekapun pergi dari sana menuju Cafe milik Syakira juga Rani.


Sejak Regar yang mulai mendekati Mara, Arka yang mencoba melupakan Marapun mulai memanggilnya dengan sebutan Kakak, karena setiap kali mereka bertemu pun Mara selalu memanggilnya adik kecil. Mulai saat itu ia berusaha untuk menghilangkan rasa di hatinya terhadap Mara, dan beruntungnya ia jusyru di pertemukan dengan Kalisa si gadis imut yang membuat Arka jatuh hati padanya. Namun sayang mereka justru harus di pisahkan oleh jarak dan waktu yang entah sampai kapan. Tapi justru sekarang, di saat ia sedang menjaga hati nya untuk Kalisa, Wulan datang dengan segala usahanya untuk bisa mendpatkan hati Arka.


Akankah Arka tetap bisa bertahan dengan hatinya yang ia jaga untuk Kalisa, atau mungkinkah ia akan jatuh dalam pelukan Wulan yang tak pernah berhenti mendekatinya. Dan sanggupkah Arka bertemu dengan Ayahnya yang tak pernah ia temui sebelumnya??


Pantengin terus ya.....


Makasih buat yang udah baca, jangan lupa like dan komen yang mendukung biar author makin semangat...


Buat yang nanya kapan nih Arka sama Ayah nya ketemu, in syaa Allah pasti di ketemuin kok..


Makasih orang baik...


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2