
Sebulan kemudian, Syakira juga seluruh keluarganya sedang bersiap. Mereka semua sedang sibuk di rumah Syakira.
"Arka sudah siap?" tanya Maira saat kepalanya nongol di depan pintu Arka yang ia buka sedikit.
"hmm, bentar lagi tan!" jawab Arka memperbaiki jas berwarna biru dongker selaras dengan celananya yang ia kenakan, Ia segera memakai jam tangan menambah ketampanan Arka semakin sempurna.
"Cepet ya, acara sudah mau di mulai.." Maira segera berlalu dari kamar Arka kemudian beralih ke kamar adiknya.
"Regar, buruan.." teriak Maira saat ia melewati kamar Regar adiknya. mendengar teriakkan Kakaknya, Regar segera keluar dan menuju pintu utama untuk menyambut tamu yang mulai berdatangan.
"Selamat datang, silahkan..." Regar menyambut para tamu dengan senyuman yang terus ia tunjukkan.
"Sendirian Om?" tanya Habibi yang baru tiba dan berdiri di sampin Regar yang mulai lelah.
"Berdua!" jawab Regar ketus
"Ya elah Om, jangan marah marah kan ini hari bahagia. Entar cepet tua loh, nanti Kak Mara gak mau sama Om Regar." Habibi memonyongkan bibirnya sambil melirik ke arah depan memberi isyarat jika saat ini pujaan hati Regar sudah datang bersama Mamahnya.
"Maa syaa Allah. Bidadari Syurgaku.." Regar tak lagi memperdulikan Habibi yang masih berdiri di sampingnya, bahkan ketika tamu tamu yang baru datangpun tak ia sambut karena terlalu fokus menatap Mara yang terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna biru muda lengkap dengan hijab yang menutupi mahkotanya. Terpaksalah Habibi yang harus menggantikan posisi Regar untuk menyambut para tamu dengan hati dongkol.
"Dasar ABG tua.." selonyor Bibi memandang kesal ke arah Regar yang tak perduli dengan ucapannya.
"Selamat datang Kak, Mara..." ucap Regar menyambut Rani dan Mara dengan menatapnya lembut penuh kekaguman.
"Makasih Kak.." jawab Mara tersenyum hangat ke arah Regar. Rani menatap putrinya dan Regar bergantian, kemudian menarik tangan Mara masuk ke dalam.
"Sejak kapan manggil Regar Kak! diakan Pamannya Arka?" tanya Rani saat mereka sudah melewati Regar yang masih menatap kepergian mereka berdua.
"Baru kok Mah."jawab Mara jujur. Rani tak lagi melanjutkan ucapannya setelah melihat Maira dan keluarga Syakira yang lain tengah sibuk
"Biar aku bantu Kak!" tawar Rani saat melihat Maira yang sedang mengangkat sesuatu cukup berat.
"Makasih Ran, maaf jadi ngerepotin kamu.." Maira menyerahkan sebuah kardusdi tangannya karena ia memang belum boleh mengangkat benda yang berat berat sampai kondisinya benar benar pulih.
"Sama sama Kak." jawab Rani saat ia udah menaruh kardus yang agak berat memang dan meletakannya di bawah meja kemudian menutupnya dengan kain.
"Mah Mara ke sana ya, mau nyambut tamu.." ucap Mara menunjuk arah pintu utama di mana Habibi dan Regar sedang berdiri.
"Kan udah ada Regar sama Bibi, ngapain kamu juga ke sana?" Rani tak langsung memberi izin karena ia rasa Regar dan Bibi saja sudah cukup.
"Mar, tolong bantu Regar dan Bibi menyambut tamu ya, soalnya gak ada lagi selain kamu." potong Maira membantu Mara agar bisa sedikit lapang. Mara menatap sang Mamah yang hanya mendengus dan mengangguk memberikan izinnya pada Mara.
"Ran, tenang aja adek Kakak baik kok.." ucap Maira memegang pundak Rani yang segera menoleh ke arah Maira dan tersenyum kikuk.
"i-iya Kak. Syakira masih di kamar ya?" tanya Rani mengalihkan pembicaraan
"Iya, masih siap siap."
"Rani mau lihat Syakira dulu ya Kak.." Rani segera menuju kamar Syakira setelah anggukkan kepala Maira.
"Selamat..." jawab Rani saat ia sudah menjauh dari Maira yang kembali mondar mandir.
"Boleh gabung.." Mara yang baru tiba di depan pintu meminta izin pada Regar dan Bibi. Kedua orang beda usia itupun menoleh ke arahnya.
"Boleh.." jawab Regar menyenggol lengan Habibi agar bergeser sedikit supaya Mara bisa berdiri di sampingnya. Namun Mara justru berdiri di hadapannya, membuat Habibi menahan tawanya melihat ekspresi wajah Regar yang malu dan kembali menyenggol lengannya.
"Gimana kuliahnya lancar?" tanya Regar saat sudah sepi karena tamu yang datang sudah masuk.
"Alhamdulillah lancar. Kakak sendiri gimana kerjaannya lancar?"
"Lancar.." mereka saling mengobrol saat tak ada tamu, hingga melupakan jika di sana ada manusia lain yang seperti nyamuk memperhatikan mereka berdua.
"Bibi ke kamar Arka dulu.." ucap Bibi membuat kedua orang di depan dan sampingnya menoleh ke arahnya.
"Loh kenapa pergi dek?" tanya Mara
__ADS_1
"Males juga di sini, Bibi kayak nyamuk gak ada yang mau ngajak ngobrol, mending ke kamar Arka deh..." jawab Habibi kesal dan berlalu meninggalkan Regar dan Mara yang hanya tersenyum saat mendengar penuturan sahabat Arka.
"Dasar Bucin.." lirihnya saat menoleh ke belakang dan melihat jika dua orang itu kembali ngobrol hingga saling melempar senyum.
"Kenapa?" tanya Arka yang tiba tiba sudah muncul di sampingnya.
"Astagaa...!" kaget Bibi hingga ia mundur beberapa langkah menghindari wajah Arka yang sangat dekat dengan wajahnya saat ia menoleh.
"Loe mau cium gue Ka?" tanya Bibi yang sedang kesal karena Regar dan Mara sekarang malah tambah kesal karena Arka yang tiba tiba muncul di hadapannya.
"Amit amit.." jawab Arka memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Lagian kamu ngelamun sambil lihatin orang yang lagi bucin.." ucap Arka
"Kenapa? pengen ya!" ledek Arka tersenyum menatap wajah Habibi yang semakin kesal.
"Sorry aja, gue juga udah punya kali.." Jawab Bibi bangga.
"Masa, kok aku gak tahu!" ujar Arka
"Buat apa juga loe tahu, yang ada nanti cewek gue naksir sama loe lagi.." ucapnya jujur membuat Arka tersenyum.
"tenang, aku bukan temen yang makan temen kok.." jawab Arka menepuk pundak Bibi yang hanya memutar bola matanya malas.
"Ka, itu Om Rangga sam keluarganya udah dateng!" ucap Bibi saat melihat keluarga Rangga yang baru tiba.
"Eh iya." Arka segera memanggil Maira dan yang lain untuk menyambut kedatangan Rangga
"Tante, Oma, Opa, Om Rangga udah dateng.." Maira dan yang lainpun segera menoleh ke arah Arka sesaat kemudian beralih ke arah pintu utama yang menampakan wajah bahagia Rangga bersama keluarganya.
"Om, tante, sebaiknya kota menyambut mereka baru setelahnya kita panghil Syakira buat keluar juga.." ucap Maira. Merekapun menyambut Rangga dengan penuh suka cita.
"Selamat Datang nak Rangga dan keluarga.." ujar paman Syakira adik Papahnya. Rangga dan Mamahnyapun tersenyum atas penyambutan keluarga Syakira.
"Terimakasih atas sambutannya.." Mamah Rangga menyambut uluran tangan dari setiap orang yang menyambut kedatangan mereka.
"Gugup ya Om?" tanya Bibi yang sudah berdiri di samping Rangga sambil membawa air minum atas perintah Regar.
"Sedikit! makasih.." jawab Rangga mengambil air dari tangan Bibi yang hanya mengangguk kemudian kembali ke tempatnya.
"Baik kita mulai ijabnya.." kata Pak Penghulu saat sudah tiba dan duduk sebentar di hadapan Rangga yang terlihat sangat gugup.
"Baik siapa yang akan menjadi wali nikah nya?" tanya Pak Penghulu saat melihat kursi di sebelahnya masih kosong.
"Saya..." jawab Arka. Sebelumnya ia sudah meminta izin pada Syakira dan Opanya agar di hari bahagia Syakira nanti dialah yang akan. menjadi wali nikah untuk Bundanya, dan tentu saja mereka menyetujui permintaan Arka.
"Baiklah, silahkan duduk di sini." ucap Pak Penghulu menatap Arka yang segera duduk di sampingnya.
"Siapanya calon. mempelai wanita?"
"Anaknya.." jawab Arka. Pak Penghulu hanya mengangguk.
"Baik kita mulai sekarang. Sudah siap Nak Rangga?" Rangga hanya mengangguk sebelumnya ia menarik nafas dalam dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan agar rasa gugupnya berkurang.
"Mari genggam tangan Nak Arka..." perintah Pak Peenghulu, Rangga dan Arka saling berjabat tangan dan mereka sama sama bisa merasakan kegugupan anatar keduanya.
"Saya terima nikahnya Syakira Handoko Binti Agung Handoko dengan mas kawin tersebut tunai..." ucap Rangga lantang.
"Bagaimana saksi sah?"
"Sah...." jawab semua tamu yang hadir. Pak Penghulu membaca doa kemudian mempersilahkan agar pengantin wanita bisa hadir di tempat.
Syakira keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu di dampingi oleh Maira dan Rani.
Rangga sangat terharu saat melihat Syakira, wanita yang begitu ia cinta hingga kini dan akhirnya mereka bisa hidup bersama. Setetes dua tets air mata Rangga jatuh, namun senyumnya tak pernah pudar dari bibirnya ketika melihat Syakira yang sedang berjalan. ke arahnya.
__ADS_1
"Sangat cantik."
Arka yang melihat Bundanya segera mengulurkan tangan dan di terima oleh Syakira yang matanya sudah berkaca kaca. Arka menuntun langkah Syakira hingga tiba di hafapan Rangga yang masih meneskan air matanya, namun dengan cepat ia hapus.
"Om, Arka serahkan Bunda sama Om. Tolong jaga Bunda dan jangan pernah menyakitinya.." Arka menangis saat mengatakan itu, sebenar ia sudah berlatih sebelumnya namun siapa sangka justru kata kata itu yang keluar dari bibirnya.
"Om gak bisa janji, tapi Om akan berusaha untuk selalu membuat Bunda bahagia.." jawab Rangga menatap Arka yang juga menatap ke arahnya. Mereka saling melempar senyum, sedang Syakira sudah menangis terharu dan memeluk putranya. Semua orang yang hadir pun merasakan apa yang Syakira rasakan.
Arka menyerahkan tangan Bunda pada Rangga yang segera menerima. Arka mundur ketengah tenga Regar dan Maira.
"Paman bangga sama Arka.." ujar Regar tetap menatap ke arah Syakira dan Rangga yang sedang mendoakan istrinya, baru setelahnya saling memasangkan cincin.
Syakira mencium tangan Rangga yang kini sudah resmi menjadi suaminya kemudia Rangga membalas dengan mencium kening Syakira cukup lama, hingga lagi lagi air mata Rangga jatuh dan mengenai wajah Syakira.
"Kamu nangis?" tanya Syakira menatap suaminya yang segera melepaskan ciumannya pada Syakira.
"Aku bahagia, karena akhirnya bisa memiliki kamu meskipun aku harus menunggu lama.." jawab Rangga menatap wajah istrinya dengan penuh cinta.
Blusssh...
"Wajah Syakira yang merah semakin merah karena ucapan dan tatapan manis dari Rangga suaminya.
Hari bahagia Syakira dan Rangga serta keluarga berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan. mereka. Sekarang mereka semua sedang berfoto bersama pengantin baru bergantian.
"Selamat ya sayangku. Semoga bahagia selalu.." ucap Hana meneluk Syakira sedangkan suaminya berjabat tangan dengan Rangga karena memang meeka sama sama berteman.
"Makasih Han, udah dateng.." jawab Syakira tersenyum hangat.
"Sya,, selamat ya aku seneng banget deh.." Sisi yang baru tiba dan segera menaiki panggung dengan perutnya yang besar meski sedikit sulit namun atas bantuan suaminya ia bisa naik dan memeluk Syakira sahabatnya.
"Makasih sayang sayangku.." jawab Syakira membalas pelukan Sisi.
"Wah, bebtar lagi nih.." ucap Syakira menatap perut kedua sahabatnya yang sama sama sedang hamil besar. Kedua hanya mengangguk dan tersenyum bahagia. Mereka berfoto bersama baru turun untuk menyantap hidangan tmyang sudah di siapkan tuan rumah.
"Capek?" tanya Rangga saat melihat Syakira yang kelelahan
"Sedikit, tapi gak papa kok.." jawab Syakira tersenyum menatap Rangga yang sangat perhatian.
"Bunda, Om.." panggil Arka saat ia sudah ada di atas pelaminan.
"Ya Nak!" jawab Syakira membalas tatapan anaknya.
"Acaranya udah selesai jadi Bunda sama Om bisa istirahat.." ucap Arka saat melihat para tamu yang mulai keluar dari rumah mereka dan pulang ke rumahnya masing masing, hingga hanya meninggalkan oran orang terdekat Syakira saja.
"Iya sayang.." jawab Syakira yang memang sudah sangat lelah.
"Om titip Bunda ya!" Arka beralih menatap Rangga yang hanya tersenyum.
"Ka gue balik dulu, sampe jumpa besok.." teriak Habibi dari arah bawah kemudian meninggalkan rumah Arka yang semakin sepi.
"Mamah juga pulang, jaga istri juga anak kamu jika Mamah smapi mendengar keluhan mereka kamu tahu sendiri akibatnya!" ancam Mamah Rangga, kemudian beralih memeluk Syakira yang tersenyum lembut.
"Makasih sudah mau menerima anak Mamah sayang!" Syakira kembali tersenyum mendengar ucapan Mamah mertuanya.
"Syakira yang harusnya berterimakasih sama Rangga Mah, karena dia udah mau menanyi Syakira samle selama ini." jawab Syakira. menatap Rangga penuh kasih. Mamah hanya mengangguk kemudian kemabali memeluk Syakira barulah turun dan berpamitan pada keluarga Syakira.
Acara selesai dan sekarang semua orang yang sudah lelah karena seharian ini bekerja keras guna mempelancar acara Syakira dan Rangga istirahat di kamar masing masing. Rani dan Mara sudah pulang, sedangkan sahabat sahabat Syakira memilih menginap di hotel bersama suami mereka.
Lanjut....
Akhirnya Syakira move on...
Makasih yang udah mampir baca, jangan lupa like dan dukungannya ya supaya authornya juga makin semangat lagi buat berjuang..
Makasih orang baik....
__ADS_1
🙏🙏🙏