Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Best Trio


__ADS_3

Hari bergulir, Arka berubah menjadi lebih pendiam dari biasa nya, bahkan ia menghindar dari setiap keramaian.


"Ka, loe kenapa sih? beberapa hari ini loe berubah banget! bukan cuma sama gue tapi orang orang di sekitar loe!" tanya Habibi yang sudah tiga hari ini selalu di abaikan oleh sahabat nya itu.


"Gak papa, lagi gak enak badan aja." jawab Arka mencoba tersenyum tipis


"Aku duluan Bi, ada kelas pagi..." lanjut Arka kembali menghindari Habibi yang hanya bisa diam dan pasrah saat sahabat nya itu lagi lagi menghindari diri nya.


"Hahhhhh, loe kenapa sih Ka? heran gue setiap ada hal yang ngeganggu loe selalu loe simpen sendiri..." ucap Habibi menghembuskan nafas berat dan menatap kepergian Arka yang sudah menghilang di balik tembok kampus.


Habibi pun segera kembali ke kelasnya sendiri. Ia tersenyum hangat saat melihat Wulan yang juga melihat ke arah nya, dan mereka pun saling melempar senyum manis tanpa perduli jika di sana ada Kana juga Fatimah dan ya jangan lupakan mahasiswa dan mahasiswi yang juga berada di ruangan yang sama dengan mereka.


"Woy, dah cukup senyum sambil tatap tatapan nya noh Pak Donald dah dateng..." tegur Kana sambil melipat kedua tangan nya di depan dada dengan memandang Wulan lewat ekor mata nya begitu pun Habibi yang segera duduk di tempat nya sendiri.


Tak lama Pak Donald dosen killer yang hobi nya marah marah tapi perhatian itu pun masuk dan memulai mata kuliah nya dengan hawa dingin yang ia timbul kan.


Hampir dua jam berlalu, akhir nya pelajaran Dosen Killer yang di takuti hampir seluruh Mahasiswa itupun selesai. Terdengar helaan nafas lega dari seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti kelas nya saat Pak Donald keluar dari sana.


"Ughhh, lega gue ampe laper nih perut gue..." rutuk Fatimah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


Wulan dan Habibi hanya tersenyum, beda dengan Kana yang langsung menjitak kepala sahabat nya itu hingg berbunyi. Fatimah mengelus kepalanya yang terasa agak sakit, ia pun segera menoleh dan menatap Kana dengan kesal.


"Apa! fikiran loe tuh makanan aja, heran gue!" ucap Kana membalsa tatapan Fatimah hingga membuat nyali gadis bertubuh agak berisi itu menciut dan cengengesan namun masih mengusap kepala nya.


"Nama nya juga laper..." sahut Fatimah dengan wajah polos dan pipi gembul nya.


Kana memutar bola mata nya malas, sejak ia bertengkar dengan Farry juga mengetahui jika Kakak nya itu menyukai Wulan sahabat nya yang akan menikah dengan Habibi juga berbagai macam rahasia yang tanpa sengaja ia ketahui itu pun sedikit membuat ia berubah sikap menjadi gadis yang lebih peka dan waspada bahkan terhadap Kakak nya sendiri..


"Loe kek nya banyak berubah ya Kan?" tanya Wulan menatap Kana yang sedang menikmati bakso nya, sedang Fatimah jangan di tanya ia sedang sangat menikmati dua mangkuk bakso di hadapan nya saat ini.


"Gue!" ulang Kana menunjuk diri nya sendiri dengan telunjuk sambil membalas tatapan penuh tanya dari Wulan.


"Umm, loe, loe banyak berubah sejak loe tahu tentang Habibi kan?" lanjut Wulan dengan santai, namun tidak dengan Kana yang tentu saja kaget bukan main mendengar penuturan sahabat nya itu. Satu pertanyaan, dari mana Wulan tahu?


"Gue tahu loe kaget kan! gue tahu semua nya Kan, dan gue sedikit sedih sih soal nya loe sama sekali gak mau jujur sama gue.." ucap Wulan dengan wajah kecewa, ia melipat kedua tangan nya dengan menyandarkan punggung nya ke sandaran kursi dengan terus menatap manik mata Kana yang terlihat menyesal.


"Sorry, gue gak maksud buat nyembunyiin hal ini, tapi gue gak mau aja hal ini akan mempengaruhi hubungan kita juga gue gak mau Habibi benci sama gue..." jawab Kana akhirnya menjelaskan maksud kenapa ia menyembunyikan hal itu pada sahabat sahabat nya.


"Gue paham, dan gue harap setelah ini loe akan jujur sama kita kalo loe ada problem, apapun itu..." sambut Fatimah yang baru saja menyelesaikan makanan nya dan hanya menyimak obrolan kedua sahabat nya.


"Loe juga Fat?" tanya Kana dengan mata terbuka lebar.


"Yes, me to..." jawab Fatimah tersenyum lebar memiringkan kepalanya.


Kana tak menyangka jika kedua sahabat nya tahu tanpa ia beri tahu, dan ia sangat penasaran bagai mana mereka tahu semua hal yang ia sembunyikan.


"Jangan jangan kalian!" Kana tak melanjutkan ucapan nya saat melihat anggukkan kepala dari kedua sahabat nya.


Kana memghembuskan nafas nya kasar, ia menatap kedua sahabat nya bergantian dengan rasa penasaran dari mana mereka tahu.


"Loe tahu, loe gak bisa sembunyiin semua nya dari kami karena kita sahabat lama kan Kan!" ujar Wulan kembali membuat Kana tercengang karena seolah gadis itu tahu apa yang sedang ia fikir kan.


"Ya, gue emang gak bisa menyembunyikan apapu dari kalian dan loe Fat, loe emang gadis dan sahabat paling aneh yang pernah gue temui tahu gak..." jujur Kana menatap Fatimah yang malah semakin memperlebar senyumnya dan itu justru membuat Kana merinding melihat nya.


"Loe belum lupa kan Kana?" tanya Fatimah, kali ini ia tersenyum devil..


"Oh Tuhan, ternyata selama ini gue berteman sama orang orang gila kek kalian dan sekarang gue juga jadi gila..." ucap Kana terdengar seperti lirihan hati membuat Fatimah dan Wulan tersenyum mendengar nya.


Tak lama, mereka bertiga pun tersenyum bersama sambil berpegangan tangan.


"Best Trio..." ucap Wulan menatap kedua sahabat nya bergantian.

__ADS_1


"Yessss..." jawab Kana juga Fatimah bersamaan dan mereka kembali tersenyum.


Setengah jam sudah berlalu dan mereka bertiga kembali ke kelas karena Habibi yang menghubungi Wulan agar mereka segera ke kelas.


"Baru juga sebentar, dah kangen aja loe!" ledek Kana saat mereka baru saja masuk ke dalam kelas dan duduk ke tempat masing masing.


Habibi tak menggubris ledekan Kana, ia segera duduk di hadapan Wulan dengan wajah dan tatapan serius.


"Kenapa? kok muka kamu kek khawatir gitu?" tanya Wulan akhirnya setelah ia melihat wajah Habibi


"Gue khawatir.." jawqb Habibi sedikit menundukan pandangan nya seolah tengah memikirkan sesuatu.


Kana dan Fatimah mulai penasaran, mereka pun segera memasang telinga.


"Gue khawatirkan sama Arka!" lanjut Habibi kembali mengangkat kepala nya dan menatap serius manik mata Wulan


"Kak Arka! emang dia kenapa?" tanya Wulan ikutan khawatir namun tetap berusaha tenang.


"Udah beberapa hari ini dia berubah, dan gue yakin loe juga ngerasain itu kan?" ucap Habibi dan Wulan memgangguk setelah ia rasa ucapan Habibi benar.


"Umm, gue juga ngerasa gitu soal nya biasa nya Kak Arka selalu berusaha buat gue senyum kalo gue ngambek dan selalu denger ocehan gue tapi beberapa hari ini emang enggak sih.." ujar Wulan memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu saat ia bersmaa Arka.


"Gue udah nanya tapi Arka sama sekali gak mau jawab dan justru terus ngehindar dari gue.." lanjut Habibi, ia menghembuskan nafasnya kasar hingga terdengar di telinga ketiga orang yang duduk di dekat nya saat ini.


"Biar gue yang cari tahu!" sahut Fatimah dengan wajah serius nya.


"Boleh, tapi jangan sampe Kak Arka tahu ya, soal nya kalian juga kan tahu kalo Kak Arka jauh di atas kita.." ucap Wulan memperingati sahabat nya juga tunangan nya.


"Pasti..." jawab Fatimah


"Kalo gitu gue butuh sesuatu yang kemungkinan buat Kak Arka jadi kek sekarang?" tanya Fatimah sambil mengeluarkan laptop nya dari dalam tas dan mulai mengotak atik dengan jari jari lentik nya yang lincah.


"Gue gak yakin tapi ini bisa di coba!" ujar Habibi menatap Wulan juga kedua sahabat nya bergantian.


"Loe bisa cari sosial. media Kalisa?" tanya Habibi


"Gue coba.."jawab Fatimah dan mulai mengetik nama yang baru saja di sebutkan oleh Habibi.


"Gak ketemu!" gumam Habibi kembali berfikir keras.


"Ah, sial susah bangey sih..." gumam Habibi mulai frustasi memikirkan nama yang mungkin saja di gunakan Kalisa di media sosial nya.


"Emang dia siapa Bi?" dengan penuh rasa penasaran Wulan bertanya


"Gadis yang Arka suka sejak kami SMP, dan bahkan sampai sekarang pun Arka masih setia menunggu Kalisa.." Wulan membuka mata nya lebar, sungguh tak percaya jika ternyata Kakak nya itu sangat setia, dan karena itu lah Wulan menyadari sesuatu mengapa selama ini Arka selalu menolak diri nya sebelum pria itu tahu jika mereka bersaudara.


"Lan, loe gak papa kan?" tanya Kana menepuk pundak Wulan yang melamun.


"Gak, gue baru menyadari sesuatu dan sekarang gue tahu jawaban nya.." jawab Wulan tersenyum tipis.


"Fat, coba loe cari media sosial Kakak gue dan gue yakin loe tahu yang harus loe lakuin kan!" ucap Wulan menatap Fatimah.


"Tentu beb..." jawab Fatimah tersenyum miring. Gadis itu kembali menggerakkan jari jari nya di atas keyboard dan ia menemukan sesuatu di sana.


"Lan, Bi..." panggil Fatimah masih memandangi layar laptop nya.


"Kenapa? loe nemuin sesuatu?" tanya Wulan ikut melihat ke layar laptop begitu juga Habibi dan Kana.


"Astaga! ini...." Habibi tercengang menatap layar laptop milik Fatimah, ia bahkan sampai mundur beberapa langkah dengan kedua mata melebar


"Bi..." Wulan mendekati Habibi dan mencoba menenangkan pria itu dengan mengusap usap punggung nya

__ADS_1


"Loe baik baik aja kan?" tanya Wulan khawatir melihat wajah pucat Habibi.


"Gak, kalo gue aja sampe kek gini gimana Arka..." lirih Habibi menatap sendu Wulan yang belum mengerti maksud tunangan nya


"Maksud kamu apa sih Bi!" ucap Wulan tak mengerti.


Kana dan Fatimah kembali menatap ke layar laptop dan baru menyadari sesuatu. Kedua nya sama sama menatap Habibi yang masih shock tak percaya.


"Jangan bilang kalo dia!" Kana tak melanjutkan ucapan nya setelah melihat anggukkan kepala Habibi yang lemah.


Kedua nya menutup mulut dengan mata terbuka lebar tak percaya akan hal itu.


"Jadi, dia!" kali ini Wulan yang bertanya, meski ragu namun ia tetap mengeluarkan kata kata nya.


"Ya, dia orang nya..." jawab Habibi.


Wulan terduduk lemas, tatapan berubah kosong dalam benak nya, betapa hancur Kakak nya saat ini dan pria itu tetap berusaha baik baik saja di hadapan mereka.


Wulan meneteskan air mata nya, ia merasa gagal sebagai adik karena tak mengerti perasaan Kakak nya sendiri.


Setelah beberapa jam mereka di sana, Habibi memgantar tunangan nya pulang sedangkan Fatimah juga Kana pulang bersama.


"Jangan terlalu di fikirin, dan inget jangan sampai Arka tahu dulu kalo kita juga udah tahu soal ini.." ucap Habibi dan Wulan hanya mengangguk saja dengan tatapan kosong ke arah luar jendela.


Habibi diam ia tak lagi melanjutkan ucapan nya hanya tangan nya yang bergerak menggenggam erat tangan Wulan sebagai pertanda jika diri nya ada di sisi nya selalu.


Sampai di rumah, Wulan segera mencari Kakak nya namun tak ia temukan dan akhir nya ia masuk ke dalam kamar nya sendiri dengan perasaan kacau.


"Gue adik yang buruk, gue gak pernah bisa mengerti perasaan Kakak gue sedangkan Kak Arka selalu ada di saat gue jatuh dan selalu mengerti akan perasaan gue." gumam Wulan, suaranya bergetar dan terdengar lirih. Wulan kembali menjatuhkan air mata nya bahakn terdengar suara senggukkan dan sangat memilukan.


"Gue, gue adik yang buruk Kak, sorry gue gak pernah bisa ngertiin loe selama ini bahkan soal gadis yang loe suka sekalipun.." lanjut nya terbata bata karena tangisnya yang semakin jadi.


Cukup lama Wulan menangis, hingga ia tertidur dengan sendirinya bahkan ia belum berganti pakaian dan hari sudah semakin sore.


Hari itu Arka memang tidak menginap di sana dan memilih pulang ke rumah Papah Rangga juga Bunda.


Bukan hanya Wulan, Habibi juga lain nya yang merasakan perubahan Arka, tapi juga Papah Rangga juga Bunda Syakira. karena bagai mana pun Syakira lah yang telah membesarkan Arka selama ini jadi ia tentu tahu tentang segala nya dari putra nya itu. Papah Rangga pun sama, bahkan ia lebih mengenal Arka di bandingkan Regar.


'Papah tahu kamu sedang dalam kekacauan hati, tapi Papah harap kamu segera kembali Nak..' Batin Papah Rangga menatap putra nya yang baru saja kembali dan memasuki kamar nya setelah menghampiri kedua orang tua nya.


"Mas..." panggil Syakira lirih


"Mas tahu, tapi kita gak bisa maksa dia buat cerita sayang karena sekarang Arka sudah jauh lebih dewasa dan dia punya privasi yang gak bisa kita masuki kecuali jika dia sendiri yang ingin bercerita.." ucap Rangga mengusap punggung istri tercinta nya.


Syakira mengangguk mengerti meski dalam hati ia sangat merasa khawatir akan putra nya, karena bagi seorang ibu putra nya itu tetap lah putra kecil yang selalu ingin ia sayangi.


"Sebaiknya kamu juga istirahat, jangan sampe kelelahan. Hmm.." lanjut Rangga


"Ya..." jawab Syakira sekilas menatap suami nya dan kembali beralih menatap kamar putra nya yang sudah tertutup rapat.


Kedua nya masuk ke dalam kamar mereka dengan perasaan khawatir pada Arka.


Arka kembali membuka hp nya, ia kembali membuka dan mencari sesuatu yang beberapa hari yang lalu ia lihat. Namun, tak lagi bisa ia temukan karena seperti nya sudah ada yang menghapusnya.


Kesal, tentu saja namun ia tak ambil pusing karena dalam benak nya ia hanay berharap jika semua itu bukan lah hal yang nyata dan sebenar nya.


"Aku yakin kamu pasti kembali..." gumam Arka menatap langit sore.


Cukup lama ia di sana sampai adzan maghrib berkumandang dan Arka segera masuk ke dalam kamar nya untuk melaksanakan ibadah. Setelah nya ia tak turun ke bawah untuk makan malam dengan alasan jika ia sudah makan sore tadi di cafe dekat kampus dan Syakira juga Rangga pun tak memaksa mereka hanya mengingatkan putra mereka agar tetap menjaga kesehatan, juga Rangga yang memgatakan jika diri nya akan selalu ada dan akan mendengarkan Arka jika ingin menceritakan sesuatu pada nya. Arka hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ok Pah, kalo gitu Arka naik dulu.." ucap Arka dan kembali masuk ke dalam kamar nya.

__ADS_1


__ADS_2