
Wulan dan Arka sudah berada di dalam mobil, sedang Habibi mengantar mereka sampai ke parkiran saja kemudian ia pun hendak masuk ke dalam mobil yang juga berdampingan dengan mobil Arka.
"Hati hati ya, jangan ngebut ngebut sayang..." ucap Wulan sedikit melirik ke arah Arka yang terlihat memutar bola mata nya malas
"Yes, tentu Baby..." jawab Habibi tersenyum miring
Belum selesai kedua nya saling bicara, Arka sudah menancap gas dan melaju neninggalkan parkiran. Habibi hanya bisa tercengan melihat sikap sahabat sekaligus calon kakak ipar nya itu.
Wulan tersenyum tipis melihat kekesalan Kakak nya, dan memang itu lah yang ia inginkan.
"Kenapa Kak?" tanya Wulan dengan wajah polos seolah jika ia tak mengerti.
Arka melirik sekilas dan melihat Wulan lewat ekor mata nya. "Gak ada, diam dan duduk dengan tenang saja..." jawab Arka.
"Oh, ok..." sahut Wulan dengan senyum tipis menghiasi bibir imut nya, ia memalingkan wajah nya ke arah keluar jendela mobil di sebelah nya.
'Dia kesal!." batin Wulan semakib memperlebar senyuman nya
Hening, Arka begitu fokus dengan kendaraan nya sedangkan Wulan yang ternyata sudah tidur selama perjalanan. Mobil yang di kendarai Arka tiba di depan kediaman Papah Regar.
"Lan..." panggil Arka
"Lqn, bangun dah sampe..." ulang Arka namun masih belum ada sahutan dari adik nya dan justru Wulan hanya bergerak kecil lalu sekedar memperbaiki posisi tidur nya.
Arka yang tak tega pun turun lalu perlahan membuka pintu mobil dan menggendong adik nya memasuki rumah dengan begitu hati hati kemudian membawa nya ke lantai atas di mana kamar Wulan berada.
"Den, Non Wulan tidur!" ucap Bibi yang mihat kedua anak majikan nya yang baru saja memasuki rumah
"Ya Bi, tolong bantu buka pintu nya..." jawab Arka sekaligus meminta tolong dan Bibi hanya mengangguk lalu berjalan lebih dulu menuju kamar Wulan untuk membuka kan pintu nya.
Arka meletakan Wulan ke atas kasur dengan pelan lalu menyelimuti nya dengan penuh kasih.
"Selamat istirahat dek..." gumam Arka duduk di sisi ranjang adik nya, ia membelai pipi Wulan dan berharap jika adik nya itu akan selalu bahagia dan sehat.
Arka keluar dengan hati yang tenang setelah melihat wajah Wulan yang tersenyum meski saat sedang tidur sekalipun.
"Bi, Arka pamit pulang..." ucap Arka berpamitan
"Ya Den, hati hati..." jawab Bibi tersenyum santun. Arka mengangguk juga tersenyum kemudian pergi dari sana dengan mobil pemberian Papah Rangga..
Arka sampai dengan selamat di kediaman Papah Rangga. "Assalamualaikum..." salam Arka saat ia baru memasuki rumah
"Waalaikumsalam..." jawab Bunda menyambut putra nya bersama dengan Darren yang baru bangun tidur.
"Oh, adek Kakak baru bangun ya?" tanya Arka tersenyum segera menggendong adik nya yang masih balita. Darren mengangguk dan tersenyum i menciumi Kakak nya yang tampan.
"Teng, kak Ka teng..." gumam Darren yang belum jelas
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Arka semakin tersenyum lebar mendengar penuturan Adik nya
"Hmmm.." jawab Darren
"Makasih, Kakak emang ganteng kan Adek nya cantik..." ucap Arka kembali menciumi wajah Adik nya gemas.
Bunda ikut tersenyum melihat interaksi kedua anak nya, ia begitu bangga pada putra nya yang bisa mengatur waktu untuk adik adik nya dan memperlakukan mereka dengan adil.
"Arka nginep sini Nak?" tanya Bunda lembut sambil mengusap lengan putra nya
"Ya Bun, Arka nginep sini soal nya kangen juga sama Bunda, Papah juga Darren..." jawab Arka.
Ya, selama beberapa minggu ini Arka memang lebih sering tinggal di kediaman Ayah nya karena permintaan Wulan yang saat itu baru saja bertunangan dan ingin beberapa minggu ini bisa bersama dengan Kakak nya.
"Ya sudah kamu istirahat dulu pasti capek, nanti Bunda masakin makanan kesukaan kamu ya Nak.." ucap Bunda kembali mengusap lengan anak nya
"Ya Bun..." jawab Arka tersenyum hangat, ia akan selaku merasa bahagia jika bersma dengan sang Bunda.
"Kakak mandi dulu ya sayang, nanti kita main lagi..." tutur Arka pada Darren yang hanya melihat nya tanpa respon dan itu terlihat sangat lucu dan imut di mata Arka
"Ohhh, adik Kakak ini lucu banget sih.." ujar Arka lagi lagi menciumi seluruh wajah Darren dengan gemas nya membuat balita itu kegelian.
"Nda, Ndaaaa...." adu Darren berusaha melepaskan diri dari pelukan Arka yang segera menurunkan adik kecil nya.
Darren segera berlari tertatih ke arah Bunda, bahkan beberapa kali ia terjatuh dan hendak di tangkap Arka namun gadis kecil itu selalu bersemangat dan akhir nya sampai di hadapan sang Bunda yang tertawa kecil melihat nya.
"Arka naik dulu Bun..." ucap Arka,Syakira mengangguk sambil menggendong Darren.
"Dah, nanti kita main lagi ya..." ujar Arka mencubit pipi tembam Darren.
Arka naik ke lantai atas menuju kamar nya yang hampir dua minggu ini tak ia tiduri karna tinggal di kediaman Ayah nya. Arka segera membersihkan diri setelah di rasa tubuh nya yang semakin merasa gerah dan lengket.
"Akhhh, seger nya..." gumam Arka yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang segar dan rambut yang masih basah.
Arka duduk sejenak di sisi ranjang dengan handuk yang masih melilit di tubuh nya juga sebelah tangan nya yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil sedang tangan yang lain sibuk melihat lihat akun media sosial seseorang.
"Ini!" gerakan tangan Arka terhenti sejenak, ia melihat sesuatu di sana, bahkan mata nya sma sekali tak berkedip atau bahkan nafas nya sempat terhenti sejenak.
"Tidak!" gumam nya, dan tiba tiba saja air mata jatuh tanpa di duga.
"Tidak!" ucap nya lagi dengan kepala yang menggeleng pelan, bahkan tangan juga seluruh tubuh nya mulai bergetar sangking terkejut nya.
"Apa yang terjadi! ini tidak mungkin terjadi..." lanjut Arka, suara nya semakin lirih bahkan mata nya semakin memerah dengan bendungan air mata nya yang semakin banyak dan beberapa kali sudah ia tumpahkan.
Arka terdiam kembali, ia masih menatap ke layar pipih di tangan nya dengan tatapan tak percaya. Bahkan ia menjatuhkan handuk nya ke lantai membuat air menetes lewat rambut nya yang masih basah.
"Arka, kamu sudah selesai Nak?" suara Bunda mengagetkan Arka, bahkan ia juga sampai menjatuhkan hp nya dan menatap ke arah pintu yang ia kunci
__ADS_1
"Ka, sudah selesai sayang! nih Papah udah pulang dan mau makan bersama kata nya..." lanjut Bunda kembali memanggil anak nya dan mengetuk pelan pintu kamar Arka.
"I-iya, Bun Arka keluar..." jawab Arka akhirnya, engan suara terbata.
Arka kembali meraih hp nya di lantai namun hp nya sudah mati karena batre nya habis, dan itu membuat Arka lebih penasaran lagi. Arka mengecas hp nya lalu ia segera mengganti pakaian dan turun kebawah untuk menemui orang tua nya.
"Pah, apa kabar?" tanya Arka mencoba tersenyum setulus mungkin meskipun hati juga pikiran nya masih tertuju pada sesuatu yang ia lihat beberapa waktu yang lalu.
"Baik, lama Arka gak pulang Papah seneng Arka masih inget sama Papah dan Bunda..." jawab Papah Rangga menggoda putra nya.
Arka tersenyum, ia duduk tepat di sebelah sang Papah. "Mana mungkin, meski Arka pergi sejauh mana pun, Papah dan Bunda akan selalu Arka ingat..." jawab Arka membalas godaan Papah nya.
Rangga tertawa renyah mendengar penuturan putra nya yang terkenal cool dan cuek. Arka juga ikut tersenyum, meski sedikit di paksakan.
"Sudah sudah, makan dulu nanti keburu dingin.." sahut Bunda Syakira lebih dulu menyuapi putri nya yang sudah kelaparan.
Keluarga itu makan dengan tenang, dan sesekali terdengan canda gurau dan tawa dari mereka. Setelah selesai, ke empat nya duduk di ruang tamu untuk sekedar melepas rindu. Papah Rangga yang paling merindukan putra nya, bahkan ia selalu menanyakan kapan Arka akan pulang saar pemuda itu menginap di rumah Ayah biologis nya.
"Benarkah Bun! wah Pah ternyata Papah sangat merindukan Arka rupanya...." ucap Arka meledek Papah nya dengan menahan tawa
Rangga yang ketahuan merasa malu namun ia berusaha tetap terlihat berwibawa dan cool di hadapan putra putri nya..
"Tidak juga. Sudah, Papah mau naik dulu..." ujar Rangga segera beranjak dari sana dan pergi meninggalkan anak dan Bunda yang masih menahan tawa.
'Awas kamu ya Bun...' batin Rangga berjalan cepat menuju kamar.
"Ha ha ha.... " akhir nya tawa Arka juga Syakira pun meledak setelah kepergian Rangga, mereka begitu senang menggoda Rangga.
"Papah kamu tuh, sok jual mahal..." ucap Bunda Syakira tertawa lepas.
"Ya, nama nya juga Papah Rangga yang sok cool Bun..." jawab Arka juga tertawa hingga memegang perut nya yang keram.
"Udah ah, Bunda mau naik juga sekalian mau lihat Adek di kamar..." ucap Bunda yang sudah tak tahan sejak tadi menertawakan suami nya.
Arka mengangguk, dan Syakira segera menuju kamar putri nya lebih dulu baru lah ia menuju kamar di mana suami nya berada. Kini, tinggalah Arka di ruang tamu sendirian, untuk beberapa saat ia melupakan apa yang di lihat nya sebelum makan tadi.
Arka kembali mengingat, ia seger naik ke atas dan masuk ke dalam kamar nya lalu ia kunci dari dalam. Arka kembali menghidupkan hp nya dan melihat apa yang ia lihat beberapa waktu lalu.
"B-benar, i-ini! T-tidak..." lirih nya, Arka kembali tercengang tak percaya...
Lanjut up...
Semoga selalu suka dan semoga selalu di tunggu ya kisah kisah nya....
Makasih orang baik....
😊🙏🙏
__ADS_1