
Setelah hari di mana ia kehilangan anaknya, Maya mulai memperbaiki hidupnya dan memuali semuanya dari awal. Ia berusaha untuk bisa menjadi wanita yang jauh lebih baik darinya yang dahulu. Maya membuka usahanya sendiri dengan bantuan Regar suaminya dan tentu saja berjalan dengan baik dan lancar.
"Makasih sayang.." ucap Maya memeluk suaminya saat mereka sedang berada di kamar.
"Hmm, aku akan mendukung apapun keinginan kamu sayang." ujar Regar mencium kening Maya yang tersenyum.
Sembilan bulan lebih berlalu, seorang wanita memakai pakaian yang sama dengan gadis yang pernah di nodai oleh Regar datang menemuinya di kediaman mereka.
"Aku rasa ini alamat yang sama seperti yang di katakan Kania." ucapnya memandangi rumah yang megah di hadapannya dari balik gerbang.
"Permisi..." teriaknya
"Permisi, apa ada orang? penjaga...." lanjutnya semakin kencang.
"Hai, jangan teriak-teriak!" bentak seorang pria memakai baju satpam yang lengkap menatapnya tajam.
"Makanya kalo jaga jangan tidur mulu." ujar wanita di luar yang menggendong bayi perempuan yang cantik dan menggemaskan.
"Mau cari siapa?" tanya satpam masih memandangi wanita di depannya dengan tajam sambil terus menyelidiki nya.
"Tuan, Regar." jawabnya tegas.
"Ada perlu apa? apa sudah janji?" tanya nya lagi heran
"Tidak, tapi aku ingin bertemu dengannya karena ada pesan dari seseorang yang harus aku sampaikan." ucapnya jujur, namun satpam di hadapannya. malah tertawa membuat wanita itu heran dan bingung karena menurutnya tak ada yang lucu.
"Anda orang gila ya, sana pergi!" bentak satpam itu lagi mengusir wanita di hadapannya dengan kasar.
"Woy, enak aja bilang aku gila." ucapnya marah
"Ada apa ini!" Maya yang mendengar keributan di luar rumahnyapun keluar untuk melihat.
"Ini Nya, ada orang mau ketemu sama Tuan katanya." ucap satpam menghampiri Nyonya rumah.
"Siapa ya?" tanya Maya, ia memandangi wanita di hadapnnya kini dari ujung kaki hingga kepala.
"Maaf, saya ingin ketemu sama Pak Regar." jawabnya memandang Maya yang sangat cantik baginya.
"Ada perlu apa?" tanya Maya penasaran.
"Ada pesan yang harus saya sampaikan kepada nya, dan ini sangat penting." jawabnya memandang wajah anak dalam gendongannya yang masih tertidur dengan lelap.
"Biarkan dia masuk!" ucap Maya melihat sebentar ke arah wanita di hadapannya kemudian berjalan masuk ke rumahnya dan duduk di sofa ruang tamu. Pak Satpampun segera membuka gerbang dan membiarkan wanita yang membuatnya kesal tadi masuk melewatinya ke dalam rumah yang megah dan mewah milik keluarga Regar.
__ADS_1
"Lihat Nak, ini akan jadi rumah kamu nanti.." ucap wanita itu pada bayi di gendongannya yang baru saja terbangun dan tersenyum ke arahnya.
"Masuklah.." ucap Maya saat melihat wanita tadi berdiri di ambang pintu. Wanita itu menurut dan segera masuk mendekati Maya yang sudah duduk cantik.
"Duduk."
"Siapa namamu?" tanya Maya saat wanita itu duduk di hadapannya.
"Putri, nama saya Putri." jawabnya tersenyum ramah, meskipun yang di ajak bicara terlihat cuek.
"Tunggulah, sebentar lagi suami saya pulang." ujar Maya kemudian meninggalkan wanita bernama Putri itu ke kamarnya. Satu jam berikutnya, Regar sudah tiba di rumah. Maya yang mendengar suara mobil suaminyapun segera keluar dan menghampiri Regar.
"Mas, ada yang nyariin." ucap Maya membawa tas kerja suaminya.
"Siapa?" tanya Regar menggenggam tangan istrinya yang lain
"Entah, tapi namanya Putri dan dia membawa bayi." jelas Maya.
"Aku ke kamar dulu, kamu samlerin dia dulu." ucap Maya masuk ke dalam kamar untuk menaruh tas milik suaminya dan kembali lagi ke ruang tamu kemudian duduk di samping Regar yang sudah lebih dulu duduk di sana.
"Ada perlu apa Anda mencari saya?" tanya Regar tanpa basa basi.
"Tuan Regar?" Putri balik bertanya memandang wajah Regar yang langsung mengerutkan dahinya kemudian memandangi wajah bayi perempuan yang masih dalam gendongannya saat mendapatkan jawaban Regar yang hanya mengangguk.
"Kania!" ucap Regar membaca nama dari pengirim surat di tangannya.
"Ya, dia adalah ibu dari anak yang saya gendong saat ini." ucap Putri. Maya semakin bingung dengan apa yang di maksud wanita di depannya.
"Lalu, apa hubungannya dengan suami saya?" tanya Maya kesal.
"Ada, tapi sebaiknya Tuan baca dulu surat itu." pinta Putri. Regar segera. membuka surat di tangannya dan membaca dengan teliti, hingga tiba dimana di dalam surat itu yang mengatakan jika anak itu adalah anaknya, dan berharap agar Regar mau merawat bayi itu. Mata Regar membuka lebar, ia sungguh tak mempercayai semuanya. Maya yang ikut membaca surat di tangan Regarpun menangis dengan tangan yang menutup bibirnya, Maya sungguh tak percaya jika akhirnya iapun harus di khianati suami yang ia cintai.
" Dimana ibu anak ini?" tanya Regar, karena di dalam surat itu tak mengatakan ke adaan ibu dari anaknya.
"Dia sudah meninggal sehari setelah melahirkan anak ini." jawab Putri memandang sedih ke wajah bayi mungil tak berdosa yang terus tersenyum ke padanya.
"Mas, kamu mengkhianati aku!" ujar Maya menundukkan kepalanya dan menangis sejadi-jadinya di hadapan suami dan juga Putri yang melihat dengan sedih pula.
"Maaf, tapi aku tak berniat untuk mengkhianati kamu sayang." jawab Regar hendak memegang tangan istri nya yang lansung di tepis, Maya yang emosi dan marah segera berlari ke arah kamar dan mengunci nya dari dalam.
"Tuan, saya harap Anda akan bertanggung jawab atas anak ini." ucap Putri memandang Regar yang sudah kacau
"Tuan, bagaimanapun anak ini adalah anak Anda." lanjutnya. Regar menatap Putri sejenak kemudian tatapan beralih ke bayi perempuan yang tersenyum ke arahnya. Sesaat, Regar terpaku akan senyuman anak itu dan merasa tenang saat menatap wajahnya.
__ADS_1
"Berikan.." ucap Regar, mengulurkan kedua tangannya ke arah Putri yang langsung tersenyum dan memberikan bayi yang ia gendong.
"Tuan, saya harap Anda menjaga nya dengan baik." Putri menangis menatap anak aahabtnya yang sudah tiada.
"Saya titip dia bersama Tuan, ketahuilah bahwa ibu anak ini adalah orang yang baik." ujarnya setelah mencium kening bayi yang sudah ia rawat selama beberapa hari. Putripun melangkahkan kakinya keluar rumah Regar yang mewah dengan hati yang berat. Regar hanya diam dengan anak yang kini ada dalam gendongannya, ia menatap mata anak itu yang sangat mirip denga miliknya dan bibir yang tipis seperti ibunya. Regar bahkan masih sangat mengingat wajah dari gadis yang ia nodai malam itu.
"Bi, bawa anak ini ke kamar tamu dan mulai hari ini Bjbi akan mengasuhnya." ujar Regar memnyerahkan Bayi itu oada Pembantunya yang selama ini merawat Risa.
"Baik Tuan, tapi bagaimana dengan Non Risa?" tanya Bibi setelah menerima bayi perempuan yang belum di berikan nama itu.
"Mulai hari ini, Bibi akan mengasuh Risa juga anak ini dan soal rumah saya akan mencari pembantu baru." jawab Regar, kemudian ia setengah berlari menuju kamarnya di mana Maya berada sekarang.
"Sayang, tolong buka pintunya.." ucap Regar terus menggedor pintu kamar pelan saat ia sudah tiba di depan kamar.
"Kamu keterlaluan Mas, teganya kamu selingkuhin aku!" teriak Maya dari dalam kamar.
"Sayang, dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya, tapi tolong buka pintunya." ucap Regar.Tak ada sautan dari dalam, namun beberapa detik kemudian terdengar suar kunci yang di putar dari dalam. Regar segera membuka pintu kamar mereka, sesaat ia melihat semua barang di dalam sudah hancur berantakan juga foto pernikahan mereka.
"Sayang.." panggil Regar mendekat ke arah Maya yang sedang duduk di atas kasur dengan deraian air matanya.
"Jelaskan..." ujar Maya menjauh dari Regar yang hendak memeluknya. Regar yang mengerti dengan gerakan istrinyapun sedikit menjauh dan mulai menceritakan semua yang terjadi padanya pada malam itu hingga ia sampai menodai seorang gadis dan lahirlah bayi perempuan tadi tanpa ia ketahui.
"Sayang, aku tak berniat untuk mengkhianati kamu tapi malam itu aku sangat frustasi dan malah melakukan kebodohan itu." sesal Regar menghampiri Maya yang hanya diam mendengarkan semua perkataan Regar.
"Maafkan aku sayang, maaf.." ucap Regar terus berusaha untuk mendekati istrinya.
"Kenapa Mas, kenapa..." lirih Maya. Regar yang sudah dekat dengan Maya langsung memeluk nya erat, meskipun awalnya Maya memberontak dan memukuli dada suaminya Regar tetap bertahan dan terus memeluk istrinya hingga Maya berhenti dan menangis dalam pelukannya.
"Tolong, maafkan aku." ucap Regar lembut mencium pucuk kepala istrinya yang masih saja menangis.
"May, aku juga mohon agar kamu mau menerima anak itu." mendengar penuturan sang suami, Maya kembali kesal dan mendorong Regar agar menjauh darinya, namun kekuatannya kalah dengan Regar yang sebelumnya sudah lebih dulu mengencangkan pelukannya.
"Dia hanya punya aku, bagaimanapun dia adalah anakku. Sayang aku mohon tolong terima dia.." pinta Regar. Maya yang tak bisa berbuat apapun hanya diam mematung. Mau menolakpun percuma, suaminya pasti akan tetap merawat anak itu karena ia memang anak kandungnya. Saat ini yang ia takutkan adalah ketika Regar tahu fakta jika Risa bukanlah anaknya, apakah Regar tetap bisa menerima mereka di rumah ini dan mempertahankan rumah tangga mereka.
("Tuhan, inikah Karma itu? Dulu aku mengkhawatirkan Syakira yang kelak akan datang membawa anaknya, tapi sekarang justru anak lain yang datang.") batin Maya mengis.
Malam itu Maya terus merenungi nasibnya. Mulai hari itu Maya berubah menjadi dingin terhadap suaminya, meskipun ia tetap melayani Regar dengan baik namun sikapnya tak lagi sama seperti dulu sebelum bayi yang telah di beri nama Wulan datang di tengah-tengah kehidupan mereka bertiga. Meskioun kini Maya sudah menerima kehadiran Wulan anak suaminya dari wanita lain, dan mengizinkan Regar mengatakan jika ia adalah anak Mamah Maya juga Risa adalah Kakaknya namun sikapnya terhadap anak itu sangat dingin dan bahkan ia jarang berbicara pada Wulan, akan tetapi dari sikapnya yang dingin Maya masih sedikit peduli pada anak itu dan tetap membiarkannya memanggil dirinya Mamah.
Nih lanjutannya kisah mereka...
Makasih orang baik....
🙏🙏🙏🙏
__ADS_1