
Tiga hari setelah pembicaraan tentang permintaan Regar Ayah Arka, akhirnya pertemuanpun terjadi.
"Arka..." panggil Syakira saat mereka sudah di dalam mobil dan akan menuju Cafenya. Arka dan Regar akan bertemu di Cafe Syakira atas permintaan Arka sendiri, ia juga di temani oleh Bunda serta Papahnya.
"Ya Bun.." jawab Arka menatap sang Bunda yang duduk di bangku depan bersama Papahnya yang mengemudi sedangkan ia duduk di belakang
"Arka sudah yakin kan Nak?" tanya Syakira, ia ingin memastikan lagi jika anaknya tidak dalam keadaan terpaksa
"Ya Bun, Arka sudah yakin." jawab Arka.
Arka menoleh ke arah jendela menatap keluar yang memperlihatkan jalanan yang ramai.
Syakira kembali diam ia melirik Rangga yang tetap fokus pada kendaraan yang ia bawak.
Tak sampai satu jam berikutnya, mobil yang di kendarai Rangga sudah sampai di Cafe ia segera memarkirkan mobilnya dan turun untuk membukakan pintu istrinya sedangkan Arka sudah keluar lebih dulu.
"Ayok sayang!" Syakira segera keluar dan menggandeng lengan Rangga berjalan masuk ke dalam Cafe di ikuti Arka di belakangnya, di mana Regar mantan suaminya telah menunggu mereka
"Mas.." panggil Syakira ada sosok pria di hadapannya yang segera berdiri dan menoleh ke arah Syakira juga Rangga.
"Sya.." lirih Regar menatap kemesraan antara suami istri di hadapannya. Regar segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dari mereka mencari soso lain di antara Syakira juga Rangga, dan saat itulah Arka muncul di balik punggung sang Papah sambung.
Regar tertegun menatap sang putra yang selama ini tak pernah ia temui, bahkan telah ia campakkan hanya demi anak yang ia kira adalah anaknya. Begitupun Arka yang merasa sakit di dadanya saat menatap sang Ayah kandung yang selama ini tak pernah ada untuknya bahkan di saat saat sulitnya sebagai seorang anak.
"A..Arka..." lirih Regar masih terdiam di tempatnya, ia tak berani mendekati sang putra yang juga hanya diam dengan tatapan penuh arti dan ya wajah dingin sang putra membuat nyalinya menciut.
Rangga yang mengerti situasi menghampiri Arka, ia menepuk pundak sang putra satu kali dan tersenyum lembut, Arkapun menoleh ke arah Papah Rangga dan tersenyum pula ke arahnya membuat Regar merasa sedih dan juga kecewa pada dirinya sendiri.
"Kita duduk dulu Mas." Syakira sudah duduk di kursi di ikuti oleh Rangga di sebelahnya. Arka berjalan dan melewati Regar begitu saja dan duduk tepat di hadapan Ayahnya. Regarpun segera duduk setelah ia kembali di buat sedih karena sikap sang putra yang jelas terlihat di matanya kekecewaan yang begitu mendalam, dan Regar tak membantah hal itu karena memang itulah kenyataannya.
("Tuhan sesakit ini rasanya!") batin Regar berusaha tegar, dan terus menatap anaknya yang ia rindukan.
__ADS_1
Hening tak ada satupun yang berbicara dari ke empatnya. Syakira juga Ranggapun tak berniat untuk berbicara karena mereka hanya akan menemani sang putra yang akan bertemu dengan Ayah biologisnya, kecuali jika mereka di minta bicara oleh kedua orang yang sejak tadi hanya saling pandang.
"Arka..." panggil Regar akhirnya menatap Putranya yang tetap menunjukkan wajah dingin
"Papah mintak maaf, Papah..." Regar tak mampu melanjutkan ucapannha, ia berusaha menahan segala gejolak dalam dirinya, dan pada akhirnya ia meneteskan air mata di hadapan Syakira, Rangga juga Arka. Menyesal, sungguh Regar benar benar menyesal menyakiti orang orang yang dulu begitu tulus padanya.
"Aku hanya ada satu Papah, dan dia adalah Papah Rangga." ujar Arka membuka suaranya dan itu sontak membuat Regar mengangkat kepalanya dan menatap putranya tak percaya jika ia akan mendengar kata kata menyakitkan dari sang putra. Syakira dan Ranggapun sangat terkejut, namun jujur Rangga merasa tersentuh akan ucapan anak sambungnya.
"Aku akan memnggilmu Ayah.." lanjut Arka tetap menatap Regar dengan tatapan acuh tak acuh serta wajah dinginnya. Mereka tak tahu jika saat inipun Arka sedang berjuang untuk tak menangis di hadapan Ayah kandungnya yang selama ini selalu ia harapkan untuk selalu ada di sisinya, sampai Rangga datang di kehidupannya dan juga Bunda membuat ia merasa nyaman dan tak mengharapkan sosok Ayah kandungnya lagi.
"Maaf Nak..." hanya itu yang mampu Regar keluarkan dari bibirnya yang terasa keluh.
"Ayah tahu! Arka sangat membenci Ayah sejak Arka tahu jika Ayah sudah menyakiti Bunda di masa lalu demi wanita lain juga anak yang ternyata bukan anak kandung Ayah." Arka mulai mengatakan isi hatinya yang sejak lama ia pendam
Syakira Rangga dan Regar kembali menatap Arka yang sudah menjatuhkan air mata meskipun wajah dinginnya tetap tak berubah.
"Arka semakin membenci Ayah saat Arka mengetahui jika Ayah memiliki anak lain selain Arka dari hasil di luar nikah dengan gadis yang telah Ayah nodai." Regar nampak terkejut, ia menatap Syakira yang ia fikir telah memberitahukannya pada Arka, namun yang di tatap malah menggelengkan kepala dan juga cukup terkejut dengan yang ia dengar dari putranya barusan.
"Arka sudah mengetahui segalanya sebelum Bunda, bahkan Arka tahu jika Kak Risa bukanlah anak Ayah juga sebelum Bunda. Arka sudah mengetahui segalanya dan itu semakin membuat Arka membenci Ayah.." Arka memejamkan matanya mencoba mengontrol dirinya sendiri yang hampir keluar kendali. Ia hanya tak ingin membuat Bunda juga Papahnya sedih dan kecewa karena sikapnya pada Ayah kandungnya.
"Bunda selalu mengajarkan Arka untuk memaafkan Ayah, meskipun dia sendiri telah di sakiti." lanjut Arka setelah ia kembali bisa menguasai dirinya
"Tapi Arka tak sebaik Bunda yang bisa memaafkan begitu saja, dan Arka belum bisa menerima. Ayah juga keluarga Ayah dalam hidup Arka." Regar kembali mengangkat kepalanya menatap Arka yang juga menatapnya penuh kecewa membuat hati Regar kian sakit.
"Arka..." lirih Regar, ia ingin mengatakan sesuatu namun seolah tercekat di tenggorokkannya saat melihat mata Arka yang merah dan penuh kecewa.
"Berusahalah Yah, jika memang Ayah inginkan Arka menerima Ayah dan menjadi bagian dari hidup Arka.." Arka berdiri namun masih menatap sng Ayah yang kini sedikit mendongakkan kepala untuk tetap bisa menatap sang putra
"Arka akan memberikan kesempatan untuk Ayah, dan Arka harap Ayah tak lagi membuat Arka kecewa setelah ini." Arka menatap Regar, ia juga berharap jika kesempatan yang ia berikan akan di gunakan dengan baik oleh Ayahnya untuk mendapatkan pengakuan darinya sebagai anak.
"Arka tunggu usaha Ayah juga niat Ayah untuk menjadi Ayah Arka yang sesungguhnya.." lanjut Arka, ia kembali diam dengan posisi berdiri seolah ingin mendengar jawaban dari sang Ayah
__ADS_1
"Ya Nak, Ayah akan melakukan apaoun untuk bisa dekat dengan Arka.." jawaban sang Ayah membuat Arka tersenyum tipis, sangat tipis bahkan tak akan ada yang tahu bahwa saat ini dia sedang tersenyum jika tak dilihat dengan seksama.
"Arka tunggu.." ujar Arka dan ia beranjak dari sana meninggalkan ketiga orang yang sejak tadi hanya mendengarkan keluhannya yang sejak lama sudah di tahan dan inilah kesempatan bagi Arka untuk mengutarakannya.
Arka kembali tersenyum meskipun air matanya kembali jatuh dan dengan cepat ia usap dengan punggung tangannya secara kasar dan mulai keluar dari Cafe dan masuk ke dalam mobil Rangga.
Syakira menatap Regar yang terdiam dan menatap ke arah luar Cafe di mana Arka telah keluar dari sana.
"Mas, sekarang kau memiliki kesempatan itu dan ku harap kau tidak membuat Arka kecewa lagi." ujar Syakira. Regar menoleh Syakira dan menatapnya kemudian ia mengangguk.
"Ya, aku pasti akan mendapatkan pwngakuan dari Arka.." jawab Regar penuh semangat
"Berusahalah, Arka anak yang baik dan dia pasti akan memaafkanmu." kali ini Rangga yang berbicara, ia menatap Regar yang sungguh sungguh ingin mendapatkan pengakuan dari putranya sendiri. Regarpun menatap Rangga tak percaya jika pria itu akan mengatakan hal yang seolah memberikannya semangat.
"Ya.." jawab Regar dan berusaha tersenyum, ia kembali menatap Syakira dan Rangga yang sejak tadi seling menempel dan tak pernah melepaskan tangan masing masing saling menggenggam penuh cinta.
"Aku pergi dulu, terima kasih kalian sudah membawa Arka dan mempertemukan kami.." ujar Regar, ia sudah merasa tak kuat berada di tengah tengah suami istri yang selalu nampak bersama dan bahagia, sedangkan ia. masih memiliki rasa pada. Syakira.
"Ya.." jawab Syakira dan Regar segera meninggalkan kedua orang yang sejak tadi menemaninya bertemu dengan putranya Arka.
Arka melihat kepergian sang Ayah yang sudah masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke arah jalanan dan menghilang di bali kmobil mobil yang lalu lalang. Rangga dan Syakirapun kembali ke mobil di mana Arka sudah menunggu.
"Mas hati hati ya.." ujar Syakira saat Rangga sudah naik ke dalam mobil.
"Ya, nanti Mas jemput jam empat sore.." ujar Rangga.
"Hmm.." Syakira berdehem dan tersenyum, kemudian ia menoleh ke arah Arka yang duduk di belakang karena ia fikir Bunda akan ikut mengantar ke sekolah
"Arka gak pindah ke depan aja Nak?" tanya Syakira lembut
"Ya Bun.." jawab Arka juga tersenyum segera pindah ke depan, dan sebelum masuk ia mencium punggung tangan sang Bunda juga kedua pipi Bundanya
__ADS_1
"Bunda akan selalu di hati Arka." ujar Arka dan segera masuk ke dalam mobil kemudian Rangga mulai mengendarinya dan meninggalkan Cafe serta Syakira yang masih tersenyum setelah mendengar penuturan anaknya.
"Bunda tahu itu Nak..." gumam Syakira ia pun masuk ke dalam Cafe yang mulai di isi oleh karyawannya yang baru berdatangan.