
Arka sedang memikirkan sesuatu di kamarnya, sejak kembali dari sekolah ia tak pernah keluar kamar.
"Hah..." Arka membuang nafasnya kasar, pandangannya menatap langit langit kamar.
"Cepat atau lambat, Wulan memang harus tahu." ujar Arka kembali memikirian pertemuannya dengan Wulan yang benar benar tak terduga
"Aku tak mau jika anak itu semakin menyimpan rasa cintanya untukku, karena aku dan dia adalah saudara." Arka agaknya merasa bersalah pada Wulan yang belum tahu kebenaran tentang hubungan mereka.
"Hanya...." Arka memejamkan matanya.
"Aku maaih belum siap.." lanjutnya kbali menatap langit langit kamarnya yang berwarna putih bersih.
"Hah..." Arka kembali membuang nafasnya kasar, dan duduk bersipa di atas kasur.
"Sebaiknya aku segera memberitahukan ini padanya, mungkin memang lebih baik dia tahu dariku lebih dulu." Arka meykinkan dirinya untuk memberi tahukan segalanya pada Wulan.
Hari makin malam, Syakira dan Rangga baru keluar dari kamar setelah mereka membersihkan diri dan sholat maghrib berjamaah begitupun dengan Arka yang baru turun dari kamarnya dan menuju meja makan untuk makn malam bersama keluarganya.
"Tymben baru turun Nak?" tanya Bunda tersenyum hngat ada Arka yang baru duduk di kursi makan.
"Iya Bun.." jawab Arka tak memberikan alasan dan tersenyum.
Mereka makan dengan tenang tanpa ada pembicaraan, hingga makan malam usai Arka dan Rangga duduk bersama di ruang tamu sedangkan Syakira membuat minuman untuk Suami dan Anaknya tak lupa cemilan di malam hari.
"Bun..." panggil Arka saat melihat Bunda yang sudah. duduk di samping Papahnya
"Ya sayang.." jawab Bunda mengalihkan pandangannya pada Arka yang juga menatapnya
"Arka akan mengatakan kebenarannya sama Wulan, karena Arka gak mau Wulan semakin menyimpan perasaannya sama Arka.." ujar Arka, Syakira dan Rangga terdiam sesaat. Lalu keduanya sama sama tersenyum pada Arka.
"Kalo Bunda terserah Arka saja, mau bagaimanapunkan Wulan adalah adiknya Arka dan Arka memang harus terima Nak.." jawab Bunda memberikan pendapatnya pada putra kesayangannya.
"Arka juga harus bisa jadi Kakak yang baik untuk Wulan, dia adik perempuan dan Arka harus bisa menjaga adik Arka karena Arka anak laki laki.." Papah ikut menambahi membrikan saran pada. Putra sambungnya yang sudah seperti anaknya sendiri.
Arka terdiam sejenak mendengarkan pendapat dan saran dari kedua orang tuanya, jika di fikir apa yang di katakan oleh dua irang di hadapnnya saat ini memanglah benar, tapi bagi Arka itu tidaklah mudah bukan.
"Hmm, akan Arka fikirkan lagi nanti." ujar Arka kembali terswnyum menatap Bunda juga Papah
"Makasih Bun, Pah.." Syakira dan Rangga mengangguk bersama dan tersenyum.
Malam itu Arka agak tenang setelah ia bercerita dengan kedua orang tuanya, karena sejak tadi siang ia selalu memikirkan hal itu dan membuat perasaannya tak nyaman sama sekali.
Arka sudah kembali ke dalam kamar, begitupun Syakira dan Rangga yang juga sangat lelah seharian bekerja. Tentu mereka butuh istirahat yabg cukup agar besok bisa terlihat lebih segar.
"Benar, aku memang harus menjadi Kakak yang untuk adikku, tapi..." Arka kembali menggantung ucapannya sendiri, ia masih ragu.
"Apa aku bisa!" ujarnya, suaranya sedikit melemah.
Arka ingin berusaha untuk menerima adiknya Wulan, namun masih ada keraguan dalam hatinya.
"Aku fikirkan lagi nanti, sekarang waktunya tidur.." Arka membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan nyaman. Beberapa saat ia menatap langit langit kamarnya kemudian memejamkan mata dan tertidur.
Pagi menjelang, Arka terbangun setelah mendengar suara adzan subuh berkumandang dengan indahnya. Ia segera menjalankan ibadahnya dan segera bersiap untuk ke sekolah seperti biasa.
Arka sudah selesai, ia segera turun ke bawah menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Pagi pah, Bunda..." sapa Arka.
"Pagi.." jawab Papah dan Bunda bersamaan tersenyum ke arah anak tampan mereka.
Keluarga itu sarapan dengan tenang seperti biasa, hingga selesai dan segera berangkat ke tempat yang di tuju masing masing.
Arka sudah mengendarai kuda besinya menuju ke sekolah dengan santai karena haripun masih terlalu pagi.
Di tengah jalan, Arka melihat seorang gadis remaja yang agaknya ia merasa kenal sedang berjalan sendirian sambil menangis.
Arka menghentikan laju motornya tepat di samoing gadis itu yang langsung menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Wulan.." panggil Arka menatap gadis di hadapannya kini. Arka segera turun dari motor dan berdiri di hadapan Wulan yang masih memandangnya.
"Kenapa Ka?" tanya Wulan sesaat setelah Arka berdiri di hadapannya, tatapan Wulan sangat menyedihkan bahkan pipiny masih basah karena air matanya yang sejak tadi terus berjatuhan.
__ADS_1
Arka menatap Wulan dengan mengerutkan keningnya tak mengerti dengan pertanyaan gadis di hadaannya ini.
"Kenapa?" tanya Wulan lagi semakin membuat Arka tak mengerti namun ia juga tak berbicara.
"Jadi ini alasan kamu gak bisa neremima aku selama ini?" lanjut Wulan, air mata kian deras mengalir di pipi putih dan mulus. miliknya.
"Kenapa gak bilang sejak awal kalo kamu emang sudah tahu?" tanya Wulan lagi, ia menatap Arka yang masih mencerna ucapannya.
Arka makin mengetutkan keningnya saat ia mendengar perkataan Wulan barusan, dan setelah ia bisa memahami maksud dari ucapan Wulan Arka membuatkan matanya sempurna, ia begitu terkejut karena ternyata Wulan sudah mengetahui segalanya.
"Kamu sudah tahu?" tanya Arka dengan wajah terkejutnya, ia menatap lekat manik mata Wulan yang juga menatapnya dengan kecewa.
"Kenapa kalian rahasiain semua ini dari aku? kenapa hah! kenapa?" Wulan berteriak, ia sungguh kecewa baik pada. Papahnya, Risa juga Arka yang sudah dengan tega merahasiakan kebenarannya ada dirinya.
Arka memejamkan matanya sejenak, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Maaf..." hanya kata itu yang keluar dari mulut Arka
Wulan terswnyum getir mendengar permintaan maaf dari Arka, sama persis seperti yang di lakukan olwh Papahnya.
"Apa karena kau anak haram! kalian memperlakukan aku ssperti ini?" tanya Wulan nada suaranya melemah, ia menatap Arka dengan penuh rasa kekecewaan dan juga entahlah tapi Wulan sangat sedih saat ini.
"Wulan..." bentak Arka saat mendengar ucapan Wulan barusan, sungguh ia tak suka mendengar kata kata yang keluar dari mulut adiknya.
Wulan kembali tersenyum getir, pandangannya turun kebawah menatap kaki putih dan mulus yang sedang berpijak pada jalanan tanpa alas kaki.
"Tapi itulah kenyataannya.." ujar Wulan kian melemah, bahkan suara isakannya kembali terdengar.
"Tidak, bukan begitu Wulan, hanya saja..." Arka tak bisa melanjutkan ucapannya, sungguh ia juga merasa bersalah pada Wulan sekarang.
"Pergilah, aku ingun sendiri." ujar Wulan, ia berbalik membelakangi Arka dan semakin terisak bahkan kedua bahunya terlihat naik turun.
Arka tak berkata apapun, ia memegang kedua pundak Wulan dan memutar tubuhnya untuk kembali menghadap padanya, Wulan hanya diam dan tetap menunduk.
Arka memeluk tubuh mungil sang Adik, ia begitu menyesal karena sudah merahasiakan semuanya dari Wulan hingga gadis itu kini sangat merasa di bohongi dan rapuh. Wulan terkejut dengan perlakuan Arka, meskioun ia sudah tahu jika pria yang sedang memeluknya kini adalah Kakaknya, tapi rasa cinta Wulan masih ada dan belum hilang namun ia juga tak bisa berbuat apa apa karena memang saat ini hnya pelukan itu yang Wulan butuhkan.
"Maaf.." satu kata itu kembali meluncur dari mulut Arka, ia meletakan dagunya di atas kepala Wulan dan mengelus punggung gafis itu dengan lembut, membuat Wulan semakin menangis dalam pelukannya.
"Diamlah..." ucap Arka semakin mengeratkan pelukannya pada Wulan, ia hanya ingin membuat gadis itu merasa nyaman dan tenang lebih dulu.
Cukup lama Arka dan Wulan berada dalam posisi itu hingga Wulan sudah merasa lebih baik dan tenag dari sebelumnya, Arkapun melepaskan pelukannya secara perlahan dan menatap Wulan yang kembali menundukkan pandangannya. Arka mengikuti tatapan Wulan, ia terkejut karena gadis itu tidak memakai alas kaki hingga terlihat jika kaki Wulan sedikit lecet karena berjalan cukup jauh dari rumahnya.
"Ikut aku.." ajak Arka, tanpa mendengar persegujuan dari Wulan ia memasangkan helm padanya dan menarik lembut tangan Wulan untuk naik ke motornya.
Wulan hanya diam dan mengikuti Arka, ia segera naik dan duduk di boncengan.
Arka melajukan motornya ke arah taman di dekat sana, ia berencana tak masuk sekolah hari ini dan akan mengirim pesan pada Habibi jika ia tidak sekolah.
"Maaf Wulan.." ujar Arka saat mereka sudah duduk di kursi taman. Wulan hanya diam pandangannya kosong mengarah ke depan.
"Aku hanya belum bisa menerima dirimu waktu itu, karena itu aku belum bisa berkata jujur dan meminta pada Ayah untuk tidqk membritahukannya dulu padamu." Arka menjelaskan segalanya pada Wulan, ia tak ingin menyembunyikan apapun padanya biarlah Wulan yang akan menilai dirinha seperti apa nanti.
Wulan masih diam, ia mendengarkan perkataan Arka yang sedikit membuat perasaannya terluka. Tak terima!
"Maaf.." Arka kembali mengatakan satu kata itu, ia menatap Wulan yang tetap diam dan menatap ke arah lain. Arka. melihat senyuman Wulan, namun ia tahu jika itu adalah senyuman getir dari sang Adik.
"Ya, kau benar Arka." ujar Wulan, tetap memandang ke arah depan senyumannya kembali hilang.
"Sejak awal kau memang selalu menolakku, lalu bagaimana mungkin kau bisa menerima diriku sebagai Adik." lanjutnya, Arka bungkam ia merasa perkataan Wulan memang benar.
"Aku hanya anak haram yang tak sengaja hadir karena sebuah kesalahan bukan, dan. kau adalah anak sah yang sangat di harapkan Papah.." Wulan menoleh pada Arka sekilas ia memberikan senyuman getirnya dan lebih lebar dari sebelumnya membuat Arka tak suka apalagi mendengar oerkataan Wulan barusan.
"Wulan.." Panggil Arka cukup keras, ia ingin marah namun dengan cepat ia menenangkan dirinya.
"Tak ada anak haram, dan seperti apa kamu bisa hadir ke dunia ini, kamu tetap adikku dan anak Ayah." ucap Arka. Wulan kembali menoleh dan tersenyum miring.
"Akan selalu ada perbedaan antara kamu dan aku Arka!." ujar Wulan kini tatapannya sengat sendu.
"Wulan, aku tahu aku salah dan untuk itu aku minta maaf." ucap Arka lembuta, ia memandang Wulang sebagai adiknya kini.
"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, karena aku sudah menerima dirimu sebagai adikku." lanjur Arka semakin dalam menatap Wulan yang juga menatap padanya.
__ADS_1
"Maaf, tapi aku butuh waktu sendiri.." ucap Wulan segera mengalihkan pandangannya ada Arka. Ia agak kecewa karena Arka yang mengatakan menerima dirinya sebagai adik setelah semua yang terjadi, padalah dulu betapapun keras ia berusaha Arka selalu menolak dirinya.
Arka terkwjut dengan ucapan Wulan barusan, ia kembli menarik Wulan ke dalam pelukannya. Sungguh Arka merasa sedih karena Wulan mengabaikan dirinya juga menolaknya sebagai Kakak.
("Aku tahu, mungkin ini yang kamu rasakan.") batin Arka semakin menyesali semuanya.
Wulan tetap diam, dan tidak bereaksi apapun.
"Aku janji akan jadi Kakak yang baik buat kamu Lan, tapi jangan abaikan aku.." pinta Arka, ia mengecup pucuk kepala Wulan.
Wulan terbelalak saat merasakan kecupan Arka, mau bagaimanapun ia masih memiliki perasan Cinta pada Arka yang ternyata Kakaknya.
"Kasih aku waktu!" jawab Wulan, masih dengan rasa terkejutnya dan Arka mengiyakan ucapan sang adik dan mengecup sekali lagi pucuk kepala Wulan.
"Ayok, Kakak antar kamu pulang.." ajak Arka berniat mengantar adiknya pulang, namun Wulan menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku gak mau pulang dulu, aku masih mau sendiri.." jawab Wulan kembali mengalihkan pandangannya dari Arka.
Arka mengerti, ia menarik lembut tangan Wulan menuju motornya dan memakaikan helm pada adiknya dan menyuruhnya untuk naik. Wulan hanya mengikuti tanpa bersuara.
Adka melajukan lagi kendaraan motornya menuju ke rumah Papah Rangga.
"Ini!" gumam Wulan mnatap rumah besar dan megah di hadapannya.
"Masuk.." ajak Arka kembali menarik tangan Wulan dan masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu tunggu di sini dulu!" Arka pergi ke dapur dan mengambil air minum untuk Wulan tak lupa ia juga mengambil kotak obat di sana
"Minum dulu!" Arka memberikan segelas air putih pada adiknya yang segera di terima dengan canggung.
Arka berjongkok di hadapan Wulan, ia juga meletakan kaki Wulan pada pahanya dan mulai mengobati luka di telapak kakinya. Wulan yang terkejut dengan perlakuan dan sikap Arka yang berubah drastis layaknya seorang Kakak yang baik.
"Shhhh, perih.." ringis Wulan memegang bahu Arka yang menoleh padanya dan menatap wahjah Wulan yang terlihat menahan sakit.
"Sudah.." ucap Arka setelah ia selesai mengobati kaki adiknya.
"Makasih.." ucap Wulan tulus dan semakin merasa canggung.
Arka memandang Wulan, ia baru sadar jika gadis di hadapannya ini sangat lemah dan rapuh, terlihat jelas berbeda dengan yang ia lihat selama ini.
Arka kembali merasa menyesal, karena selama ini selalu bersikap dingin pada Adiknya sendiri.
"Maaf.." lagi satu kata itu kembali meluncur di bibirnya dan menatap Wulan dwngan penyesalan
Wulan menoleh pada Arka, ia bisa melihat di mata Arka jika pria itu sangat menyesal, namun Wulan tak menjawab justru ia mengalihkan pandangannya lagi ke arah kakinya yang baru saja di obati Kakaknya.
"Kamu istirahat di sini aja." ujar Arka, karena tak mendapat jawaban atau ucapan apapun dari Wulan dan Arka bisa mengerti itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Wulan saat melihat Arka berdiri dan hendak pergi entah ke mana.
"Ke kamar, ganti baju.." jawab Arka tersenyum hangta pada Wulan.
"Gak sekolah?" Wulan kembali bertanya, dan Arka juga kembali tersenyum ia duduk lagi di samping Wulan.
"Hari ini aku izin buat nemenin Adik aku.." jawab Arka, Wulan terdiam.
'Adik'lirihnya dan kembali menunduk.
"Hmm, pergilah.." ucap Wulan dan berusaha tersenyum
Arka naik ke atas untuk berganti pakaian, dan kembali turun setelah selesai untuk menemani adiknya yang tak ingin kembali ke rumahnya.
Arka juga sudah mengabari Bunda dan meminta tolong agar memberitahukan pada sang Ayah jika anak gadisnya sudah bersama Arka Kakaknya.
Lanjut up...
Hah, akhirnya sampai juga di mana Wulan tahu jika Arka Kakaknya...
Makasih yang masih setia baca karyaku ini, dan makasih yang baru mampir.
Makasih orang baik...
__ADS_1
🙏🙏🙏