
Seperti yang di katakan Dokter Karina, Wulan akhirnya bisa menyelesaikan pengobatan terakhirnya dan bisa kembali ke kota bersama dengan Papah Regar.
"Jadi besok kita pulang Pah?" tanya Wulan bersemangat.
Regar mengangguk. "Ya, besok kita bisa pulanh karena pengobatan Wulan sudah selesai di sini.." jawab Regar tersenyum hangat.
Wulan memeluk Papahnya senang, ia sangat bahagia karena akhirnya ia bisa pulang dan bisa bertemu dengan Arka Kakaknya, dan Risa serta keluarga nya, juga Habibi tentu saja.
"Makasih Pah, Wulan seneng banget.." ucap Wulan dan Regar hanya tersenyum melihat kebahagiaan anaknya.
"Wah yang sebentar lagi bisa. ketemu pacar senang sekali sepertinya!" ledek Dokter Karina saat ia baru saja memasuki kamar Wulan karena dua hari yang lalu setelah Wulan menyelesaikan pengobatannya bersama Dokter Karina, Wulan memang di pindahkan ke kamar biasa.
"Dokter..." wajah gadis itu kembali memerah, ia selalu merasa malu saat ada yang menyinggung tentang Habibi dan hubungannya yang sebenarnya belum pasti.
Dokter Karina dan Regar tersenyum melihat tingkah lucu Wulan saat malu. "Dokter selalu ngeledekin Wulan.." rengek Wulan dengan bibir yang cemberut.
"Ya, anggap saja sebagai kenangan kenangan dari Dokter.." jawab Dokter Karina tanpa menghilangkan senyumannya.
Wulan semakin cemberut. "Mana ada kenang kenangan kayak gitu Dokter...." kesal Wulan, namun Dokter Karina justru tertawa melihay wajah kesal pasiennya.
"Ya, ya baiklah, Dokter minta maaf deh.." ujar Dokter Karina mengusap kepala Wulan.
Wulan mengangguk dan tersenyum. "Makasih Dok, udah sabar ngobatain Wulan, maaf kalo Wulan udah ngerepotin Dokter selama ini..." ucap Wulan tulus ia sedikit menundukkan wajahnya untuk menunjukkan ketulusan hatinya.
Dokter Karina kembali mengusap kepala Wulan dan tersenyum. "Sudah tugas saya membantu dan mengobati pasien saya yang datang.." jawab Dokter Karina lembut.
Regar dan Wulan tersenyum mendengar jawaban Dokter Karina. Awalnya, Regar berfikir jika Dokter Karina adalah sosok yang cuek dan dingin namun ternyata ia salah, karena Dokter Karina sangat humble dan juga ramah bahkan sangat lembut. Sama seperti Regar, Wulan pun merasakan hal yang sama.
"Baiklah, ini ada beberapa cendramata dari pulau ini dan berikan juga pada cucuku.." ucap Dokter Karina memberikan beberapa bingkisan pada Regar juga Wulan.
"Banyak sekali?" tanya Regar menatap 4 bingkisan yang ia terima dari tangan Dokter Karina.
Dokter Karina tersenyum. "Itu untuk keponakan dan keponakan menantuku, tolong kau berikan padanya." jawab Dokter Karina santai dan tenang karena ia memang tak begitu tahu tentang hubungan Regar dengan istri keponakannya Syakira.
Regar hanya bisa mengangguk pasrah, tak mungkin ia menolak sebab Dokter Karina sudah sangat baik dan mau membantu memberikan pengobatan terbaik untuk putrinya.
"Ini!" Wulan mengangkat dua bingkisan di tangannya.
__ADS_1
"Tentu saja untuk Kakakmu Arka juga pacarmu..." jawab Dokter Karina tersenyum.
Wulan segera menurunkan tangannya cepat, ia kembali cemberut. "Ummm." gumam Wulan
Dokter Karina kembali tersenyum, ia mencubit pipi Wulan gemas. "Sekarang kamu semakin gemuk ya!" ucap Dokter Karina semakin menggoda Wulan yang kian kesal di buatnya.
"Papah..." rengek Wulan manja menatap Papah Regar yang hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum bahagia.
Dokter Karina tak bisa menahan tawanya saat melihat Wulan, gadis itu selalu bisa menghibur dirinya. Ya, sudah sangat lama sekali Dokter Karina tak bisa tersenyum bahkan sampai tertawa seerti saat ini setelah kepergian suami juga anaknya dalam kecelakaan pesawat saat akan kembali dari luar kota membuat ia menjadi sosok wanita yang sangat dingin bahkan sangat jarang tersenyum. Namun, saat ia kembali bertemu dengan keponakannya Rangga juga cucunya Arka serta Wulan, ia kembali memiliki semangat dan berharap bisa bertemu lagi dengan mereka.
"Dokter sedih?" tanya Wulan, ia. menatap Dokter Karina yang tadi melamun.
Dokter Karina yang tersadar segera tersenyum lembut. "Tidak, hanya senang saja bisa bertemu dengan Wulan yang cantik dan juga cucu Dokter.." jawab Dokter Karina kembali mencubit pipi tembam Wulan.
Wulan mengerutkan keningnya, ia selalu mendengar Dokter Karina yang menyebut cucu tapi ia tak tahu siapa. "Emang cucu Dokter siapa?" tanya Wulan dengan wajah polosnya.
Dokter Karina tersenyum begitupun Regar, ia memang lupa menceritakan tentang Arka pada Wulan. "Tentu saja Kakakmu..." jawab Dokter Karina.
"Arka!" tebak Wulan dan Dokter Karina mengangguk membenarkan.
Wulan terkejut tentu saja, ia tak menyangka jika Kakaknya adalah cucu dari Dokter yang telah menyelamatkan hidupnya. "Jadi Wulan!" Wulan beralih menatao Regar yang segera menggelengkan kepalanya membuat Wulan semakin mengetutkan keningnya.
"Ohhh..." gumam Wulan sambil mengangguk anggukkan kepalanya paham.
Wulan kembali tersenyum. "Kalo Wulan boleh gak jadi cucu Doktee juga?" tanya Wulan polos
Dokter Karina tak bisa menahan tangannya untui kembali mencubit pipi Wulan apalagi gadis itu sangat imut di matanya. "Tentu saja.." jawab Dokter Karina, ia semakin mempelebar senyumannya membuat Wulan spontan memeluknya
"Yey, makasih Dok.." Wulan tersenyum cerah begitupun dengan Dokter Karina dan Regar.
Regar kembali ke kamarnya, ia akan membereskan semua barang barangnya karena Wulan sudah ada Suster yang akan membantu membereskan barang barang gadis itu.
Regar duduk di sofa, ia kembali menatap bingkisan yang baru saja ia terima dari Dokter Karina dan ia sedang memikirka cara bagaimana memberikannya pada Syakira nanti.
"Sudahlah, aku bisa memberikannya pada. Rangga lagi pula Ranggakan suaminya dan juga keponakan Dokter Karina jadi aku tak perlu memberikan secara langsung." gumam Regar akhirnya memilih untuk tidak memberikan secara langsung pada Syakira nanti.
Regar beranjak dari sofa menuju kamar mandi karena hari yang semakin sore belum lagi tubuhnya yang mulai terasa gerah dan berkeringat sebab saat siang hari di sana memang terasa agak panas, kecuali saat berada di dataran tingginya yang di penuhi dengan kebun serta persawahan.
__ADS_1
Hanya butuh kurang dari 30 menit saja bagi Regar untuk mandi dan ia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Regar segera menuju ke kamar Wulan kembali dan akan menemani gadis itu hingga malam menjelang dan akan kembali lagi ke kamarnya sendiri setelah Wulan tidur.
"Papah..." panggil Wulan menatap Papahnha yang sejak masuk ke kamarnya hanya melamun saja.
"Pah...." panggil Wulan lagi sambil menepuk lengan sang Papah yang hanya diam saja.
"Mmmm..." jawab Regar kaget, ia menatap anaknya yang juga menatapnya heran.
"Papah ngelamunin apa? dari tadi Wulan panggil gak nyaut nyaut?" tanya Wulan penasaran.
Regar tersenyum. "Gak, Papah cuma mikir gimana nanti repotnya Arka sama Habibi kalo kamu pulang!" jawab Regar dengan senyum menggoda putrinya sekaligus mengalihkan rasa penasaran anaknya.
"
Jangan bilang dulu ya Pah, Wulan mau kasih kejutan buat mereka!" pinta Wulan, ia mengatupkan kedua tangannya memohon.
"Hmmm, gimana ya!" goda Regar, melirik Wulan yang sudah cemberut.
"Papah....." rengek Wulan, melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah kesal.
Regar tersenyum, ia mencubit pipi dan hidung Wulan membuat gadis itu menjauhkan kepalanya dari Regar.
"Papah, ahhhhh...." Wulan memegang hidungnya, ia mengusap ngusap pelan menatap malas pada sang Papah yang justru tertawa kecil melihat tingkahnya.
"Pokoknya, kalo Papah bilang ke Arka sama Habibi Wulan marah nih!" rajuk Wulan akhirnya, ia mengakihkan pandangannya ke arah lain.
Regar hnya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya yang sudah kembali manja dan hal itu justru yang sangat ia tindukan. "Ya, Paoah gak bilang deh..." jawab Regar mengalah.
Wulan kembali menoleh menatap Regar dengan binar mata yang cerah. "Love you Papah..." ucap Wulan memeluk Papah Regar dan mencium pipinya.
"Love you yo Nak..." Regar pun membalas mencium kening putrinya. Sungguh hatinya sangat merasa hangat karena ia bisa melihat senyum bahagia anaknya lagi yang tentu sangat ia rindukan selama ini.
Wulan yang terlihat begitu bahagia, ia membayangkan bagaimana reaksi Kakak juga Habibi nanti saat tahu jika dirinya sudah kembali tanpa memberitahukan pada mereka berdua kecuali Risa, karena Papah Regar memang sudah memberitahukan kepulangan mereka pada Risa sebekumnya dan mengatakan agar jangan memberitahu pada Arka ataupun Habibi lebih dulu bahkan Rangga juga Syakirapun sudah tahu. Jadi, hanya Arka dan Habibi saja yang bwlum mengetahui kepulangan Wulan beaok.
Lanjut up....
Makasih orang baik...
__ADS_1
😊🙏🙏