Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Sebelumnya


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Regar yang sunyi dan damai sebelum berakhir pada Wulan yang sangat marah hingga pergi begitu saja dari rumah dan bertemu Arka Kakaknya yang juga sangat ia cintai.


Regar masih duduk di ruang tamu menunggu anak gadisnya turun dan ingin membicarakan sesuatu padanya.


"Wulan...." panggil Papah saat ia melihat anaknya yang baru keluar dari kamar dan hendak pergi sekolah.


"ya Pah.." jawqb Wulan mendekati sang Papah yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Kenapa Pah?" tanya Wulan yang kini sudah duduk menghadap Papah yang justru terdiam dan terus memperhatikannya.


"Pah!" pqnggil Wulan lagi membuat Papah sedikit kaget, nmun dengan cepat ia merubah mimik wajahnya menjadi biasa dan tersenyum.


"Ada yang harus Papah bicarakan Nak.." jawab Papah.


"Apa?" tanya Wulan


"Papah...." Regar menggantung ucapannya, kata kata yang sebelumnya sudah ia rangkai seketika hilang saat berhadapan dengan putrinya.


"Pah, kenapa?" tanya Wulan yang mulai penasaran dengan sikap sang Papah yang berbeda dari biasanya.


"Wulan mau punya Kakak gak Nak?" pertanyaan Regar membuat Wulan mengerutkan keningnya. Kakak! bagaimna mungkin?


"Kakak!" ulang Wulan


"Iya, Wulan mau kan?" tanya Papah lagi


"Wulan sudah punya Kak Risa Pah.." jawab Wulan seadanya.


"Bukan Kak Risa, tapi Kakak laki laki." jawab Papah. Wulan semakin curiga, dia bukanlah anak kecil dan juga tidak bodoh.


Wulan memperhatikan wajah Papahnya dengan seksama, ia sedikit menaruh curiga padanya.


"Jngan bilang Papah punya anak lain selain Wulan dan Kak Risa?" tanya Wulan penuh selidik, Papah terperanjat kaget, ia membulatkan matanya menatap Wulan yang masih memeprhatikan dirinya.


"Benar, Papah punya anak lain lagi!" ucap Wulan, suaranya melemah. Regar menunduk ia melihat jelas jika anak gadisnya ini kecewa padanya.


"Benarkan Pah?" Wulan menundukkan wajahnya dalam, ia sungguh tak menyngka jika tebakkan ternyata benar, niat hati hany ingin bercanda tapi siapa sangka Papahnya justru menunjukkan ekspresi yang tak terduga.


"Wulan, Papah mintak maaf tapi dia adalah anak kandung Paah dari istri Papah sebelumnya!" penjelasan Regar. membuat hati Wulan terasa nyeri.


"Benar, bagaimana Wulan bisa lupa jika dulu Paah memang sudah pernah menikah sebelum dengan Mamah Maya. Bodoh!" ujar Wulan ia menatap langit langit ruang tamu dengan mata berkaca kaca juga senyuman getirnya.

__ADS_1


"Dia anak kandung Papah, dan tentu saja bukan anak haram seperti Wulan.." lanjutnya semakin mempelebar senyuman getirnya membuat Regar merasa terluka mendengar perkataan anaknya.


"Wulan, jaga bicara kamu!" bentak Regar, matanya memerah.


Wulan bukannya takut, ia justru kembali tersenyum dan menatap Papahnya.


"Berapa banyak lagi kebohongan Papah?" tanya Wulan, suaranya benar benar lemah bahkan terdengar bergetar.


"Wulan, mengertilah Nak.." ucap Regar tak kalah lemah, ia sadar jika bentakkannya barusan asti akan membuat anaknya terluka, tapi dia sangat tidak suka mendengar perkataan anaknya itu yang mengatakan jika dirinya adalah anak haram.


Ketahuilah, tak ada anak haram di dunia ini tapi kelakuan orang tuanya lah yang seharusnya di haramkan.


"Mengerti!" ulang Wulan, ia mengerutkan keningnya dengan senyuman sinis menatap sang Papah yang sangat merasa bersalah dan hendak mendekati anaknya, nmun Wulan justru semakin menjauhi Papahnya dan tetap tak mengalihkan pandngan dari Papah.


"Wulan, Papah minta maaf tapi ini lah kenyataannya Nak." ujar Regar tak melanjutkan pergerakannya saat melihat anaknya justru menjauh.


"Ya, kenyataan jika aku memang anak haram." jawab Wulan, senyumananya terlihat memilukan hati.


"Wulan, berhentilah mengatakan kau anak haram karena kamu bukanlah anak haram Nak.." ucap Regar meski tak membentak namun sedikit terdengar kuat di telinga Wulan saat ini.


"Dan Papah! berhentilah terus membohongi Wulan!" ujar Wulan menatap benci dan kecewa pada Papahnya.


"Siapa dia Pah?" tanya Wulan, pandangannya lurus kedepan tatapannya kosong dengan air mata yang sudah jatuh menetes. Regar belum bisa mencerna pertanyaan anaknya, ia menaurkan kedua alisnya menatap putrinya.


"Siapa anak Papah?" ulang Wulan, karena belum mendapatkan jawaban dari Papah Regar.


"D-dia, dia orang yang kamu kenal Nak!" jawab Regar, ia ragu ingin menyebutkan nama putra kandungnya. Wulan menoleh kembali menatap Paah Regar yang justru menundukan pandangannya seperti sedang mencari sesuatu.


"Siapa?" tanya Wulan


"A-Arka-" Wulan molotot, ia sungguh tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Siapa?" ulangnya, menatap Papah Regar yang juga menatapnya.


"Arka, dia Kakak kamu Nak." jawab Papah membuat Wulan langsung berdiri karena terkejut dengan bola mata yang seakan ingin keluar dari tempatnya.


"A-Arka-" lirih Wulan, pandangannya teralihkan ke sisi lain, sedangkan Papah sedikit mengangkat kepalanya agar bjsa melihat wajah anaknya yang sudah bisa ia tebak jika gadis itu pasti sangat terkejut.


"A-Arka-" ulangnya lagi, suaranya kian melemah seiring dengan itu ia terduduk lemas di sofa dengan ekspresi yang sama.


"Wulan.." panggil Regar, ia hendak meraih tangan anaknya namun dengan kasar di tepis oleh Wulan yang sudah menangis sejadi jadinya membuat Papahnya kian merasa sesak dan menyesal.

__ADS_1


"Kalian sungguh keterlaluan..." lirih Wulan, tatapannya sungguh sayu, ia sudah tak mampu menahan tangis dan meluapkannya di hadapan sang Papah yang hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apapun seperti biasanya.


"Nak.." panggil Papah, masih ingin mencoba meraih anaknya, namun lagi lagi selalu di hindari Wulan.


"Wulan membenci kalian semua, Wulan benci kalian. " lirih Wulan semakin memilukan, ia juga sampai sesenggukan karena menangis.


"Kenapa? kenapa kalian selalu membohongi Wulan!" Wulan semakin mengencangkan tangisannya, tak ingin di tahan.


"Apa Papah tahh! jika Wulan sangta mencintai Arka, Wulan mencintai Arka! dan sekarang Wulan harus terima kenyataan jika selama ini Wulan mencintai Kakak Wulan sendiri.." ucapannya yang terakhir melemah, ia menundukkan wajahnya semakin dalam dan terisak bahkan bahunya naik turun dengan cepat.


"Wulan benci kalian, kalian semua jahat." teriak Wulan menatap sekilas pada Papahnya dan berlari meninggalkan sang Paah yang terkejut atas kepergian anaknya yng begitu cepat menghilang dari pandangannya.


"Wulan..." panggil Papah Regar bertetiak ia juga segera berdiri dan mengejar sang anak yang sedang marah, ia hanya takut terjadi sesuatu pada anaknya.


Regar mencari Wulan ke sekitar lingkungan rumah, namun tak bisa ia temukan. Risa yang juga sudah di beritahu Papah Regarpun ikut mencacari bersama suaminya Farhan namun tak juga bisa menemukan adiknya itu.


"Mas, gimana ini Wulan!" lirih Risa pada sang suami, ia juga sudah menangis dalam pelukan sang suami.


"Sabar, kita cari sampai ketemu tapi kamu juga harus ingat sama kondisi kamu sayang." ujar Farhan lembut membelai rambut panjang Risa.


"Kasihan Wulan Mas, dia pasti terpukul banget." lirih Risa lagi, matanya terus mencari keberadaan adiknya.


"Ya, apalagi jika orang yang di cintai ternyata Kakaknya sendiri." ucap Farhan tak bisa membayangkan perasaan adik iparnya itu saat ini. Pasti sangat hancur. Risa mengangguk pelan membenarkan ucapan suaminya. Mereka berduapun masih berusaha mencari keberadaan Wulan yang entah kemana.


Regar juga sangat frustasi, ia terus mencari anaknya di mana mana, namun hasilnya tetap sama tak bisa menemukan Wulan di manapun.


Waktu terus berjalan, sudah hampir tengah hari dan Regar masih belum bjsa menemukan anaknya.


"Di mana kamu Nak!" lirih Regar, ia yang mengendarai kendaraannya dengan pelan dan terus memperhatikan ke kanan dan kiri sekira ia bisa melihat anaknya.


Dret dret..


Suara handpone Regar bergetar pertanda jika ada pesan masuk, ia segera merahnya dan melihat siapa yang mengirim pesan, berharap jika itu Wulan atau Risa yang sudah menemukan Wulan. Regar agak terkejut saat melihat di layar pipih berwarna hitam di tangannya itu, bukan nama yang ia harapkan tapi justru nama yang tak pernah terbayangkan akan mengirim peaan padanya.


"Syakira.." lirih Regar, ia segera membuka pesan dari Syakira.


"Mas, Wulan bersama Arka di rumah, mereka bertemu di jalan tadi pagi dan membawa Wulan ke rumah karena tak ingin pulang." pesan yang di kirim oleh Syakira sedikit membuat hati Regar tenang, setidaknya anak gadisnya berada di tangan yang tepat karena Arka adalah Kakaknya dan pasti akan menjaga Wulan dengan baik.


"Terima kasih Sya." balasan dari Regar mengakhiri pesan mereka. Syakira hanya ingin mengabari itu saja atas permintaan anaknya, dan Regar meskipun masih ingin berbalas peaan pada mantan istrinya itu tapi ia sadar jika saat ini Syakira sudah sangat bahagia dengan kehidupannya dan tak ingin merusak kebahagiaan Syakira lagi.


Regar juga memberitaukan pada Risa, barulah ia pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2