
Di pagi hari yang indah, tiga wanita beda usia sedang berdebat di dapur hanya untuk menentukan menu sarapan pagi itu.
"Mara mau nasi goreng sosis." Mara mengucapkan keinginannya yang tidak setuju pada Syakira
"Tapi Kakak maunya Bubur Ayam!" Syakira yang tetap ngotot. Maira yang sejak tadi hanya jadi pendengarpun menjadi pusing sendiri
"Gini aja gimana kalo kita masak lontong sayur!" saran Maira namun dengan cepat Mara dan Syakira menggelengkan kepala mereka tak setuju.
"Terus apa?" Maira kian pusing menghadapi kedua adiknya.
"Mara maunya nasi goreng sosis Kak.."
"Tapi Sya maunya bubur ayam.."
"huffff..." Maira membuang nafas
Rangga yang memang bangun lebih awal mendengar pertengkaran di dapur, ia segera mendekat ke arah orang yang masih berdebat.
"Ini kenapa pagi pagi ribut?" tanya Rangga
"Mas, Sya mau masak bubur ayam tapi Mara maunya nasi goreng sosis terus Kak Mai maunya lontong.." jelas Syakira yang menggentol di lengan Rangga yang nampak frustasi pada ketiga wanita ini.
"Gini, aja deh kamu masakin Mas, Arka sama Habibi bubur ayam, nah kalo Mara masak nosi goreng sosis sedangkan Kak Mai masak lontong." jelas Rangga memberi sarang dan ketiganyapun mengangguk setuju.
Syakira dan Mara mulai masak seperti yang mereka inginkan, sedangkan Maira masih terdiam di tempatnya.
"Loh Kak Mai gak jadi buat lintongnya?" tanya Syakira, sedangkan Rangga sudah kembali ke ruang tamu. Hari masih terlalu pagi untuk ia berangkat ke kantor.
Dokter Erick dan yang lainpun sudah bangun dan sudah membersihkan diri kecuali Regar yang harus di bantu Mara. Arka dan Habibipun sudah siap dengan seragam sekolah.
"Kakak bingung Sya!" ungkap Maira, Syakira segera mendekati Kakaknya
"Bingung kenapa Kak?" Syakira menatap Kak Maira dengan pisau dan paha dada ayam di tangannya
"Kalian kan masakin buat pasangan, nah kalo Kakak masakin siapa dong! masak iya Kakak makan sendiri nih lontong." ujar Maira menatap lontong yang sudah ia siapkan sejak semalam, hanya tinggal membuat sayurnya saja namun ternyata kedua adiknya ingin membuat sarapan yang berbeda.
"Hmmm, hah.." Syakira mengangkat tangan yang memegang pisau
"Buat Dokter Erick aja, kan dia juga gak ada pasangan." usul Syakira tersenyum
"Gitu ya!" Maira sedikit ragu, Mara di belakang hanya tersenyum mendengar ucapan Syakira.
("Kayaknya Kak Sya juga ngerasain apa yang aku sama Mas Regar rasa deh!") batin Mara
"Hmm." Syakira mengangguk sekali dengan mata berkedip cepat
"Ya udah deh, apa boleh buat." jawab Maira juga segera membuat sayur teman lontongnya nanti.
Satu jam kemudian, masakan dari ketiganya sudah jadi, Syakira, Maira dan Mara membawa nampan yang berisi sarapan pagi mereka.
"Mas, sarapannya." Mara memberikan sepiring nasi goreng untuk Regar dan sepiring lgi untuknya.
"Loh kok cuma dua sayang?" tanya Regar, namun matanya melihat kedua Kakaknya yang membawa sarapan berbeda
"Pagi ini sarapannya sesuai selera masing masing." Syakira menjawab pertanyaan Regar yang hanya bisa menatap istrinya yang mengangguk
Syakirapun memberikan sarapan yang ia masak untuk suami dan anaknya serta teman Arka Habibi, sedangkan Maira masih berdiri, ia agak ragu ingin memberikan sarapan pada Erick yang juga hnya diam saja memperhatikan semua orang yang mulai makan dengan sarapan masing masing.
"Khemmmm." Maira dehem untuk menghilangkan rasa canggungnya
"Dokter, maaf saya cuma buat ini." ujar Maira menaruh namoan yang berisi dua mangkuk lontong di hadapan Dokter Erick.
__ADS_1
"Buat saya?" tanya Dokter Erick menatap lontong di hadapannya kemudian beralih menatap Maira yang mengangguk cepat. Semua yang melihat itu hanya tersenyum sembunyi sambil terus menikmati sarapan masing masing.
"Terimkasih, saya fikir gak ada yang buatin saya sarapan kayak mereka." ujar Dokter Erick segera mengambil satu mangkok lontong dan mulai menikmatinya dengan tenang dan damai.
Maira ikut makan bersama Dokter Erick yang nampak sangat menyukai masakannya, ia juga tersenyum saat Dokter Erick mengatakan jika masakannya sangat enak di sela sela makan
"Enak.." ujar Dokter Erick memandang Maira sekilas, yang di pandang semakin tersenyum puas.
"Mas gak ke kantor?" tanya Syakira mengalihkan pandangannya pada sang suami yang asik memperhatikan sahabatnya yang mulai akrab dengan Kakak iparnya
"Ngantor bentar lagi. Sayang ainya!" ucap Rangga. Syakira segera mengambilkan segelas air dqn memberikannya pada Rangga yang langsung meminumnya hingga tandas
"Alhamdulillah, enak sayang. Makasih.." Rangga mencium kening Syakira.
"Bun, Arka sama Bibi berangkat dulu..." Arka dan Habibi sudah selesai dan hendak berangkat sekolah.
"Ya hati hati, jangan ngebut ngebut Nak!" Syakira selalu mewanti wanti keluarganya sejak kejadian yang menimpa Regar.
"Ya Bun.." jawab Arka yang sudah mencium punggung tangan sang Bunda lalu bergantian pada Paahnya Rangga dan terus hingga semuanya ia salimi kecuali Mara yang tidak ia cium dan hnya bersalaman biasa saja.
"Arka, kok gak di cium tangan Rante Maranya?" tanya Regar. Arka tak menjawab ia hanya tersenyum.
"Arka berangkat Assalamualaikum.." ujar Arka menarik tangan Habibi
"Berangkat semua, Assalamualaikum.." teriak Habibi yang tangannya di tarik oleh Arka keluar rumah
"Gak mungkin lah loe mau cium tangan Kak mara, orang duku loe kan punya rasa sama dia. hmmppp." Habibi yang tahu kisah Arka yang menyukai Mara dahulu menahan senyumnya saat Arka menatap ke arahnya.
"Itu dulu Bi, sekarang mah udah enggak." jawab Arka menaiki motor gedenya kemudian di ikuti oleh Habibi.
"Ya, kan sekarang loe lagi menanti sang pujaan hati Kalisa.." ucap Habibi, Arka hanya tersenyum dan mulai mengendarai motornya menuju sekolah.
Di dalam rumah, semua irang masih saling mengobrol setelah sarapan bersama, kecuali Mara dan Regar yang sudah masuk ke kamar karena akan membersihkan tubuh Regar dan mengganti perban pada wajahnya.
"Hmmm." Mara tetap fokus pada pekerjaanny, meskipun ia sedikit malu karena ini pertama kali baginya, namun Mara tetap melakukannya karena sekarang Regar sudah menjadi suaminya dan juga tanggung jawabnya.
"Nanti perbannya biar Mas aja yang ganti." ucap Regar, ia juga malu karena senjatanya yang masih tidur harus di lihat oleh Mara walaupun sekarang Mara sudah menjadi istrinya.
"Kenapa?" tanya Mara yang sudah memakaikan ****** ***** serta celan pendek sebatas lutup pada Regar.
"Mas gak mau kamu lihat wajah Mas yang kayak gini sayang!" ujar Regar memegang wajahnya yang masih terbalut perban. Mara tersenyum, ia memeluk Regar yang belum memakai baju bahkan dengan berani ia mencium dada suaminya.
"Aku gak masalah, malahan aku seneng bisa ngelakuin semua hal yang bersangkutan sama Mas.." jawab Mara ia mendongak agar bisa melihat suaminya yng juga sedikit menunduk. Regar mengambil kesempatan itu dan mencium bibir manis sang istri.
"Mmmm, Mas.." rengek Mara ia menjaihkan tubuhnya dari Regar yang tersenyum
"Makasih.." Mara hnya mengangguk dan mulai membuka perban pada wajah Regar dengan hati hati kemudian menggantinya dengan yang baru, barulah ia memakaikan kaos berwarna coklat pada Regar.
"Selesai, wah suami akohh gantengnya.." puji Mara, entah sejak kapan gadis itu bisa berbahasa gaul seperti itu membuat Regar melebarkan senyumannya menatap sang istri.
"Gak seganteng dulu." jawab Regar
"Hm hm hm, tidak bagiku Mas tetap sama." jawab Mara yakin dan mencium pipi Regar yang sudah ia ganti perbannya.
"Kamu ini, mulai nakal ya sekarang.." Mara hnya tersenyum dan mulai membantu Regar untuk naik ke kursi rodanya dan mendorongnya kembali ke ruang tamu
"Sudah selesai ya Mar?" tanya Syakira saat ia melihat Regar dan Mara yang baru keluar
"sudah Tan, eh Kak.." jawab Mara. Syakira dan yang lain tersenyum mendengar panggilan Mara yang masih belum terbiasa.
"Tante juga gak papa kok sayang.." jawab Syakira membelai pipi Mara yang tersenyum.
__ADS_1
"Ya Tan.." jawab Mara.
"Kalo gitu Mas berangkat ke kantor dulu ya. Kamu mau mas anter pulang atau mau di sini?" tanya Rangga saat ia baru keluar dari dalam kamar dan sudah siap dengan baju kantornya seperti biasa.
"Hmm, aku di sini aja deh Mas, nanti juga ada Rani mau ke sini jadi biar bisa berangkat bareng dia aja." Rangga mengangguk, ia mencium kening Syakira dan Syakira mencium punggung tangan suaminya.
"Mas berangkat, Assalamualaikum.."
"Waalaikumusalam." Rangga berangkat ke kantor dengan bahagia.
"Sudah siap Regar?" tqnya Dokter Erick yang juga baru keluar dari kamar dengan seragam Dokternya. Ya, Dokter Erick memang sudah membawa baju dinasnya karena ia memang berencana akan menginap di rumah Maira dan Regar setelah acara pernikahan yang mendadak itu.
"Sudah.." jawab Regar, dan Mara segera mendorong kursi roda Regar menuju tempat di mana Regar akan mulai terapi berjalan.
"Kita akan mulai di sini saja, temoatnya sangat nyaman dan Regar bisa menghirup udara segar." ujar Dokter Erick.
"Ya Dok.." jawab Mara. Syakira dan Maira hnya memoerhatikan tiga orang di hadapan mereka yang duduk di kursi tak jauh dari tempat Regar melakukan terapinya.
"Hati hati Mas!" ujar Mara membantu Regar berdiri.
Dokter Erickpun membantu Regar di sisi lain, ia sangat telaten memberikan arahan pada Regar yang sedikit kesulitan saat mengangkat kakinya.
"Akhhh...." Regar hampir terjatuh namun dengan cepat Mara menangkapnya, karena gadis itu selalu setia berada di sampingnya.
"Hati hati, pelan oelan Saja Regar!" saran Dokter Erick tersenyum lembut pada Regar yang mengangguk dan terus berusaha untuk menggerakkan kakinya dengan kedua tangan yang berpegangan pada penahan di samoing kanan dan kirinya.
"Akhh.."lagi Regar hampir jatuh, dan Mara kembali sigap menangkap Regar.
Syakira dan Mairapun selaku hendak berdiri saat melihat Regar yang akan jatuh, namun saat melihat Mara yang tak pernah jauh dari Regar membuat medeka tersenyum dan kembali duduk memeprhatikan mereka bertiga.
"Bersyukur sekarang sudah ada Mara Kak." ujar Syakira terus memeprhatikaan Mara yang sangat perhatian pada adiknya
"Ya dek, Kakak juga sangat bersyukur Mara masih mau menerima Regar yang sekarang." jawab Maira tak kalah bahagian melihat Mara yang tetap menerima adiknya dengan kondisi seperti ini.
"Tentu saja, karena Mara tahu jika Regar sangat mencintainya dan Marapun sangat mencintai Regar.." suara itu datang dari belakang, Maira dan Syakira segera menoleh dan mendapati Rani yang sedang berjalan ke arah mereka dengan senyumannya.
"Lama sekli Ran! ngapain dulu kamu di rumah sama Mas Agus?" tanya Syakira tersenyum
"Ish, kau ini Sya kayak gak tahu aja kalo pengantin baru.." jawab Rani. Maira hanya tersenyum mendengar ucapan kedua irang di samping kanan kirinya.
"Hushh, jangan gitulah kasihan kak Mai.." ujar Syakira melirik Kakaknya yang mendengus kesal mendengar perkataan Adiknya namun ia tetap fokus pada Regar, eh bukan tapi pada Dokter Erick.
"Bagus, saya rasa cukup untuk hari ini, besok kita akan melakukan hal yang sama sampai kamu benar benar bisa menggerakkannya lebih cepat dari ini.." ujar Dokter Erick yang menghentikan terapi jalan pada Regar hari ini.
"Makasih Dok.." ucap Mara setelah ia membantu Regar kembali ke kursi rodanya.
"Sama sama..." jawab Dokter Erick tersenyum sangat ramah.
"Baiklah, saya harus kembali ke rumah sakit. Titip salam buat yang lain.." ujar Dokter Erick menoleh ke arah Maira yang ternyata juga sedang menatapnya membuat kedua mata mereka bergemu beberapa saat, namun dengan segera Maira mengalihkan pandangannya ke arah lain
"Saya duluan..." ujar Dokter Erick tersenyum dan berlaku meninggalkan Mara dan Regar, ia sudqh masuk ke dalam mobil yang di kendarai sang supir.
"Semoga Dokter Erick jodohnya Kak Mai!" ujar Mara merasa jika Dokter Erick benar benar memiliki perasaan untuk Maira
"Aamiin sayang, kita ke sana itu ada Mamah." ajak Regar, Mara segera mendorong kursi rodanya ke arah tiga wanita yang sedang asik berbicara
"Kita masuk, lanjut di dalam saja!" Maira sudah berdiri kemudian ia membantu Mara mendorong kursi roda Regar dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Syakira dan Rani di belakang mereka.
Lanjut up
Makasih makasih makasih, buat kalian yqng masih setia baca, taoi jangan lupakan like sama dukungannya ya, karena sangat berarti buat Author.
__ADS_1
Makasih banyak orang baik....
🙏🙏🙏