Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Kebenaran yang Kembali Terungkap


__ADS_3

Sejak hari itu, Risapun pindah ke apartemennya dan tinggal di sana seorang diri, tanpa pembantu ataupun supir, sesuai dengan keinginannya yang ingin hidup mandiri.


"Aku yakin, aku bisa hidup tanpa bergelimangan harta dan mulai hari ini aku akan hidup sesuai denhan apa yang aku dapatkan." ucapnya ketika hendak keluar dari dalam apartemennya. Selain pindah dari rumah orangtuanya, ia pun tak ingin menerima uang dari mereka dan mulai bekerja paruh waktu di Cafe. Risa tak ingin seperti masa lalu Mamahnya yang tak baik. Meski begitu ia tetap menyayangi Mamahnya karena kini hanya dia. yang ia punya.


"Pagi..." sapa Risa pada karyawan lama yang akan menjadi teman seperjuangannya saat sudah tiba di Cafe.


"Pagi, kamu baru ya?" tanya seorang gadis yang terlihat 2 tahun lebih tua darinya.


"Iya, mohon bantuannya.." jawab Risa menundukkan sedikit kepalanya untuk menunjukkan rasa hormatnya pada senior.


"Eh, eh jangan gitu biasa aja." ucap gadis di hapan Risa tersenyum ramah.


"Kalo di sini, in syaa Allah kamu aman kok dari bully an. hehe..." ujarnya kembali tersenyum sambil merangkul pindak Risa yang ikut tersenyum menatapnya. Hari pertama bekerjapun berjalan lancar, meski baru sejari namun Risa sudah bisa berinteraksi dan beradaptasi dengan sangat baik jadi semua karyawan sangat menyukainya, walaupun Risa masih sering salah dan di tegur, tapi ia tak berhenti dan terus berusaha itu juga atas bantuan teman-teman barunya di Cafe.


"Ah, akgirnya selesai juga.." lorihnya saat melohat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 2 sore. Saat wawancara, Risa memang sudah bilang pada pemilik Cafe jika ia masih berkuliah dan berharap jika nanti di terima maka ia bisa pulang lebih awal, karena itu Risa pulang jam 2, namun tenang semua karyawan sudah di beritahu dan merekapun tak ada yang keberatan karena duluoun di antara mereka juga sama seperti Risa.


"Kak, Risa duluan ya maaf harus pulang lebih awal!" ucapnya tak enak hati pada seniornya yang langsung tersenyum.


"Santai, dulu juga aku sama kok kayak kamu kerja sambil kuliah tunggu aku kerja di sini sampe sekarang deh." ungkapnya, Risapun ikut tersenyum setelah mendengar penjelasan seniornya yang ramah.


"Kalo gitu duluan ya Kak." ucap Risa kemudian keluar dari Cafe dan menunggu ojek online yang sudah ia pesan saat masih di dalam.


"Mbak Risa ya!" tanya seorang pria dengan pakaian lengkap khas ojek setelah berada di hadapan Risa dengan motornya.


"Iya.." jawab Risa. Pak ojek itu pun segera memberikan helm pada Risa yang langsung di pakai kemudian naik ke atas motor sambil berpegangan di belakang.


"Udah, Mbak?" tanya nya lagi sebelum melajukan motornya meninggalkan Cafe


"Hmmm." jawab Risa. Merekapun beranjak dari sana menuju kampus di mana Risa kuliah saat ini sesuai dengan aplikasi.


Setengah jalan terlewati, tanpa sengaja Risa bertemu dengan adiknya Wulan yang sesang menangis sambil berjalan tak tentu arah.


"Pak berhenti dulu di depan sana!" pinta Risa menunjuk ke arah depannya di mana Wulan sedang berjalan sambil menangis.


"Kenapa mbak?" tanya pak ojek saat Risa turun dari motornya dan mengembalikan helm yang susah ia lepas.


"Ini uangnya pak, saya turun di sini saja." ujar Risa memberikan uang sesuai dengan yang ada di aplikasi kemudian berlari ke arah adiknya. Pak ojek hnya menggeleng kemudian meneruskan tujuannya.


"Wulan..." panggil Risa saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah. Mendengar namanya di panggil, Wulan mengangkat kepalanya dan mendapati sang Kakak sedang berdiri tepat di hadapannya.


"Kakak..." lirihnya pelan, air matanya kembali menetes


"Kakakkk....." teriaknya kencang berlari ke arah Risa yang juga berjalan cepat menuju adiknya dan segera memeluknya. Wulan menangis dalam pelukkan sang Kakak hingga tersedu-sedu bahkan mereka sampai berjongkok di pinggir jalan yang ramai dengan segala macam kendaraan yang lewat.


"Kita ke sana dek, nanti kamu ceritain sama Kakak ya!" ucap Risa menuntun Wulan yang masih menangis di pelukannya ke arah taman dekat kota.


"Kenapa dek, kenapa kamu nangis di pinggir jalan kayak gitu? hmm." tanya Risa khawatir pasalnya tadi Wulan berjalan tanpa memperdulikan sekitarnya dan itu bisa saja membahayakan nyawanya.

__ADS_1


"Pa..pah dan Mamah mau pisah Kak." ucap Wulan kembali menangis dan memeluk Risa yang tercengang dengan penuturan adiknya.


"Kenapa?" tanya Risa tanpa melepaskan pelukannya dan justru ia mengusap. punggung adiknya agar lebih tenang.


"Itu, itu karena Wulan Kak!" jawab Wulan


"Kamu, tapi kenapa dek?" tanya Risa tak mengerti


"Apa, Kakak sungguh tak tahu?" Wulan justru bertanya balik pada Risa yang langsung menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana Kakak tahu jika kamu saja belum cerita." jelas Risa memegang kedua pundak adiknya yang menunduk.


"Kita bukan Kakak adik Kak!" Risa terkejut dengan ucapan Wulan.


"Kata siapa?" tanya Risa


"Papah dan Mamah." jawab Wulan memandang Kakaknya


"Mustahil dek, ya kita mungkin tidak satu Papah tapi kita kan lahir di rahim yang sama sayang itu artinya kita tetap Kakak dan Adik!" jelas Risa, namun Wulan segera menggelengkan kepalanya membuat Risa memicingkan sebelah alisnya.


"Kita gak lahir di rahim yang sama Kak, karena Wulan lahir dari rahim yang berbeda karena Papah punya wanita lain saat bersama Mamah dan itu adalah Mamah kandung Wulan, tapi karena Mamah Wulan meninggal saat Wulan lahir jadi Papah dan Mamah lah yang merawat Wulan." ungkap Wulan menatap sendu ke arah gadis di hadapannya yang sudah ia anggap seperti Kakak kandungnya sendiri. Risa terkejut bukan main, ia memutar badannya ke arah depan dan menatap langit yang cerah hari itu.


"Kak..." panggil Wulan, menatap sang Kakak yang terlihat masih syok dengan pernyataannya barusan.


"Kak..." panggilnya lagi saat tak ada sautan dari Risa.


"Hmm." jawab Risa masih dengan posisi yang sama, namun kini ia sedang memejamkan matanya.


"Hai, apapun yang terjadi kamu akan tetap jadi adik Kakak. Selamanya..." ujar Risa segera memeluk adiknya yang sudah menangis lagi, iapun tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi di tahan. Akhirnya mereka menangis dengan saling berpelukan. Risa tak masuk kuliah hari itu dan memilih menemani adiknya pulang ke rumah milik Papah mereka.


"Wulan, Risa..." ucap Papah merasa lega melihat Wulan yang sudah kembali bersama dengan Risa.


"Maaf kan Papah dan Mamah Nak!" ucap Papah memeluk Wulan yang hanya diam di samping Risa


"Risa kita pergi dari sini, dan kamu gak perlu tinggal di aartemen sendirian." ucap Mamah menarik tangan Risa saat baru keluar dari kamarnya sambil membawa koper.


"Mah..." panghil Risa dan Wulan bersamaan.


"Apa Mamah gak bisa menerima Wulan seperti anak Mamah sendiri?" tanya Wulan memdekati Mamah dan memegang tangannya. Risa dan Papah hanya memperhatikan mereka, Mamah yang sama sekali tak peduli mwnepis tangan Wulan.


"Gak bisa, karena sampai kapanpun anakku cuma Risa." ucap Mamah kasar kwmbali menggandengan tangan anaknya Risa.


"Maya..." teriak suaminya. Ya wanitu itu Maya, dan suaminya adalah Regar mantan suami dari Syakira. Regar sangat marah atas perlakuan Maya terhadap putri kandungnya selama ini, meskipun ia terus mencoba untuk sabar dan mempertahankan segalanya namun pada akhirnya ia memilih mundur dan melepaskan Maya.


"Pah.." lirih Wulan namun masih bisa di dengar oleh semua orang


"Mah, kenapa Mamah sangat membenci Wulan?" tanya Wulan lagi menatap Maya yang hanya melengos

__ADS_1


"Ya karena kamu anak dari selingkuhan Papah yang selama ini kamu banggakan." ujarnya membuat Wulan tersentak. Regar yang mendengar itupun semakin emosi.


"Beraninya kau.." bentaknya hendak mendekat namun segera di hentikan oleh Wulan dengan gerakan tangannya.


"Baiklah, maaf untuk itu." ucap Wulan pasrah.


"Kita pergi sekarang." ajak Maya pada Risa yang tangannya terus ia gandeng, namun baru beberapa langkah Risa menghentikan langkahnya hingga membuat Mayapun berhenti kwmudian berbalik menatapnya heran.


"Kenapa?" tanya Maya


"Dulu, Mamah juga sudah berbohong tentang Risa pada Papah, namun Papah tetap. menerima dan menyayangi Risa seperti anaknya sendiri padahal saat itu Wulan yang jelas anak kandung Papah sudah ada dan tinggal bersama kita,tapi kasih sayang Papah sma sekali tak pernah berkurang untuk Risa." ucap Risa memandang wajah Papahnya yang terharus dengan perkataannya


"Karena ada Papah, Risa tak pernah kekurangan kasih sayang. Papah selalu ada saat Risa butuhkan." ungkapnya menatap Maya yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Mah, Risa mohon cobalah menerima Wulan seperti Papah yang menerima Risa." lanjut Risa memegang tangan Mamahnya kemudian meraih tangan Wulan yang berdiri tak jauh darinya.


"Lihatlah, bahkan Wulan sangat menyayangi Mamah, tak bisakah kita hidup seperti dulu Mah?" tanya Risa menatap lekat wajah Mamahnya yang juga sudah menangis.


"Risa, Mamah gak bisa Nak. Mamah,, Mamah gak sanggup." lirih Maya menatap putrinya kemudian mendekat ke arah Wulan


"Wulan, maafin kata-kata Mamah barusan. Mamah hanya terbawa emosi, karena sebenarnya Mamahpun menyayangimu Nak, hanya saja bayangan akan masa lalu yang selalui memghantui hidup Mamah yang membuat hati Mamah sakit dan melampiaskannya padamu." ucap Maya memeluk Wulan yang langsung menangis. Regar hanya diam memandangi Maya dan kedua putrinya, ia bahkan tak menyangka jika ternyata selama ini Maya pun menyayangi anak kandungnya dari wanita lain.


"Maafkan Papah, karena di sini Papah lah orang yang paling jahat." ujar Regar menatap ketiga orang di hadapamnya.


"Papah..." ujar Wulan dan Risa berbarengan. Merekapun berlari ke arah Regar dan segera memeluknya.


"Bisakah kita tetap bersama May, maafkan aku yang sudah menyakitimu!" ujar Regar menatap Maya


"Maaf Mas, tapi ku rasa jalan kita sudah berbeda. Aku tak bisa lagi bersama denganmu, tapi Wulan akan tetap ku anggap seperti anakku sendiri." jawabnya tersenyum menatap wajah Wulan yang lebih mirip ibu kandungnya dan itu yang membuat Maya merasa sakit di hatinya, akan tetapi ia tak prrnah ungkapkan hanya saja sikapnya akan berubah dingin pada Wulan.


"Mamah.." ucap Wulan memeluk Maya sedih. Maya mencium kening dan kedua pipi Wulan, kemudian berlalu masuk ke dalam mobilnya.


"Wulan, bis datang kapanpun ke rumah Mamah nanti, dan Risa terserah kamu ingin tinggal dengan Mamah atau tetap dengan le diriamnu untuk hidup mandiri, tapi ingat lah Mamah akan selalu ada untuk kalian berdua." ujar Maya memeluk kedua pitrinya kemudian masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan kediaman Regar.


"Maafkan Papah.." ucap Regar, untuk kedua kalinya ia melihat iatrinya pergi meninggalkan dirinya dengan hati yang terluka. Dulu Syakira dan sekarang Maya yang sebenarnya sudah sedikit berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.


"Pah, ini adalah takdir yang Tuhan kasih buat kita. Tapi Risa bersyukur karena Tuhan mempertemukan Risa dengan Papah." ucap Risa memegang tangan Regar.


"Wulan juga, bersyukur punya Papah kayak Papah." ucap Wulan memeluk Papahnya, ia tak lagi menangis setelah mendapat pengakuan dari Mamahnya Maya. Regar memandangi kedua putrinya bergantian dan tersenyum mendengar penuturan keduanya.


Hari itu Risa nginap di rumah Regar dan tidur bersama Wulan yang ingin di temani sang Kakak, sedangkan di kamar, Regar terus memikirkan istrinya Maya juga mantannya Syakira yang harus pergi karena kesalahan juga kebodohannya. Akan tetapi yang lebih menyedihkan adalah, sampai detik ini ia bahkan belum pernah mihat wajah anaknya dengan Syakira, bahkan iapun tidak tahu apakah anaknya laki-laki ataukah perempuan.


"Dimana kamu syakira? mengapa sangat sulit mencari keberadaanmu juga anak kita!" batinnya. Malam itu Regar tidur larut malam karena terus kefikiran akan kesalahannya yang dulu maupun yang saat ini hingga matanya terlejam dengan sendirinya kemudian iapun terlelap.


Ok, up lagi...


Makasih yang udah mampir baca, jangan lupa like dan komen yang mendukung ya dan pantengin terus ceritanya...

__ADS_1


Makasih orang baik....


🙏🙏🙏


__ADS_2