
Dua hari setelahnya, Wulan menjadi sosok gadis yang lebih pendiam hubungannya dengan Papah Regarpun merenggang, juga Wulan selalu menghindari sang Kakak Arka jika pria itu selalu ingin menemuinya.
"Maaf Ka, aku sibuk..." jawab Wulan saat ia baru saja menerima telpone dari Arka yang ingin mengajaknya jalan jalan agar hubungan mereka lebih dekat.
"Aku tutup dulu ya, Assalamualaikum..." ucap Wulan dan mengakhiri sambungan telpine secara sepihak sebelum Arka berbicara lagi.
"Maaf, aku belum bisa menerima semua kenyataan yang baru aku ketahui secepat ini.." lirih Wulan, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit langit kamar yang berwana pink kesukaannya.
Wulan sadar, rasa cintanya untuk Arka adalah sebuah kesalahan besar setelah ia tahu jika Arka adalah Kakaknya sendiri. Wulan ingin menghilangkan rasa itu pada Arka, dan menerima pria yang ia cintai sebagai Kakaknya di dalam hidupnya, namun pasti akan butuh waktu baginya untuk melupakan semua perasaannya yabg teramat besar untuk Arka.
"Wulan..." panggil Papah Regar di depan pintu kamar Wulan sambil mengetuk pelan.
"Ya.." jawab Wulan, ia segera bangun dan berjalan mendekati pintu lalu membukanya lebar.
"Kenapa Pah?" tanya Wulan tanpa ekspresi apapun.
Regar merasa sedih atas sikap anaknga yang jelas terlihat jika Wulan masih merasa kecewa padanya juga sedikit menjauhinya.
"Ada Kak Arka!" Jawab Papah Regar masih menatap anaknya yang ekspresi wajahnya terliht terkejut.
"Arka!" ulang Wulan meyakinkan pendengarannya
"iya nak." jawab Papah.
"Hah.." terdengan helaan nafas berat dari Wulan.
"Wulan turun sebentar lagi." ujar Wulan kembali masuk dan menutup pintu setelah Paoah Regar mengngguk namun masih berdiri di sana memperhatikan anaknya yng sudah tak terlihat di balik pintu yang sudah di tutup rapat.
"Maaf.." lirih Regar, ia sangat sedih mendapati sikap anaknya barusan.
Regar kembali turun ke bawah dan memberitahu pada Arka jika adiknya akan segera turun untuk menemuinya.
Sikap Arkapun tak juh beda dengan Wulan saat berhadapan dengnnya, bahkan Arka lebih dingin dari pada anak perempuannya karena luka Arka jauh lebih pedih. Ini adalah ertama kali Arka mendatangi rumahnya demi adiknya agar hubungn mereka berdua sedikit lebih dekat.
Di atas Wulan masih ragu untuk turun ke bawah dan menemui Kakaknya.
"Perasaan tadi baru nelpon kok udah di sini aja sih!" gumam Wulan heran karena sikap Arka jauh berbeda dari yang ia kenal dulu.
"Sudahlah, turun aja dulu gak enak juga kalo di cuekin terus.." pikirnya
__ADS_1
Wulan mulai menuruni tangga, ia masih memakai baju tidur dan blezer yang terlihat kebesaran dengan tubuh rampingnya.
Arka tersenyum lembut melihat sng Adik yang mau menemuinya, padahal tadi saat ia menelpon Wulan tak sudah mengatakan jika ia tak ingin di ajak jalan jalan, namun karena ia yang memang sudah berada di depan rumah adiknya itu tetap nekat menemuinya.
"Bekum mandi?" tanya Arka layaknya seorang Kakak yng bertanya pada adiknya. Wulan hanya mengangguk dan segera duduk di depan Arka.
Papah Regar hanya memperhatikan kedua anaknya yang terlihat jelas jika Arka terus bersikap layaknya seorang Kakak, nmun Wulan lebih terlihat canggung saat berhadapan dengan Arka.
"Kamu di sini?" tanya Wulan, ia masih belum bisa memanggil Arka dengan sebutan Kakak, lagipun jarak mereka hanya beda beberapa bulan saja.
Arka tersenyum tipis mendengar cara bicara Wulan padanya yang terdengar sangat formal juga sikap gadis itu yang jauh bebeda dari yang ia kenal sebelumnya.
"Ya, tadi pas Kakak telpone kamu, Kakak udah di depan." jujur Arka, ia masih tersenyum apa lagi melihat ekspreai Wulan yang terlihat terkejut.
"Maaf, Ka. Aku beneran gak bisa ikut,lain kali aja ya!" ujar Wulan langsung mengatakan isi hatunya meskipun Arka belum bicara apapun.
"Sebentar aja, Kakak janji!" Arka berusaha merayu Wulan, karena ia yakin gadis itu pasti akan luluh.
Wulan sendiri nmpak sedang berfikir keras, bukan karena ia ingin menerima ajakan Arka tapi iansedang memikirkan cara bagaimana ia bisa mebolah Arka tanpa menyinggung perasaan pria di hadapannya ini.
"Hmm, lain kali aja aku lagi ada urusan nanti." tolak Wulan dengan senyum canggung yang di paksakan pula.
"Ya udah gak papa, tapi lain kali harus mau ya!" ujar Arka tetap berusaha tersenyum, dan Wulan hanya mengangguk.
"Kalo gitu aku pamit." ujar Arka berdiri di ikuti oleh Wulan dan Regar.
"Yah, Arka pulang dulu." ucap Arka, Papah Regar juga hanya mengangguk. Wulan merasa tidak enak, namun ia juga belum bisa sedekat itu dengan Arka yang jelas jelas pria itu sangat ia cintai dan akan lebih baik jika mereka sedikit menjaga jarak saat ini sampai perasaannya pada Arka busa ia hilangkan sepenuhnya dan menerima pria itu menjadi Kakaknya.
"Assalamualaikum.." salam Arka di sertai senyuman hangat pada Adiknya yang justru tersenyum canggung padanya.
"Waalaikumsalam.." jawab Wulan dan Papah Regar bersamaan.
Arka keluar dari rumah besar milik Ayah di mana Wulan juga tinggal di sana dengan kecewa karena harus menerima penolakan dari adiknya, namun ia tidak akan menyerah dan akan terus berusaha memperbaiki hubungannya dengan sang adik.
"Kakak akan jadi Kakak yang baik buat kamu Lan, maaf selama ini Kakak gak bisa jujur dan malah bersikap buruk padamu." gumam Arka saat ia sudah di luara dan menaiki motornya.
Arka melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman Regar, ia akan kembali ke rumah saja karena ini hari minggu.
Wulan sendiri langsung kembali ke kamarnya, setelah kepergian Arka.
__ADS_1
"Maaf, aku ingin sendiri dan belum sanggup untuk menjalin hubungan akrab denganmu saat ini." lirih Wulan, air mata kembali menetes dan membasahi pipinya.
"Wulan.." panggilan Papah Regar mengaketkan Wulan yang segera menghapus aur matanya secara kasar dengan penggung tngannya.
"Ya Pah, sebentar.." jawab Wulan dari dalam, ia mencuci mukanya terlebih dahulu barulah keluar lagi untuk menemui sng Papah yang sepertinya menunggu di depan pintu kamar.
"Ya Pah!" ucap Wulan menatap sang Papah yang juga menatapnya.
"Bisa bicara Nak?" tanya Papah dan Wulan mengangguk singkat menyetujui permintaan Papah Regar. Mereka berdua kembali turun ke bawah dan duduk di sofa saling berhadapan.
"Kenapa Pah?" tanya Wulan karena Papahnya hanya diam sambil memperhatikannya.
"Wulan belum bisa terima Arka Nak?" Papah juga bertanya. Ekspresi Wulan jelas berubah saat mendengar pertanyaan sang Papah.
"Untuk saat ini belum Pah, tapi Wulan akan berusaha buat terima jika Wulan memang sudah bisa." jawab Wulan datar. Regar mengerti, ia paham akan situasi anaknya saat ini karena ia juga sudah tahu jika anak gadisnya itu sangat mencintai Arka yang ternyata adalah Kakak kandungnya sendiri.
"Ya, Papah paham. Paoah hanya bisa berdoa semoga kalian bisa menjadi saudara yang saling menyayangi." ujar Regar.
"Makasih Pah. Wulan ke kamar dulu ya mau bersih bersih." Wulan segera naik lagi dan kembali ke kamarnya. Benar benar butuh waktu sendiri.
Regar hanya bisa menatap kepergian anaknya, hatinya sangat sakit karena harus menerima sikap dingin dari putranya dan menjauhnya Wulan setelah mengetahui segalanya.
"Sesakit ini rasanya di abaikan oleh kedua anakku sekaligus!" lirih Regar, matanya sudah berkaca kaca namun ia tahan agar tak sampai menangis dan beranjak dari sana menuju kantor. Meskipun hari minggu namun Regar akan tetap ke kantor jika ada rapat pentung atau semacamnya, bedanya ia bisa pergi siang dan kembali lebih awal dari hari kerja biasanya.
Wulan sendiri, ia sedang duduk bersandar di pinggir jendela kaca menatap luruh ke arah komplek perumahan mewah yang ia tinggali.
"Kenapa harus Arka?" monolognya, ia hanya tak habis fikir saja mengapa harus orang yang ia cintai yang menjadi saudaranya, kenapa bukan orang lain?
"Kenapa harus Arka sih!" lanjutnya
Wulan terus termenung dengan satu pertanyaan di benaknya yaitu, kenapa? ya kenapa harus Arka!
"Hah.." suara helaan nafas Wulan jelas terdengar berat, ia merasa akan sangat sulit melewati semuanya apa lagi harus bertemu dengan Arka, sebab itu ia ingin menjauh dulu agar perasaannya bisa hilang dan tergantikan dengan menerima Arka menjadi sosok Kakak baginya.
Lanjut up..
Makasih orang baik....
😊🙏🙏
__ADS_1