Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Usaha Arka Mendapat Pengakuan Wulan


__ADS_3

"Apa? serius loe!" Kedua sahabat Wulan sangta terkejut dengan penjelasannya yang mengaku jika Arka adalah Kakaknya, karena itu ia dan Arka tidak akan pernah bjsa saling memiliki sebagai seirang kekasih melainkan hanya sebatas Kakak dan Adik saja.


"Umm." jawab Wulan, ia menyandarkan tubuhnya di kursi panjang di taman. Kedua sahabatnya sling menatap dan kemudian mereka memeluk Wulan dari arah kanan dan kiri.


"Ya ampun Lan, nasib percintaan loe kok miris amat yak!" ujar Kana. Wulan tersenyum masam mendengar perkataan sang sahabat.


"Tapi setidaknya loe tetap bisa sama sama dengan Arka Lan." Fatimah mengangkat kepalanya dan menatap Wulan yang sudah membuka matanya dan juga menatap ke arahnya.


"Setidaknya sikap Arka yang sekarang jauh lebih baik ke loe, ya walaupun sikap dan sayangnya ke loe cuma sebatas adik! tapi bukankah itu lebih baik ya!" lanjut Fatimah, Kana dan Wulan menatap Fatimah mereka nampak sedang berfikir.


"Bener juga sih Lan!" timpal Kana membenarkan ucapan Fatimah, ia juga menatap Wulan yang masih berfikir.


"Um." jawab Wulan ia kembali memejamkan matanya.


"jadi sekarang loe nungguin Arka buat jemput?" tanya Fatimah. Mereka memang sudah pulang sekolah, dan saat ini kedua sahabat Wulan sedang menemaninya duduk di taman sekolah untuk menunggu jemputan dari Arka, sekalian mereka ingin mendengar penjelsan darinya tentang kedekatannya dengan Arka.


"Um." jawaban singkat itu terus saja Wulan keluarkan dati bibirnya, membuat kedua sahabatnya itu melepaskan pelukan mereka dan menatap Wulan kesal.


"Kenapa?" tanya Wulan yang sudah membuka matanya saat merasa jika kedua sahabatnya melepaskan pelukan mereka.


"Jadi sekarang loe mau apa?" tanya Fatimah, Kana melipat kedua tangannya di depan dadanya yang berisi.


Wulan menaikan kedua bahunya dengan wajah datar.


"Haishhh, anak ini!" lirih Fatimah menggelengkan kepalanya.


"Saran gue, sebaiknya loe terima Arka sebagai Kakak loe dan segera hilangin perasaan loe ke dia Lan!" ujar Fatimah memberikan saran juga nasihat untuk sahabatnya yang sedang galau berat.


Wulan kembali tersenyum masam mendengar saran Fatimah. "Gue sedang berusaha Fat, tapi gak semudah ucapan loe!" jawab Wulan, matanya kembali terpejam agak lama lalu ia buka kembali dan memperbaiki duduknya.


"Andai kalian yang di posisi Gue, pasti kalian akan tahu apa yang Gue rasakan! ini sangat sulit!" lanjut Wulan, tatapannya jelas terlihat sedih.


"Maaf Lan!" ucap Fatimah dan Kana bersamaan suara mereka melemah dan menunduk. Wulan tersenyum dan menepuk pundak kedua sahabatnya


"Makasih buat saran kalian, setidaknya gue masih punya kalian yang bisa ngertiin gue. Makasih.." lanjutnya menatap kedua sahabatnya bergantian, ia juga memberikan senyuman terbaiknya agar kedua sahabatnya bisa tahu jika dirinya baik baik saja.


"Wulan.." lirih keduanya kemudian memeluk Wulan yang menerima pelukan mereka..


Tanpa mereka bertiga sadari, ada sepasang mata dan telinga yang sejak pertama pembicaraan mereka sudah melihat dan mendengarkan.


"Ternyata sebesar itu perasaan Wulan buat aku, tapi kami adalah saudara." gumam Arka.


"Aku akan berusaha agar Wulan bisa menerima aku sebagai Kakaknya dan melupakan perasaan cintanya." lanjut Arka, ia juga tak menyangka jika Adiknya sangat mencintai dirinya yang ternyata mereka adalah Kakak dan Adik.


Arka merubah wajah terkejutnya, ia segera keluar dari tempat persembunyian dan berjalan santai ke arah ketiga orang yang masih berpelukan.


"Udah pulang?" tanya Arka saat ia sudah berada di hadapan Wulan dan kedua sahabatnya yang segera melepaskan pelukan mereka setelah mendengar suara seseorang.


Wulan dan kedua sahabatnya saling pandang, namun mereka langsung bernafas lega setelah melihat senyuman hangat Arka pada mereka, dan berfikir jika pria tampan di hadapan mereka tidak mendengar percakapan mereka tadi.

__ADS_1


"Umm." jawab Wulan, ia juga berusaha tersenyum walaupun canggung. Kedua sahabat Wulan hnya bisa menatap kasihan pada sahabat mereka taoi juga bahagia karena setidaknya sikap Arka sudah jauh lebih baik pada Wulan.


"Gue balik duluan ya, makasih dah nemenin tadi!" ucap Wulan segera berdiri. Kedua sahabatnya hanya mengangguk dan berusaha ikut tersenyum.


"Dah.." Wulan melambaikan tangannya sedang tangan satunya di gandeng Arka yang berjalan berdampingan dengannya kini


"Kasihan Wulan, semoga dia bisa lupain perasaannya segera!" lirih Fatimah, sahabat Wulan satu ini memang agak melow.


"Hmm." Kana berdehem, ia segera menarik tangan Fatimah untuk pulang bersama.


Di jalan, Wulan dan Arka saling diam hingga motor yang di kendarai Arka berhenti di sebuah Restauran.


"Loh Ka, ngapain ke sini?" tanya Wulan yang sudah turun memandang ke arah Restauran di depannya dengan bingung.


Arka tersenyum. "Mau makan siang bareng?" Arka tak menjawab, ia justru melontarkan pertanyaan pada Wulan yang menoleh padanya.


"Makan!" ulng Wulan dan Arka mengangguk juga tersenyum lembut ke arahnya. Ah, jika senyuman itu terus terpaut di bibir Arka untuk Wulan, bagaimana gadis itu bisa melupakan perasaannya tapi justru akan semakin bertambah bukan!


"I-iya.." jawab Wulan terbata karena gugup dan semakin merasa canggung.


Arka kembali tersenyum, ia menggenggam tangan Wulan dan membawanya masuk ke dalam Restauran untuk makan siang bersama dan untuk pertama kali pula.


"Mau pesen apa?" tanya Arka menatap Wulan yang masih melihat menu di kertas menu yang ada di tangannya. Wulan menoleh sejenak pada Arka dan menunjuk satu menu di sana.


"Mbak!" panggil Arka pada pelayan wanita yang tak jauh dari mereka.


"Mau pesen apa dek?" tanya pelayan itu ramah.


"Di tunggu ya dek!" ucap Pelayan wanita itu teyap ramah dan tersenyum ke arah Arka dan Wulan bergantian.


Tidak ada pembicaraan di anta kedua orang yang saling berhadapan, Arka yang selalu memerhatikan adiknya dan Wulan yang sibuk dengan handponenya.


"Lihat apa? sampe Kakak di cuekin!" tanya Arka.


"Ah!" Wulan mengangkat kepalanya saat mendengar pertanyaan Arka, ia kembali tersenyum canggung pada Kakaknya yang justru tersenyum hangat.


"Kana sama Fatimah." jawab Wulan.


Tak. lama pesqnan mereka datang, Wulan dan Arka segera makan hingga selesai tanpa ada pembicaraan saat makan.


"Mau langsung pulang?" tanya Arka saat mereka sudah keluar dari Restauran dan berada di parkiran.


"Um." jawab Wulan dan segera naik ke atas motor, seperti sebelumnya Wulan berpegangan di belakang


"Yang benar pegangannya Dek!" ucap Arka menoleh sedikit pada Wulan yang kembali kaget. Wulan meraih jaket yang di pakai Arka dan berpegangan di sana.


"Gak mau peluk Dek, Kakak takut kamu jatuh nanti!" saran Arka namun Wulan segera menggelengkan kepalanya.


"Di sini aja.." jawab Wulan, namun semakin mengeratkan pegangannya di jaket Arka yang terasa tertarik karena pegangan Wulan.

__ADS_1


"Ya udah.." Arka malajukan motornya menuju rumah Wulan. Hening tak ada pembicaraan selama perjalanan, hingga sampai di depan gerbang rumah Papah Regar.


"Makasih!" ujar Wulan tulus setelah ia turun dan mengembalikan helm milik Arka.


"Gak mau ajak Kakak mampir?" tanya Arka menatap Wulan yang segera mengangkat kepalanya dan menatap Arka.


"Eh!" Wulan kembali gugup, namun kepalanya mengangguk. Gak mungkin kan dia bilang jangan!


Arka tersenyum, ia membawa masuk motornya kemudian berjalan berdampingan dengan Wulan masuk ke dalam rumah.


"Duduk dulu Ka!" ujar Wulan mempersilahkan tamunya duduk. Arka tersenyum dan duduk di sofa panjang di ruang tamu itu.


"Aku ganti baju dulu ya!" Wulan hendak pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian, nmun tangannya di tahan oleh tangan Arka hingga ia menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Arka.


"Temenin Kakak aja dulu sebentar!" pinta Arka


"Tapi-" Wulan hendak menolak


"Sebentar aja, Kakak gak lama soalnya!" ujar Arka, Wulan yang merasa tak enakpun hnya bjsa menyetujui permintaan Kakaknya.


"Terima kasih!" ucap Arka masih menatap Wulan yang merasa canggung duduk berdua dan saling berhadapan dengan Arka, walaupun sekarang ia tahu jika yang di hadapannya kini adalah Kakaknya.


"Untuk?" tanya Wulan membalas tatapan Arka bingung.


"Untuk perasaan kamu selama ini, tapi Kakak harap kamu bisa menerima Kakak sebagai Kakak kamu dan meluokan semua perasaan cinta kamu ke Kakak!" ujar Arka, ia sebenarnya tak tega untuk mengatakn hal itu, namun Arka tak ingin Wulan terus memendam perasaan cinta padanya sedangkan mmerekaadalah saudara.


Wulan terdiam, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan membuat ia merasa tak nyaman. Wulan tersenyum getir dan menundukkan pandangannya, kini ia sadar akan cintanya yang salah.


"Ya, sedangku usahakan." jawab Wulan masih tertunduk dengan senyuman getirnya.


"Tapi aku butuh waktu, dan selama itu bisakah kamu menjauhiku dulu?" tanya Wulan, kini ia menatap Arka yang agak terkejut dengan permintaannya.


"Kakak gak janji, karena Kakak akan selalu jaga kamu." jawab Arka, Wulan tersenyum masam mendengar jawaban Arka dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kakak pulang dulu, besok Kakak jemput kamu lagi!" ujar Arka berdiri, Wulan hanya memperhatikan Arka dan tetap duduk di sofa.


"Assalamualaikum..." salam Arka menatap Wulan


"Waalaikumsalam.." jawab Wulan juga berdiri namun ia tak mengantar Arka sampai ke depan.


"Kakak akan selalu jaga kamu Dek, Kakak sayang sama kamu karena kita saudara." gumam Arka saat ia sudah berada di dekat motor masih menatap rumah Papah Regar.


Arka segera menaiki motornya, ia kembali melajukan kendaraannya menuju rumahnya juga Papah Rangga serta Bunda.


Wulan sendiri kembali terduduk di atas sofa setelah kepergian Arka, jujur hatinya terasa sakit saat mendengar perkataan Arka barusan bahkan air mata sudah jatuh membasahi pipinya. Meskipun ia tahu jika itu memanglah kebenarannya, tapi ia hanya butuh waktu untuk bisa menerima semuanya juga menerima kenyataan jika Arka adalah Kakaknya dan tak mungkin bisa ia cintai.


Setelah puas, Wulan naik ke atas menuju kamarnya untuk beristirahat karena ia merasa sangat lelah. lelah hati juga fikiran.


Lanjut up...

__ADS_1


Makasih orang baik...


😊🙏🙏


__ADS_2