Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Perhatian Calon Papah Sambung


__ADS_3

Hari semakin larut menunjukkan pukul sebelas malam, namun dua mata suami istri yang sedang duduk berdampingan masih belum bisa terpejam dengan pikiran masing masing.


Syakira dan Rangga menunggu di ruang tunggu sedangkan Mara berada di dalam ruang rawat Regar atas perintah dari Syakira sendiri untuk menemani calon suami yang seharusnya sudah menjadi suaminya beberapa jam yang lalu jika kecelakaan tak menimpa Regar.


"Mas..." panggil Syakira memulai obrolan karena sejak tadi hanya diam, ia menatap lekat wajah suaminya yang baru saja menoleh ke arahnya.


"Ada yang kamu sembunyikan tentang Regar dari kami?" tanya Syakira langsung membuat wajah Rangga pias seketika. Bingung harus bagaimana mengatakannya pada Syakira dan yang lain, namun ia juga sadar bahwa mereka semua berhak tahu dengan kondisi adik iparnya saat ini.


"Mas..." panggil Syakira lagi semakin lekat memandangi wajah sang suami yang malah menunduk dengan keduangannya memegang kepala seperti sedang berfikir.


"Berjanjilah kamu akan tegar Sya! dan ku harap agar Mara dan Kak Maira tak mengetahuinya dulu!" ujar Rangga setelah ia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan agar lebih tenang saat menjelaskan pada istrinya


"Hmmm..." jawab Syakira dengan anggukkan cepat.


Rangga menatap istrinya dalam, meskipun sedikit ragu namun ia tetap mengatakan kebenaran pada Syakira.


"Dokter bilang jika Regar memang sufah melewi masa kritisnya tapi..." Rangga kembali mengambil nafas, sedang Syakira yang tadinya sedikit tersenyum kembali menautkan alisnya.


"Tapi Regar mengalami koma dan entah sampai kapan ia bisa bertahan sayang, hanya keinginan dirinya sendirilah yang bisa membawanya kembali pada kita.." jelas Rangga memegang kedua pundak istrinya. Syakira menutup mulut dengan kedua tangannya, air mata kembali menetes dalam diamnya meski begitu tubuhnya sedikit bergetar dan Rangga bisa merasakan itu.


Rangga menarik tubuh Syakira dalam pelukannya, mencoba memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi istrinya.


"Kita berdoa semoga Regar bisa segera pulih dan kembali seperti dulu.." ucap Rangga mengelus pucuk kepala Syakira yang terbalut dengan kerudung yang baru saja di belikan oleh Rangga.


Tanpa mereka berdua sadari, ada telinga lain yang mendengar percakapan mereka dari balik pintu ruang rawa Regar. Dia adalah Mara, wajahnya pucat pasi setelah mendengar pernyataan Rangga mengenai kondisi Regar, hatinya kembali hancur mendapati kebenaran jika calon suaminya akan koma dan entah bisa bertahan atau tidak.


Mara yang tadi hendak keluar menemui Syakira dan Rangga malah di kejutkan dengan penjelasan suami sahabat Mamahnya itu yang mengatakan bahwa Regar akan mengalami koma dan entah sampai kapan. Mara menatap Regar air mata kembali jatuh dan membasahi pipinya yang sebelumnya sudah kering.


"Kak, kumohon jangan tinggalin Mara!" ujar Mara memegang erat tangan Regar


"Mara takut Kak, Mara gak bisa kehilangan Kakak.." Mara semakin menguatkan genggamannya namun wajahnya tertunduk menangis hingga tubuhnya bergetar hebat bahkan isakannya sangat memilukan.


Tiba tiba pintu ruangan terbuka lebar menampilkan sesosok pria paruh baya memandang kasihan ke arahnya juga Regar yang terbaring dengan mata tertutup.


"Om..." panggilnya lemah menatap ke arah orang yang ia panggil Om.


"Sayang..." panggilnya segera berjalan cepat ke arah Mara dan memeluknya hangat, pemandangan itu tak luput dari mata Syakira juga Rangga yang berdiri di ambang pintu dengan Rangga yang merangkul pinggang istrinya, namun mereka segera menutup pintu dan membiarkan Agus dan Mara berada di dalam karena ia tahu hanya Agus lah yang mungkin memang di butuhkan Mara saat ini.


"Om..." panggilnya lagi semakin lirih dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Maaf Om baru datang!" ujarnya merasa bersalah karena baru bisa datang di tengah malam seperti ini.

__ADS_1


"Hm, makasih Om Agus udah mau dateng ke sini." jawab Mara menggelengkan kepalanya cepat.


Ya orang itu adalah Agus, calon Ayah sambungnya yang sampai detik ini belum juga menikahi sang Mamah, namun ia memang sudah sangat mengenal beliau bahkan saat Mara mengalami kesulitan di sekolah Aguslah yang selalu pasang badan dan membela dirinya dan mengatakan jika ia adalah putrinya.


"Kamu sudah makan?" tanya Agus setelah pelukan mereka terlepas menatap lekat dan penuh kasihan pada gadis di hadapannya yang sudah sangat ia sayangi seperti anaknya sendiri.


"Mara gak laper Om.." jawab Mara matanya kembali menatap Regar yang masih tetap sama pada posisi tidurnya dengan segala alat alat di tubuh kekarnya yang terbalut perban.


"Sayang, jika kamu gak makan dan sakit, Om yakin Regar akan sedih dan kamu pasti gak mau kan lihat Regar sedih. Hmmm?" ujar Agus dengan lembut dan penuh perhatian, tangannya tengah sibuk membuka bungkusan nasi yang ia bawa. Mara menggelengkan kepalanya cepat dan kembali menatap Regar.


"Kalo gitu kamu makan ya, biar Om yang suapin.." Ujar Agus segera menyendok nasi dan mengarahknnya pada Mara yang sempat terdiam sejenak kemudian menyambutnya dengan mulut yang terbuka lebar.


Baru lima suap yan masuk ke dalam perut Mara ia sudah mengatakan cukup, dan Agus mengerti kemudian menyimpan sisa makanan itu ke dalam kantung plastik.


Mara terus saja memandangi wajah Regar tanpa lelah, meskipun hari sudah menunjukan pukul dua dini hari, namun rasa kantuk yang ia rasakan tak sebanding dengan rasa takut kehilangan pria yang sudah berada di hatinya itu.


"Nak, sebaiknya kamu tidur ya biar Om jaga Regar.." Mara kembali menggeleng cepat menatap sekilas pada Agus kemudian kembali menatap Regar dan meletakkan kepalanya di samping tangan Regar dengan tangannya menggenggam erat jari jari Regar.


Siapa sangka, di saat itu ia malah tertidur. Agus segera mendekati Mara kemudian memindahkannya ke sofa yang ada di ruangan itu kemudian menyelimutinya dengan jas yang sejak tadi sudah ia lepas barulah ia kembali keluar menemui Syakira dan Rangga yang masih terjaga.


"Maaf jadi merepotkan kamu Gus!" ujar Syakira tak enak karena ia meminta pada Rani untuk menghubungi calon suaminya karena yang ia tahu jika Mara sangat dekat dengan Agus.


"Gak masalah, Mara juga sudah seperti anakku.." jawab Agus, raut wajahnya terlihat sedih saat mengingat wajah Mara yang terlihat sangat terpukul.


"Tidak, aku melarangnya untuk datang karena hari sudah malam."


"Aku juga baru kembali dari luar kota dan baru sampai beberapa jam yang lalu, saat baru tiba dan mendapat kabar mengejutkan seperti ini darinya."


"Jadi aku segera datang ke sini tanpa sempat menemui Rani." jelas Agus membuat Syakira dan Rangga hanya manggut manggut mengerti.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Agus saat ia sudah mendaratkan pantatnya ke kursi dan menyandarkan punggungnya ke sandaran dengan lelah.


"Kejadiannya sangat cepat, Gus, aku juga bingung harus menjelaskannya dari mana.." jawab Syakira jujur, wajahnya kembali sedih saat mengingat kejadian yang menimpa adiknya itu seperti mimpi saja. Agus mengangguk mengerti maksud Syakira dan tak meneruskan ucapannya, ia malah memejamkan matanya mencoba menghilangkan rasa lelah sekaligus rasa terkejutnya yang masih sedikit bersarang dalam hati dan benaknya.


"Bagaimana kata Dokter tentang kondisi Regar?" tanya Agus lagi setelah beberapa menit hening karena Syakira dan Rangga mengira jika pria yang mungkin sedikit tua dari Rangga itu sedang tertidur karena lelah.


"Ku fikir kamu tidur!" ujar Syakira menatap sekilas Agus yang kini sudah membuka matanya


"Bagaimana aku bisa tidur, jika putriku sedang mengalami hal berat seperti saat ini.." jawabnya kembali sedih mengingat wajah sedih Mara.


("Sesayang itukah Agus dengan Mara? jika ia syukurlah") batin Syakira namun terselip senyuman di bibirnya.

__ADS_1


"Jadi bagaimana dengan kondisi Regar?" tanya Agus lagi karena ia belum mendapat jawaban dari dua orang di sampingnya.


Rangga menceritakan segalanya pada Agus tanpa menutup nutupinya hingga penjelasannya selesai Agus hanya manggut manggut terkadang dahinya terlihat berkerut dan menatap lekat Rangga.


"Mara..." lirihnya kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan mata yang kembali tertutup.


"Apa Mara sudah tahu?" Agus kembali bertanya namun posisinya tetap sama.


"Belum, aku takut jika Mara tahu ia akan sangat terpukul.." ujar Syakira merasa tak sampai hati jika harus mengatakan hal itu pada Mara.


Suasana kembali hening, Agus tetap pada posisi mata yang terpejam dengan punggungnya yang ia sandarkan dengan nyaman di sana sedang Syakira menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami yang selalu siap memberikan dadanya pada sang istri bahkan kini Syakira sudah terlelap.


"Aku yang akan menjelaskannya pada Mara." ujar Agus berdiri. Rangga sedikit mendongak menatap lekat wajah Agus yang nampak serius dengan ucapannya.


"Aku rasa lebih baik begitu.." jawab Rangga.


Agus kembali masuk ke dalam ruangan Regar, ia menatap lekat wajah Mara bahkan mata gadis itu sudah sangat sembab akibat terus menangis.


"Maaf Om terlambat! seharusnya Om ada di saat kamu butuh..." lirih Agus membelai kepala Mara yang masih terbalut dengan kerudung. Mara juga sudah mengganti baju pengantinnya setelah di belikan oleh Rangga itupun setelah Rani mengatakan jika ia tak bisa kembali ke sana karena tak di izinkan oleh Agus takut jika terjadi sesuatu padanya jadi Agus yang akan menemani Mara putrinya. Bahkan sepercaya itulah Rani dan Mara pada Agus.


"Om janji akan melakukan apapun untuk kesembuhan Regar, meskipun Om harus menguras habis semuanya Om pasti akan lakukan." Agus menatap kasihan wajah Mara yang sudah tertidur dengan pulasnya, kemudian ia beranjak mendekati ranjang Regar dan duduk di kursi menatap lekat wajah Regar yang pasti sudah sulit untuk di kenali. Ia menarik nafasanya dalam dan mengehembuskannya kasar.


"Jika kamu pergi dan membuat putriku menangis lagi, akan ku pastikan kamu akan menyesal! jadi bangunlah secepat mungkin agar aku tetap memberikan restu ini padamu!" ujar Agus meski serius namun matanya mulai berkaca kaca.


"Aku tahu kamu laki laki yang kuat, dan ku mohon bertahanlah untuk putriku Regar!" lanjutnya air mata sudah menetas namun dengan segera ia hapus dan kembali keluar setelah memperbaiki jas yang ia pakai untuk selimut Mara.


"Aku harus pulang sebentar dan akan kembali nanti pagi bersama Rani." jelas Agus menatap Rangga yang masih duduk di kursi karena Syakira yang sudah tertidur di pangkuannya dengan kaki di selonjorkan di kursi panjang.


"Ya." jawab Rangga menatap Agus


"titip Mara, tolong jaga dia samapai aku kembali.." Rangga hanya mengangguk, dalam benaknya tak menyangka jika Agus sangat menyayangi Mara yang bahkan belum resmi menjadi anak sambungnya.


Subuh itu Agus kembali ke kediamannya dengan hati gusar dan sedih, apalagi saat melihat wajah Mara yang sangat terpukul atas kejadian yang menimpa calon suaminya di saat saat hari bahagia mereka.


Agus memang sangat menyayangi Mara, bahkan ia sudah pernah mengatakan jika saat tuanya ia ingin menyerahkan semua asetnya pada Mara karena memang Agus adalah laki laki lajang yang tak ingin menikah, namun siapa sangka jika ia di pertemukan dengan gadis kecil yaitu Mara saat itu dan entah mengapa ia langsung sangat menyayanginya layaknya seorang Papah kepada putrinya. Namun meski di umurnya yang bisa di bilang tak muda lagi, namun masih terlihat tampan dan gagah malah semakin terlihat tampan walaupun di sebagian rambutnya sudah menunjukkan jika ia bukanlah pria muda seperti yang di kira.


Lanjut up...


Maaf kesorean upnya, lagi kurang sehat tapi inget kalo ada yang harus di up.. he he...


Makasih yang dah mampir baca, jangan lupa like sama dukungannya ya...

__ADS_1


Makasih orang baik....


🙏🙏🙏


__ADS_2