
Arka dan Wulan kian hari kian akrab, Wulan yang kini sudah sepenuhnya melupakan cinta yang pernah ada di hatinya untuk sang Kakak.
"Arka..." panggil Wulan. Arka menoleh dan mendapati sang adik yang tiba tiba muncul di sekolahnya.
"Ngapain ke sini? tumben!" tanya Arka, kedua alisnya saling menaut menatap Wulan yang semakin tersenyum lebar dan berjalan mendekatinya. Dua hati ini Arka memang mengatakan jika ia tak bisa antar jemput adiknya ke solah, karena ada pekerjaan sekolah yang harus ia kerjakan, dan Wulan setuju saja.
"Arka loe lupa ya?" tanya Wulan melipat kedua tangannya di depan dada dengan kedua alis yang naik turun. Arka mengerutkan keningnya tak mengerti dengan maksud sang Adik.
"Apa?" Arka semakin bingung dengan sikap adiknya yang kian hari kian nakal dan jahil saat bertemu dengannya.
"Beneran lupa nih orang!" ucap Wulan menggelengkan kepalanya. Habibi yang sejak tadi hanya diampun mengerti.
"Bego, loe lupa hari ini ultah adek loe?" bisik Habibi saat melihat wajah sedih Wulan dan sungguh ia tak rela.
"Astagfirullah.. Aku lupa!" jawab Arka juga berbisik, ia kembali menatap Wulan yang sudah memunggunginya.
"Dasar, katanya sayang sama Adek tapi ulang tahun adek sendiri gak inget! apa coba!" cercar Wulan, ia hendak pergi dan meninggalkan kedua pria yang sudah ia punggungi, namun dengan cepat Arka menahan tangan Adiknya dan meminta maaf.
"Maaf Kakak lupa!" ucap Arka sungguh. Wulan masih cemberut namun kepalanya mengangguk.
"Nih, buat kamu!" Hbibi lebih dulu memberikan kado yang memang sudah ia siapkan untuk pujaan hatinya itu, dan rencananya akan di titipi pada Arka, eh gak tahunya yang ultah dah dateng duluan.
"Apa ini Bi?" tanya Wulan matanya kembali berbinar menatap kotak kecil yang baru saja di berikan Habibi
"Hadiah buat kamu! buka aja!" jawab Habibi tersenyum hangat melihat kebahagiaan Wulan yang sudah kembali lagi. Arka terlihat cemburu, sebagai Kakak seharusnya dia yang lebih dulu menyatakan atau memberikaan kado untuk adiknya, tapi karena terlalu sibuk dengan sekolah dan tugas tugas yang menumpuk membuat ia melupakan hal penting itu.
"Aku buka ya Bi!" ujar Wulan dan menarik tangannya yang di pegang Arka, Habibi hanya mengangguk dan tersenyum, apa lagi saat ia melihat wajah cemburu Arka.
"Makanya Bro, jangan sibuk ama tugas mulu! lupakan!" ledek Habibi dan semakin menunjukkan senyuman kemenangan pada Arka yang kini menatapnya tajam.
"Wahhhh, bagunya.." puji Wulan saat ia melihat isi kado yang di berikan Habibi padanya, spintan gadis itu ingin memeluk Habibi yang akan menerima hadiah pelukan darinya, namun dengan cepat Arka menarik tas yang ada di punggung Adiknya hingga Wulan sedikit menjinjit dan mundur ke samping Arka.
"Arkaaa..." rengek Wulan tak terima di perlakukan seperti anak kecil, ia kembali melipat wajahnya karena kesal, begitupun Habibi yang gagal mendapatkan pelukan.
"Bi, makasih." ucap Wulan, menatap Habibi dan kembali tersenyum.
"Sama sama.." jawab Habibi juga tersenyum meskipun di tengah tengah mereka ada Arka sang Kakak.
"Lucunya! aku gantung di tas aja lah." ucap Wulan, ia melepaskan tasnya dan memasang gantungan kunci yang lucu dan imut itu di kancing tasnya kemudian ia memainkan dengan menggoyang goyangkan mainan itu dan ternsenyum bahagia.
"Lucunya..." gumam Wulan dan masih bisa di dengar Arka serta Habibi.
"Semudah itu membuatnya tersenyum sebahagia ini!" pikir Arka, karena selam ini ia selalu berusaha keras hanya demi membuat sang adik bahagia saat bersamanya, dan bersyukur karena usahanya tak sia sia.
__ADS_1
"Ah! untung lah kemaren sempet nitip sama Mamah buat beliin hadiah itu buat Wulan, ternyata dia suka.." pikir Habibi semakin merasa bahagia karena kadonya sangat di sukai Wulan.
"Gue balik duluan deh, kalian juga mau pulang kan?" tanya Wulan setelah ia puas bermain main dengan gantungan kuncinya.
"Hmm.." jawab Arka
"Iya.." jawab Habibi.
"Gue duluan!Dah.." ujar Wulan yang sudah berlari kecil sambil melambaikan tangannya ke arah Arka dan Habibi yang hanya menatap kepergian Wulan.
"Bego lu, ultah adik sendiri bisa lupa!" ledek Habibi, ia menahan senyumny agar tak semakin lebar.
"Namanya lupa! dan berhenti bilang aku bego Bi!" jawab Arka tak suka dengan kata'bego'dari Habibi.
"Yalah, si paling pinter.." ujar Habibi, ia juga meninggalkan Arka dan menuju ke arah mobilnya.
"Jangan lupa kasih hadiah istimewa buat Wulan! yang lebih dari gue!" ucap Habibi sebelum ia melajukan mobilnya. Arka hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke arah motor dan mulai naik, Habibi sendiri sudah melaju kencang menuju jalanan untuk kembali ke rumahnya.
Sepanjang jalan, Arka nampk berfikir sambil mengendarai motornya lambat.
"Kado apa ya? aku gak pernah kasih kado buat cewek!" pikir Arka yang bingung dengan kado yang akan ia berikan untuk sang Adik.
"Bunda!" Arka tersenyum saat memikirkan sang Bunda yang pasti bisa membantunya.
"Bunda..." panggil Arka, ia sudah masuk ke dalam ruangan Syakira juga Rani.
"Arka!" ucap Syakira menatap sang Outra yang tersenyum padanya.
"Tumben nih bicah main ke sini?" tanya Rani menatap Arka yang berjalan menuju ke arah Syakira.
"Main aja Tan!" jawab Arka tersenyum ramah.
"Paling ada maunya itu Sya, Sya!" ujar Rani tak percaya. Arka tersenyum mendengar ucapan Rani yang memang benar adanya.
"Kenapa Ka? tumben ke sini gak langsung pulang ke rumah?" tanya Syakira, ia juga setuju dengan perkataan Rani barusan.
"Bun, Arka mau mknta tolong!" ucap Arka jujur, ia duduk di kursi depan Syakira dan menatap sang Bunda dengan serius. Syakura mengerutkan keningnya mendapat tatapan serius dari sang Putra.
"Apa aku bilang!" ucap Rani tersenyum mirung namun mata tetap fokus pada berkas berkas di hadapannya, sedangkan tangannya sibuk membolak balik kertas yang ia lihat.
"Apa?" tanya Syakira masih lembut dan tersenyym hangat
"Arka mau kasih kado buat Adek, tapi gak tahu kado apa!" ucap Arka, wajah bingung sangat tampak di mata Syakira yang semoat terkejut. Syakira tersenyum, ia tak menyangka jika sekarang Arka benar benar sudah menerima sang Adik dan bahkan sangat menyayanginya.
__ADS_1
"Hmm, jadi kamu mau minta bantuan Bunda buat cariin kado? tanya Syakira.
"Iya Bun! bisakan?" tanya Arka antusias saat sang Bunda yang mengerti maksudnya.
"Bisa, tapi ada syaratnya!" jawab Syakira, ia menaikan sebelah alisnya menatap Arka yang sudah mengerutkan keningnya.
"Syarat!" ulang Arka, Syakira hanya mengangguk.
"Apa?" tanya Arka. Rani tersenyum dan mengerti syarat apa yang akan di berikan oleh Syakira pada Arka.
"Selama sebulan Arka gak boleh bawak. motor, dan Bunda yang akan nganter Arka tiap hari! setuju!" ucap Syakira mengatakan syaratnya pada Arka.
"Bunda, kalo Arka gak bawak motor gimana Arka bisa jemput Wulan?" ujar Arka yang tak terima dengan syarat Bundanya.
"Wulan bisa di anter Papahnya atau supir, cuma sebulan kok!" ucap Syakira tetp pada syaratnya.
"Hm, satu minggu aja ya Bun!" tawar Arka, jujur ia tak mau jika harus di antar selama sebulan.
"Dua minggu! deal!" jawab Syakira sambil mengulurkan tangannya pada Arka yang masih ragu, namun tak ada pilihan lagi dan akhirnya ia setuju.
"Deal deh! tapi kalo kado nya gak buat Wulan bahagia perjanjiannya batal ya Bun!" ucap Arka menatap Syakira serius, dan sang Bunda hanya mengangguk setuju dengan senyum sumringah.
Arka yang sudah pasrah akhirnya meninggalkan Cafe dan kembali ke rumah, sedang Syakira juga Rani tertawa terbahak bahak di dalam ruangan mereka setelah kepergian Arka.
"Aduh, perutku sakit Sya.." lirih Rani setelah ia puas tertawa, begitupun Syakira yang juga sudah memegang perutnya.
"Kamu jahil banget sih sama anak sendiri. hah hah.." ucap Rani, masih ngos ngosan mengatur nafas.
"Ya, sekali kali gak papalah ya! habisnya Arka susah banget kalo mau aku anterin." jawab Syakira, ia juga masih mengatur nafas.
"Namanya juga anak remaja menjelang dewasa Sya, Mara dulu juga kayak gitu makanya sama Mas Agus di beliin mobil, padahal kami belum nikah loh waktu itu." ujar Rani mengenang anaknya juga kebaikan sang suami.
"Iya sih, tapi rasanya gimana ya Ran! aku masih belum terima anakku udah sebesar ini sekarang!" ujar Syakira, ia memperbaiki posisi duduknya dan menatap langit langit kantor.
"Ya, terima gak terima Sya, suatu saat mereka memang akan tumbuh besar dan pasti akan menentukan jalan hidupnya masing masing sedngkan kita hanya bisa mengawasi juga memberi saran aja kalo mereka salah langkah." ucap Rani, ia juga menatp langit langit kantor.
"Hmm, bener Ran!" ujar Syakira membenarkan ucapan sahabatnya. Hening, mereka berdua sedang larut dalam fikiran masing masing.
Lanjut up...
Makasih....
😊🙏🙏
__ADS_1