Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Satu Petunjuk


__ADS_3

Perlahan air mata ketiga gadis itu keluar tanpa aba aba setelah melihat isi dari kotak kecil yang Wulan temukan.


"Kita kembali ke hotel..." ujar Wulan segera menutup kotak kecil itu dan Kana segera melajukan mobil yang mereka sewa kembali ke hotel.


......................


Malam harinya Wulan, Kana dan Fatimah kembali membuka kotak kecil yang sebelumnya mereka lihat.


"Awal nya aja gue dah nangis, gimana sisa nya!" gumam Fatimah mata nya berkaca kaca.


"Bukan Lan, gue juga penasaran banget gue yakin ada petunjuk lain di sana.." ucap Kana dan langsung di anggukkan kepala oleh Wulan juga Fatimah.


Wulan segera membuka kotak kecil di tangan nya perlahan. "Gue yakin Kak Kalisa pasti sangat mencintai Kakak loe Lan.." ucap Kana menatap pilu bagian pertama di kotak kecil itu.


"Umm, begitupun Kakak gue..." ujar Wulan


Wulan meraih foto di bagian pertama kotak kecil di tangan nya, dan foto itu adalah foto Kalisa bersama Arka. Wulan terdiam sesaat memandangi foto kecil di tangan nya, tak lama ia membalik foto itu dan terdapat tulisan kecil di belakang nya namun masih jelas.


Love Forever "Arka n Kalisa"


"Gue pengen nagis dah..." gumam Fatimah yang sudah nangis.


Kana dan Wulan maaih diam, kemudian tangan Wulan kembali menarik sebuah kertas di dalam nya.


"Surat..." ucap Wulan menatap kedua sahabat nya bergantian, kemudian mereka kembali fokus pada kertas itu dan mulai membaca nya.


Dear Arka....


Gue harap loe selalu bahagia Ka, gue selalu berdoa buat loe dan gue berharap secepatnya kita bisa segera ketemu.


Gue kangen banget sama loe Ka, tapi keadaan yang mengharuskan kita buat pisah cukup lama, tapi gue harap loe selalu setia nunggu gue dan gue pun akan selalu menjaga hati gue buat loe...


Gue, yang mencintai loe...


Kali ini bukan hanya Fatimah yang menangis tapi Wulan juga Kana ikut menjatuhkan air mata mereka setelah membaca surat dari Kalisa yang bahkan belum sempat sampai ke tangan Arka.


"Gue merasa kalo selama ini cinta gue buat Kak Arka gak sebanding sama cinta Kak Kalisa..." gumam Wulan yang kembali teringat akan perasaan nya dulu pada Arka sebelum ia tahu jika mereka Kakak dan Adik.


"Hubungan mereka bener bener rumit sih menurut gue!" sahut Kana


"Lanjut Lan, masih ada satu surat lagi.." ucap Fatimah dan Wulan segera mengangguk dan mulai meraih surat terakhir.


Dear Arka...


Maaf, gue gak bisa nepatin janji gue sama loe karena gue udah gak kuat. Gue sedih, tapi gue gak mau loe terus nunggu gue yang gak tahu apakah bisa selamat atau enggak..


Gue sangat mencintai loe Ka, tapi gue yang sekarang gak akan bisa mendampingi loe jadi mungkin akan lebih baik kalo loe berfikir gue udah pergi untuk selama nya....


Gue minta maaf, tapi surat ini bahkan gak akan bisa sampai ke tangan loe karena gue hanya akan menyimpan nya sendiri...

__ADS_1


Sorry.....


Wulan tak lagi mampu menahan tangisnya, ia menutup mulut nya dengan sebelah tangan sedang tangan yang lain ia gunakan untuk memegang surat Kalisa bahkan tangan nya sampai bergetar.


"Lan, loe gak papa kan!" tanya Kana yang terlihat lebih tegar meski pun air mata nya juga ikut menetes.


"Gue, gue gak tahu harus bahagia atau sedih Kan..." ucap Wulan sesenggukan. Ia menutup wajah nya dengan kedua tangan setelah Kana meletakan surat terakhir ke kotak kecil.


"Setidaknya kita tahu kalo Kak Kalisa masih hidup Lan, dan tugas kita sekarang adalah mencari tahu keberadaan nya di mana!" ujar Kana memberikan semangat baru pada Wulan.


"Kana bener Lan, kita gak boleh nyerah lagian kita udah sejauh ini buat nyari Kakak ipar loe..." Sahut Fatimah


"Kalian bener, gue harus kuat buat Kak Arka, sejak awal gue yakin kalo Kak Kalisa masih hidup..." lirih Wulan, air mata masih sering menetes dengan segera ia mengusap nya secara kasar kemudian menatap kedua sahabat nya bergantian.


"Tolong bantu gue buat nemuin Kak Kalisa..." ucap Wulan pada kedua sahabat nya.


"Tentu..." jawab kedua nya bersamaan. Ketiga gadis itu saling berpelukan demi saling menyalurkan kekuatan.


"Thank's, kalian sahabat terbauk gue..." gumam Wulan


"Ya, tentu saja..." jawab Fatimah


Mereka tersenyum dan saling berpelukan.


Malam itu tak ada yang bisa tidur dengan nyenyak setelah tahu isi dari kotak kecil milik Kalisa yang mungkin saja tertinggal di kediaman lama nya.


Wulan bahkan hanya duduk sambil termenung di dekat jendela sambil menatap kosong ke arah luar jendela yang menampakan gedung gedung bertingkat di hadapan nya.


Hampir sama dengan Wulan, Kana juga tak bisa tidur ia duduk bersandar di sofa yang ada di kamar hotel dengan mata terpejam seolah sedang tidur padahal fikiran melayang jauh memikirkan keberadaan Kalisa.


'Dimana loe Kak Kalisa, bahkan gak ada satupun jejak yang loe tinggalin di sini...' batin Kana


Fatimah yang sedang berbaring terlentang dengan mata tertutup pun memikirkan hal yang sama.


'Cepat atau lambat, kami pasti bisa menemukan loe Kak Kalisa...' batin Fatimah dengan senyum tipis yang ia ciptakan untuk sekedar menguatkan hati nya sendiri.


Ketiga nya sama sma tak bisa tidur, hingga hari menjelang pagi barulah mereka bisa tertidur dengan posisi yang sama.


Pagi hari, Wulan bangun lebih dulu dan melihat jam di dinding kamar hotel yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


"Ah, sial gue baru bisa tidur jam 4 subuh dan sekarang badan gue sakit semua..." lirih Wulan mencoba bangkit dari tempat nya.


Wulan segera menuju kamar mandi, tak sengaja ia menyenggol kotak kecil yang semalam membuat mereka bertiga tak bisa tidur.


Wulan terpaku sejenak sebelum akhirnya ia meraih kotak kecil itu dan kembali membuka nya.


Perlahan tangan lentiknya membuka kembali dan melihat setiap isi yang sudah ia lihat sampai pada surat terakhir dan ternyata masih ada satu foto yang tidak mereka lihat semalam..


"Apa ini?" gumam Wulan bertanya, dan segera meraih foto yang ada di sana.

__ADS_1


"Foto Kak Kalisa, tapi ini di mana?" lanjutnya lagi sambil berfikor keras


"Ah! sial otak gue serasa buntu..." ucap Wulan berdecak kesal karena tak bisa menemukan jawaban.


Akhirnya gadis itu membangunkan kedua sahabat nya yang masih nyenyak dengan mimpi masing masing.


"Guys bangun bangun gue nemuin sesuatu..." teriak Wulan sambil membangunkan Kana dan Fatimah yang bergeliat mendengar teriakan Wulan yang melengking.


"Apa sih Lan..." gumam Kana dengan suara khas bangun tidur, ia mencoba duduk dan merasa pegal pegal di seluruh badan nya.


"Aishhh, badan gue sakit semua..." gumam Kana memegang pinggang, leher dan badan nya yang lain.


"Bangun dulu, sini gue mau nunjukin sesuatu..." ucap Wulan agak kesal melihat kedua sahabat nya yang sibuk sendiri sendiri.


Kana dan Fatimah pun berangsung mendekat ke arah Wulan, dan melihat apa yang ingin gadis itu tunjukan pada mereka.


"Lihat, kalian tahu gak ini di mana?" tanya Wulan serius.


Kana juga Fatimah terlihat berfikir cukup keras. "Ya ampun Lan, gue baru bangun ini masa iya di suruh mikir..." rutuk Kana yang sama seperti Wulan jika otak nya buntu.


Akan tetapi Fatimah masih diam ia masih memperhatikan foto di tangan Wulan dengan seksama, beberapa saat kemudian senyuman mengembang di bibirnya yang sedikit berisi.


"Gue tahu..." ucap Fatimah


Wulan dan Kana sontak menoleh ke arah nya, menatap lekat ke arah Fatimah yang masih menatap serius foto di tangan Wulan.


"Loe serius tahu Fat?" tanya Wulan, Fatimah mengangguk.


"Gue tahu, karena gue sering ke sana kalo liburan waktu SMA dulu.." jawab Fatimah menatap Wulan juga Kana.


"Dan kalian tahu kan kemna gue setiap liburan sama keluarga gue dulu..." lanjut Fatimah dengan senyum miring.


Wulan dan Kana sejenak diam kemudian mereka mengangguk bersamaan dan ikut tersenyum.


"Ok, kalo gitu kita ke sana..." ucap Wulan yakin.


"Gila loe, mana bisa waktu kita gak cukup Lan.." ucap Kana sontak wajah Wulan berubah sedih.


"Tenang Lan, kita bisa ke sana lagi setelah liburan selanjut nya..." sahut Fatimah mencoba menenangkan sahabat nya itu.


"Ya, dan itu artinya butuh waktu kurang lebih 6 bulan..." gumam Wulan masih terlihat murung.


"Kita bakal selalu dampingin loe kok Lan, tenang aja..." ucap Kana ia merangkul pundak Wulan dan di ikuti Fatimah.


"Ya gue tahu, makasih untuk itu..." ujar Wulan mencoba tersenyum menatap kedua sahabat nya yang juga tersenyum ke arah nya.


"Ya..." jawab Kana juga Fatimah bersamaan.


Waktu terus bergulir dan sudah waktu nya mereka kembali ke indonesia....

__ADS_1


Maksih....


😊🙏🙏


__ADS_2