Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Kakak


__ADS_3

Wulan sudah berada di kamarnya sejak dua jam lebih yang lalu, sedangkan Regar langsung berangkat ke kantor setelah mengantarkan anaknya ke rumah sakit dan kembali ke rumah dengan selamat.


Wulan masih merenung, ia sedikit gugup saat hendak membuka hasil pemeriksaannya yang baru saja dikirim oleh pihak rumah sakit Papahnya.


"Wulan..." panggil Risa yang juga menunggu adiknya membuka amplop coklat yang berada di tangan Wulan.


Wulan yang kaget segera mengangguk menoleh sekilas pada Kakaknya, sebelumnya ia menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan. "Bismillah..." gumam Wulan, ia mulai membuka amplop itu dengan jantung yang berdebar.


Perlahan yapi pasti, amplop itu sudah terbuka dan Wulan mengambil kertas putih dengan banyak tulisan di dalamnya. Wulan mulai membaca dengab teliti, sesaat kemudian raut wajahnya berubah dari cemas dan khawatir kini terselip senyum tipis.


Wulan memejamkan matanya sejenak kemudian menatap Risa yang tak bisa menyembunyikan wajah penasaran. "Wulan sembuh Kak, Wulan udah sembuh..." teriak Wulan gembira menghambur dalam pelukan Risa yang tentu saja segera menyambut sang adik dengan senyum kebahagiaan.


"Syukur Alhamdulillah dek, Kakak ikut bahagia.." ucap Risa menagis bahagia, kedua Kakak adik itu masih saling berpelukan.


Arka yang baru saja tiba melihat kedekatan antara Risa dan Wulan sedikit cemburu sebenarnya, namun ia menyembunyikan rasa itu karena dirinya tahu jika Wulan dan Risa memang hidup dan tumbuh besar dalam satu atap tenyu saja mereka akan lebih dekat.


"Arka..." Wulan berlari ke arah Arka, tanpa sadar ia juga memeluk sang Kakak yang hanya diam saja.


"Gue sembuh Ka, gue udah sehat sekarang..." gumam Wulan pelan namun maaih bisa di dengar Arka yang membulatkan natanya.


Arka melepaskan pelukan nya, ia sedikit menundukkan wajahnya agar bisa menatap wajah sang adik. " Wulan serius dek?" tanya Arka memegang kedua pundak adiknya. Wulan hanya mengangguk saja dengan senyun cerah.


Arka tersenyum, ia tak bisa tak bisa menyembunyikan perasaan bajagianya dan kembali memeluk sang adik. "Alhamdulillah, Kakak ikut bahagia dek..." ucap Arka mengecup pucuk kepala Wulan sayang, ya Arka sangat menyayangi adik adik nya Wulan juga Daneen tentunya.


"Makasih Ka, loe selalu ada buat gue..." lirih Wulan, kali ini ia begitu merasa nyaman dan hangat di peluk oleh sang Kakak.


"Kakak akan selalu ada buat Wulan dek." jawab Arka kembali melepaskan pelukan nya dan menatap Wulan yang kini matanya mulai berkaca kaca.


"Kenapa?" tanya Arka bingung


"Gue beruntung punya Kakak kayak loe sama Kak Risa. Maaf gue gak pernah nurut dan jadi adek yang baik buat loe selama ini!" ungkap Wulan merasa salah.


Arka tersenyum, ia mengusap pipi Wulan lembut. "Wulan adek terbaik yang Kakak punya..." jawab Arka tersenyum hangat hingga mempu menghangatkan hati Wulan.


"Makasih Kak..." ujar Wulan dan Arka sedikit kaget.


Arka tersenyum bahagia mendengar panggilan Wulan pada nya. "Kakak!" ulng Arka masih tak percaya.


Wulan mengangguk. "Ya, Kakak, mulai sekarang gue bakal manggil loe Kakak tapi ya gue tetp pake bahasa gue yang kayak gini. Harap maklum ya!" ujar Wulan tersenyum


Arka mengangguk, di panggil Kakak saja itu sudah membuat ia bahagianya bukan main. "Terserah, kamu dek yang penting sekarang Wulan mau manggil Kakak dengan Kakak..." jawab Arka.


Wulan tersenyum dan mengangguk. Keduanya duduk di sofa bersama dengan Risa dan Ziyan yang sibuk dengan mainannya tanpa memperdulikan orang orang di sekitarnya yang sedang bicara sebab ia pun tak mengerti akan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Jadi sekarang loe mau tinggal di sini sama gue dan Papah Kak?" tanya Wulan, meski belum begitu terbiasa memanggil Arka dengan panggilan Kakak, namun ia tetap berusaha agar tak membuat Arka kecewa.


"Um, tapi gak setiap hari karena Kakak juga akan tetap kembali ke rumah Papah Rangga dan Bunda.." jawab Arka lembut agar tak membuat adiknya kecewa.


Wulan tersenyum membuat Arka sedikit lega. "Ya, gue paham kok...." ucap Wulan mengambil teh miliknya dan mulai meminumnya dengan pelan.


"Kalo Kak Risa?" tanya Wulan setelah ia meletakkan cangkirnya kembali, ia beralih menatap Risa yang sejak tadi hanya diam saja memperhatikan Wulan dan juga Arka.


"Mungkin besok Kakak sama Mas Farhan mau kembali ke rumah sek, soalnya kami udah cukup. lama di sini.." jawab Risa dan Wulan hanya mengangguk saja.


"Ziyan..." panggil Wulan menatap keponakannya yang sedang asik bermain dengan mobil mobian kesayangannya


Ziyan menoleh saat i mendengar namanya di panggil. Ziyan beranjak dari tempatnya saat melihat Wulan yang memanggilnya dan berjalan mendekati Aunty kesayangannya.


"Ziyan mau pulang?" tanya Wulan mengusap pipi chaby Ziyan dengan gemas.


Ziyan menggeleng dengan cepat. "Ziyan mau main sma Aunty, kan kita bekum sempet main..." jawab Ziyan


Wulan terdenyum beralih menatap Risa yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik yang cerdik dengan merayu anaknya agar mereka bisa lebih lama tinggal di sana.


"Tapi kata Bunda kalian harus pulang sayang!" ujar Wulan sedih


Ziyan kembali menggelengkan kepalanya, ia beralih menuju sang Bunda. "Bunda Ziyan gak mau pulang, Ziyan masih mau di sini kan Ziyan belum main sama Aunty..." rengek bocah lelaki itu sambil memegang paha Bundanya.


"Aunty nanti bilang sama Ayah ya, Ziyan masih mau di sini dan main sama Aunty!" ucap Ziyan masih dengan wajah sedih.


Wulan mengangguk setuju membuat bucah itu terdenyum gembira. "Horeee, Ziyan bisa main sama Aunty lama lama...." teriaknya kegirangan, ia memeluk Wulan yang masih sedikit membungkukkan badannya sambil duduk di sofa


Ziyan kembali bermain dengan tenang bahkan bisa di lihat jika bocah lelaki itu sangat bahagia.


"Kamu ini ya, bisa aja buat Kakak gak bisa berkutik..." rutuk Risa kesal menatap sang adik yang malah tersenyum..


"Ya, mau gimana lagi soalnya kalo gak gitu kan Kakak pasti tetep pulang.." jawab Wulan dengan suara manja, membuat Arka di samping gadis itu sedikit terkekeh mendengarnya.


"Kenapa loe ketawa?" tanya Wulan menoleh pada Arka yang segera menutup mulutnya.


"Gak, Kakak papa..." jawab Arka menahan tawanya.


Wulan tak menghiraukan Arka, karena pondelnya tiba tiba saja bunyi. Wulan meraih ponsel di atas meja dan melihat siapa yang mengirimkannya pesan.


Wulan tersenyum saat ia melihat siapa yang mengirmkan pesan dan juga isi pesannya.


Arka mengernyitkan dahinya menatap Wulan yang tersenyum, ia mulai penasaran sekarang. "Siapa?" tanya Arka ingin tahu, mirik ke arah ponsel yang di pegang adiknya, namun dengan cepat Wulan menjauhkan dari Arka agar pemuda itu tak bisa melihatnya.

__ADS_1


Arka semakin mengerutkan keningnya menatap Wulan yang juga menatapnya. "Siapa?" ulang Arka karena tak ada jawaban dari sang adik.


"Kepo bet dah loe Kak..." jawab Wulan segera bangkit dari tempatnya. Sungguh Arka tak suka jawaban itu.


"Wulan balik ke kamar, mau istirahat.." ucap Wulan, ia ingin menghindari Kakak lelakinya yang sangat posesif terhadapnya sebelum ia koma bahkan sampai saat ini.


Arka memansang wajah dingin dan tatapan tajam, namun itu justru semakin membuat Wulan ingin menjahilinya dan tak ada rasa takut sama sekali.


Wulan tersenyum menatap kedua Kakaknya kemudian berlalu meninggalkan mereka di ruang tamu dengan perasaan yang berbeda beda.


"Hehe, sekali kali gue kerjain loe Kak..." Wulan tertawa kecil saat ia menoleh pada Arka yang membelakanginya dan mulai menaiki tangga dengan cepat menuju kamarnya tak lupa ia mengunci dari dalam takut jika Kakak lelakinya masuk dan merebut ponselnya.


Arka menoleh pada Wulan saat gadis itu baru saja menaiki tangga. "Siapa yang mengirimnya pesan, sampai senyum senyum kayak gitu!" gumam Arka pelan masih mamandanhi adiknya yang sudah menghilang di balik pintu kamar.


"Jangan jangan Habibi!" lanjutnya dengan mata yabg terbuka lebar semakin menatap tajam ke arah pintu kamar adiknya.


"Arka..." panggil Risa lembut, dan Arka segera beralih menatap wanita di hadapannya tak lupa ia merubah wajah dinginnya menjadi datar.


"Terima kasih sudah mau menjaga Wulan.." ucap Risa tulus meski sedikit agak canggung sebab ia merasa jika Arka masih belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran dirinya.


"Wulan juga adiku, jadi sudah seharusnya aku menjaga Wulan.." jawab Arka masih datar namun masih sopan pula.


Risa tersenyum kiku, ia sungguh tak tahu harus berkata apa apa lagi dan memilih diam setelah mengatakan hal itu.


Arka beranjak dari tempatnya. "Aku pulang dulu, nanti sore batu ke sini lagi." ucap Arka menoleh sekilas ke arah kamar Wulan kemudian beralih menatap Risa.


"Assalamualaikum..." salam Arka


"Waalaikumsalam..." jawab Risa ikut berdiri.


Arka segera berlalu dari sana karena suasananya terasa begitu canggung, ua memilih untuk kembali ke rumah Papah Rangga lrbih dulu barulah nanti sore kembali lagi ke rumah Ayahnya.


Risa menghembuskan nafas berat, ia sungguh merasa sangat tegang jika berhadapan dengan Arka sebab ia tahu jika pemuda itu masih sedikit tak menykai dirinya karena ia adalah putri dari wanita yang sudah merebut Papah juga kebahagiaannya dulu.


"Huffff, sebaiknya aku segera menyiapkan makan siang saja, karena Papah pasti sebentar lagi pulang.." Risa pun beranjak dari ruang tamu dan menuju dapur setelah ia berpesan pada putranya agar tetap di tempatnya dan tak kemana mana.


Lanjut up....


Sesuai permintaan salah satu pembaca nih, Wulan dah manggil Arka Kakak ya dan semakin menerima Arka sebagai Kakaknya....


**Jangan lupa buat kasih like, vote sama dukungan kalian ya**....


Makasih orang baik....

__ADS_1


😊🙏🙏


__ADS_2