
Wulan sudah tiba di kediaman Papah Regar, ia langsung di antar ke kamarnya terlebih dahulu oleh Bibi agar bisa beristirahat dan setelahnya Bibi kembali ke dapur untuk membawakan makan untuk Wulan agar bisa meminum obat yang di beriian Dokter Karina...
"Alhamdulillah Pah, Risa seneng banget Wulan akhirnya bisa hadir di tengah tengah kita lagi..." ujar Risa bahagia atss kembalinya Wulan ke rumah.
Selama kepergian Regar, Risa juga keluarga kecilnya memang tinggal di sana sampai Regar kembali dan mereka mempersiapkan segalanya untuk menyambut Wulan kembali ke rumah.
"Ya Nak, terimakasih sudah membantu Papah selama tak di sini sayang, Farhan..." ucap Papah tulus dan tersenyum hangat menatap Risa dan Farhan bergantian.
Fahan dan Risa tersenyum. "Sama sama Pah, Risa dan Mas Farhan seneng kok apa lagi Ziyan, dia bahkan gak bisa tidur karena ingin ketemu sama Aunty cantik katanya.." Ketiganya tertawa renyah saat melihat Ziyan yang terlihat paling bahagia memang saat Wulan kembali namun sekarang ia terlihat sedih sebab tak di perbolehkan bermain bersama dengan Wulan lebih dulu.
"Ziyan mau main sam Aunty cantik Bundaa..." rengek Ziyan yang mengerti jika sedang di bicarakan oleh Bunda, Ayah juga Opanya.
"Iya, tapi nanti ya sayang kan Aunty nya lagi istirahat!" bujuk Risa
Ziyan mendengus kesal, ia sudah sangat merindukan Aunty nya karena sudah berbulan bulan tak bisa bertemu apa lagi bermain bersama seperti biasanya. "Aunty sakit apa sih Bunda! kok Ziyan gak boleh main sama Aunty?" tanya nya dengan kesal juga bibirnya yang di kerucutkan membuat semua orang merasa gemas.
Risa mencubit pipi Ziyan dengan gemas. "Aunty udah gak sakit, tapi karena Aunty baru pulang dari tempat yang jauh jadi harus istirahat kalo enggak nanti malah sakit lagi. Emang Ziyan mau lihat Aunty sakit lagi? hmmmm...." jelas Risa dengan lembut agar anaknya bisa paham dan mengerti ucapannya.
Ziyan menggeleng dengan cepat. "Ziyan gak mau Aunty sakit Bun, nanti Ziyan gak bisa ketemu Aunty lagi.." jawab Ziyan dengan polosnya, ekspresi wajahnya berubah sedih dan takut jika Aunty cantio kesayangannya kembali sakit.
"Nah, jadi biar Aunty istirahat dulu ya biar nanti bisa main sama Ziyan lagi..." ucap Risa mengusap kepala Ziyan sayang.
Ziyan mengangguk dan tersenyum. "Iya Bunda, tapi nanti kalo Aunty udah istirahat Ziyan boleh main kan sama Aunty?" tanya Ziyan menatap Risa yang segera mengangguk dengan senyum lembut.
Ziyan yang begitu bahagia pun memeluk Risa, ia juga mencium pipi kanan kiri Risa saking bahagianya.
"Ayah gak Nak?" tanya Farhan menunjuk pipinya juga membuat Ris tersenyum geli melihatnya, sedangkan Ziyan segera menggelengkan kepalanya pertanya jika dirinya tak ingin mencium Ayahnya yang kini sudah cemberut atas penolakan putranya.
Regar teratwa ranyah melihat wajah kecewa sang menantu begitupun dengan Risa yang mengelus lengan suaminya yang semakin cemberut.
"Kalo Opa?" kali ini Regar ikut nimbrung, ia ingin memanasi menantunya.
Ziyan kembali menggeleng membuat Farhan yang kini tertawa lepas melihat mertuanya yang memasang wajah masam setelah mendapatkan penolakan dari cucu kesayangannya. "Nanti gak Opa bolehin ketemu Aunty loh!" ancam Regar, dan dengan cepat Ziyan turun dari sofa samping Risa kemudian beralih ke tempat Regar lalu menciumnya karen takut tak di izinkan bertemu dengan Aunty nya.
"Hahahahahha....." Regar tertawa puas, ternyata sangay mudah mengancam Ziyan.
Farhan kembali cemberut dan kesal, sedangkan Risa menatap wajah kesal suaminya hanya bisa tertawa kecil saja karena tak ingin membuat suaminya semakin kesal. Regar menatap Farhan, ia menang dati menantunya itu. Ya, begitulah mereka selalu saja ada perdebatan antara mertua dan menantu.
"Papah curang!" gumam Farhan masih dengan kekesalannya melirik Regar yang semakin memperbesar tawanya di ikuti dengan Ziyan yang juga tertawa karena melihat Opa nya tertawa.
Farhan mendengus kesal, sangat kesal. "Sudah Mas, kamu ini kayak anak kecil aja pake ngambek!" gumam Risa tersenyum lembut mengelus lengan sng suami yang beralih menatapnya.
"Ok, tapi nanti malam kamu harus kasih Mas hadiah!" ujar Farhan dengan senyum smirknya, membuat Risa merinding saja.
Regar yang tentu saja mengertipun hanya memutar bola matanya malas, selalu seperti ini jika pria satu anak itu kalah darinya maka Risa yang harus menjadi korbannya.
"Kamu ini!" Risa memukul lengan Farhan kuat hingga pria itu meringis memegangi lengannya.
"KDRT kamu sayang!" lirihnya dengan wajah sedih yang di buat buat.
Risa tak menyahutinya lagi dan hanya melirik sekilas kemudian beranjak dari sana menuju dapur untuk membantu Bibi menyiapakan makan malam mereka.
__ADS_1
Regar dan Ziyan segera saja tertawa kencang melihat Farhan yang di tinggalkan istrinya. "Sungguh malang nasib mu menantu..." ledek Regar kembali tertawa di ikuti Ziyan yang hanya mengikuti Opa nya saja karena anak itu masih sangat kecil untuk bisa mengerti.
Farhan hanya bisa bedecak kesal, ia menatap jengah Mertua juga anaknya yang malah ikut ikutan menertawakannya. "Kalian-" Farhan pun beranjak dari sana menuju kamarnya bersama Risa. karena Ziyan memang sejak kecil sudah di latih tidur di kamar sendiri.
Risa sedang sibuk di dapur bersama dengan Bibi menyiapkan makan malam, ia selalu menyungging kan senyuman bahagianya karena kini keluarganya telah kembali bersama.
"Non..." panggil Bibi juga tersenyum bahagia karena bisa melihat Nona Mudanya kembali.
"Iya Bi!" jawab Risa menoleh ke arah Bibi yang juga sedang sibuk menggoreng Ayam.
"Apa Non Wulan sudah sembuh Non?" tanya Bibi
"In Syaa Allah Bi, tapi besok Papah akan memeriksakan kondisi Wulan lagi di rumah sakit, jadi mohon doanya ya Bi." jawab Risa tersenyum hangat.
Bibi kembali tersenyum. "Pastilah Non, Bibi juga sayang sekali sama Non Risa dan Non Wulan." ucap Bibi tulus
Risa mengusap lengan Bibi dan semakin mempelebar senyum hangatnya. "Makasih Bi..." ujar Risa terharu. Kedua nya saling melempar senyum hangat dan melanjutkan kegiatan memasak mereka yang hampir selesai.
"Alhamdulillah selesai juga..." ujar Risa menatap semua hidangan makan malam mereka yang sudah tertata dengan rapi di atas meja.
"Bi, Risa ke kamar dulu ya mau mandi gerah!" ucap Risa sopan tersenyum.
"Iya Non, biar nanti sisanya Bibi saja.." ucap Bibi juga tersenyum.
Risa hanya mengangguk dan segera beranjak dari sana menuju kamarnya. Risa menaiki tangga dan memasuki kamarnya sendiri, tapi sebelumnya ia sempat melihat keadaan Wulan terlebih dahulu dan melihat jika gadis itu masih terlelap dengan sangat nyaman. Risa kembali menutup pintu kamar Wulan dan segera masuk ke kamarnya sendiro yang ada di sebelah kamar adiknya.
"Astagfirullah Mas, kamu-" Risa tak melanjutkan ucapannya karena bibir Farhan keburu mendarat di bibirnya kemudian melu matnya.
Farhan melepaskan pagutannya saat di rasa pasokan oksigen keduanya mulai menipis. Risa dan Farhan meraup oksigen sebnyak banyaknya setelah ciuman panas keduanya berakhir.
"Kamu nih, main caplok aja..." cecar Risa setelah ia bisa bernafa dengan baik.
Farhan hanya tersenyum, ia kembali mencium sekilas bibir istrinya. "Habis Mas masih kesel sama Papah dan Ziyan sayang.." ucap Farhan memeluk istrinya dari belakang.
"Ya kenapa aku yang jadi lampiasannya coba!" tanya Risa kesal, namun ia juga tetap membiarkan Farhan memeluknya.
"Karena cuma kamu obat kesal aku sayang.." jawab Farhan menciumi ceruk leher Risa membuat ia merasa geli dan darahnya berdesir, jika di biarkan sudah pasti Farhan akan meminta lebih hingga Risa segera menghentikan kegiatan suaminya itu.
"Aku mau mandi Mas, nanti keburu magrib lagi..." tegur Risa, ia menjauhkan lehernya dari Farhan agar suaminya segera menghentikan kegiatannya itu.
Farhan mengerti, ia pun melepaskan pelukannya dan mencium bibir Risa sskali lagi, kemudian ia pun kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur sedangkan Risa segera masuk ke kamar mandi setelah menyambar handuk nya.
Setengah jam berikutnya, Risa sudah keluar hanya dengan handuk sebatas dada sampai lutut juga handuk kecil di kepalanya. Farhan menelan salivanya susah payah melihat penampilan sang istri yang begitu sek xi di matanya.
"Sayang kau membuat junior bangun!" lirih Farhan dengan suara serak, Risa yang paham hnya menggelengkan kepalanya ia segera mengambil baju dan kembali membawanya ke kamar mandi untuk di pakai di sana sebab jika di sana maka sudah pasti Farhan akan nekat menerkamnya.
Farhan yang baru akan bangun tak bisa lagi berkutik sebab Risa yang lebih cepat dari nya kembali masuk ke dalam kamar mandi, ia hanya bisa mendengus kesal dan kembali merebahkan tubuhnya sambil mengusap juniornya agar lebih bersabar sampai tiba malam nanti.
"Yang sabar, nanti malam juga akan dapet jatah.." gumam Farhan dengan senyum licik.
Risa sudah keluar lagi, ia segera merapikan rambut dan memakai bedak tipis juga lip blam saja agar bibirnya tak terlihat pucat, keduanya pun segera turun ke bawah untuk menikmati makan malam bersama setelah keduanya sama sama sholat Maghrib.
__ADS_1
"Malam Pah, dek..." sapa Risa, ia mencium kening Wulan sayang kemudian duduk di hadapan Wulan dan Farhan duduk di samping istrinya. Ziyan yang juga baru tiba pun segera mengambil posisi di samping Wulan dengan senyum cerah.
"Horeee, Aunty sudah sembuh..." imbuhnya memeluk Wulan yang tersenyum membalas pelukan bocah itu
"Aunty nanti main sama Ziyan lagi ya!" ujar Ziyan dan Wulan hanya mengangguk setuju membuat bocah itu semakin melebarkan senyumannya membuat semua orang begitu gemas dan bahagia.
"Ini Non, dimakan semua ini buatan Non Risa khusus buat Nin Wulan..." ucap Bibi tersenyum mengambilkan nasi juga lauk pauknya.
"Makasih Bi, makasih Kak..." ujar Wulan tersenyum lembut, sungguh hatinya sangat bahagia mendapatkan perhatian dari keluarganya.
Risa tersenyum hangat. "Apapun untuk adek Kakak.." jawab Risa.
Mereka makan dengan tenang dan sangat menikmati, bahkan Regar merasa jika Risa semakin pandai memasak juga di rasa jika rasa masakannya itu seperti mirip dengan masakan seseorang yang ia kenal. 'Seperti masakan Syakira!' batin Regar tersenyum melirik Risa yang sedang menikmati makanannya sendiri.
"Masakn Risa makin enak sayang.." puji Regar menatap Risa tersenyum.
"Makasih Pah, ini juga atas bantuan Tante Sya yang mau ngajarin Risa masak..." jawab Risa senang mendapatkan pujian atas kerja kerasnya.
'Sudah ku duga.' batin Regar.
"Pah, Wulan mau ke kamar lagi ya, rasanya Wulan mulai ngantuk lagi..." izin Wulan yang matanya mulai terasa berat karena efek obat yang baru saja ia minum lagi.
Regar mengangguk. "Ya, istirahatlah sayang besok kita akan ke rumah sakit untuk memeriksa kondisimu.." ujar Regar, ia mencium kening anaknya.
"Umm." jawab Wulan, ia pun segera beranjak dari sana hendak menuju kamar setelah berpamitan dengan keluarganya, nmun baru separuh jalan Wulan di tahan oleh Ziyan.
"Aunty mau kemana?" tanya Ziyan yang sudah membawa banya mainan di tangannya.
"Aunty mau istirahat dulu sayang, soalnya kepala Aunty sakit. Gak papa kan! besok kita main nya ya!" jawab Wulan lembut sambil berjongkok agar sejajar dengan kepoanakannya.
Ziyan nampk sedih. "Besok Aunty akan main sama Ziyan, tapi sekarang Aunty mau istirahat dulu biar besok bisa main lama lama deh sama Ziyan.." lanjut Wulan yang merasa tak enak.
Ziyan menghembuskan nafasnya kasar. "Besok Aunty janji ya main sama Ziyan?" tanya Ziyan sambil memberikan jari kelingkingnya yang langsung di sambut oleh Wulan.
"Ok, janji.." jawab Wulan tersenyum begitupun Ziyan yang langsung memeluk Aunty nya.
"Dah Aunty..." Ziyan melambaikan tangannya saat Wulan sudah kembali berdiri.
"Dah sayang..." balas Wulan ia juga melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Ziyan kemudian segera naik ke atas menuju kamar.
"Hah, Aunty masih sakit! Uncle Arka gak ada! sepi..." gumam Ziyan merasa bosan.
Ziyan pun kembali ke kamarnya, ia akan tidur saja karena gagal bermain bersama Aunty nya yang ternyata harus istirahat lagi. Regar, Risa dan Farhan hanya bisa tersenyum melihat kedekatan antara Wulan dan Ziyan.
Lanjut up...
Jangan lupa kasih like dan vote kalian ya, juga dukungannya sebagai motovasi buat author biar makin semangat lagi. hehe.....
Pokoknya, Makasih orang baik....
😊🙏🙏
__ADS_1