Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Rencana yang Terancam Gagal


__ADS_3

"Pah, nanti gak usah jemput Arka pulang sama Habibi." ujar Arka saat mobil yang di kendarai Rangg sudah berada di depan gerbang sekolah anaknya


"Ya, beljara yang benar sayang." jawqb Rangga tersenyum. Arka meraih tangan Papahnya dan mencium punggung tangannya kemudian keluar dari mobil sang Papah yang segera di lajukan kembali menuju kantor.


"Arka..." panggil Habibi yang juga baru tiba sambil melambaikan tangannya pada sahabatnya.


"Baru dateng, tumben!" ujar Habibi yang sudah berada di samping Arka yang hanya diam dengan senyum kecil di bibirnya.


"Ah elah, di tanya malah senyum senyum bae loe..." lanjut Habibi yang melihat Arka hnya senyum senyum saja dan meninggalkannya di depan gerbang sendirian.


"Cepet udah mau masuk jam pelajaran Bi!" tukas Arka terus berjalan di depan Habibi yang segera mengejar langkah Arka


"Ya ya ya, murid genius mah emng beda." jawab Habibi memutar bola matany malas. Arka masih tersenyum


"Seharusnya loe terima aja usulan dari sekolah buat langsung naikin loe ke kelas 12 noh.." ujar Habibi dengan wajah kesalnya


"Kalo gitu gak ada yang bisa kasih contekan ke kamu dong, ya aku sih gak masalah!" jawab Arka semakin mempelebar senyumannya dan melirik sekilas ke arah Habibi yang nampak berfikir


"Eh, iya ya..." Habibi ikut tersenyum dan merangkul pundak Arka meskipun ia harus sedikit menjinjit.


Arka dan Habibi segera duduk di kursi masing masing setelah sampai di kelas dan beberapa menit berikutnya guru wanita yang masih muda masuk ke dalam kelas mereka.


"Pangi anak anak!" sapa guru wanita itu dengan senyum yang cantik membuat murid laki laki terpesona kecuali Arka pastinya.


"Pagi Buuuuu." jawqb mereka serempak


"Perkenalkan nama Ibu, Asmiranda dan kalian bisa panggil Bu Miran." ujar Bu Miranda memperkenalkan dirinya karena ia adalah guru baru yang akan menggantikan salah seorang guru yang baru saja berhenti karena harus mengikuti suaminya yang pindah keluar kota.


"Baik Bu Miran." jawab mereka lagi secara bersamaan.


Bu Miran memulai pelajaran dengan menjelaskan mata pelajaran yang ia gantikan dari guru sebelumnya dengan tenang dan jelas. Para muridpun nampak sangat senang dengan cara mengajar Guru baru mereka, selain cantii. Bu Miran juga sangat pandai dalam menjelaskan apa yang ia ajarkan pada mereka.


"Sudah paham?" tanya Bu Miran saat ia selesai menjelaskan di depan


"Paham Buuuu." jawab mereka kompak. membuat senyum cantik Bu Miran kembali terukir.


"Bagus, sepertinya kalian murid murid yang pandai.." puji Bu Muran.


"Kalau kalian sudqh mengerti, Ibu akan beri tugas untuk kalian dan kerjakan secara berkelompok." ujar Bu Miran menatap ke arah siswanya


"Bu..." Habibi mengangkat tangannya


"Ya, perkenalkan dulu namamu Nak!" ujar Bu Miran karena sebelumnya ia lupa untuk menanyakan nama mereka.

__ADS_1


"Saya Habibi Bu, tapi di panggil Bibi." jawqb Habibi sambil menurunkan tangannya


"Oh, Habibi nama yang bagus. Ada pertanyaan Bibi?" tanya Bu Miran menatap Habibi


"Kelompoknya orang berapa Bu?" semua murid mengangguk setelah mendengar pertanyaan Habibi barusan dan kembali memandang Guru baru mereka di depan


"Hmm, di sini ada 30 siswa, jadi ibu rasa di bagi enam kelompok saja." ujar Bu Miran melihat buku absen di depannya.


"Jadi satu kelompoknya ada orang lima dan kalian bisa memilih sendiri kelompok kalian ya." jelas Bu Miran kembali tersenyum ke arah murid muridnya.


"Baik Buuu." Bu Miran semakin tersenyum.


"Cukup sampai di sini dulu dqn minggu depan kalian bisa maju kedepan untuk mempresentasikan tugas kalian!" Bu Muran kembali mengingatkan murid muridnya yang langsung mendapatkan anggukan kepala oleh mereka.


"Selamat belajar semua.." Bu Miran sudah berdiri dan menunggu jawaban sapaan dari muridnya


"Terima kasih Buuu." jawab para murid dengan lantang. Bu Miran meninggalkan kelas dan menuju kelas lain.


"Bu Miran cantik ya Ka?" tanya Habibi menatap sahabatnya yang sejak tadi hanya menunjukkan wajah datarnya saja.


"Biasa aja lah.." jawab Arka membuat Habibi kesal mendengar jawaban sahabatnya yang dingin dan cuek itu


"Ya ya, bagimu yang cantik hanya Kalisa kan!" ujar Habibi memutar bola matanya malas dan tak lagi menoleh ke arah Arka yang malah tersenyum mendengar ucapan sahabatnya yang 100 persen benar.


"Entah!" jawab Arka, dan itu membuat Habibi kembali kesal


"Haishhh, kau selalu saja seperti itu Ka.." ujar Habibi memejamkan matanya dengan kedua tangan ia letakkan di belakang kepala untuk menahan kepalanya.


"Bagaimana jika Kalisa punya seseorang di sana? apa yang akan kau lakukan?" tanya Habibi posisinya tetap sama.


"Entah, mungkin aku akan mengikhlaskannya!" jawab Arka namun tatapannya terlihat sedih ke depan. Habibi sontak menoleh dqn memukul kepala belakang Arka hingga membuat Arka menoleh dan menatap tajam pada sahabatnya itu


"Semudah itu kau akan melepaskannya?" tanya Habibi tak habis fikir dengan fikiran sahabat satu satunya itu


"Ya lalu!" jawab Arka kesal


"Berjuang Brooooo..." ujar Habibi dengan tangan yang ia kepalakan kemudian di dorong ke hadapan Arka yang hnya memicingkan alisnya.


"Ya baiklah..." jawab Arka malas dan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.


"Dasar Es batu, Es balok, Es doger.." cercar Habibi masih menatap sahabatnya, membuat Arka kembali tersenyum atas cercaaan sahabatnya itu, ia tak marah sama sekali.


"Kantin lah, laper gue ngadepin loe yang kaku ini." ajak Habibi berdiri si samping Arka yang menoleh padanya dan ikut berdiri pula. Mereka menuju kntin dan duduk di tempat kedua sahabat Kalisa berada setelah melihat mereka sebelumnya.

__ADS_1


"Gabung yak!" izin Habibi namun ia sudah duduk duluan sebelum di izinkan oleh kedua orang yang menatapnya malas.


"Gak perlu izin kalo loe dah duduk keles.." jawab Melda mengalihkan tatapannya pada Arka yang hanya senyum kecil.


"Eh, gue dapet kabar katanya Kalisa liburan nanti gak bakal balik ke Indo.." ujar Melda memberi kabar duka bagi semua temannya yang menunggu kehadiran Kalisa. Arka nampak terdiam dan senyumannya menghilang dari wajahnya yang tampan.


"Kenapa?" tanya Habibi penasaran ia sempat melirik ke arah Arka dan melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.


"Katanya sih karena dia mau ke Belanda buat ketemu sama Papahnya di sana.." jawab Melda membuat Arka kian sedih mendengar kabar itu, bahkan rencana yang telah ia susun di pastikan gagal.


Melda dan Sasya velum tahu jika Arka dan Kalisa memiliki perasaan satu sama lain, dan hanya Habibilah yang mengetahuinya karena Arka tak bisa bohong pada sahabat satu satunya itu.


"Lah, kok bisa Papahnya di Belanda sedangkan Mamahnya di New York?" tanya Bibi semakin penasaran dan itu juga yang Arka inginkan.


"Ya setahu gue sih Nyokap sama Bokap Kalisa kan emang dah pisah, dan Bokap dia dah nikah lagi jadi Kalisa setiap liburan bakal di bawak Bokapnya ke Belanda.." oenjelasan Melda membuat Habibi dan Arka menganggukkan kepalanya


"Lah terus kemaren Kalisa balik seminggu itu tinggal di mana?" Habibi kbali bertanya dengan sangat antusias


"Hmm, kalo gak salah dia tinggal di tempat Neneknya deh, Nyokapnya Bokap dia." kali ini Sasya yang menjawab membuat Habibi kembali mengangguk namun tidak dengan Arka yang kelihatan murung karena tidak akan bisa bertemu dengan Kalisa liburan tahun ini.


"Ka, loe kenpa diem aja dari tadi?" Melda yang sejak tadi melihat Arka hanya diam pun bertanya


"Gak papa, lagi sariawan.." Habjbi yang menjawab sambil menepuk pundak Arka beberapa kali dan yang di tepuk hanya mengangguk seolah membenarkan ucapan sang sahabat pengertiannya itu


"Ohhhh..." Melda dan Sasya hanya ber oh ria dan kembali fokus pada mkanan mereka yang tinggal sedikit sedangkan Arka dan Habibi baru memulai makannya karena oesanan mereka baru tiba.


Sejak pembicaraan mereka di kantin, Arka selalu diam ia seperti sedang memikirkan sesuatu membuat Habibi merasa kasihan dan mencoba menghibur sahabatnya itu.


"Pulang nanti gue nginep di rumah loe ya, soalnya Nyokap gue bakal keluar kota dan mungkin bakalan lama." Habibi merangkul pundak Arka yang hany mengangguk dengan senyuman kecilnya.


"Udah, gak usah di pikirin loe berdoa aja mudah mudahan Kalisa balik liburan ini.." hibur Hbibi, Arka kbali tersenyum dan menatap sahabatnya yang entah selalu mengerti perasaannya.


"Thank's.." ujar Arka membuat Habibi semakin mengeratkan rangkulannya dan berjalan menuju kelas dan mengikuti pelajaran hingga usai dan kembali ke rumah dengan nyaman.


Lanjut up lagi nih...


Makasih yang masih setia menunggu karya Pengkhianatanmu Ku Balas dengan Bahagiaku ya semuanya...


Jangan lupa kasih like sama dukungan kalian karena akan sangat berarti buat Author...


Makasih orang baik...


😊🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2