
Hari yang cerah, gadis cantik nan manis sedang duduk melamun di taman dekat kampus. Dialah Mara, gadis itu sedang asyik melamun hingga tak sadar jika sahabatnya yang cempreng sudah duduk dan sedang memperhatikan.
"Woy..." teriak Karina di samping telinga Mara hingga gadis itu terperanjat
'Astagfirullah, Kar kamu mau bikin aku mati mendadak karena suara kamu itu!" ucap Mara kesal menatap Karina yang hanya cengengesan.
"Maaf-maaf, habisnya elo pagi-pagi dah ngelamun aja. Ngelamunin apa sih?" ungkapnya
"Gak ada." jawab Mara, kembali menatap hamlaran rumput di hadapannya.
"Haish, kita dah berapa lama sih temenan?" ucap Karina juga mengalihkan pandangannya ke arah depan.
"Hmm, emang kenapa?" tanya Mara
"Lo, gak bisa bohong sama gue Mar. Gue tahu kalo lo lagi ada masalah kan? cerita napa?" ucap Karina menatap Mara yang juga menatap dirinya. Benar mereka sudah lama berteman, jadi jika salah satu di antara mereka ada masalah pasti yang satu bisa tahu. Entahlah mungkin itu karena mereka yang terlalu dekat.
"Ya, aku emang lagi ada masalah sih." jawab Mara
"Masalah apa sih, sampe elo ngelamun pagi-pagi kek gini."
"Kak Arnold nembak gue Kar.." jawab Mara dengan nada suara yang seperti orang tak bahagia.
"Hei, lo di tembak Kak Arnold kenapa lo malah sedih sih?" tanya Karina tak percaya dengan ekspresi wajah sedih yang di tunjukkan sahabatnya itu.
"Kamu kan tahu, aku gak bisa pacaran." jawab Mara
"Ya elah, kan lo bisa pura-pura gak pacaran kalo di depan Mamah lo." tukas Karina memberi saran yang buruk bagi Mara.
"Gila kamu, gaklah. Walaupun aku juga suka sama Kak Arnold, tapi aku gaka akan pernah bisa bohongin Mamah." jawab Mara sedikit marah dan tak setuju dengan saran yang di berikan sahabatnya.
"Ya terus lo maunya gimana?" tanya Karina ikut kesal.
"Aku bakalan nolak Kak Arnold." jawab Mara nada suaranya pun terdengar sedih dan berat.
" Lo yakin?" tnya Karina lagi, meyakinkan keputusan sahabatnya yang alim itu.
"Hmm, in syaa Allah." jawabnya menatap langit buru yang indah.
Tanpa mereka sadari, sejak percakapan mereka beberapa waktu lalu seseorang sudah mendengar semuanya, ya dia adalah Arnold. Meskipun ia kecewa dengan yang di katakan Mara jika ia akan menolak dirinya, namun ia tetap tersenyum. karena ternyata wanita yang ia sukai juga menyukai dirinya.
"Cukup dengan kau menyukaikupun aku sudah sangat bahagia Mar." lirih Arnold masih menatap ke arah Mara yang sedang mengobrol dengan sahabatnya Karina, terkadang mereka tersenyum membuat jantung Arnold terasa berdetak lebih cepat saat melihat senyuman indah gadis yang sedang ia perhatikan.
"Balik kelas yuk, bentar lagi jam nya pak Ridwan loh." ajak Mara saat melihat jam di tangannya sudah masuk jam pelajaran Pak Ridwan.
"Ah, males banget gue..." lirih Karina menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Udah ayo, entar kita kenal omel kalo telat." ajak Mara sambil. menarik tangan Karina yang masih enggan berdiri.
"Ayoo..." dengan terpaksa Karina mengikuti langkah Mara karena tangannya yang terus di tarik hingga sampai di kelas. Baru selang beberapa detik mereka duduk, Pak Ridwanpun sudah masuk kelas mereka dan suasana yang tadi ramaipun berubah menjadi sangat hening.
Arnold yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon besar hanya bisa. memandangi Mara dari kejauhan, ia masih berdiri di tempat yang sama sambil menatap lurus ke arah kelas tempat Mara belajar sekarang.
"Aku yakin, suatu saat nanti kita pasti bisa bersama." ucapnya tersenyum kemudian berjalan menuju kelasnya.
__ADS_1
Hari makin sore, Mara dan Karina sudah berada di parkiran dan akan segera pulang.
"Gue nebeng..." ucap Karina yang langsung di anggukkan Mara.
"Oh iya Mar, berarti gue dong yang menang!" tutur Karina mengingat taruhan yang ia buat beberapa bulan yang lalu
"Menang apaan sih Kar?" tanya Mara tak mengerti, lebih tepatnya ia lupa jika sahabatnya itu pernah mengatakan jika Arnold akan nembak dirinya sebelum 6 bln, dan jika dia kalah maka Karina tidak akan nyontek lagi sama Mara
"Lo lupa, kan gue pernah bilang kalo Kak Arnold pasti nembak elo sebelum 6 bln, dan kalo lebih dari 6 bln Kak Arnold gak nembak lo, gue gak bakalan nyontek lagi sama elo." jelas Karina panjang lebar
"Ya terus kan kamu menang!" jawab Mara polos
"Kalo gitu lo traktir gue selama sebulan." jawabnya, Mara memicingkan sebelah alisnya, ia mereasa di taruhan itu tak ada kata jika ia kalah maka harus mentraktir Karina sahabatnya yang cerewet itu.
"Oh ayolah, lo harus traktir gue!" lanjutnya
"Ya, ya, baiklah." jawab Mara pasrah.
"Yess." Karina yang senang tanpa sengaja menabrak Seniornya yang lngsung menatapnya tajam.
"Kalo jalan pake mata dong!" ujar Senior yang di tabrak Karina dengan keras.
"Maaf Kak, gue gak sengaja." jawab Karina sopan
"Makanya kalo jalan jangan sambil ngobrol.." Karina sedikit tersulut emosinya dan hampir saja ikutan marah jika tidak di tahan oleh Mara.
"Maaf, Kak temen aku gak sengaja." ucap Mara santun ia sedikit menundukkan wajahnya
"Iya Kak, kenapa?" Mara masih tersenyum ramah
"Lo, jangan pernah deket-deket sama Arnold karena dia itu cowok gue. Paham!" ucapnya penuh penekanan, tatapannya sangat tidak bersahabat
"Maaf, Kak tapi aku sama Kak Arnold gak ada hubungan apapun kok." jawab Mara apa adanya
"Bagus.." ucapnya kemudian meninggalkan Karina dan Mara tanpa sepatah katapun.
"Gila tuh orang.." ujar Karina kesal dengan sikap sombong dan arogan Senior mereka.
"Udah, ayo pulang." Mara tak menggubris ucapan Karina, ia justru mengajak sahabatnya itu untuk pulang.
Mara sudah tiba di rumahnya, ia sediikit agak terlambat karena harus mengantar Karina pulang dulu dan kebetulan rumah mereka berlawanan.
"Assalamualaikum, Mah Mara pulang."
"Waalaikumsalam..." ucap seseorang dari dalam, namun ia tahu jika itu bukan suara Mamahnya tapi suara laki-laki
"Suara siapa itu..." ucap Mara kemudian masuk dengan sedikit tergesa-gesa
"Mah..." panggil Mara hingga ia tiba di ruang tamu dan melihat pria tampan, gagah dan sedikit lebih tinggi darinya sedang duduk santai dan menatap ke arahnya dengan senyuman termanis.
"Kamu..." ucap Mara mengingat pria di hadapannya saat ini
"Udah pulang sayang.." belum sempat menjawab Rani sudah keluar dari arah dapur membawa secangkir teh manis dan menaruhnya di hadapan pria yang masih tersenyum menatap Mara.
__ADS_1
"Udah Mah..." jawab Mara mencium pipi sang Mamah
"Oh ya, kenalin ini Regar adiknya tante Syakira." ucap Rani memperkenalkan pria di hadapan mereka
"Oh, iya Kak Regar ya oom nya Arka." ujar Mara setelah mengingat Regar.
"Iya.." jawab Regar
"Ya udah Mah,Mara masuk kamar dulu mau istirahat capek." ucap Mara langsung masuk ke dalam kamarnya. Mata Regar terus mengikuti langkah Mara hingga ia masuk ke dalam kamar dan menutuonya
"He, lihat apa kamu!" tegur Rani melihat tatapan Regar yang terus melihat ke arah kamar anak gadisnya
"Eh, gak Kak. Kalo gitu Regar juga pamit udah sore." ucap Regar setelah menghabiskan isi di dlam. gelasnya dengan buru-buru.
"Iya, memang seharusnya kamu pulang." jawab Rani ketus
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam..." Regarpun beranjak dan keluar rumah Rani, ia segera mengendarai motornya menuju rumah Syakira di mana ia tinggal sekarang.
"Aku pasti bisa mendapatkan kamu Mara." batin Regar, ia sangat bersemangat bahkan senyumannya tak pernah pudar dari wajahnya yang semakin tampan sejak pulang dari rumah pujaan hatinya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam, gimana udah di kasih ke Rani?" tanya Syakira saat melihat Regar yang sudah pulang dan duduk di sofa
"Sudah Kak." jawabnya singkat masih terus tersenyum membayangkan wanita pujaan hatinya itu.
"Hei, kenapa dark tadi senyum-senyum kayak gitu?" tanya Syakira mendekati adik sepupunya itu
"Palingan habis ketemu Kak Mara Bun..." ujar Arka yang baru keluar dari kmarnya..
"Iyakah?" tanya Syakira
"Ya, begitulah..." jawab Regar malu
"Re, Kakak gak akan menghalangi kamu untuk dekat dengan Mara, kalo kamu memang menyukainya kamu perjuangkan dia dan segera nyatakan perasaanmu itu padanya dan pada Mamahnya." ucap Syakira, Regar sedikit ragu jika harus mengatakannya pada Rani karena ia tahu bahwa Rani tidak begitu menyukainya
"Dengar, Kakak sangat mengenal Rani seperti apa. Meskipun dia terlihat tegas dan keras, tapi hatinya sangat lembut dan baik. Kamu harus bisa merebut simpatinya dengan caramu."
"Jangan pernah menyerah sebelum kamu berusaha, Kakak akan dukung apapun keputusan yang akan kamu ambil selama itu yang terbaik." ucap Syakira memberikan dukungannya
"Makasih Kak, Regar bakalan berusaha lebih keras lagi supaya Kak Rani bisa menerima Regar." ujar Regar semangat.
"Tapi ingat, jika Mara menolak maka kamu harus bisa menerima keputusannya dengan baik ya, dan jika ia menerima kamu, jangan sampai kamu melukai hati dan perasaannya sebagai seorang perempuan." pesan Syakira, ia tahu bagaimana rasanya di khianati dan di kecewakan oleh orang yang begitu di cintai.
" Regar janji akan menerima apapun keputasan Mara nantinya Kak." jawab Regar tersenyum menatap Kakak sepupunya itu. Arka hanya menyimak, namun ia paham betul dengan perasaan Bundanya saat memberikan pesan pada Regar. Arka juga sedikit sedih, karena ia harus merelakan gadis pujaan nya bersama dengan orang lain dan orang itu adalah pamannya sendiri. Ya, walaupun mereka tak tahu apakah Mara akan menerima atau menolak Regar nantinya.
Jangan lupa like dan komen yang mendukung ya supaya autho makin semangat, dan makasih yang udah mampir baca..
Terima kasih orang baik....
🙏🙏
__ADS_1