Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Menunggu lebih lama


__ADS_3

Setiap hari Arka selalu datang untuk menjemput adiknya dan mengantar sekolah, tanpa lelah dengan jarak rumah juga sekolah yang lumayan jauh. Arka lakukan semua itu demi mendapat pengakuan dari Wulan dan ingin lebih dekat dengan adiknya, ia sudah sangat menyayangi Wulan layaknya Kakak kepada Adiknya.


"Ka, loe gak capek apa tiap hari jemput gue?" tanya Wulan, kini ia sudah terbiasa dengan hadirnya Arka juga bahasanya sudah kembali seperti saat mereka bertemu pertama kali ya walaupun perasaan cintany masih tetap sama dan belum berkurang.


"Gak, buat Adek Kakak apa yang gak Kakak lakuin.." jawab Arka tersenyum meski Wulan tak bisa melihat.


"Ya ya, gue tahu.." ujar Wulan memutar bola matanya malas. Arka selalu menjawab dengan jawaban yang sama saat ia bertanya.


Motor Arka berhenti tepat di depan pagar sekolah, Wulan segera turun dan mengembalikan helm pada Arka.


"Thank's.." ucap Wulan berusaha tersenyum manis, Arka turut tersenyum.


"Pulang nanti Kakak jemput!" ucap Arka sebelum ia meninggalkan Wulan yang hanya mengangguk. Mau menolakpun percuma toh Arka akan tetap datang buat jemput dirinya.


Arka kembali mengendarai motor menuju sekolahnya, dan Wulan segera masuk setelah melihat Arka yang semakin jauh dan tak lagi terlihat.


Setengah jam perjalanan, Arka baru sampai di sekolah dan bertepatan dengan Habibi yang juga baru keluar dari mobilnya.


"Keknya beberapa hari ini loe selalu dateng agak siangan Ka?" tanya Habibi saat mereka sudah berjalan berdampingan menuju kelas.


"Hmm." Arka hanya berdehem.


"Ka..." panggil Habibi yang menatap Arka penuh selidik. Arka tak langsung menjawab dan lebih dulu duduk di kursi.


"Kenapa?" tanya Arka juga menatap Habibi, ia mengerutkan keningnya saat melihat tatapan selidik dari sahabatnya.


"Loe beneran gak ada rasa sama Wulan kan?" pertanyaan Habibi barusan membuat Arka agak terkejut, namun ia segera tersenyum lalu menepuk pundak sahabatnya.


"Gak!" jawab Arka.


"Loe yakin?" tanya Habibi lagi meyakinkan ucapan sahabatnya. Arka kembali tersenyum dan mengangguk.


"Tapi kemarin gue lihat loe sama Wulan pulang bareng, bahkan loe juga sering kan nganter Wulan sekolah!" ujar Habibi


"Ah! jadi kamu sudah lihat ya!" ucap Arka, wajahnya di buat seolah sangat terkejut dan senyumannya hilang membuat Habibi merasa gusar dan takut jika tebakannya memanglah benar.


"Jadi kalian-" Habibi tak melanjutkan ucapannya saat melihat ekspresi Arka. Hbibi merasa kecewa juga sedih karena cintanya pada Wulan harus kandas sebelum di mulai.


Arka yang melihat wajah sedih sahabatnya tak tega, ia hanya ingin mengerjai Habibi saja dan tak menyangka jika sahabatnya itu akan sesedih ini. Arka tersenyum, ia kembali menepuk pundak Habibi yang langsung menatapnya dengan dahi yang berkerut.


"Loe-" Habibi menatap bingung pada Arka


"Aku sama Wulan gak ada hubungan cinta Bi, tapi hubungan kami lebih spesial dari itu." ujar Arka seolah memberikan teka teki yang harus Habibi tebak.


"Maksud loe apa?" tanya Habibi tak mengerti


"Wulan adek aku, kami saudara se Ayah." jawab Arka. Habibi terperanjat kaget, sungguh wajahnya benar benar terlihat sangat terkejut dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya dan menatap Arka tak percaya.

__ADS_1


"L-loe serius Ka?" tanya Habibi meyakinkan lagi


"Hmm." Arka hanya berdehem dan mengangguk, tatapannya sangat bisa di percaya.


"Ja-jadi loe Ka-kakak Wulan?" Habibi terus bertanya, ia masih sangat terkejut dan tak percaya dengan yang baru saja ia dengar.


"Hmm." Arka kembali berdehem.


"Hahhh..." Habibi bernafas lega, bahkan sangking leganya tanpa sadar ia mengelus dadanya yang sempat terasa sesak karen berfikir jika Arka dan Wulan mempunyai hubungan spesial antara pria dan wanita pada umumnya.


"Lega Bi?" tanya Arka dan Habibi mengangguk tanpa sadar, namun setelah sadar ia segera menoleh pada Arka yang sudah tersenyum miring membuat dirinya malu.


"Loe paling pinter memang kalo mancing gue!" ucap Habibi merasa kesal karena sejak tadi selalu di kerjai Arka.


"Emang kamu ikan!" ujar Arka kembali tersenyum, membuat Habibi berdecak kesal.


"Ck! loe ini.." ucap Habibi tak lagi berniat meladeni sahabatnya itu karena sudah pasti ia sendiri yang akan di buat kesal dan kalah.


Arka tersenyum, ia yakin dengan adanya Habibi di sisi Wulan maka gadis itu pasti bisa melupakan cintanya pada Arka.


'Semoga saja' gumam Arka pelan hingga Habibi tak bisa mendengar gumamannya.


Pelajaran pertama dan kedua berjalan lancar, kini Arka dan Habibi tengah duduk di kantin bersama kedua sahabat Kalisa.


"Eh, gue dapet kabar baru nih soal Kalisa!" ujar Melda melihat ketiga temannya secara bergantian. Aka sangat antusias saat mendengar ucapan Melda namun wajahnya tetap terlihat tenang dan dingin.


"Gue dapet kabar kalo Kalisa bakalan tambah lama di luar negri, dan bahkan.." Melda menggantung perkataannya bahkan mimik mukanya berubah sedih.


"Kenapa?" tanya Habibi ia mengerutkan keningnya begitupun Arka.


"Bahkan ada kemungkinan dia bakal ikut Papahnya setelah lulus SMA, itu artinya dia bakalan lama di luar negri." jawab Melda semakin merasa sedih karena akan berpisah lebih lama dari Kalisa begitu juga dengan Syasa.


Arka terdiam mendengar kenyataan jika Kalisa akan semakin lama di luar negri, karena yang ia tahu kedua orang tua Kalisa telah berpisah dan tinggal di negara yang berbeda.


"Ka!" panggil Habibi menepuk pelan pundak Arka yang sejak mendengar kabar Kalisa hanya diam saja, Habibi tahu apa yang saat ini di rasakan oleh sahabatnya itu.


"Hmmm." jawab Arka hanya berdehem setelah ia sadar dan kembali bersikap seperti biasa walaupun saat ini hatinya sedang kacau balau. Habibipun tak lagi bertanya, ia hanya bisa menatap kasihan pada sahabatnya karena harus menunggu lebih lama lagi untuk bisa bertemu dengan sang pujaan hati.


"Aku ke kelas duluan, kalian lanjut aja!" ujar Arka izin ke kelas lebih dulu pada ke tiga temannya. Melda dan Syasa hanya mengangguk tanpa menaruh curiga pada sikap Arka berbeda dengan Habibi yang tahu betul akan perasaan Arka.


"Eh, gue juga balik ke kelas yak, kalian lanjut aja." ujar Habibi segera menyusul Arka yang sudah berada jauh di depannya.


"Tuh bocah aneh deh!" ucap Melda. melihat ke arah pergi nya Habibi dan Arka.


"Mereka emang selalu aneh kali Mel." jawab Syasa dan Melda segera mengangguk setuju. Mereka saling tatap dan tersenyum.


Arka sendiri tak langsung kembali ke kelas, ia lebih memilih ke taman belakang yang ada di sekolah.

__ADS_1


"Kal, berapa lama kita harus berpisah!" lirih Arka, jujur ia sangat sedih karena harus lebih lama berpisah dari Kalisa dan menunggunya bahkan ada rasa takut dalam hatinya jika nanti Kalisa bertemu pria lain dan jatuh cinta di negeri orang.


"Aku harap, kamu tetap memilih aku Kal." lanjutnya, tatapannya sangat sendu.


"Khemmm.." Habibi yang baru datang dan melihat sahabatnya berdehem dan duduk di samping Arka yang menoleh padanya.


"Udah jangan sedih, gue yakin Kalisa pasti setia sama loe!" ujar Habibi memberikan semangat pada Arka yang tersenyum tipis.


"Um, cuma rasanya agak takut aja sih Bi!" jawab Arka tatapannya kembali mengarah ke depan.


"Takut! kenapa?" tanya Habibi menatap Arka bingung


"Aku sama Kalisa belum ada status, karena aku emang gak mau pacaran." jawab Arka


"Tapi, aku ingin segera menghalalkannya setelah kami lulus nanti, dan siapa kira Kalisa justru gak balik ke Indo dalam waktu yang lumayan lama." lanjut Arka, ia tersenyum getir menerima kenyataan yang harus berpisah lebih lama dengan Kalisa.


"Kalo gitu loe juga bisa meraih cita cita loe dulu, sampe Kalisa balik ke Indo dan setelah itu loe bisa langsung ngelamar dia!" saran Habibi, namun Arka justru tersenyum semakin getir.


"Ya, itu mungkin jika Kalisa gak memdapatkan seseorang yang lebih baik dari aku!"ucap Arka tatapannya semakin nanar ke arah depan.


"Loe harus yakin dan percaya sama Kalisa Ka! gue yakin Kalisa pasti akan nunggu loe juga seperti loe yang selalu setia menanti dia di sini." ucap Habibi kembali memberikan semangat pada Arka.


"Umm, aku juga berharap seperti itu Bi!" jawab Arka menoleh pada Habibi dan memberikan senyuman tulusnya.


Kedua remaja itu sama sama tersenyum dan mengalihkan pandangan mereka ke arah depan, mereka saling merangkul untuk sekedar saling memberikan kekuatan serta kenyamanan.


"Makasih.." ucap Arka tulus


"Gak gratis Broo.." jawab Habibi melirik pada Arka yang menoleh ke arahnya sambil menautkan kedua alisnya.


"Loe harus restuin gue buat deket sama adek loe!" ujar Habibi. Arka yang mengerti langsung menepuk kepala belakang sahabatnya.


"Kalo Wulannya mau, ya gak masalah! tapi kalo kamu sampe nyakitin Wulan aku sendiri yang bakal ngehajar kamu Bi!" ujar Arka di sertai ancaman dan tatapan tajamnya.


"Ya, gue tahu lagian gue gak bakalan nyakitin orang yang gue suka kok." jawab Habibi sedikit memundurkan tubuhnya dari Arka.


"Bagus.." jawab Arka tersenyum


"Ah! gue ngerasa kek terintimidasi kalo deket loe Ka!" ujar Habibi yang sudah memperbaiki posisinya seperti semula, Arka kembali tersenyum.


Mereka kembali terdiam dengan fikiran masing masing, hingga bel masuk terdengar di telinga keduanya dan segera kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran hingga usai.


Lanjut up...


Makasih orang baik...


😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2