
Setelah di rawat beberapa jam, Habibi sudah di perbolehkan pulang bersama Mamah dan mobilnya pun sudah di bawa ke bengkel langganan Mamah.
Dua hari Habibi tidak pergi ke kampus lantaran kesehatan pemuda itu yang masih belum terlalu baik, dan keesokkannya barulah ia di perbolehkan pergi ke kampus itu pun harus di antar oleh Mamah.
"untuk sementara Bibi Mamah antar dulu ya Nak, Mamah masih takut sama orang yang di bilang Pak Rt tempo hari.." ucap Mamah masih mengkhawatirkan keselamatan putra satu satunya.
Habibi tersenyum dan mengangguk karena tak mungkin menolak keinginan Mamah. "Ya Mah.." jawab Habibi.
Habibi dan Mamah sudah berada di mobil, sepanjang jalan Mamah tak henti memperhatikan ke arah belakang lewat kaca kecil di atasnya takut jika ada yang mengikuti mereka dan kembali mencoba mencelakai anaknya lagi, namun tak ada satupun mobil yang mengikuti mereka hingga Mamah baru bisa bernafas lega saat sudah sampai di depan kampus.
"Bibi masuk, Mamah hati hati.." ucap Habibi menyalami Mamahnya dan segera keluar dari dalm. mobil...
"Bi, nanti Mamah jemput lagi pokoknya selama pelaku yang nambrak kamu belum ketemu Mamah yang akan antar jemput Bibi ya Nak.." ujar Mamah. Hbibi hnya bisa mengangguk pasrah karena percuma juga jika ia menolak, Mamah nya akan terus merasa takut dan khawatir akan dirinya.
"Bi..." panggil Wulan saat melihat Habibi yng masih berdiri di depan mobil. Wulan menghampiri Habibi yang seketika menoleh ke arahnya dan tersenyum hangat. Mamah tentu saja bisa melihat senyuma anak nya.
"Loe kenapa? Kok kepala sama tangan loe di perban sih? Loe kecelakaan? kok gak loe gak kabarin gue sih!" pertanya bertubi tubi Wulan lontarkan pada Habibi yang hanya bisa diam tanpa mampu menjawab pertanyaan gadisnya.
Mamah tersenyu melihat wajah bingung anaknya, namun Mamah juga bis melihat kebahagiaan putranya. "Seperti nya gadis ini memang gadis yang baik dan bisa membuat putraku bahagia." gumam Mamah yang tak berniat untuk turun dari dalam mobil namun maaih mengaaasi kedua nya.
"Lan, gue bingung harus jawab dati mana pertanyaan loe yang banyak itu!" jawab Habibi bingung.
Wulan menghembuskan nafasnya kasar hingga bisa terdengar oleh Hbibi dan Mamah yang kembi tersenyum .
"Loe kenapa?" tanya Wulan memelan kan suaranya
"Gue kecelakaan.." jawab Habibi
"Kapan? di mana?" tanya nya lagi semakin penasaran.
"Tiga hari yang lalu pas gue balik dari nganter loe.." jawab Habibi masih sabar.
"Dan maaf gue gak kabarin loe karena gue gak mau buat loe khawatir.." lanjut Habibi sebelum gadis itu kembali bersuara dan membuka bibir nya yang imut.
"Hah, ternyata firasat gue gak salah!" gumam Wulan namun maaih terdengar oleh Habibi juga Mamah yang masih setia berada di dalam mobil.
"Maksud loe?" tanya Habibi menautkan kedua alisnya menatap Wulan yang kembali menarik nafas dan memejam kan matanya sejenak.
"Pas loe balik, gue gak sengaja lihat mobil yang ngikutin loe dari belakang dan pas gue mau kasih tahu loe no loe. malah gak aktif, gue sempet pa ik bahkan gue juga sempet bilang ke Papah sama Kak Arka tapi mereka cuma bilang kalo loe pasti baik baik aja jadi gue juga berfikir apa yang mereka bilang bener." jawab Wulan menjelaskan apa yang ia lihat dan rasa.
__ADS_1
Hbibi yang mendengarkan penjelasan Wulan cukup terkejut, ternyata benar jika ada orang yang memang ingin mencelakainya. Tapi, siapa? siapa orang yang ingin mencelkai dirinya dan apa alasannya?
"Loe yakin Lan?" tanya Habibi meyakinka.
Wulan mengangguk yakin. "Ya, gie yakin banget dan lihat sekarang loe kayak gini kan! Bi gue jadi takut ada seseorang yang gak suka sam hubungan kita dan mau pisahin kita, gue gak mau kehilangan loe Bi.." akhirnya Wulan menunjukkan rasa takutnya kehilangan pria yang ia cintai.
"Gak akan ada yang bisa memisahkan kalian.." ucap Mamah yang turun dari mobil dan mendekati Wulan lalu memegang pipinya yang sudah kembali chaby.
"Tante..." sapa Wulan terperanjat kaget melihat Mamah Habibi yang tiba tiba saj muncul di hadapannya karena sejak tadi ia sam sekali tak menyadari kehadiran Mamah Habibi di sana.
Mamah tersenyum dan kembali mengusap pipi Wulan dengan sayang. "Mamah akan selalu mendukung hubungan kalian, dan Mamah tidak akan membiarkan siapapun juga memisahkan kalian dan merenggut kebahagiaan kalian berdua. Mamah janji.." ucap Mamah penuh keyakinan, ia menatap Wulan dan sudah sangat menyayangi gadis itu.
Wulan dan Habibi tersenyum tanpa sadr kedua nya memeluk Mamah. "Maksih Mah.." ucap Habibi, untuk pertama kali setelah beberapa tahun ini Habibi memeluk Mamah nya kembali dan hal itu jelas membuat Mamah merasa tersentuh hingga ia meneteskan air matanya.
Wulan yang sadar akan hubungan orang tua dan anak yang mungkin saja tidak begitu baik pun segera mencairkan suasana. "Tan, kenali saya Wulan.." ucap Wulan memperkenalkan dirinya
Mamah tersenyum dan segera menghapus air matanya, ia kembali menatap Wulan yang tersenyum manis ke arahnya.
"Tante tahu, bahkan Tante merasa kamu lebih cantik di banding dengan foto yang pernah Bibi tunjukkan ke tante.." jasab Mamah lagi lagi mengusap pipi Wulan.
"Benarkah!" ujar Wulan bahagia dan bangga di puji oleh Mamah Habibi
"Mah, cuma Bibi yang pantas buat Wulan..." jawab Habibi malas mengaligkan pandangannya ke arah Wulan yang malah menertawakannya.
"Tante bisa aja.." ucap Wulan kembali ke mode malu malu kucing..
Habi i jelas tahu jika itu hanya ekting saja, ia memutar bola matanya malas. "Pencitraan.." ujar Habibi.
Wulan dan Mamah seketika teryawa renyah menatap Habibi yang wajahnya mulai tak enak di pandang karena ulah mereka berdua, ah mereka sudah seperti menantu dan mertua yang sangat cocok dan serasi sekali menggida Habibi yang memang dalam kondisi tak baik.
"Sudah, sebaiknya kalian masuk ini sudah hampir jam 8,dan bukankah kalian ada jam. pagi?" ucap Mamah setelah ia melihat jam di pergelangan tangannya
Habibi dan Wulan yang baru menyadari hal itu pun terkejut, mereka mengangguk bersamaan. "Iya Mah.."
"Iya Tan.." jawab keduanya kompak.
"Ya sudh sana, masuk jngan sampe kalian gak oleh ikut kelas ya.." ujar Mamah kembali mengingatkan.
Habi i dan Wulan kembali mengangguk dan segera menyalami Mamah lalu beranjak dati sana menuju kelas mereka meninggalkan Mamah yang masih memperhatikan keduanya hingga tak lagi terlihat di pandangan Mamah.
__ADS_1
"Semiga kalian selalu bahagia, dan Mamah tidak akan membiarkan siapapun menyulitkan hubungan kalian berdua.." gumam Mamah, wajahnya terlihat serius dan mulai merasa ada yang ganjal setelah mendengar perkataan Wulan beberapa waktu yang lalu.
Mamah pun segera beranjak dari sana menuju kantor, dan akan segera mencati tahu akan orang yang tak suka akan kebahagiaan putra nya bersama dengan calon tunangan nya Wulan.
"Kau, cepat cari tahu pemilik plat mobil ini dan saya ingin besok harus sudah ada laporannya!" ucap Mamah tegas dan dingin memberikan perintah pada Asisten Pribadinya Hans, yang selama ini selalu setia menemani dirinya.
"Memang ada apa dengan plat mobil ini Maurin?" tanya Hans bingung dan heran akan perintah yang di berikan atasannya yang sudah seperti adiknya itu.
"Orang ini hampir membuat aku kehilangan putraku dan seperti nya ia ingin menghancurkan kebahagiaan putra ku juga calon tunangannya.." jawab Mamah Maurin.
"Apa! jadi orang ini ingin menyakiti keponakan kedatangan ku! dan aa tadi tunangan?" tanya Hans menatap heran pada Maurin.
"Ya, Habibi ingin bertunangan dengan gadis pilihannya dan rencana nya minggu depan kami akan datang ke kediaman orang tua dari gadis itu." jasab Mamah Maurin tersenyum tipis.
"Aku juga baru saja bertemu dengan gadis itu, dan dia sangat cantik juga sangat menggemaskan, aku bahkan langsung jatuh cinta pada gadis kecil itu.." lanjut Maurin semakin memperlebar senyuman nya.
"Benarkah! kalau begitu akan aku pastikan aku akan segera mendapatkan informasi orang ini dan aku sendiri yang akan memberikannya pelajaran karena berani menyentuh keponakan ku.." ucap Hans membara, ia sangat tak suka ada yang berani menyakiti Habibi yang sangat ia sayangi bahkan rasa sayangnya melebihi Papah kandung anak itu.
"Thank's, Hans..." ujar Maurin tersenyum tipis menatap hangat pada Hans yang juga tersenyum lembut.
Pria itu dua tahun lebih tua dari Mamah Maurin, dan sudah menemani Maurin sejak wanita itu masih muda dan belum menikah, bahkan saat Maurin bercerai pun Hans lah yang selalu ada di sisinya juga Habibi. Hans tak memiliki perasaan lebih pada Maurin, namun ia sudah menganggap wanita karir itu seperti adik nya sendiri karena Maurin juga telah membantu istrinya saat akan melahirkan bahkan dengan sangat sigap wanita itu menemani istri nya dan bisa selamat, hingga kini putra yang telah tumbuh dewasa dan sedang bertugas di luar negri sebagai GM di perusahaan yang juga di kelola Maurin dan di percayakan oleh putra nya Hans.
"Aku permisi, dan akan segera melaksanakan tugas ini dan besok aku akan sudah mendapatkan informasinya.." ucap Hans serius, ia sedikit menundukkan wajahnya.
Maurin tersenyum. "Ya, aku percaya padamu Hans, sekali lagi terima kasih.." ujar Maurin terharu.
Hans hanya mengangguk dan tersenyum, ia kembali menundukkan wajahnya dan berjalan mundur beberapa lngkah baru lah ia berbalik dan meninggalkan ruangan Maurin.
"Mamah pasti akan selalu menjaga kalian berdua.." guamam Maurin menatap foto anaknya juga Wulan yang baru saja ia edit berdampingan di layar hp nya.
Maurin tersenyum tipis, ia kembali menyimpan hp nya ke dalam tas branden miliknya dan kembali fokus pada pekerjaan nya yang masih banyak di atas meja.
Lanjut up nih...
Kita tunjukan kekuatan Mamah Maurin yang gak pernah muncul di sesi nya Syakira dan baru muncul saat anak serta calon menantu nya dalam bahaya ya guysss...
Makasih orang baik...
😊🙏🙏
__ADS_1