
Pagi minggu yang cerah, Arka sudah bersiap dan hendak pergi untuk menemui adiknya, tapi sebelumnya ia menagih janji pada sang Bunda.
"Bun, Mana!" Arka mengulurkan tangannya meminta hadiah yang di janjikan oleh Bundanya untuk di berikan pada sang adik.
"Hmm, gak sarapan dulu Ka?" tanya Syakira saat ia melihat Arka yang sudah rapi dengan stelan korea yang sedang ngetren.
"Nanti aja Bun, sekalian sama Adek.." jawab Arka masih mengulurkan tangannya.
"Arka mau ke mana Nak?" Rangga yang baru turun dan melihat anaknya sudah rapi pun bertanya.
"Ketemu Wulan Pah." jawab Arka tersenyum.
"Ah! kalian seperti Kekasih bukan Kakak dan Adik saja!" ujar Rabgga yang melihat sikao Arka pada Wulan yang selalu ingin bertemu dengan Adiknya itu.
"He he, ya gimana lagi Pah, namanya juga Adek!" jawab Arka cengengesan.
"Ya, ya." ujar Rangga dan duduk di kursi makan, sedang Syakira yang sudah menyiapkan sarapan untuknya.
"Bun, mana! Arka udah telat ini!" ucap Arka menatap Bundanya yang malah tersenyum.
"Sebentar!" jawab Syakira dan beranjak dari sana menuju kamarnya untuk mengambil kotak hadiah yang ia janjikan pada Arka.
"Ini!" ujar Syakira memberikan kotak yang berukuran kecil tapi tidak begitu kecil dan sudah di hias dengan indah.
"Makasih Bunda.." Arka mencium pipi Bundanya dan tersenyum bahagia, ia segera berpamitan dan menuju rumah Papah Regar.
Sepanjang jalan, Arka tak henti hentinya tersenyum dan bermonolog.
"Wulan pasti suka sama hadiahku!" gumam Arka
"Ah! untunlah aku kepikiran Bunda buat belikan hadiah untuk Adek!" pikir Arka, ia beruntung memiliki Bunda yang sangat mendukung dirinya untuk semakin dekat dengan sang Adik, walaupun dulu Papah Regar selalu menyakiti sang Bunda tapi Bundanya sama sekali tak menyimpan dendam.
"Arka!" Wulan terperanjat kaget melihat Kakaknya yang sudah tiba dan langsung menemuinya di kamar, sangking kagetnya ia bahkan menaikan selimutnya hingga menutupi sebagian wajahnya. Maklum baru bangun tidur, itupun karena di usik oleh Arka.
"Pagi!" ucap Arka, ia sudah duduk di pinggir ranjang Adiknya.
"Hm Hm, anak gadis bangun siang terus!" ujar Arka menggelengkan kepalanya menatap Wulan yang segera duduk bersila.
"Loe ngapain main masuk kamar orang!" ucap Wulan menatap kesal pada Arka.
"Mandi sana, Kakak tunggu di bawah!" perintah Arka, ia juga segera berdiri dan meninggalkan Wulan yang masih kesal dan menatap kepergiannya.
"Dasar, Kakak aneh!" gumam Wulan, namun ia tetap menuruti kata Kakaknya dan segera membersihkan diri lalu turun ke bawah untuk menemui Kakaknya yang mulai menunjukkan sikap posesifnya.
"Nah, ginikan lebih cantik Dek!" ujar Arka melihat Wulan yang sudah duduk dan terlihat segar setelah mandi.
"Gue mah emang selalu cantik kali Ka!" jawab Wulan malas.
"Pe dean deh.." ucap Arka memutar bola matanya malas.
"Nih, buat Wulan!" Arka memberikan kadonya pada Wulan, ya walaupun terlambat beberapa hari taoi ia berharap jika Adiknya itu menyukai kado darinya lebih dari hadiah Habibi.
"Apa ini?" tanya Wulan, ia mengguncang guncang pelan kado dari Arka yang sedikit agak berat.
__ADS_1
"Buka aja!" jawab Arka, bahkan ia sendiri tak tahu apa yang ada di dalam kado itu.
Wulan mulai membuka kado dari Arka pelan, ia mulai penasaran dengan isi nya.
"Ah! ini kan!" gumam Wulan matanya melebar menatap Boneka tanah liat yang sudah terlihat di bola matanya yang berbinar.
"Suka?" tanya Arka, wajah harap harap cemas jelas terlihat.
"Arka...." lirih Wulan, matanya berkaca kaca membuat Arka heran.
"Gak suka ya?" Arka kembali bertanya, ia merasa kecewa karena melihat ekspresi Adiknya yang malah teihat sedih setelah nelihat hadiah darinya. Wulan menggeleng, dan segera memeluk Kakaknya.
"Eh!" Arka terkejut karena Adiknya tiba tiba memeluknya bahkan menangis.
"Lan! kenapa Dek?" tanya Arka, ia hanya bisa mengelus punggung Adiknya tanpa bisa melihat wajah Wulan yang di benamkan di dadanya.
"Makasih, gue suka bangermt sama hadiah loe Ka!" ucap Wulan, Arka tentu kembali terkejut.
"Suka! tapi kok nangis Dek?" tanya Arka, sesaat ia menghentikan belaiannya di rambut panjang Wulan yang halus.
"Terlalu bahagia gue.." jawab Wulan dan melepaskan pelukannya dari Arka, ia kembali menatap Boneka tanah liat yang sudah berada di tangannya bahkan Wulan mengelus elus wajah Boneka pemberian Kakaknya. Senyum bahagia sudah terukir di bibir cantiknya, dan Arka bisa meliht jika Adiknya sangat menyukai kado darinya lebih dari milik Habibi.
"Hah, gue gak nyangka loe bisa kasih gue kado ini! padahal gue dah nyari ke mana mana tahu Boneka kayak gini tapi gak pernah ketemu." ujar Wulan, ia menatap sekilas pada Arka dan kembali menatap Bonekanya. Senyuman gadis itu tak pernah luntur di bibirnya.
"Syukurlah, Kakak seneng kalo kamu suka Dek! Kakak fikir kamu gak suka sampe nangis kayak tadi!" ucap Arka merasa lega. Wulan menggeleng, ia kembali menatap Kakaknya.
"Makasih Ka." ujar Wulan tulus, Arka hanya memberikan senyuman hangatnya pada sang Adik yang sudah sangat ia sayangi.
"Tapi!" Wulan merubah raut wajahnya dan kembali menatap Arka yang mengerutkan keningnya melihat perubahan wajah sang Adik.
"Itu! loe dapet di mana Bineka ini?" tanya Wulan yang penasaran, sungguh ia juga ingin membeli lagi jika masih ada.
Arka menelan salivanya dengan susah payah, ia juga tidak tahu tempatnya karena Bundalah yang sudah membelikannya. Arka berusaha tenang agar Aduknya tak curiga.
"Nanti Kakak ajak kamu, tapi gak sekarang ya!" jawab Arka dengan senyuman hangat agar Wulan mau percaya.
"Um, janji ya Ka!" Wulan memberikan jari kelingkingnya dan Arka mengangguk juga memberikan kelingkingknya dan mereka saling nenyatukan sebagai janji.
Wulan tersenyum bahagia, ia terus memandangi Bonekanya dan Arkapun ikut bahagia melihat Adiknya.
"Loe ke sini cuma buat kasih gue kado ini?" tanya Wulan menatap Arka yang mengangguk membenarkan ucapan sang Adik.
Wulan tersenyum, tak menyangka jika Kakaknya itu rela jauh jauh demi memberikannya hadiah. "Makasih Ka, loe dah jadi Kakak yang baik banget buat gue, tapi maaf kalo gue belum bisa jadi Adek yang baik buat loe!" ucap Wulan terharu dengan sikap Arka selama ini. Arka tersenyum, sungguh ia tak rela melihat wajah sedih Adiknya.
"Aku seneng punya Adek yang cantik kayak kamu Lan, dan kamu sudah jadi Adek yang baik dengan menerima ku sebagai Kakak kamu." jawab Arka menatap Wulan serius.
"Untuk itu, Kakak sangat berterima kasih." lanjut Arka, ia kembali tersenyum lembut menatap sang Adik yang matanya sudah berkaca kaca.
"Arka..." Wulan kembali menangis, membuat Arka menjadi heran dan panik sendiri karena kali ini Wulan menangis dengan suara keras membuat semua irang yabg ada di rumah itu memandang ke arah mereka bahkan, Papah Regar pun keluar kamar dan mendekati mereka berdua.
"Arka.." oanggil Papah Regar menatap Arka dengan alis yang saling bertaut.
"Yah!" Arka yabg bingung hanya bisa tersenyum canggung.
__ADS_1
"Wulan kenapa nangis gitu?" tanya Papah berdiri di hadapan Wulan dan Arka yang sedang menenangkan Adiknya yang masih sesenggukan.
"Dek, kamu buat Kakak kayak tersangka ini! udah dong diem!" bisisk Arka, ia terus mengelus punggung Adiknya dan berharap Wulan bisa tenang.
"Loe sih bikin gue terharu!" lirih Wulan, ia masih berusaha tenang dan mengatur nafas.
"Wulan kenapa Nak?" tanya Papah Regar lembut menatap kedua anaknya bergantian.
"Arka, buat Wulan terharu Pah jadi Wulan nangis!" ucap Wulan, suaranya cukup kecil namun masih bisa di dengar oleh Regar dan Arka yang hanya bjsa pasrah.
"Kenapa emangnya?" Papah Regar kembali bertanya, namun senyum tipis terlihat di bibirnya melihat sikap anak perempuan nya yang memang sangat mudah terharu.
"Arka ke sini cuma buat kasih kado ini ke Wulan, kan jadinya Wulan terharu Pah!" jawab Wulan jujur dengan wajah polos dan menggemaskan.
Tanpa sadar Arka mengelus dadanya dan erasa lega, karena Adiknya menangis karena terharu dengan dirinya.
"Haduh, Dek, hampir aja Kakak jantungan!" ujar Arka dan tersenyum lucu.
"Resiko punya Adek cengeng ya gini Nak!" ujar Papah Regar juga tersenyum lucu melihat tungkah anak gadisnya. Wulan mengerucutkan bibirnya karena di sebut cengeng.
"Wulan gak cengeng, cuma mudah terharu aja!? bantah Wulan ngambek.
"Nah, sama tukang ngambek!" lanjut Papah Regar semakin genjar meledek anak gadisnya.
"Papah..." rengek Wulan semakin tak terima.
Arka dan Papah Regar tertawa, untuk pertama kali mereka terlihat sangat akrab layaknya anak dan Ayah sesungguhnya dan itu, karena Wulan sang Adik yang tanpa mereka sadari telah membuat Kakak dan Papahnya menjadi semakin dekat bahkan bisa tertawa bersama tanpa ada rasa canggung di antara keduanya.
"Sudah sufah, Papah capek dari tadi ketawa terus lihat muka jelek Wulan!" ujar Papah Regar masih meledek putrinya, dan Arka masih tersenyum dan menahan tawanya.
"Ah! Papah sama Arka gak asik Wulan mau naik aja!" ucap Wulan, ia sudah beranjak dari sana dan mulai menaiki tangga menuju kamarnya.
Arka dan Papah Regar tersenyum dan menatap kepergian Wulan yang sudah hilang dari balik pintu yang di tutup agak kuat hingga terdengar di telinga keduanya.
"Dasar, tukang ngambek!" gumam Arka senyumannya sangat nyata, ia sungguh bahagia karena memiliki Adik.
"Juga cengeng!" timpal Papah Regar. Arka sontak menoleh pada Papahnya begitupun Papah Regar yang menoleh ke arah putranya, dan beberapa detik berikutnya mereka saling melempar senyum dan tawa kecil.
"Arka pamit Yah, salam aja buat Adek." uca Arka saat ia hendak pulang.
"Iya Nak, hati hati!" ujar Papah Regar mengantar anaknya sampai ke depan rumah. Arka mengangguk ia segera menyalimi Paoah Regar dan naik ke motor laku melajukannya menuju jalan raya untuk kembali ke rumah Papah Rangga dan Bunda Syakira karena hari yang hampir siang.
Sebenarnya Arka di ajak makan siang bersama dengan Paoah Regar, namun ia tolak karena akan makan bersama dengan Papah juga Bundanya di rumah yang pasti sudah menunggunya.
Regarpun tak akan memaksa, ia tahu jika saat ini Papah dan Bunda Arka adalah prioritas utama Putranya. Meski begitu ia bersyukur karena setidaknya, Arka sudah mau menerima dirinya juga Wulan sebagai bagian dari hidup Arka dan menganggap mereka sebagai keluarga.
"semoga kelak kita juga bisa makan bersama Nak!" lirih Regar menatap keergian Anaknya yang sudah tak lagi terlihat di pandangannya.
Regarpun segera masuk ke dalam rumah, dan berganti pakaian kantor karena setelah makan siang ia akan ada pertemuan dengan rekan bisnisnya di restoran yang sudah mereka sepakati.
Lanjut nih...
Makasih banyak yang masih setia menunggu ya, maaf kalo kurang berkenan di hati para pembaca.
__ADS_1
😊🙏🙏