Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Nembak Apa Melamar?


__ADS_3

Satu minggu setelah nya, Wulan sudah bisa beraktivitas seperti biasa, ia pergi dan pulang bersama Arka dan terkadang bersama Habibi atau di jemput Papah Regar sebab Wulan masih bum di izinkan membawa kendaraan sendiri dan gadis itu setuju saja.


"Ok..." Wulan yang baru saja menerima telpon dari Kakaknya dan mengatakan jika pemuda itu tak bisa menjemput.


Wulan tersenyum, ia segera menghubungi seseorang setelah sambungan telpone antara dirinya dan Arka terputus. "Halo..." sapa Wulan lembut, ia tsrsenyum.


"Bisa jemput gak! Arka gak bisa jemput katanya?" tanya Wulan. Seketika wajahnya berseri saat seseorang yang ia telpone menyetujui permintaannya.


"Ok deh, gue tunggu! bay...." Wulan memutus sambungan telponenya, ia segera merapikan pakaian juga rambut barunya.


"Cantik..." puji Wulan untuk dirinya sendiri, gadis itu tersenyum malu malu saat melihat pantulan dirinya di cermin yang menampilkan dirinya yang begitu cantik dan imut apalagi tubuhnya mulai berisi kembali setelah ia di nyatakan benar benar sembuh dari kangker jantung yang ia derita.


Beberapa menit berikutnya jemputan Aulan datang, ia segera turun setelah di panggil Bibi. " Non, ada yang nyariin..." panggil Bibi dari balik pintu yang masih tertutup.


"Ya Bi, Wulan bentar lagi turun.." jawab Wulan sedikit berteriak. Ia menetralkan detak jantungnya juga rasa gugupnya terlebih dahulu dengan menatik nafas dalam lalu menghembuskan nya perlahan.


"Ok, gue ok..." ujar nya sekali lagi menghembuskan nafasnya pelan lalu tersenyum semanis mungkin.


Wulan turun dari tangga secara perlahan, ia sesekali melirik Pria di hadapannya dan kembali menatap tangga yang ia turuni sambil terus mengontrol detak jntung secara kegugupannya.


"Bi..." panggil Wulan berusaha setenang mungkin.


Habibi terpaku sesaat, ya pria itu terakhir kali bertemu Wulan saat gadis itu masih di tempat Dokter Karina dan sekarang gadis itu sudah berdiri di hadapannya.


"Biiii..." Wulan menepuk lengan Habibi hingga pemuda itu tersentak kaget dan sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang saat sadar dati lamunannya sendiri.


"Lan..." ucap Habibi kaku, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali dengan senyum kikuk dan canggung.


"Berangkat, entar telat loh..." ajak Wulan, ia memang terlihat tenang akan tetapi jantung gadis itu masih berdegup tak karuan bahkan ia sedikit merasa sesak. 'Oh ya Tuhan, jantung gue....' batin Wulan


"I-iya..." jawab Habibi mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ya udah ayok!" ajak Wulan lagi karena Habibj malah diam saja. Habibi kembali salah tingkah, ia berjalan mendahului Wulan keluar rumah menuju mobilnya yang ia parkir tepat dk depan rumah Wulan.


"Bi, Wulan berangkat..." teriak Wulan menatap ke arah dapur.


"Iya Non, hati hati..." jawab Bibi setengah berlari menuju Nona Mudanya yang sudah berjalan mengikuti langkah Habibi yang berada di depannya.


Habibi membuka kan pintu mobil untuk Wulan, dan gadis itu segera masuk tanpa banyak bicara, karena wajahnya sudah memerah sekarang menerima perlakuan manis dari Habibi. "Makasih..." ucap Wulan tulus tanpa menoleh ke arah Habibi yang hanya tersenyum dan kembali menutup pintu mobil lalu ia masuk ke samping Wulan.


Mobil mewah itu mulai melaju dan meninggalkan kediaman Papah Regar menuju kampus. Hampir setengah jalan dan keadaan di dalam mobil hanya ada keheningan saja karena baik Wulan atau pun Habibi hanya diam.


"Gue-" Wulan dan Habibi bicara secara bersamaan dan keadaan kembali hening karena keduanya sama sama diam.


"Bi..."


"Lan..." lagi lagi berbarengan.


Wulan dan Habibi sama sama menghembuskan nafas mereka pelan, dan saling menoleh kemudian tertawa kecil saat mereka saling menatap.


"Loe duluan aja..." ucap Habibi kemudian dan kembali fokus dengan ke daraannha namun sesekali ia melirik Wulan yang juga melirik dirinya.


"Hmm, nanti siang bisa bicara gak?" tanya Wulan menatap Habibi yang melirik nya sekilas.


"Bisa..." jawab Habibi cepat.

__ADS_1


Wulan tersenyum, ia kembali menatap ke arah depan. "Tadi loe mau ngomong apa?" tanya Wulan lagi setelah ia mengingat jika tadi Habibi pun ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Gue juga mau bilang hal yang sama kayak loe.." jawab Habibi tersenyum tipis dan Wulan hanya mengangguk dengan senyum manisnya.


Tak lama, keduanya sudah tiba di kampus, Wulan di sambut baik oleh teman temannya Fatimah dan Kana yang langsung memeluk Wulan saat mereka melihat gadis itu yang sudah berdiri tepat di depan kelas. Kebetulan kelas Habibi, Wulan dan kedua sahabat gadis itu sama kecuali Arka tentunya.


"Gue kangen bet dah ama loe..." tangis Fatimah memeluk Wulan dari kanan.


"Gue juga...hiks hiks..." Kana pun sama seperti Fatimah yang menangis sambil memeluk Wulan sari sisi kiri. Wulan hanya pasrah di peluk dari sisi kanan dan kiri, bahkan wajah juga tubuhnya sampai tenggelam di telan tubuh Fatimah yang bertambah berisi saja.


"Gue juga kengen kalian..." jawab Wulan mengusap punggung kedua sahabatnya lembut. Habibi hanya diam di samping Wulan, pemuda itu hanya memperhatikan saja.


"Udah ah, malu noh di lihatin orang!" bisik Wulan dan kedua sahabatnya itu segera melepaskan pelukan mereka.


"Biarin lah, lagian loe juga sih sakit tapi gak bilang bilang tahu tahu dah koma aja, kan gue sama Fatimah jadi khawatir! mana loe juga tiba tiba ngilang lagi pas gue sama Fatimah nyariin loe di rumah sakit dan kata Dokternya loe di pergi jauh sama bokap loe buat berobat...." ucap Kana panjang kali lebar tanpa jeda membuat ketiga orang yang ada di sana melongo menatapnya.


"Apa!" ujar Kana lagi masih sesenggukan.


"Loe ngomong kagak ada jeda, lah gue jadi bingung Kana..." jawab Wulan menjitak kepala gadis itu.


Kana hanya meringis memegang kepalanya yang baru saja di jitak Wulan. " ya kan gue cuma panik aja terus gue juga ma-" perkataan Kan terhenti saat Wulan menutup bibir gadis itu dengan sebelah tangannya.


"Hmmpp, apaan sih woy!" pekik Kana melepaskan tangan Wulan dari bibirnya, ia segera memperbaiki lipstik nya dengan kesal.


"Berisik banget sih loe ah!" ujar Wulan tak kalah kesal. Wulan segeta masuk ke dalam kelas di ikitu Habibi juga kedua sahabatnya mereka duduk di tempat masing masing. Habibi duduk tepat di belakang Wulan sedangkan kedua sahabatnya di samping kanan dan depannya.


"Jadi loe udah beneran sembuh kan Lan?" kali ini Fatimah yang bertanya, ia menatap serius pada Wulan yang menoleh ke arahnya.


Wulan mengangguk dan tersenyum. "Umm..." jawab Wulan. Fatima serta Kana ikut tersenyum bahagia mereka memeluk Wulan dari jarak jauh dengan merentangkan tangan kemudian di buat seolah saling memeluk dan Wulan pun melakukan hal yang sama. Habibi kembali tersenyum tipis melihat tingkah ketiga orang di hadapannya kini.


Fatimah dan Kana sudah pulang, mereka akan langsung pulang. "Kita duluan deh kalo gitu, loe berdua hati hati..." ucap Fatimah yang mengendarai mobilnya sedangkan Kana duduk di sebelah sahabatnya itu.


Wulan dan Habibi mengangguk. "Ya, kalian juga jangan ngebut ngebut banget Fat!" ucap Wulan mengingagi dan kali ini Fatimah yang mengangguk.


"Kalo gue aman, nah kalo Kana baru deh tuh loe waspadai..." ujar Fatimah melirik Kana yang kembali cemberut.


"Gue lagi yang kena..." gumamnya melengos.


Wulan dan Fatimah tersenyum. "Dah sana balik, gue juga mau balik sama Bibi..." ucap Wulan.


Fatimah melajukan mobilnya melewati Wulan dan Habibi. "Mau bicara di mana?" tanya Habibi menatap Wulan yang sudah masuk ke dalam mobil dan dirinya pun sudah duduk di tempatnya.


"Hmm, di taman kota aja kali ya!" usul Wulan, ia juga bingung mau bicara di mana.


Habibi mengangguk kemudian ia melajukan mobilnya ke tempat yang sudah mereka sepakati.


Hanya 15 menit mobil Habibi sudah berhenti di taman kota, keduanya segera turun dan duduk di dekat danau yang ada di sana. Wulan dan Habibi duduk bersebelahan sambil menselonjorkan kaki dan bersandar di bawah pohon besar.


"Jadi loe mau bicara apa?" tanya Habibi serius menatap Wulan.


"Apa loe masih suka sama gue?" tanya Wulan menatap lurus dan yak menoleh ke arah Habibi


"Ya, gue masih suka sama loe dan karena itu gue mau bicara sama loe Lan.." jawab Habibi tanpa ragu lagi ia semakin dalam menatap wajah Wulan.


"Bicara apa?" tanya Wulan, ia menoleh dan mata keduanya bertemu saling mengunci. Untuk beberapa saat hening, sampai Wulan yang sadar duluan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


"Lihat gue Lan!" pinta Habibi, pemuda itu memutar sedikit tubuhnya hingga kini menghadap Wulan.


"Lan, lihat gue..." ulang Habibi.


Wulan kembali menatap Habibi yang ternyata sudah mengahadap ke arahnya.


"Gue suka sama loe dan gue gak mau kehilangan loe lagi, cukup kemaren aja gue jauh dari loe.." tutup Habibi menatap dalam manik mata Wulan.


"Gue mau serius sama loe Lan.." lanjutnya. Wulan hanya diam saja, bingung harus jawab apa.


"Bi, gue-" Wulan menggantung ucapannya menatap Habibi yang tersenyum tipis.


"Gue tahu, Arka gak mungkin ngerestuin kita kalo pacaran, tapi gue gak mau ngajak loe pacaran Lan.." ujar Habibi. Wulan mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan Habibi.


"Gue mau kita tunangan langsung dan nanti setelah lulus kita bisa nikah..." lanjut Habibi, sontak Wulan menutup meulutnya dengan kedua tangan matanya melebar menatap tak percaya akan ucapan Habibi barusan. Seserius itukah peria di hadapannya?


"L-loe nge-lamar gue?" tanya Wulan masih mode terkejut.


Habibi tersenyum. " Terserah loe anggep nya apa tapi gue serius sama ucapan gue Lan dan kalo loe setuju gue sama nyokap gue bakalan langsung nemuin bokap sama Kakak loe Arka.." ucap Habibi tegas semakin serius.


Wulan tak mampu berkata kata, ia masih syok bahkan jantungnga kembali berdegup kencang, tanpa sadar Wulan memegang dadanya dan itu tak luput dari pandangan Habibi yang malah panik juga khawatir..


"Loe kenapa? sakit?" tanya Habibi panik, ia menatap Wulan khawatir..


Wulan menggeleng. "Gue gugup, dan loe kayak gini malah bikin gue makin gugup tauu!" gumam Wulan memejamkan matanya karena posisi wajah Habibi begitu dekat dengan wajahnya.


Habibi bernafas lega, ia tersenyum dan memundurkan wajah serta tubuhnha ke posisi semula. " Loe bukin gue panik Lan, gue fikir jantung loe kumat.." ujar Habibi.


Wulan membuka matanya dan melihat Habibi yang sudah duduk di tempatnya. " Gue minta waktu boleh?" tanya Wulan ragu. Habibi mengangguk setuju, ia tersenyum. "Ya..." jawab Habibi.


"Loe gak nanya berapa lama gue minta waktunya?" Wulan kembali bertanya.


"Terserah loe, yang penting nanti loe harus jawab iya.." jawab Habibi tersenyum menggoda.


Wajh Wulan seketika memerah, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. " yee, itu mah maksa namanya..." sungut Wulan, namun bibirnya menyunggingkan senyuman tipis


"Ya, terserah loe mau anggepnya apa, soalnya gue gak mau lagi kehilangan loe Lan..." ucap Habibi jujur memegang tangan Wulan yang kaget dan menagap tangannya yang di genggam Habibi.


Hening, keduanya kembali diam hingga sore menjelang. Habibi segera mengantar Wulan kembai ke rumah setelah mereka bicara dengan puas di dekat danau.


"Gue tunggu ya!" ujar Habibi setelah ia membuka pintu mobil dan Wulan keluar dari sana.


"Um, gue bicarain dulu sama keluarga gue ya.." jawab Wulan, keduanya saling melempar senyuman.


Wulan dan Habibi berpisah di sana, Wulan yang segera masuk ke dalam rumah dan Habibi yang sudah melajukan mobilnya kembali.


Dari dalam rumah ada yang memperhatikan keduanya, dan nampak tak senang akan kedekatan mereka, ia mengepalkan kedua tangannya hingga Wulan masuk dan Habibi pergi dari sana..


Lanjut up...


Siapakah gerangan irang itu?


Pantengin terus ya kisah mereka, semoga selalu suka....


Makasih orang baik....

__ADS_1


😊🙏🙏


__ADS_2