
Hari berganti minggu, dan minggu tergantikan bulan. Setelah ujian kenaikan kelas Arka dan seluruh siswa yang bersekolah di pastikan akan libur cukup panjang.
Seperti liburan sebelumnya, Arka hanya akan tinggal di rumah atau terkadang membantu Bundanya di Cafe, ia tak pernah pergi keluar kecuali jika ingin menemui adiknya dan mengajaknya jalan bersama.
"Mau jalan?" tanya Arka saat ia baru saja menelpone Wulan dan di jawab oleh adiknya.
"Kemana? aku lagi males!" jawaban jjga pertanyaan ia berikan, terdengar jika saat ini Wulan baru bangun tidur dari suaranya.
"Baru bangun?" Arka tak langsung menjawab, ia kembali bertanya dengan sebelah alis terangkat.
"Umm.." jawab Wulan, gadis itu merubah posisinya menjadi duduk bersila di atas kasur meskipun matanya masih tertutup.
"Astagfirullah, anak gadis bangun siang terus!" ujar Arka, tak ada jawaban dari sebrang sana.
"Mau gak?" tanya Arka lagi
"Ya kemna Arka?" terdengar suara Wulan yang agak kesal, bahkan gadis itu sudah membuka matanya.
"Kemana aja, sekarang kamu mandi dan tutun ke bawah!" ucap Arka seperti memberikan perintah. Wulan membulatkan matanya, ia teringat jika Arka sudah mengatakan hl itu maka, pasti pria itu sudah berada di rumahnya.
"Loe dah di rumah gue?" tanya Wulan, ia segera bangkit dari tempatnya dan hendak menuju pintu.
"Hmm." Arka hanya berdehem lalu menutup sambungan telponenya karena melihat Wulan yang baru keluar dari kamar dengan baju tidur yang masih lengkap juga jngan lupakan wajah cantik serta rambut yang agak berantakan, tapi itu semakin membuatnya terlihat cantik.
Arka melambaikn tangannya ke arah Wulan yang terlihat cembetut dan semakin menggemaskan di mata Arka, hingga pria itu tersenyum.
"Ah! sih Arka ini selalu aja gitu!" gumamnya, ia kembali masuk ke dlm kamar untuk mandi dan bersiap karena tak mungkin baginya menolak ajakan sang Kakak.
"Arka.." panggil Papah Regar saat melihat putranya yang lebih sering main ke rumahnya beberapa bulan ini.
"Ayah!" sapa Arka dan mencium punggung tangan Ayahnya. Regar tertegun, ya walaupun ini bukan yang pertam kali bagi Arka mencium tangannya tapi tetap saja Regar merasa sangat bersyukur dan masih tak percaya karena anaknya mulai menerima dirinya dengan baik begitu juga Wulan, walaupun sekarang Wulan sedikit agak tertutup darinya.
"Mau jalan sama Wulan?" tanya Regar, sekedar basa bsi agar bisa lebih lama bercengkrama dengan putranya.
"Iya Yah.." jawab Arka tersenyum tipis meski masih agak canggung di antara keduanya.
"Kemana?" tanya Regar lagi. Arka tampak berfikir ia sendiri belum tahu akan kemana.
"Belum tahu Yah, nanti aja di fikitin kalo udah jalan!" jawab Arka, Regar tersenyum mendengar jawaban putranya yang tak punya tujuan.
"Kalo mau Arka bisa ajak Wulan ke tempat favoritnya!" ujar Regar memberi saran, tentu saja Arka sangat antusias jika itu berkaitan dengan Adiknya.
"Kemana?" tanya Arka menatap Regar.
"Kebun binatang!" jawab Regar tersenyum tipis, ia tahu jika Arka tak terlalu menyukai hewan dari Syakira. Wajah Arka berubah menjadi suram.
"Hm, makasih Yah.." jawab Arka tak lagi bsesemangat, namun ia tetap mempertimbangkan usulan sang Ayah.
"Ya sudah, Ayah pergi ke kantor dulu!" ucap Regar dan Arka hanya mengangguk lalu kembali menyalami Ayahnya.
"Assalamualaikum..." salam Regar dengan senyuman hangat
"Waalaikumussalam.." jawab Arka jjga tersenyum melihat kepergian sang Ayah yang sudah tak lagi terlihat.
Arka duduk di sofa ruang tamu menunggu adiknya yang tak kunjung keluar dan turun dari dalam kamarnya, padahal sudah hampir satu jam ia di sana.
__ADS_1
"Ya Allah, nih bicah kok lama banhet sih!" gumam Arka, sesekali ia mirik ke arah kamar Wulan yang masih tertutup rapat.
"Ini nih, kalo punya adek cewek! dandannya pasti lama!" pikirnya, ia semakin merasa bosan dan sedikit kesal.
Tak lama,Wulan turun dengan anggun menuruni tangga satu persatu sesekali ia melirik Arka yang menatapnya tanpa berkedip. Bagaiman tidak, baju yang Wulan pakai hanya sebatas lutut dengan lengan yng memperlihatkan seluruh lengannya yang putih mulus.
"Dah, ayok!" ajak Wulan saat ia sjdah berdiri tepat di hadapan Wulan.
"Kayak gini?" Arka bertanya dengan tatapan naik turun memperhatikan penampilan Wulan. Memang cantik tapi Arka tidak suka jika tubuh Wulan terlalu terekspos dan di lihat pria di luar sana.
"Ya iyalah! kenapa?" Wulan mengerutkan keningnya ia juga memperhatika penampilannya dan merasa baik baik saja.
"Gak ada baju lain Lan?" tanya Arka. menatap Wulan serius.
"Gak ada! kalo mau jalan hayok kalo gak aku naik lagi nih!" jawaban serta ancaman Wulan berikan pada Arka yang hanya bisa geleng geleng dan pasrah atas keras kepala adiknya ini.
"Ya udahlah.." jawab Arka, ia berjalan sambi menggandeng tangan Wulan keluar rumah besar itu dan menuju motornya. Jika di lihat mereka seperti sepasang kekasih yang tak rela jika wanitanya di lihat orang lain, tapi siapa yang tahu jika ternyata mereka adalah Kakak dan Adik. Arka tentu hanya ingin menjaga sang Adik dengan baik.
"Mau kemana?" tanya Wulan agak sedikit kuat karena sedang berada di motor, ia juga berpegangan di pinggang Arka.
"Gak usah teriak juga Lan!" ucap Arka yang merasa telinganya pengang karena ucapan Wulan yang terlalu dekat dengan telinganya serta keras.
Wulan malah tersenyum, dan timbul jiwa jahilnya.
"Aaaaaaaaaaa....." teriak Wulan di telinga Arka, ia semakin mendekatkan bibirnya ke samping Kakaknya dan berteriak sekuat kuatnya.
"Wulan, berenti gak!" ucap Arka kesal karena telinganya semakin berdengung karena ulahnya.
"Ha ha ha...." Wulan tertawa, baru kali ini ia tertawa lepas saat bersama Arka.
Satu jam perjalanan, Arka berhenti di salah satu kebun binatang yang terkenal di sana.
"Eh!" Wulan menatp di depannya yang memperlihatkan kebun binatang yang dulu sering ia kunjungi bersama Papah, Mamah Maya juga Risa.
"Ini!" Wulan menatap Arka yang tersenyum.
"Ayok masuk.." ajak Arka, lagi lagi ia menarik tangan Wulan yang masih tertegun melihat kebun binatang yang penuh kenangan baginya.
Arka dan Wulan mulai berjalan jalan mengelilingi kebun binatang dan tak lupa gadis yang kini semakin terlihat ceria memberi makan pada binatang yang ada di sana.
Arka hanya memperhatikan Wulan yang selalu tersenyum ceria, bahkan ia juga mengambil foto serta vidio adiknya dan ia simpan. Namun Arka selalu menolak jika Wulan menawarinya untuk memberi makan pada binatang binatang di sana karena Arka yang tidak suka binatang.
"Mau kasih makan nggak Ka?" tanya Wulan memberikan wortel pada Arka untuk di berikan pada Rusa besar dan bertanduk di hadapan mereka saat ini.
Arka menggelengkan kepalanya. "Kamu aja dek!? jawab Arka sedikit mundur. Wulan mengerutkan keningnya melihat wajah Arka yang terlihat tak suka dengan menatap ke arah Rusa.
"Loe takut Arka?" tanya Wulan menatap Arka dengan senyum jahil. Arka menoleh pada Wulan dan kembali menunjukkan wajah dinginnya.
"Gak, cuma gak suka aja.." jawab Arka sekilah melirik pada Rusa di hadapannya
"Iya kah!" ucap Wulan, ia sedikit maju dan mendekati Arka tanpa pria itu sadari Wulan mendorongnya hingga mendekati kandang Rusa yang sepertinya sudah menunggu kedatangannya untuk di beri makan.
"Aaaaa, Wulan jangan jangan!" mohon Arka, ia berteriak histeris dan mencoba melepaskan diri dari adiknya, tapi entak kenapa kekuatannya hilang seketika. Semua pengunjung menatap pada Arka, bahkan mereka tersenyum melihat tingkahnya yang lucu, tentu saja dengan wajah tampan dan dingin saat masuk tadi membuat pengunjung merasa lucu jika pria seperti Arka rupanya takut dengan binatang.
"Wukan, jangan Lan!" Arka terus meronta, namun Wulan tetap mendorongnya bahkan ia meletakan wortel yang ia pegang ke tangan Arka dan ja genggam bersama.
__ADS_1
"Cepet Ka, Rusanya mau makan itu!" ujar Wulan dengan senyum nakal.
"Kamu aja!" jawab Arka ia masih berusaha lepas dari Wulan yanh semakin mengeratkan pegangannya di pinggang Arka.
"Cepet!" Wulan menggerakkan tangannya yang menggenggam tangan Arka ke arah Rusa yanh sudah siap menerima wortel di tangan Kakaknya itu.
Atka memejamkan mata saat tangannya mulai terarah ke hadapan Rusa dan mulai memakan wortel di tangannya, hingga Wulan semakin memajukan tangan mereka dan wortel yang berada di tangan Arka telah berpindah sepenuhnya ke mulut Rusa besar itu.
"Sudah!" ucap Wulan saat ia sudah melepaskan pegangannya pada Arka dan berdiri tepat di hadapan Arka yang masih terpejam. Wulan menunjukkan senyuman miring menatap Arka yang mulai membuka mata.
"Loe cemen bet dah Ka! sama binatang lucu kek gini aja takut.." ujar Wulan, ia sungguh tak menyangka jika Arka sangat takut dengan binatang.
Arka hanya mendengus kesal dengan Wulan yang baru saja mengerjainya hingga Arka harus menunjukkan sisi lain dari dirinya.
"Pulang!" ujar Arka kemudian meninggalkan Wulan yang sedikit terkejut dengan ucapan dingin Kakaknya, namun beberapa detik berikutnya ia tersenyum puas karean berhasil mengerjai sang Kakak. Wulan segera menyusul langkah cepat Arka dengan sedikit berlari kecil.
"Gak lagi aku ajak kamu ke sini!" ujar Arka saat ia sudah naik ke atas motor dan di ikuti Wulan yang duduk di belakang dengan diam namun terus mengukir senyumnya.
Tak ada oembicaraan selama lerjalanan pulang, Arka masih ngambek nampaknya dengan sang Adik, sedangkan Wulan masih terswnyum sepanjang jalan saat mengingat reaksi Arka yang lucu di matanya juga para pengunjung yang ada di sana tentunya.
"Loh kok turun?" tanya Wulan saat ia melihat Arka yang ikut turun saat mereka sudah sampi di rumah.
"Mau minum sekalian numpang buang air kecil." jawab Arka ketus, ia segera masuk dan menuju toilet yang ada di rumah Papah Regar meninggalkan Wulan yang maaih terbengong di luar rumah, ia sudah sangat kebelet sejak Wulan mengerjainya.
"Setakut itu Arka! sampe kebelet pipis! hmppp." Wulan menahan tawanya dengan menutup mulutnya. Ia juga segera masuk ke dalam rumah lalu mengambil segelas air putih untuk Arka dan meletakkannya di atas meja di ruang tamu.
"Minum dulu Ka, baru balik entar loe gemeteran di jalan!" ucap Wulan sedikit meledek. Arka menatap tajam pada Wulan, namun gadis itu malah semakin tersenyum. Arka meminum air yang di berikan Wukan hingga tandas, barulah ia berdiri dan hendak pulang karena merasa jalan jalannya kali ini sangat kacau. Arka sedikit merasa menyesal sudah mengikuti saran Ayahnya dan mengajak Wulan ke kebun binatang, walaupun ia tetap merasa senang karena Wulan bisa tersenyum bahagia walaupun di atas kesusahannya.
"Kakak oulang, salam buat Ayah!" ujar Arka dengan tampang dinginnya seperti biasa.
"Um, hati hati.." jawab Wulan, ia masih tersenyum menatap Arka yang semakin kesal saja saat melihat senyuman sang adik.
"Dasar jahil!" ujar Arka, ia mengacak ngacak rambut Wulan hingga berantakan, membuat yang empunya kesal dan menjuhkan dirinya dari Arka yang sudah terswnyum puas karena bisa membalas kejahilan sang Adik.
"Arka...." rengek Wulan, ia merapikan rambutny saat tangan Arka yang sudah menjauh dari kepalanya. Wulan mengerucutkan bibir imutnya dan terkihat menggemaskan di mata Arka. Jika saja mereka. bukan Kakak dan Adik, mungkin sudah di pacarin tuh Wulan.
"Kakak pulang, Assalamualaikum.." ucap Arka.
"Hmm, Waalaikumsalam.." jawab Wulan masih mengerucutkan bibirnya dengan kedua tangan di letakan depan dada.
Arka kembaki ke rumahnya, mdski kesal dengan Wulan tapi ia juga lumayan bahagia karena bisa seakrab itu dengan sang Adik.
Wulan sendiri tak berfikir apapun, ia segera naik ke atas dan masuk ke kamarnya untuk istirahat.
Jalan jalannya hari ini cukup baik, dari pada di ajak ke taman ssperti biasanya membuat ia bosan.
Lanjut up...
Masih Arka sama Wulan dulu ya. Syakira biarkan dulu bahagia bersama Rangga, kasihan udah menderita dari awal mula.😊
Pantengin terus kisah mereka....
Makasih yang masih setia dan yang baru hadir, semoga kalian tetep suka...
😊🙏🙏
__ADS_1