Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Dokter Erick


__ADS_3

Satu minggu berlalu, kini Dokter Erick sudah mengambil alih untuk merawat Regar. Ia mulai memeriksa segala hal yang bersangkutan dengan kesehatan pasiennya, tak kecuali tentang kecelakaan yqng menimpa Regar.


Dokter Erick menggelengkan kepalanya saat membaca riwayat kecelakaan pasien barunya itu juga dampak dari kecelakaan itu sendiri.


"Baik saya sudah mempelajari semuanya, dqn mulai hari ini saya yang akan bertugas untuk merawat pasien atas nama Regar." jelasnya pada Dokter juga suster yang sebelumnya merawat Regar. Mereka hanya mengangguk karena memang sebelumnya sudah di beri tahu oleh atasan mereka.


Dokter Erick segera menemui sahabatnya Rangga juga keluarganya.


"Akhirnya...." ucap Rangga saat melihat Dokter Erick yang tengah berjalan ke arahnya.


"Kau terlihat sangay senang Rangga!" Ujar erick memeluk sahabatnya itu saat mereka sudah saling berhadapan


"Tidak juga..." jawab Rangga namun ia tersenyum lega


"Benarkah!" Erick melepas pelukan mereka, dan Rangga hanya mengangguk. Erick tersenyum kemudian beralih menatap wanita cantik di samping Rangga yang sejak tadi menggandeng tangannya.


"Syakira, istriku..." ucap Rangga sebelum Erick sempat bertanya. Mata Erick melotot sempurna tak percaya jika sahabatnya itu benar benar sudah menikah bahkan istrinya sangat cantik.


"Ku kira kau hanya bercanda!" ungkap Erick namun ia tersenyum ikut bahagia atas pernikahan Rangga.


"Apa dia..." bisik Erick namun masih terdengar oleh Syakira yang terus berada di sebelah Rangga


"Ya, kau ini..." jawab Rangga mulai kesal, Syakira hanya tersenyum karena ia mengerti maksud dari sahabat suaminya itu.


Erick tak melanjutkan ucaannya, ia hanya tersenyum kemudia beralih menatap Agus dan Rani yang berdiri tak jauh dari mereka karena memang mereka tengah berada di depan ruang rawat Regar.


"Apa kapar Pak Agus!" sapa Erick sambil mengulurkan tangannya ke depan Agus yang segera menyambutnya


"Baik. Bagaiman dengan Anda Dokter Erick?" Aguspun menanyakan hal yang sama sebagai basa basi


"Sangat baik.." jawab Erick dan segera menarik tangannya begitupun dengan Agus. wajah mereka sama sama dingin namun tetap tersenyum ramah.


"Baik, mulai hari ini saya yang akan merawat pasien atas nama Regar, dan jika saya boleh sarankan lebih baik jika Regar di rawat di rumah." jelas Dokter Erick serius dan penuh keyakinan.


"Kamu yakin Rick! apa itu tidak akan membahayakan nyawanya?" tanya Rangga ragu


"Aku yang akan memlersiapkan segalanya, dan kalian tentukan saja di mana pasien akan di rawat." ucap Dokter Erick


"Rumah Kak Maira.." jawab Syakira


"Maira!" ulang Dokter Erick


"Ya, Kaka Maira Kakak lerempuan Regar juga saya.." jawab Syakira namun raut wajahnya terlihat sedih. Dokter Erick menaikan sebelah alisnya sambil menatap Rangga.

__ADS_1


"Kak Maira juga sedang di rawat di RS yang sama." ujar Rangga membuat Dokter Erick mengerti


"Boleh saya bertemu dengan Maira?" tanya Erick memastikan


"Boleh, mari saya antar ke ruangannya." jawab Syakira dan segera berjalan mendahului Erick sedang Rangga tetap berada di sana bersama Agus dan Rani.


"Saya permisi sebentar.." ucap Erick pada Agus dan Rani, mereka berdua hanya mengangguk dan saling tersenyum tipis.


"Ini ruangan kak Maira Dok.." ucap Syakira menunjuk ruangan yang mana di dalamnya ada Maira.


"Saya akan masuk dan kamu bisa kembali ke sana saja.." Syakira hanya mengangguk kemudian pergi dari sana dan kembali ke tempat Rangga.


"Selamat pagi Nona Maira!" sapa Dokter Erick saat ia baru masuk, namun ia tak melihat wajah Maira karena gadis itu sedang menoleh ke arah lain.


"Bagaimn keadaan Anda?" tanyanya lagi semakin berjalan mendekati Maira dan berdiri di sisi sebelahnya dari arah pintu.


Maira masih tetap diam dan mengalihkan pandangannya ke sisi lain, namun Dokter Erick bisa menebak jika wanita di hadapannya pasti sedang menangis karena getaran tubuhnya juga isakkan yang berusaha ia tahan.


"Saya adalah Dokter Erick, dan mulai sekarang saya yang akan merawat adik Anda.." Dokter Erick terus berusaha berbicara pada Maira. Ia sudah tahu mengenai trauma yang di alami Maira karena sejak di perjalanan bersama Syakira menuju ruangannya, Syakira sudah menceritakan segalanya tentang Maira padanya.


Maira menoleh dan menatap Dokter Erick dengan seksama, kemudian ia berusaha duduk meskipun kesulitan. Melihat itu tentu saja Dokter Erick segera membantu namun dengan cepat tangannya di tepis pelan dengan Maira karena ia merasa masih sanggup.


"Anda Dokter Erick?" tanya Maira


"Tolong selamatkam adik saya." ujarnya memelas, bahkan ia tak lagi bisa menahan tangisnya saat mengatakan hal itu.


"Akan saya usahakan yang terbaik, untuk itu saya harap Anda bisa segera pulih.." Maira tak mengerti maksud Dokter di hadapannya..


"Apa hubungannya!" ujar Maira


"Ya tentu saja ada, karena saya akan memindahkan pasien untuk di rawat di rumah." jawab Dokter Erick. Maira terkejut tentu saja


"Apa adik saya sudah sadar?" tanya Maira cepat dan ada sedikit senyuman di sana membuat jantung Dokter Erick berdetak cepat saat melihatnya.


"belum..." jawab Dokter Erick, seketika senyuman Maira kembali hilang dan jujur saja hal itu membuat hati Dokter Erick tak suka.


"Saya menyarankan agar pasien di rawat di rumah saja, karena selain saya lebih leluasa untuk datang setiap harinya keluarga juga tak perlu repot untuk datang ke Rumah Sakit." jelas Dokter Erick mencoba memberikan pengertiannya sebaik mungkin.


"Baik, saya akan segera pulih.." jawab Maira


"Bagus, jadi apa Anda sudah makan dan minum obat pagi ini?" tanya Dokter Erick. Maira menggeleng, karena sejak tadi ia memang tak mau makan sedikitpun juga tak ngin minum obat meakipun sudah di bujuk oleh Syakira.


"Anda ini, katanya mau sehat tapi gak mau makan dan minum obat.." cercar Dokter Erick, ia berjalan memutar menuju sisi lain ranjang Maira dan mengambil semangkuk bubur yang sudah di sediakan khusus untyk pasien.

__ADS_1


"Anda harus makan yang banyak jika Anda benar ingin segera pulih.." lanjut Dokter Erick kemudian duduk di tepi ranjang Maura dan mulai menyuapinya. Awalnya Maira terdiam atas perlakuan Dokter yang baru ia temui, namun entah mengapa ia malah menyambut suapan tang Dokter di hadapannya.


"Bagus..." ujar Dokter Erick tersenyum, Maira membuang wajahnya ke arah samping tak ingin menatap orang yang tengah tersenyum di hadapannya.


Dokter Erick sangat telaten, bahkan ini pertama kali Maira bisa menghabiskan buburnya setelah seminggu di rawat di rumah sakit. Setelah buburnya habis, Dokter Erick memberika obat yang segera di minum Maira di bantu dengan segelas air.


"Terima kasih, dan tolong selamatkan adikku.." ucap Maira mulai lirih, karena rasa kantuk yang tiba tiba menyerang. Dokter Erick hanya tersenyum, kemudian ia memperbaiki selimut Maira dan keluar dari sana setelah memastikan Maira sudah tertidur.


Syakira menunggu di depan pintu ruangan Maira dan menunggu Dokter Erick keluar untyk menanyakan ke adaan Kakaknya, karena sejak tadi ia tak bisa membujuk Maira makan ataupun minum obat. Ya, tadi saat ia sudah kembali ke ruang rawat Regar, Syakira kembali teringat dengan Kakaknya yang belum makan dan minum obat jadi ia memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Maira, namun ternyata Dokter Erick masih berada di sana dan sedang berbicara dengan Kakaknya sehingga ianmemilih menunggu di luar sampai, Dokter Erick keluar.


"Syakira..." Dokter Erick sedikit kaget melihat Syakira yang berdiri di depan pintu saat ia keluar dari ruangan Maira.


"Dokter maaf, itu Kak Maira..." Syakira tampak ragu


"Maira sudah tidur, tenang dia sudah makan dan meminum obatnya." Hati Syakira sedikit lega mendengar ucapan Dokter Erick.


"Terima kasih Dok, sejak tadi saya tak bisa membujuk Kak Maira tapi sepertinya Anda benar benar Dokter hebat.." ujar Syakira tersenyum. Dokter Erick memicingkan alisnya mendengar ucapan Syakira, entah itu memuji atau sebeljmnya sempat meremehkan kemampuannya, namun ia tak lagi bicara dan hanya tersenyum saja.


"Saya akan kembali ke ruangan saya.." Syakira hanya mengangguk, Dokter Erick bergegas ke ruangannya meninggalkan Syakira yang juga segera kembali ke ruangan Regar.


"Mas aku nungguin Kak Mai ya, sampai Paman dan Bibi dateng?" izin Syakira ingin menemani Kakaknya


"Ya.." jawab Rangga tersenyum.


"Kamu gak ngantor Mas?" tanya Syakira lagi saat ia hendak berdiri namun kbali duduk di sebelah Rangga


"Sebentar lagi berangkat, mas mau ke ruangan Erick sebentar." jawab Rangga dan berdiri bersama istrinya kemudian terpisah menuju arah tang berbeda.


"Kamu juga gak ngantor mas?" tanya Rani pada Agus yang tersenyum


"Gak, kemarin malam aku sudah menyelesaikan kerjaanku jadi hari ini aku kosong dan bisa nemenin kalian." jawab Agus


"Makasih, maaf sudah merepotkan kamu.." ujar Rabi tak enak hati


"Aku ini calon suami kamu, jadi sudah sewajarnya aku melakukan yang terbaik buat kalian.." ucapan Agus sangat menyentuh Rani memeluk Agus, ia sangat beruntung bisa bertemu dengan laki laki sebaik Agus yang bisa menerima dirinya juga putrinya dengan sangat baik.


Lanjut up...


Semoga tetep suka ya....


Makasih orang baik....


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2