Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Bagas


__ADS_3

Rangga yang baru kembali dari kantor dengan wajah lelah karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Mas..." panggil Syakira yang melihat suaminya baru pulang mulai masuk ke dalam rumah.


"Loh kenapa di sini?" tanya Rangga mendekati Syakira yang juga sedang berjalan ke arah suaminya.


"Aku nunggu kamu pulang!" jawab Syakira, ia segera mengambil tangan suaminya dan menciumnya begitupun Rangga segera mencium kening Syakira yang tersenyum bahagia.


"Lain kali gak usah! Mas gak mau kamu capek sayang!" ucap Rangga menuntun istrinya kembali ke kamar mereka, namun Syakira menolak karena ia masih ingin di bawah dan bersantai di rung tamu saja.


"Aku di sini aja dulu Mas, bosen kalo di kamar terus!" pinta Syakira dengan wajah memelas, tentu Rangga langsung luluh dan tak memaksa istribya kembali ke kamar mereka.


"Ya sudah, Mas ganti baju dulu nanti kita nonton sama sama.." ucap Rangga lembut, ia kembali mencium pipi Syakira sebelum naik dan masuk ke dalam kamar mereka.


Setengah jam Rangga baru turun lagi dan melihat jika Syakira juga Arka yang sedang nonton bersama.


"Papah gabung ya?" izin Rangga, ia duduk di sisi kanan Syakira setelah kedua orang yang ia sayangi mengangguk dan tersenyum.


"Tumben Pah, pulangnya agak sorean?" tanya Arka menatap Papahnya sekilas dan kembali fokus pada tontonan mereka, Syakirapun menoleh pada suaminya yang kini sudah menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Banyak kerjaan, jadi agak terlambat Nak.." jawab Rangga. Arka kembali menoleh pada Papah Rangga, ia bisa melihat wajah lelah sang Papah.


"Semangat Pah! gak lama lagi beban Papah nambah satu. eheh.." ujar Arka di iringi candaan dan tawa renyah. Ranggapun tersenyum mendengar perkataan anaknya.


"Kalian bukan beban, tapi tanggung jawab Papah." jawab Rangga membalas tatapan Arka dengan penuh kehangatan.


"Ya, Arka tahu!" ucap Arka ia juga melakukan hal yang sama seperti Papah Rangga.


Syakira yang berada di tengah tengah kedua lelaki yang sangat ia sayangi dan tentu saja menyayanginyapun tersenyum bahagia, tak terbayangkan sebelumnya jika kini dirinya bisa memiliki keluarga seutuhnya dan bahagia dengan segala cobaan yang pernah lalui sebelumnya.


'Terima kasih Ya Allah, atas semua karuniamu pada hamba juga keluarga hamba.' batin Syakira, ia meletakkan kepalanya di bahu Rangga dan tangannya menggenggam tangan Suaminya juga Arka. Mereka menonton bersama sore itu dengan iringan tawa dari ketiganya.


"Malam Pah, malam Bun.. Assalamualaikum..." Arka memberikan salam pada kedua orang tuanya sebelum ia masuk ke dalam kamar.


"Waalaikumsalam..." jawab Papah dan Bundanya. Arka segera masuk ke dalam kamar untuk istirahat karena besok akan ada ujian. Syakira dan Rangga juga masuk ke kamar mereka.


"Mas..." panggil Syakira mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah suaminya yang berada tepat di atas kepalanya dengan dagu yang menempel di atas kepala Syakira.


"Hmm." deheman Rangga, ia membuka matanya yang sebelumnya tertutup menikmati harum shampo di rambut Syakira.


"Aku bosen berdiam diri di kamar aja!" ucap Syakira manja, ia kembali menenggelamkan wajahnya di dada suaminya yang sudah tak berpakaian hanya menggunakan boxser saja.


"Nanti habis Arka selesai ujian kita liburan. Mau?" Rangga menatap istrinya yang kembali mengangkat kepalanya dan pandangan mereka bertemu, wajah berbinar Syakira terlihat jelas di mata Rangga yang tersenyum.

__ADS_1


"Mau Mas. Kemana?" tanya Syakira masih dengan wajah berbinar dan bahagia.


"Kamu maunya kemana?" tanya Rangga. Syakira tampak berfikir keras, benar ia tidak tahu harus kemana. Hingga akhirnya ia menggeleng dengan wajah tertunduk dan sedih.


Akhir akhir ini Syakira juga sering berubah moodnya dengan cepat, yang tadinya bahagia tiba tiba sedih hanya karena sebuah perkataan saja.


Rangga tersenyum melihat mood istrinya yang cepat sekali berubah, ia mencium pucuk kepala istrinya lama.


"Gimana kalo ke puncak aja?" usul Rangga, Syakira kembali mengangkat kepalanya dan mengangguk setuju wajah bahagia kembali terlihat.


"Kamu kayak ABG yang di ajak pacarnya liburan saja sayang!" ucap Rangga meledek istrinya yang kembali cemberut. Sungguh Rangga sangat ingin tertawa melihat tingkah istrinya yang semakin menggemaskan sejak kehamilannya ini.


Syakira sendiri kembali menempelkan wajahnya di dada sang suaminya, sambil menghirup aroma maskulin suaminya yang menjadi candu baginya selama kehamilannya, ia juga memikirkan hal yang sama seperti suaminya saat ini sebenarnya.


'Benar! bahkan dulu saat hamil Arka aku gak kayak gini deh!' batin Syakira, ia membenarka ucapan sang suami. Senyum tipis terpaut di bibirnya.


"Sayang..." panggil Rangga namun Syakira tak menyahut, ia sebenarnya sudah merasakan deru nafas istrinya yang sudah teratur pertanda jika Syakira sudah tidur dengan nyenyak di dadanya.


"Udah tidur! cepet banget kamu tidur sayang!" ucap Rangga, ia sudah membenarkan posisi istrinya dengan nyaman dan menyelimuti Syakira hingga batas dada.


"Selamat malam sayang!" gumam Rangga, ia mencium kening Syakira kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri sambil memeluknya hingga ia juga tertidur dengan nyaman di sana


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Bagas sekertaris baru Rangga.


"Ya Mbak, Alhamdulillah aku ingin memperbaiki kesalahanku dan menjaga istri juga anak anakku dengan baik." jawab Bagas santun pada perempuan yang ia panggil Mbak.


"Baguslah akhirnya kamu sadar dan bisa memperlakukan istrimu dengan baik sebelum terlambat!" ucap perempuan itu lagi dan Bagas mengangguk membenarkan ucapan Mbaknya.


"Bagas ke kamar dulu Mbak! Mbak istirahat jangan capek capek.." ucap Bagas, ia juga sangat memperhatikan Kakak perempuan satu satunya keluarga yabg ia miliki setelah kepergian kedua orang tua mereka.


Sebenarnya dulu Bagas dan keluarganya adalah orang kaya, tapi sayang Papahnya selingkuh juga menggelapkan uang perusahaan tempatnya bekerja, hingga membuat sang Mamah harus merenggang nyawa karena jantung yang lemah setelah mendengar berita tentang suaminya. Saat itu Bagas masih kecil, usianya batu 10 tahun sedang Kakak perempuannya Santi barusia 20 tahun.


Tak lama setelah kepergian sang Mamah, Papahnya jatuh sakit hingga harus di larikan ke rumah sakit, tapi sayang nyawanya tak bisa tertolong dan meninggal di perjalanan. Bagas yang masih kecil dan tak mengerti apapun hanya bisa menangis di depan makan kedua orang tuanya, sekarang hanya tinggal dia dan Kakaknya yang terpaksa berhenti kuliah demi menghidupi sang Adik juga pendidikannya.


"Mbak janji akan jaga kamu dek, dan Mbak akan berusaha agar kamu bis sekolah setinggi mingkin.." lirih Santi memeluk sang Adik yang tdrus saja menangis. Kehidupan barupun di mulai, ia dan Santi hidup dengan sangat sederhana namun kedua Kakak beradik itu tetap akur dan hidup damai sampai suatu harumi Bagas pulang ke rumah dengan wajah penuh luka akibat dk pukul seseorang.


"Bagas..." pekik Santi melihat wajah Adiknya yang babak belur, juga mengeluarkan darah di ujung bibir serta dibagian ekor matanya.


"Kamu kenapa bisa gini dek?" tanya Santi, ia juga baru pulang dari bekerja, karena Santu bekerja di supermarket yang sistem kerjanya sip sipan.


"Di pukul, apalagi Mbak!" jawan Bagas ketus.


"Kamu berantem lagi?" tanya Santi lembut, ia segera mengobati luka di wajah adiknya dengan hati hati.

__ADS_1


"Awwwwwh, sakit Mbak!" ringis Bagas merasa perih saat obat merah itu mulai mengenai kulit wajahnya yang luka.


"Tahan Dek!" ucap Santi, wajah khawatir pada sang Adik tentu jelas terlihat bahkan air matanya lolos begitu saja.


"Jngan nagis, Bagas gak suka lihat Mbak nangis.." ucap Bagas dingin mengalihkan pandngannya ke arah lain. Santi tersenyum, ia tahu jika adiknya ini masih sangat perhatian padanya meskipun setelah beberapa tahu berlalu sikapnya jadi berubah dinhin dan suka berbuat ulah sepeyi sekarang yang mengakibatkan dirinya pulang dengan wajah bonyok.


"Istirahatlah..." ucap Santi lembut setelah ia selesai mengobati Adiknya, ia juga segera mengahapus air matanya dan tersenyum.


Baga masuk ke kamarnya tanpa bicara, wajahnya sangat dingin tapi rasa sagangnya pada sang Kakak tak pernah berubah.


Hari hari mereka lalui cukup berat, hingga Bagas bisa menyelesaikan kuliahnya dengan hasil yang memuaskan bahkan ia bisa di terima di perusahaan yang besar di sana. Bagas sedang menikmati masa kejayaannya setelah bertahun tahun ia hidup menderita. Bagas bertemu dengan istrinya saat ini di tempat kerja yang sama, dan ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, bahkan Bagas sangat gencar mendekati gadis itu hingga akhirnya luluh dan mereka pun menikah.


Bagas dan istrinya satu kantor dan mereka merahasiakan segalanya dafi atasan mereka sampai pada akhirnya sang istri hamil anak pertama mereka namun sayang karena hal itu mereka berdua ketahuan dan akhirnya di pecat bersamaan.


"Akhhh, sial..." umpat Bagas kesal, ia membanting apapun yang ada di depannya.


"Maaf Mas, aku lupa buat nyimpan cincin nikah kita.." lirih sang istri yang sedang mengandung sambil memegangi kaki suaminya yang terlihat sangat marah padanya.


"Sana, jauh jauh dariku dasar gak guna!" bentaknya, menendang istrinya hingga terdorong ke belakang untung Kakak iparnya Santi segera menangkap tubuh istri Bagas dan menuntunya agar kembali berdiri.


"Bagas..." teriak Santi marah atas perlakuan adiknya pada sang istri yang jelas jelas ia tahu sedang mengandung buah hati mereka.


"Biar Mbak, dasar istri gak guna! sekarang gimana kita di pecat..." Bagas kembali membentak istrinya yang semakin sesenggukan tatapan tajam sang suami menusuk sampai kerelung hatinya.


"Maaf Mas.." hanya itu yang mampu ia ucapkan pada suaminya. Bagas tak menggubris ia meninggalkan Santi juga istrunya yang masih menangis sesenggukan di dalam pelukan Kakak iparnya yang baik.


"Sudah, jngan nagis kasihan anak kamu.." ucap Santi menenangkan adik iparnya yang sudah sangat ia sayangi.


"Aku salah Mbak.." jawabnya semakin terisak, Santi mengelus rambut panjang adik iparnya..


"Gak. kamu gak salah ini sudah takdir sayang.." ucap Santi lembut, ia menuntun adik iparnya menuju sofa dan duduk di sana. Sungguh kasihan ia melihat sang adik ipar dengan wajah pucat dan air mata yang terus saja mengalir di pipinya.


"Sudah jangan nagis, gak baik buat kandungan kamu yang masih muda.." ucap Santi ia menatap kasihan pada adik iparnya itu.


"Makasih Mbak! aku mau ke kamar juga.." jawabnya dan Santi mengangguk memperhatikan adik iparnya yang mulai masuk ke dalam kamarnya juga Bagas yang lebih dulu masuk..


"Ya Allah, lapangkanlah hati adik iparku.." lirih Santi, ia juga segera beranjak dari sana dan masuk ke dalam kamarnya.


Lanjut up...


Makasih....


😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2