
Sebulan sudah Wulan menjalani berbagai macam perawatan tradisional yang di berikan oleh Dokter Karina. Awalnya tubuh Wulan menolak, namun seiring berjalannya waktu tubuh gadis itu mulai menerima dengan baik dan sudah mulai menunjukkan tanda tanda pemulihan.
"Dokter bagaimana kondisi putri saya?" tanya Regar yang saat ini sedang berada di ruangan Dokter Karina.
"Cukup bagus Tuan, dan putri anda memang sangat kuat ya meskipun awalnya tubuh anak anda. menolak namun seiring berjalan waktu tubuhnya mulai memberikan respon baik." jawab Dokter Karina ikut senang, ia tersenyum tipis.
Regar lega mendengar penjelasan Dokter Karina, ia pun tersenyum puas. "Lalu kenapa putri saya belum juga sadar Dok?" senyumnya sedikit memudar ia masih begitu penasaran akan kondisi anaknya.
"Sabar Tuan, anak anda baru sebulan di sini dan masih membutuhkan waktu yang lebih banyak bagi putri anda untuk bisa sadar, tapi jika di lihat dari kondisi setelah melakukan perawatan dari saya selama sebulan ini, saya rasa tak. lama lagi anak anda akan sadar namun tetap itu belum lah pasti.." ucap Dokter Karina dengan anggukan anggukan kecil.
"Baik Dok, saya minta maaf karena tidak begi sabar menunggu sadarnya anak saya.." ucap Regar merasa tak enak hati, namun Dokter Karina tersenyum karena ia tahu bagaimana perasaan Regar karena ia sudah sering melihat hal seperti ini dari pasien pasiennya yang lain.
Setelah selesai mendengarkan penjelasan Dokter Karina, Regar kembali ke ruangan Wulan di mana Arka dan Habibi menunggunya di sana karena mereka pun ingin mendengar bagaimana kondisi Wulan saat ini.
"Yah..." panggil Arka saat melihat Regar yang baru saja membuka pintu berjalan mendekati keduanya.
Regar tersenyum, ia duduk di sebelah Arka di sofa panjang yang ada di ruangan Wulan, sedangkan Habibi duduk di kursi samling ranjang.
"Gimana Yah kata Oma?" tanya Arka saat Regar sudah menjatuhkan dirinya di dekat Arka dan Habibi pun menoleh menatap Regar juga menunggu dirinya bicara.
"Alhamdulillah, keadaan adikmu sudah lebih baik setelah sebulan ini terus melakukan perawatan walaupun belum sadar tapi kondisinya jauh lebih baik Nak." jawab Regar dengan senyuman yng mengembang, ia menatap putrinya yang masih belum sadar.
"Alhamdulillah..." jawab Arka dan Habibi bersamaan, keduanya pun ikut memandang Wulan yang terlihat lebih segar setelah tadi di bersihkan oleh Suster juga wajah Wulan yang tidak sepucat biasanya.
"Kankernya Yah?" Arka kembali bertanya, ia menatap Regar yang juga menatap padanya.
"Kankernya sudah mulai mengecil sebab Dokter Karina sudah memberikan pengobatan tradisonal pada Wulan, dan itu juga sangat berperanguh pada Kankernya.." jawab Regar masih tersenyum.
"Alhamdulillah, semoga Wulan bisa segera sadar Yah! Arka sudah sangat rindu sama adek.." ucap Arka ia kembali menatap Wulan yang masih pulas akan tidurnya yang cukup lama.
"Ayah juga..." ucap Regar juga memandang Wulan.
'Lan, bngunlah, lihat betapa kami sangat merindukan loe dan gue akan selalu setia menemani loe di sini sampai loe buka mata loe itu.' batin Habibi, tatapannya begitu dalam pada Wulan dan tak ada yang tahh jika saat ini ia sedang mengusap punggung tangan gadis itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian kembali ke kota, karena kalian juga harus kuliah!" ucap Regar menatp Arka dan Habibi secara bergantian.
Keduanya saling pandang. "Tidak!" jawab keduanya kompak bahkan begitu lantang membuat Regar sedikit terkejut.
"Kalian ini kompak sekali jika di suruh pulang hah!" ucap Regar. Arka dan Habibi hanya tersenyum tipis melihat Regar yang selalu mengalah sebab kedua pemuda itu selalu saja menolak untuk kembali sebelum melihat Wulan sadar.
"Maaf Yah, tapi Arka masih mau di sini dan menunggu Wulan. Papah Rangga juga sudah memintakan Arka izin selama Arka di sini." ucap Arka memberikan alasannya.
"Habibi juga gak mau pulang sebelum Habibi bisa. lihat Wulan sadar Om, Mamah juga sudah memintakan izin buat Habibi kok.." timbla Habibi yang juga tak ingin kembali sebelim Wulan sadar.
"Terserah kalian saja lah!" ujar Regar pasrah
"Papqh mau keluar dulu, tolong jaga Wulan dengan baik dan jangan ada pertengkarang lagi di sini.." ucap Regar penuh penekanan di kalimat terakhirnya.
Arka sert Habibi hanya tersenyum dan mengangguk, mereka mengerti apa yang di makaud Regar dengan bertengkar.
Tentu saja Regar memberikan nasihat itu sebab ia tahu bagaimana posesifnya Arka pada putrinya dan bagaiman bucinnya Habibi pada anak gadisnya dan itu selalu bertentangan dengan Arka yang tak ingin jika adiknya di sentuh laki laki lain selain dirinya juga Arka Kakaknya, namun Habibi selalu saja ngeyel dan tetap melakukan apa yang ingin dia lakukan hingga membuat Arka marah marah dan berakhirlah pertengkaran kecil dari keduanya.
"Ayah keluar, ingat jangan sampai bertengkar lagi, jika sampai terjadi..." Regar menatp keduanya dengan tajam.
Habibi nyengir kuda. Habibi juga kok Om, lagian Habibi cuma pegng tangan Wulan doang gak lebih.." sahut Habibi tak mau di salahkan.
Regar memutar bola matanya malsa, jika begini sudah di pastikan jika keduanya nanti pasti akan ribut lagi namun ia juga sedang ada urusan yang cukup mendesak hingga harus segera ia selesaikan secepatnya.
"Kalian ini..." geram Regar, akhirnya ia tetap keluar dengan perasaan was was pada kedua pemuda di dalam ruangan Wulan.
"Kalian jaga di sini dan tolong awasi Arka juga Habibi karena saya yakin mereka akan saling ribut nanti.." perintah Regar menatap pengawal yang di khususkan untuk menjaga Arka selam berada di sana namun mereka juga tetap menjalankan perintah dari Regar atas izin Rangga selama itu berkaitan dengan Arka Tuan Muda mereka.
"Baik Tuan..." jawab kedua pengawal yang ada di depan ruang khusus Wulan sambil menundukkan wajah memberi hormatnya pada Regar yang mengangguk dan meninggalkan keduanya.
Regar menuju ke kamar pribadinya yang sudah di siapkan Dokter Karina selama mereka tinggal di sana. "Bagaimana kerjasama dengan Tuan Kendi?" tanya Regar pada sekeetarisnya saat ia sudah di dalm kamar dan sedang melakukan panggilan vidio.
"Sedikit terhambat Tuan, karena Tuan Kendit ingin Anda turun langsung ke lokasi dan tak ingin di wakilkan oleh saya meskipun saya sudah menjelaskan tentang kondisi and saat ini.." penjelasan dari sang sekertaris membuat Regar pusing sebab ia tahu bagaimana pentingnya kerja sama itu walaupun perusahaan Tuan Kendit lebih kecil dari nya namun pengaruh bagi usaha yang sedang mereka jalankan bersama saat ini cukup besar.
__ADS_1
"Hmm, lanjutkan..." ucap Regar kembali menatap layar laptop yang maaih menapilkan sosok sekertarisnya.
"Namun beberapa waktu lalu Tuan Kendit menghubungi saya dan mengatakan jika beliau sudah tidak keberatan lagi jika saya yang menggantikan anda selama anda belum bisa hadir.." lanjut sekertarisnya membuat Regar bingung dan heran.
Regar mengerutkan keningnya. "Maksudnya?" tanya Regar
"Sebenarnya semua urusan dengan Tuan Kendit sudah selesai Tuan, dan ternyata itu berkat Tuan Rangga.." jawab sekertaris Regar
"Rangga!" ulang Regar semakin mengerutkan keningnya.
"Benar Tuan. Tuan Rangga mendatangi Tuan Kendit dan mengatakan jika dirinya juga akan membantu pembangunan yang sedang Tuan dan juga Tuan Kendit jalani saat ini jadi Tuan Regar tidak perlu hadir karena akan langsung di gantikan dengan Tuan Rangga, namun Tuan Rangga juga meminta saya agar tetap mewakili anda selama beliau tidak bisa ikut hadir." ucap sekretaris panjang membuat Regar melebarkan matanya karena tak menyangka jika Rangga akan membantunya sampai sejauh ini padahal ia dulu pernah sangat jahat pada Syakira yang kini sudah menjadi istri Rangga.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi Rangga dan kau harus terus mengawasi perusahaan selama aku tidak ada." ucap Regar tegas dan serius, sang sekretaris pun mengangguk mengerti akan perintah atasannya yang sudah ia ikuti selama puluhan tahun ini bahkan sebelum Regar menikah dengan Syakira dulu.
"Baik Tuan, saya permisi.." jawab sekertarisnya
"Hmmm." Regar segera memutus sambungan vidio mereka, ia menyadarkan punggungnya ke sandaran sofa yang ia duduki.
"Rangga, kenapa kau melakukan semua ini!" gumam Regar menatap lngit langit kamar yang berwarna silver.
Regar menghembuskan nafasnya kasar, ia sungguh tak mengerti akan jalan fikiran Rangga yang terus membantunya.
"Apa ini karena Arka dan Syakira!" pikirnya, Regar kembali mengingat ucapan Rangga saat pria itu mendatanginya langsung ke perusahaannya satu bulan yang lalu.
"Aku rasa iya..." lanjutnya, Regar memejamkan matanya ia semakin yakin jika Rangga benar benar mencintai kedua orang yang dulu pernah ia sakiti dan bahkan campakkan.
"Ku harap kamu memang bahagia Sya, dan aku harap kau bisa memaafkan kesalahan ku selama ini.." lirih Regar masih memejamkan matanya.
"Hufff, rasanya aku benar benar menyesal sekarang! tapi sudahlah semuanya sudah terjadi setidaknya aku masih bisa bertemu dengan putraku saat ini bahkan sekarang Arka sudah mau tinggal bersama di kediamanku walaupun hanya sehari atau dua hari." lanjutnya lagi, Regar beranjak dari tempat duduknya, ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri karena merasa gerah, setelahnya Regar kembali menemui kedua pemuda di ruangan Wulan yang masih belum sadar juga.
Lanjut lagiiii.
Agak lama up nya, soalnya lagi susah sinyal...
__ADS_1
Makasih orang baik...
😊🙏🙏