Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Takdir Cinta Mara


__ADS_3

Rani dan Mara sudah di jalan menuju ke Rumah Sakit yang di maksud Rangga begitupun dengan keluarga Syakira lainnya, setelah mendapatk kabar kecelakaan Regar mereka semua langsung bergegas menuju Rumah Sakit.


Butuh waktu hampir dua jam bagi Rani dan Mara untuk sampai ke RS, karena jarak gedeng pernikahan yang mereka sewa dengan RS cukup jauh.


"Kak Regar...." panggil Mara sambil berteriak saat ia sudah sampai di depan ruang ICU di mana Regar masih di rawat.


Mara berhenti di hadapan Syakira dan yang lain, sedang Rani hanya bisa menguatkan putrinya yang sejak mengetahui kabar kecelakaan yang menimpa calon suaminya hanya bisa menangis.


"Mara...." panggil Syakira iba melihat nasib gadis di hadapannya


Syakira segera mendekati Mara dan Rani lalu memeluk calon pengantin adiknya, ia juga tak mampu menahan tangisnya saat melihat Mara yang terlihat cantik dengan gaun pernikahannya ia yakin jika adiknya melihat calon istrinya pasti Regar akan sangat kagum.


"Maafin tante sayang! tante gak bisa jaga Regar.." ujar Syakira semakin menguatkan pelukannya meskipun tak ada balasan dari Mara.


"Regar di mana tan?" tanya Mara, tatapannya kosong.


Syakira segera melepaskan pelukannya kemudian menunjuk ke arah ruang ICU.


Mara berjalan perlahan mendekati ruangan yang di tunjukka oleh Syakira, setelah sampai ia bisa melihat calon suaminya yang terbaring dengan segala macam perban hampir di seluruh tubuhnya lewat kaca kecil di pintu.


"Kak Re..." panggil Mara namun suaranya sangat kecil, ia bahkan hampir jatuh karena terlalu lemas saat melihat kondisi Regar yang membuat hatinya sangat hancur.


"Kak Mara.."


"Mara..." teriak semua orang yang ada di sana melihat Mara dan mendekati gadis maang itu.


Arka yang kebetulan lebih dekat dengan Mara segera menopang tubuh Mara dan mendudukkan di sebelah Maira yang masih menangis di tambah lagi dengan kedatang calon adiknya semakin membuat hatinya sakit.


"Aku mau ketemu Kak Re tan?" tanya Mara, namun tatapannya kini benar benar kosong.


"Kita tunggu sampai Dokter selesai ya sayang.." ujar Syakira, Mara hanya mengangguk.


Satu jam lagi berlalu, akhirnya Dokter akan memindahkan Regar ke ruang rawat dan di tempatkan di ruang VVIP atas permintaan Rangga.


"Baik pasien sudah di pindah ke ruang rawat, jika ada yang ingin menjenguk tolong bergantian." jelas Dokter.


"Baik Dok, terima kasih.." jawab Rangga. Dokter meninggalkan mereka di sana dan menuju ruangannya, namun ia juga meminta agar salah satu keluarga untuk ikut ke ruangannya karena ada hal yang harus di sampaikan.


Semua orang ingin melihat Regar, mereka sudah berdiri namun Mara masih tetap duduk di kursi karena ia tahu jika yang berhak lebih dulu adalah Keluarga Regar.


"Mara..." panggil Maira menepuk pundak Mara yang masih menangis sambil menundukkan kepalanya.


Mara mengangkat kepalanya dan melihat Maira yang berdiri di sampingnya.


"Masuklah, Kakak yakin Regar pasti sangat ingin melihat kamu." ucap Maira, Mara segera bangkit air matanya semakin deras ia memeluk Maira sebentar kemudian berjalan perlahan dan masuk ke dalam ruang rawat Regar.

__ADS_1


Mara terdiam ketika ia sudah masuk dan masih berdiri di dekat pintu saat ia benar benar bisa melihat calon suaminya dengan keadaan yang membuat hatinya benar benar sakit.


"Kak Regar..." panggilnya lagi, ia berjalan dan semakin dekat dengan Regar kemudian duduk di kursi samping ranjang.


"Kak... hiks hiks...." tangis Mara kembali pecah, ia tak kuasa menahannya meski sudah di coba. Mara menggenggam erat tangan Regar dan hanya bisa menangis sambil menatap wajah calon suaminya yang mungkin tak bisa di kenali.


"Aku, aku mencintai kamu Kak jadi tolong jangan tinggalin aku..." ujar Mara


"Aku gak mau kehilangan kamu, tolong bangunlah Kak! Kakak udah janji mau nikahin Mara!" lanjut Mara, entah keberanian dari mana sebelum keluar Mara bangkit dari duduknya kemudian mencium kening Regar yang terbalut dengan perban cukup lama bahkan air matanya mengenai mata Regar, tanpa ia sadari jika mata Regarpun mengeluarkan air mata dengan mata yang tertutup rapat.


"Cepatlah bangun aku selalu menunggumu Kak!" Ujar Mara kemudian ia keluar karena waktunya yang singkat sehingga harus bergantian dengan yang lainnya.


Syakira yang melihat Mara keluar dari ruangan Regar kembali memeluknya, ia begitu merasa kasihan dengan gadis itu dan berharap agar Regar benar benar bisa membaik dan kembali di tengah tengah mereka agar bisa hidup bahagia bersama Mara wanita yang juga sangat ia cintai.


"Kak, masuklah." ujar Syakir menyuruh Maira agar masuk.


Maira masuk ke dalam ruangan Regar, sama seperti yng di rasakan Maira ia juga sangat terpukul atas nasib adiknya.


"Dek..Hiks hiks..." Maira mengenggam tangan adiknya bahkan kepalanya ia letakan di lengan Regar.


"Bangun sayang, jangan tinggalin Kakak! Kakak gak mau kehilangan adek Kakak.." ujar Maira menatap wajah adiknya dengan kasihan.


"Kamu akan menikah, kasihan Mara lihatlah dia begitu sedih sayang, jadi Kakak mohon bangunlah.." Maira semakin menangis ia tak bisa berkata kata lagi kemudian keluar dengan tangisnya yang semakin pecah. Arka yang selalu setia mendampingi sang Tante dan memeluknya.


Kini giliran Syakira yang masuk dan melihat kondisi Regar.


"Kakak janji akan menjaga mereka ntuk kamu Dek.." ucap Syakira menatap wajah Regar.


Setelah selesai ia segera keluar kemudian terus bergilir hingga seluruh keluarga bisa melihat Regar.


"Nak, Paman dan Bibi pulang dulu in syaa Allah besok kami ke sini lagi.." Paman pamit karena hari yang memang sudah sore


"Ya, hati hati Paman Bibi.." jawab Syakira. Mereka tadinya tak ingin pulang namun atas permintaan dan bujukan Syakira barulah mereka mau pulang.


"Kak, sebaiknya Kaka juga pulang biar, Sya yang jaga di sini!" ujar Syakira saat melihat Kakaknya kelelahan, namun dengan cepat Maira menggelengkan kepalanya tak ingin meninggalkan Regar.


"Kak, kalo Kakak sakit aku yakin Regar akan sedih." ujar Syakir memegang tangan Kakaknya. Maira enggan untuk pergi namun perkataan Syakira memang ada benarnya jadi ia memutuskan untuk pulang.


"Arka anter Tante ya Nak, hati hati.." Arka hanya mengangguk dan mengambil kunci mobil yang diberikan Syakira kemudian menuntun Maira menuju mobil.


"Dek, kalo ada apa apa langsung kabarin Kakak ya!" pinta Maira menatap ruangan Regar.


"Pasti Kak.." jawab Syakira


"Ka, jaga Tante ya Nak." Arka mengangguk. Mereka meninggalkan RS dan kembali ke rumah.

__ADS_1


tinggalah Syakira, Rani dan Mara di sana sedangkan Rangga ia masih di ruangan Dokter.


"Ran, sebaiknya kalian juga pulang kasihan Mara.." ucap Syakira melihat kondisi Mara yang sudah berantakan dengan baju pengantinnya dqn terus berdiri di depan pintu ruangan Regar.


"Hmm." jawab Rani kemudian mendekati putrinya untuk mengajaknya pulang.


"Mar, kita pulang dulu ya sayang besok kita bisa ke sini lagi!" ajak Rani sambil merangkul anaknya.


"Nggak Mah, Mara mau di sini temenin Kak Regar." jawab Mara tetap melihat Regar dk dalam sana.


"Tapi Nak....."


"Mah plies biarain Mara tetep di sini, Mara mau jaga Kak Re.." pinta Mara matanya yang merah bahkan sedikit sembab menatap Rani yang tak bisa lagi bicara.


"Ya sudah, biar Mamah bawain baju buat kamu ya Nak.." ucap Rani memeluk Mara yang kembali menatap Regar.


"Sya, aku titip Mara ya dia gak mau pulang jadi biar aku yang pulang aja nanti habis magrib aku ke sini lagi buat bawain baju ganti Mara.." ucap Rani menatap kasihan pada putrinya.


"Ya sudah, kamu hati hati ya Ran. Mara aman sama aku.." Syakira mendekati Mara setelah kepergian Rani.


"Mar, duduk dulu sayang jangan berdiri terus nanti kaki kmu sakit.." ajak Syakira menggandeng lengan Mara yang menggelengkan kepalanya tak ingin duduk.


"Sayang, jangan gini Kakak yakin Regar pasti sedih kalo lihat kamu kayak gini.." bujuk Syakira. Mara menunduk mendengar perkataan Syakira, ia kembali menangis kemudian memeluk Syakira.


"Sayang..." Syakira mengelus pundak Mara dan mengajaknya duduk.


"Aku sayang Kak Re Tan, Mara gak mau kehilangan Kak Re..." lirih Mara semakin terisak dalam pelukan Syakira yang juga ikut menangis melihat gadis yang ada dalam pelukannya kini.


"Kita berdoa sama. sama ya, semoga Regar bisa segera pulih.." ucap Syakira menenangkan Mara yang hanya bisa mengangguk.


Akhirnya mereka menuju musholah di RS itu dan segera melaksanakan sholat ashar karena kebetulan waktu ashar sudah tiba.


"Ya Allah, ku mohon selamatkan Kak Regar. Hamba sangat mencintainya tolong jangan pisahkan kami ya Allah Hamba tak bisa jika harus berpisah dengannya sekarang..." Mara sudah sangat terisak saat berdoa meminta kesembuhan untyk Regar pada sang Maha pemberi Kesembuhan.


"Ya Allah, hamba hanya minta tolong persatukanlah dua insan ini jangan pisahkan mereka dengan cara seperti ini ya Allah, tolong selamatkan Adik hamba..." Syakira juga tak mampu menahan tangisnya meakipun tak samapi terisak seperti Mara.


Mara dan Syakira segera kembali ke ruangan Regar setelah selesai melaksanakan kewajibannya dan ternyata Rangga sudah berada di sana namun Syakira merasa sudah terjadi sesuatu hingga membuat suaminya seperti gelisah.


"Mas..." panggil Syakira, Rangga menoleh dan mendapati Syakira dan Mara yang sudah berdiri di depannya. Rangga berusaha tersenyum dan menyembunyikan semuanya agar tak semakin membuat kedua gadis di hadapannya semakin sedih dan gelisah.


Syakira yang sudah sangat mengenal suaminya hanya bisa diam sekarang, tapi nanti ia akan meminta penjelasan pada suaminya.


Lanjut up....


Makasih yang dah mampir ya, jngan lupa like sama dukungannya lohhhh, biar Author makin semangat juga....

__ADS_1


Makasih orang baik.....


🙏🙏🙏


__ADS_2