
Hari berlaku dan tergantikan minggu, kini sudah hampir dua minggu Syakira bekum juga ada tanda tanda akan membuka matanya, ia masih terlalu nyenyak akan tidur lamanya.
"Sayang, sampai kapan kamu akan tidur!" ucap Rangga, saat ini ia sedang menemani istrinya setiap pulang kerja. Rangga menatap. lekat wajah sang istri yang terlihat sedikit kurus dan masih pucat.
"Aku rindu kamu yang cerewet sayang.." bisik Rangga di telinga Syakira, ia mencium kening istrinya dengan penuh sayang.
"Anak kita! kau tahu dia sangat cantik dan mirip sekali dengan mu!" Rangga terus berbicara, ia berrharap jika nanti sang istri bisa mendengar suaranya dan terbangun.
"Dan aku sudah memberikannya nama, seperti yang pernah kamu katakan dan dia sangat menyukainya.." Rangga tersenyum keluh, ia kembali mengingat wajah dan juga senyuman anaknya yang masih berada di ruang inkubator.
"Tapi dia juga sama denganmu, suka membuat aku dan Arka cemas." lirihnya. Ya, beberapa hari tang lalu sang bayi mengalami gangguan di pernafasannya hingga harus di asangkan beberapa alat untuk membantunya dan itu sungguh sangat membuat Rangga juga Arka sangat takut dan khawatir.
"Tapi dia juga sama seperti mu, kalian sama sama kuat sayang..." lanjutnya, ia kembali tersenyum meskioun ada getaran di senyumannya.
Rangga terus berbicara hingga tanpa ia sadari, tangan Syakira bergerak meskioun hanya gerakan kecil dengan mata tertutup.
"Pah..." panggil Arka yang baru saja masuk dan berjalan mendekati Rangga yang segera menoleh dan tersenyum menyambut kedatangan anaknya.
"Arka bawak makan malam, tadi Bibi udah masakin.." ucap Arka ia meletakkan bungkusan makan malam mereka di atas meja di dalam ruangan itu dan kembali berdiri di samping Rangga yang masih duduk di samping istrinya.
"Pah... ta-tangan Bunda...." pekik Arka yang terkejut dengan apa yang ia lohat barusan, walau hanya sekilas tapi itu sangat nyata di mata Arka yang sudah terbuka lebar.
Rangga mendengar teriakkan Arka mengikuti kemana arah mata anaknya, dan iapun tak kalah terkejut saat jemari istrinya kembali bergerak kecil.
"Papah panggil Dokter dulu, kamu jaga Bunda!" ujar Rangga yang segera berlari keluar untuk mencari Dokter yang menangani istrinya sejak ia hamil hingga melahirkan.
Selang beberapa menit, Rangga sudah kembali bersama Dokter paruh baya yang selalu setia merawat Syakira karena merekaoun sudah sangat dekat dan akrab.
"Bagaimana Dok?" tanya Rangga harap harap cemas menunggu jawaban Dokter yang sudah selesai memeriksa istrinya, Arkapun tak kalah cemas kala Dokter mulai membuka suaranya.
"Masih belum ada tanda jika Syakira akan bangun, tapi pergerakn kecil di tangannya ini cukup baik karena mungkin saja ia sedang merespon Anda yang selalu bercerita kepadanya." ujar Dokter, ia menatap Rangga juga Arka secara bergantian lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Saya sarankan agar Syakira terus di ajak bicara, mungkin dengan begitu ia akan segera bangun." lanjutnya membuat Rangga juga Arka mengangguk.
Dokter kembali keluar, tinggallah Rangga dan Arka di sana menemani Syakira sambil makan malam bersama.
"Bunda, Arka baru saja bertengkar dengan Adek.." cerita Arka, ia menunjukkan wajah cemberutnya. Rangga tersenyum, ia sedang duduk di sofa yang ada di sana sambil mengerjakan beberapa pekerjaan.
"Wulan itu sangat menyebalkan, dan juga semakin jahil saja tapi Arka sangat menyayanginya." lanjutnya, meski wajahnya terlihat kesal akan tetapi senyum tipis ia tunjukkan sambil terus memegang tangan sang Bunda.
"Nanti, kalo Adek Daneen sudah bisa pulang Arka juga akan sangat menyayanginya." Arka menatap lekat wajahh sng Bunda yang pucat dan tanpa adanya respon apapun.
"Bunda cepet bangun ya! Arka rindu..." lirih Arka sambil menundukkan wajahnya, cairan bening langsung saja meluncur dan mengenai tangan Syakira yang kembali bergerak.
Arka tersenyum, ia yakin jika saat ini Bundanya pasti sedang merespon ucapannya.
"Arka tahu! Bunda akan selalu ada buat Arka.." Arka. mencium punggung tangan Syakira. Rangga yang melihat anaknya kembali bersedihpun bangun dari duduknya, ia berjalan mendekati Arka yang masih meneteskan air matanya.
"Bunda pasti bangun Nak, Papah yakin..." ujar Rangga menepuk pundak anaknya, Arka. mengangguk setuju ia juga yakin jika Bunda pasti akan bangun cepat ataupun. lambat dan mereka berdua akan selalu menanti.
Rangga sudah keluar dari ruangan Sgakira, ia menuju ruang anaknya dan masih hanya bisa melihatnya dari kaca juga belum bisa menyentuhnya karena Daneen masih sangat lemah.
"Sayang..." Rangga mengusap kaca yang tepat berada di wajah anaknya.
"Cepet sehat ya Nak, biar biar kita bisa jaga Bunda sama sama." ujar Rangga, menatap sayu wajah anaknya yang juga terlihat agak pucat dengan tubuh yang sedikit lebih kecil dari bayi pada umunya.
"Bunda pasti akan senang, kalo Daneen juga ikut menemani Bunda nanti!" lanjutnya, ia kembali tersenyum pilu menatap bayinya yang harus di pasangkan alat alat bantu seperti itu, namun seketika rasa sedihnya tergantikan dengan rasa tenang saat melihat senyuman manis dati sang putri yang jelas sangat mirip dengan Syakira istrinya.
Rangga tersenyum tipis. " Kamu sangat mirip dengan Bunda Nak, bahkan sepertinya kmu tak ingin jika wajah Paoah ada di wajahmu ya!" lirih Rangga, ia terus menunjukkan senyumannya saat melihat anaknya yang terus saja tersenyum saat ia mengatakan hal hal lucu seolah jika anaknya mengerti dengan apa yang ia katakan.
"Papah ke ruangan Bunda lagi ya, kasihan Kak Arka sendirian." Rangga mencium sekilas kaca yang seolah jika ia sedang mencium pipi anaknya.
"Dah Nak, selamat istirahat sayang.." lanjut Rangga, ia berdiri tegap dan menatap sekilah Daneen yang juga sudah menutup matanya, lagi lagi bayi mungil itu seolah paham dengan perkataan Rangga yang menyuruhnya istirahat. Rangga kembali tersenyum sebelum akhirnya ia beranjak dari sana untuk kembali ke ruang rawat Syakira di mana Arka masih di sana.
__ADS_1
"Udah Pah?" tanya Arka saat melihat Rangga yang sudah kembali dan berjalan ke arahnya. Rangga hanya mengangguk dan tersenyum.
"Arka juga mau lihat Daneen bentar ya Pah!" izin Arka dan Rangga lagi lagi hanya mengangguk dengan senyuman hangat nya.
Mendapat izin, Arka segera beranjak dari tempatnya menuju ruangan adiknya.
"Dek..." sapa Arka ia juga melakukan hal yang sama seperti Rangga. Daneen seolah mengerti sekali dengan kedatangan Kakaknya, ia langsung membuka mata dan tersenyum.
"Eheh, kamu menyambut Kakak ya!" ucap Arka ikut tersenyum, Daneen semakin melebarkan senyumannya bahkan ada gerakan kecil dari tangan juga kaki sang bayi mungil itu.
"Wah, kamu sangat pintar sayang, Kakakbangga sekali sama Daneen..." lanjut Arka, iapun semakin meebarkan senyumannya menatap sayang pada sang adik bayinya. Sejenak rasa sedih juga lelah yang ia rasakanpun hilang saat melihat senyuman Daneen yang begitu menenangkan benar, senyuman Daneen memang sangat mirip dengan Bunda dan diapun sama sekali tak memungkirinya.
"Daneen sangat cantik, sama kayak Bunda..." ucap Arka, dan lagi Daneen hanya tersenyum membuat Arka gemas karena merasa jika Adiknya itu seolah olah selalu saja merespon ucapannya dengan tersenyum juga gerakan di bagian tangan dan kaki mungilnya.
Hampir 20 menit Arka di sana mengobrol dan bercerita pada bayi mungil yang tentu saja tak mengerti apapun yang di katakan sang Kakak, namun Daneen selaku saja tersenyum saat Arka selesai bercerita seolah mengatakan jika ia tahu dan paham dengan ucapan sang Kakak.
"Kakak ke kamar Bund lagi ya, kamu istirahat sayangnya Kakak..." ucap Arka, ia ssgera menegakkan tubuhnya dan masih menatap wajah cantik Danenn yang sudah menutup mata sstelah Arka mengatakn istirahat sama ssperti Rangga.
Arka. kembali tersenyum, ia sangat gemas dengan Daneen yang selalu saja melakukan hal yang tepat dengan ucapannya.
Arka beranjak dari sana dan kembali ke ruang rawat Syakira, ia berjalan santai dan mulai membuka pintu ruangan dengan pelan.
"Papah udah tidur!" gumam Arka melihat sang Papah yang sepertinya sangat kelelahan karena setelah kembali dari kantor ia akan langsung ke rumah sakit untuk menjaga Syakira sedangkan Arka akan kembali ke rumah untuk mengambil makan malam mereka dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Mereka berdua selalu bekerja sama untuk menjaga Syakira juga Daneen selama dua minggu belakangan ini, meskipun kadang kadang Maira atau Bibi juga Paman mengatakan jika mereka akan menjaga istri juga anaknya namun Rangga dan Arka tetap selalu datang meskioun lelah mendera.
Mereka hanya tak ingin meewati masa perkembangan dari kedua orang yang sangat mereka sayangi...
Lanjut lagi....
Syakira koma.....
Makasih Kakak semua....
__ADS_1
😊🙏🙏