Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Perhatian Seorang Kakak


__ADS_3

Arka dan Habibi sudah siap dengan seragam sekolah merek dan duduk di kursi makan menunggu Syakira dan Rangga.


"Pagi..." sapa Syakira yang sudah tiba di meja makan dan duduk di hadapan Arka juga Habibi


"PagiBun..."


"Pagi Tan.."


Syakira hanya tersenyum. Ranggapun sudah turun dan segera menuju ke ruang makan di mana keluarganya sidah menunggu


"Pagi..." sapa Rangga duduk di tempatnya


"Pagiiiii..." jawab ketiga orang yang lebih dulu sudah berada di sana. Mereka berempat makan dengan nyaman dan tenang tanpa ada obrolan.


Arka dan Habibi sudah siap, mereka membawa kendaraan masing masing, begitupun Rangga.


"Pah Bunda, Arka berangkat.." pamit Arka setelah mencium punggung tangan kedua orang tuannya begitupun Habibi, hari ini ia akan kembali ke rumahnya.


"Assalamualaikum..." salam dari Arka dan Habibi.


"Waalaikumsalam, hati hati.." jawab Syakira.


"Waalaikumsalam..." jawab Rangga peman.


Arka dan Hbibi melajukan motor mereka ke jalanan menuju sekolah.


"Aku berangkat juga ya sayang.." ucap Rangga, Syakira mencium punggung tangan suaminya dan Rangga mencium kening Syakira.


"Hmm, hati hati ya Mas.." jawab Syakira tersenyum


"Ya, Asslamualikum..." salam Rangga


"Waalaikumsalam.." jawab Syakira. Rangga segera masuk ke mobil dan melajukannya menuju kantor.


Syakirapun segera bersiap untuk ke Cafe.


...***...


Di sekolah, Arka dan Habibi segera masuk ke dalam kelas, karena mereka datanh sedikit pagi jadi keadaan kelas masih agak sepi.


"Buset sepi amat nih kelas.." ujar Habibi memperhatikan kelas yang hanya ada beberapa orang saja.


"Yalah kan nih baru jam setengah tujuh.." jawab Arka namun ia tak menoleh ke arah sahabatnya.


Arka dan Habibi duduk di kursi masing masing. Arka mengeluarkan buku tebal dan mulai membacanya dengan khitmat sedangkan Habibi hanya memutar bola matanya malas saat melihat sahabatnya itu selalu membaca saja kerjaannya.


"Gak bosen apa loe baca buku itu terus?" tanya Habibi pada akhirnya karena sejak tadi hanya berdiam diri di kelas. sedangkan Arka nampak fokus dengan bacaannya.


"Gak.." jawab Arka tanpa menoleh


"Bosen gue Ka!? Habibi terlihat bosan karena hanya duduk saja sambil memperhatikan teman temannya yang lain baru datang dan masuk ke kelas yang sama dengan mereka.


"Mau ikut baca?" tanya Arka menatap Habibi yang semakin malas.


"lanjut aja loe, gue mau ke kantin bentar.." Habibi langsung meninggalkan Arka di sana dengan bukunya, ia menuju kantin untuk membeli sesuatu.


"Dasar pemalas..." gumam Arka menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis.


Habibi sedang memilik cemilan yang akan ia bawak ke kelas dan di nikmati bersama sahabatnya.


"Bi..." panggilan seseorang dari arah belakang sontak membuat Habibi kaget dan menoleh ke arah sumber suara.


"Ehhh, itukan..." Habibi mengerutkan keningnya saat melihat seorang gadis yang berjalan mendekati dirinya


"Wulan..." lirih Habibi setelah ia yakin dengan yang ia lihat di hadapannya kini. Gadis itu adalah Wulan, ya Wulan yang sama dengan adik Arka. Habibi dan Wulan adalah teman masa kecil, namun mereka berpisah sejak SMP.


"Apa kabar?" tanya Wulan tersenyum hangat pada Habibi yang malah tersenyum canggung padanya


"Baik..." jawab Habibi. Ia masih sedikit terkejut saat melihat gadis kecil yang dulu kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.


"Bi, kok diem sih!" Wulan menepuk pundak Habibi sekali dan hal itu membuyarkan lamunannya tentang gadis di hadapannya kini, Habibi kembali terswnyum canggung dan menggelengkan kepalanya

__ADS_1


"Kok loe bisa di sini Lan?" tanya Habibi


"Iya, kan sekolah loe ngundang sekolah gue buat ngadain Lomba persahabatan hari ini.." jawab Wulan senyuamannya tak pernah pudar dari bibir cantik nya.


"Ah, iya gue lupa padahalkan gue juga ikut.." ucap Habibi tersenyum malu karena melupakan hal itu.


"Eh loe ikut lomba apa Bi?" tanya Wulan saat mereka berjalan bersama menuju kelas Habibi


"Basket.." jawab Habibi yang kembali bersikap biasa.


"Wahh, dari dulu loe emang suka basket kan.." ujar Wulan semakin tersenyum manis.


"Ehehe iya.." Habibi tersenyum.


Habibi berhenti di salah satu kelas dan menyuruh Wulan menunggunya di depan karena ingin memanggil temannya.


"Bentar ya, gue panggil temen gue dulu baru kita ke lapangan bareng.." ujar Habibi dan Wulan mengangguk setuju.


Habibi masuk ke kelas sedikit tergesa, ia mendekati Arka yang masih sibuk dengan bukunya.


"Ka, loe lupa ya hari ini kan kita ada lomba persahabatan sama sekolah tetangga?." ucap Habibi sedikit berbisik, dan Arka langsung mengangkat kepalanya menatap Habibi sambil mengerutkan keningnya.


"Loh, bukannya besok ya!" jawab Arka bingung, karena setahunya acaranya besok bukan hari ini.


"Entahlah, tapi tadi gue ketemu sama temen gue yang sekolah di sana." ujar Habibi, Arka hanya membuang nafasnya secara kasara.


"Pasti Edo lupa buat kasih kabar deh, kalo acaranya di majuin hari ini.." Arka yang akhurnya paham jika ini karena teman satu timnya yang bernama Edo lupa memberitahukan pada teman temannya yang lain.


"Kayaknya sih.." sahut Habibi.


"Broo...." tiba tiba yang sedang di bicarakan datang dan berlari ke arah mereka yang menatap tajam padanya.


"Sorry, aku lupa buat ngabarin kalian semalem." ujar Edo setelah ia sampai di hadapan kedua teman satu timnya.


"Lain kali kalo ada kabar kayak gini langsung kasih tahu Do!" ujar Arka yang sudah berdiri.


"Ya, maaf.." Edo menunjukkan wajah melasnya agar kedua temannya mau memaafkan dirinya.


"Ya udah kita ke ruang ganti sekarang.." Edo dan Habibi mengangguk setuju dan mereka bertiga berjalan menuju keluar kelas.


"Ka, temen gue ada di depan.." bisik Habibi yang berjalan berdamoingan dengannya


"Ya udah sekalian aja ajak ke lapangan." ucap Arka santai terus berjalan hingga ia keluar kelasnya dan melihat punggung gadis yang agak familiar di matanya.


"Lan..." panggil Habibi dan Wulan segera membalik badannya, namun yang ia lihat justru Arka orang yang sangat ia cintai sekaligus benci. Mata keduanya terkunci, Arka dan Wulan sama sama terkejut dan saling diam.


Wulan memandang Arka dengan penuh kebencian, namun rasa cinta di matanyapun tak bisa di hilangkan, sedangkan Arka entah dengan tatapan ia melihat Wulan.


"Ka, ini Wulan temen kecil gue.." Habibi memperkenalkan Wulan pada Arka, yang segera merubah ekspresi terkejutnya dengan sikap biasa dan tersenyum ramah pada Wulan.


"Hmm." Arka hanya berdehem.


"Lan ini temen gue, Arka." Habibi juga memperkenalkan Arka pada Wulan yang tetap memberikan ekspresi sama seperti sejak awal.


"Wih, cantik juga temenmu Bi!" ujar Edo menatp Wulan


"Jaga mata Do.." tegur Arka, ia berjalan melewati Wulan begitu saja menuju ruang ganti. Edo mengikuti Arka dengan wajah cemberut, sedangkan Habibi berjalan berdampingan dengan Wulan yang seketika diam seribu bahasa setelah melihat Arka.


("Loe masih tetap sama, bahkan sekarang seolah eloe sama sekali tak kenal sama gue.") batin Wulan memandang punggung Arka yang berjalan di depannya dengan kebencian.


"Lan, tumbenoe diem aja?" tanya Habibi, Wulan menoleh dan berusaha tersenyum.


"Gak papa, cuma gugup aja siapa yang bakalan menang nanti tim loe apa tim sekolah gue!" jawab Wulan.


"Tim gue lah pasti.." ujar Habibi tersenyum, ia sangat yakin jika timnyalah yang akan menang.


"Ya, kita lihat aja nanti..." Wulan juga tersenyum. Mereka sudah sampai di ruang ganti, Wulan di antar Habibi ke lapangan barulah ia kembali ke ruang ganti menyusul timnya yang lain.


"Pantesan aja kelas seli, lah pada di lapangan semua!" gumam Habibi setelah ia sampai di ruang ganti dan segera mengganti pkaiannya dengan baju yang sama timnya.


"Sorry, gue lupa.." ujar Edo setelah mendapatkan tatapan dari seluruh temannya yang satu tim dengannya.

__ADS_1


"Lain kali jangan lupa.." ujar teman yang lain.


"Ya..." jawab Edo.


Tim Arka sudah berada di lapangan, hari ini bukan hanya tim putra tapi juga ada tim putri dan Wulan salah satu pemain andalan di timnya.


Wulan adalah kapten basket, ia juga sudah berganti pakaian tadi saat di ajak temannya ke ruang ganti yang sudah di siapkan. Habibi tak tahu menahu jika teman masa kecilnya ternyata bisa bermain basket.


"Wulan.." gumam Habibi terkejut melihat Wulan dan teman temannya memasuki lapangan basket. Arkapun tak kalah terkejut namun ia tetap berusaha bersikap biasa saja.


Wulan dan timnya sedang menyusun rencana mereka untuk mengalahkan tim lawan.


"Ingat jangan main kasar selama mereka tidak main kasar atau curang.." ujar Wulan memberikan aba aba pada timnya.


"Ya.." jawab temannya dan mereka segera menuju ke temoat masing masing karena pertandingan akan segera di mulai.


Wulan bermain sangat baik, ia juga sudah memasukkan beberapa kali ke tempat lawan hingga tertinggal cukup jauh di awal pertandingan.


"Wulan..." panggil temannya melemparkan bola basket pada Wulan yang dengan cepat ia tetima dan mulai memainkannya dengan lihai lalu melemparkan bola itu ke tempat dan masuk tentu saja.


"Yes..." Wulan mengepalkan tangannya dan menariknya ke bawah.


"Hebat..." lirih Habibi semakin terkejut dan kagum pada Wulan, Arkapun sama.


Menit pertama berakhir, tim Wulan unggul beberapa angka. Mereka semua beristirahat sejenak dan kembali ke lapangan untuk melanjutkan sisa waktu.


Wulan dan yang lain mulai bersiap lagi, seperti biasa Wulan akan menjadi kunci dari permainan timnya. Wulan berlari dengan menggiring bola di tangannya kemudian ia melempar bola itu hingga masuk lagi membuat musuhnya merasa kesal.


"Kita harus membuat gadis itu cidera sedikit agar kita bisa leluasa untuk mengalahkan mereka." ujar kapten tim sekolah Arka. Teman temannya mengangguk setuju.


Mereka mulai melakukan rencana mereka dan mengepung Wulan yang tetap tenang tanpa curiga, namun saat ia akan melewati orang yang menghadangnya, kaki Wulan di segal hingga ia jatuh dan membuat lututnya berdarah.


"Aw, aduhhhh..." ringis Wulan memegang lututnya yang lecet, semua teman teman beralih mendekati Wulan.


"Lan kamu gak papa?" tanya teman setimnya, wasitpun berlari mendekati Wulan yang masih duduk sambil memegangi lututnya yang sakit.


"Sakit..." jawab Wulan.


Arka berjalan menuju Wulan dan saat ia sudah sampai di sana, Arka menggendong gadis itu dan membawanya ke pinggir lapangan ia juga mengobati luka Wulan.


Wulan dan yang lain hanya diam karena terkejut dengan perlakuan Arka, Wulan bahkan tak percaya jika pria di hadapannya begitu perhatian padanya padahal sebelumnya Arka selalu dingin dan bersikap tak perduli padanya.


"Kamu masih bisa main Lan?" tanya wasit pada Wulan dan yang di tanya menggelengkan kepala, karena luka yang ia dapat memang agak besar.


"Ya sudah sebaiknya kamu istirahat saja." ucap wasit dan Wulan mengangguk setuju. Ia hendak berdiri dan berjalan tertatih menuju kursi di oinggir lapangan yabg agak jauh dari tempat, namun lagi lagi Arka kembali menggendongnya dan mendudukkannya di kursi, lalu meninggalkan ia di sana dengan beberapa temannya yang membawa minum untuk Wulan.


"Lan ini minum dulu.." teman Wukan memberikan air mineral padanya dan segera ia terima dan tersenyum


"Makasih, Siska.." Siska ymhnya tersenyum


"Aku ke lapangan lagi ya, kamu tenang aja orang yang nyelakain kamu tadi udah di keluarin dan gak boleh ikut bertanding." ujar Siska menepuk pundak Wulan sekali


"Ya, maaf aku gak bisa lanjut main." ujar Wulan


"Gak papa aku dan yang lain akan memenangkan pertandingan ini.." ucap Siska tersenyum, dan Wulanpun tersenyum. Siska kembali ke lapangan begitupun Arka yang sudah berada di samping Habibi yang masih memperhatikannya dengan dahiyang ia kerutkan.


"Aku hanya membantu, kau sebagai temannya malah cuma diam.." ujar Arka yang mengerti dengan tatapan Habibi padanya. Terdengar suara helaan nafas panjang dari Habibi lalu tersenyum seperti merasa lega.


"Kau menyukai gadis itu Bi?? tanya Arka melihat Habibi yang menagngguk namun dengan cepat pula menggelengkan kepalanya. Arka hanya tersenyum, ia sudah paham jika temannya itu memang menyukat Wulan adiknya.


Ya, Arka melakukan itu karena ia merasa sebagai seorang Kakak dan tetap merasa harus menjaga adiknya, walaupun ia masih belum bisa menerima Wulan sepenuhnya sebagai saudaranya.


Berbeda dengan Wulan, kebenciannya pada Arka membuat gadis itu menutup mata, namun saat apa yang di lakukan Arka barusan membuat Wulan merasa nyaman dan bahagia.


Lanjut up...


Pertemuan Kakak dan Adik yang gak sengaja..


Terus dukung Author ya...


Makasih orang baik...

__ADS_1


😊🙏🙏🙏


__ADS_2