
Seperti yang sudah di rencanakan, Syakira dan keluarga sudah bersiap menuju ke rumah Rani juga Mara. Arka yang awalnya tak percaya jika ternyata Mara akan menerima Pamannya hanya bisa tersenyum ikut bahagia dan berharapa kisah mereka akan bahagia dan bisa segsra di persatukan.
"Wahh, ganteng nya calon manten.." ujar Arka saat melihat Pamannya yang baru keluar dari kamar sambil merangkul pundak.
"Iyalah, calonnya Kak mara nih! eh Tante Mara dong.." jawab Regar tersenyum, membaas rangkulan keponakannya.
"Senggol dong..." Regar dan Arka saling pandang kemudian tertawa bersama.
"Ha ha ha..."
"Udah siap semua belum?" tanya Maira
"Udah.." jawab Arka dan Regar bersamaan, sddang Syakira dan Rangga hanya mengangguk.
"Kalo udah siap semua, kita berangkat sekarang.." ujar Maira mengambil sisa barang yang akan mereka bawak untuk lamaran.
"Lets gooooo..." lagi Arka dan Regar kembali kompak
Akhirnya dua mobil sudah berjalan beriringan menuju kediaman Rani dan Mara yang juga sudah menunggu kedatangan mereka dengan segala keribetan Rani sebagai Mamah Mara.
"Mah, udah Mara gak mau menor menor ah..." rengek Mara saat Mamahnya yang terlalu sibuk memakaikannya make up.
"Gak kok Nak, ini gak menor.." jawab Rabi tetap mempoles wajah cantik putrinya, dari ayshedow, maskara, blashon sampai ke lipstik warnah pink sangat cocok dengan baju berwarna senada yang Mara pakai.
"Mah, udahlah.." Mara masih enggan untuk memakai lipstik yang Mamahnya pilihkan namun ia tetap pasrah saat Rani mengoleskan benda itu ke bibir ranum miliknya.
"Selesai..." ujarnya menatap Mara
"Maasyaa Allah cantiknya anak Mamah.." puji Rani, setelah melihat kecantikan anaknya yang semakin terpancar. Sejenak ia terpaku akan mata juga hidung putrinya yang sangat mirip dengn laki laki yang sudah menodai dirinya dulu namun enggan untuk bertanggung jawab.
"Makasih Mah..." jawab Mara memeluk Mamahnya yang segera tersadar dari lamunannya dan tersenyum sambil mencium kening putrinya.
Tin tin tin...
Bunyi klakson membuyarkan kebersamaan anak dan ibu itu hingga Rani segera keluar dari kamar Mara dan hendak menyambut tamu istimewanya..
"Syakira..." ujar Rani memeluk Syakira yang turun lebih dulu sambil membawa barang bawaannya.
"Masuk masuk..." ajak Rani saat semua keluarga Syakira sudah berdiri di hadapannya ia tersenyum sangat ramah sampai giliran Regar tatapannya berubah menjadi menakitkan.
"Awas ya kalau kamu sampe nyakitin anak Kakak!" ancamnya sedikit berbisik ke telinga Regar yang hanya bisa tersenyum masam dengan dahi yang ia kerutkan tak percaya dengan sambutan yang di berikan oleh calon mertuanya.
"Iya, calon Mamah mertua.." jawab Regar segera masuk dan duduk di sebelah Maira.
"Ran..." panggil Syakira saat Rani yang sudah duduk di sebelahnya.
"Hmm." Rani hanya befdehem, kemudian menuangkan air ke gelas dan memberikan pada tamunya termaksud Syakira.
__ADS_1
"Mana calon suami kamu?" tanya Syakira penasaran karena tak melihat calon suami sahabatnya yang belum juga menikahinya.
"Ada, lagi ke toilet.." jawab Rani
"Kalian kelamaan sih, jadi anak kamu deh yang duluan.." ledek Syakira sambil teratawa kecil. Rani melotot menatap Syakira dan mencubit pinggangnya membuat Syakira terperanjat dan segera menjauh dari sahabatnya itu.
"Awas kamu ya!" ancam Rani ia segera berdiri dan berjalan menuju kamar Mara jntuk mengajaknya keluar dan menemui calon suami juga calon keluarganya kelak.
"Mar..." panggil Rani saat ia melihat anaknya yang masih diam mematung di depan kaca.
"Mah, Mara kok deg degan sih padahalkan ini cuma lamaran.." jujur Mara, ia menatap Mamahnya yang kini sudah berada tepat di sampingnya.
"Wajar Nak, tapi kamu juga harus rilex."
"Coba deh sekarang kamu tarik nafas yang dalam setelahnya kamu hembusin perlahan ulangi sampe kamu bener bener udah bisa merasa lebih baik.." jelas Rani membelai punggung anaknya memberikan ketenangan pada putri satu satunya.
Mara segera mencoba saran dari Mamahnya, hingga tiga kali barulah ia sedikit merasa lebih tenang dan jantungnyanya mulai kembali seperti biasa.
"Gimana?" tanya Rani memperhayikan wajah Mara yang terlihat gugup.
"Udah Mah. Makasih.." jawab Mara kembali tersenyum.
"Kita keluar, semua udah menunggu kamu.." ajak Rani, Mara hanya mengangguk kemufian beranjak dari duduknya. Mereka berjalan berdampingan dan bergandengan tangan menuju ruang tamu.
"Khemmm, calon istri udah keluar.." ujar Maira yang nelihat Adiknya terpaku menatap kagyn ke arah Mara yang sudah duduk di hadapan mereka.
Arkapun terpaku akan kecantikan dan ke anggunan Mara, jujur sedikit ada penyesalan dalam hatinya karena sudah melepas wanita secantik Mara namun segera ia tepis setelah mengingat sudah ada gadis lain yang mengisi hatinya dan itu adalah Kalisa.
"Sabar, masih lamaran.." ledek Arka sambil menepuk paha Regar.
"Heee.." Regar yang baru sadarpun ikut tersenyum kikuk karena ia juga malu dengan perkataanya sendiri.
"Mas.." Syakira menyenggol lengan Rangga yang duduk di sampingnya. Rangga menoleh sekilas kemudian ia kembali menatap semua orang yang hadir di acara lamaran itu.
Atas desakan Syakira dan Maira, Rangga yang akan menjadi perwakilan keluarga mereka karena Paman dan Bibi yang tak bisa hadir karena harus keluar kota.
"Khemm, Kedatangan kami ke mari untuk melamar anak Anda, dan menjadikannya pendamping hidup untuk Adik Ipar satmya Regar." ujar Rangga tanpa basa basi terlebih dahulu, membuat Syakira dan Maira hanya geleng geleng saja karena Rangga sudah lupa dengan pesan mereka yang sejak di rumah bahkan di dalam mobil tadi selalu di ingatkan.
"Aish, Mas Rangga ini gak bisa basa basi dulu apa!" ucap Syakira pelan.
"Jadi bagaiamana! di terima apa di tolak?" tanya Rangga tanpa canggung sedikitpun membuat Syakira dan Maira merasa kesal.
Rani dan Mara hanya tersenyum mendengar pertanyaan Rangga bahkan wajahnya sangat serius. Regar hanya mendengus, namun ia juga sangat menantikan jawaban yang akan di berikan Mara meskipun sebelumnya ia sudah di terima tapi tetap saja membuat jantungnya dag did dug tak karuan.
"Mar, gimana Nak?" tanya Rani menatap anaknya yang tampak lebih santai.
"Mara terima Mah.." jawab Mara kembali menunduk.
__ADS_1
Regar yang sangat bahagia tanpa sadar langsung memeluk Kakaknya Maira.
"Selamat ya Mara semoga kamu bajagia sama pilihanmu.." ujar Calon suami Rani yang duduk di samping Mara
"Makasih, Om mau hadir di acara penting Mara padahal Mara tahu Om juga pasti sibuk." jawab Mara.
"Harus dong, kan kamu bentar lagi juga jadi anak Om.." ujar calon suami Rani lagi sambil tersenyum hangat ke arah Mara yang juga membalas senyuman pria paruh baya di di sampingnya.
"Mara doain semoga Om Agus dan Mamah juga segera menikah, kalo bisa nikahnya barengan sama Mara.." Mara sangat bahagia, karena calon Papahnya yang bernama Agus itu selalu mendampingi dirinya juga Mamahnya bahkan saat mendengar Mara akan di lamar dan menikah ia yang paling antusias.
"Semoga ya sayang.." jawab Agus melirik Rani yang sedang sibuk berbicara dengan Syakira.
"Kalau begitu kita tinggal tentukan tanggal pernikahannya, bagaimana?" ucap Agus menatap Mara dan Regar bergantian.
"Aku terserah Mara, apapun yang Mara katakan aku setuju.." ujar Regar, meskioun ia ingin secepatnya memiliki gadisnya namun ia sadar jika saat ini Mara masih belum di wisuda.
"Hmm, Mara juga gak tahu.." jawab Mara bingung
"Begini saja, bagaimana jika pernikahan mereka di laksanakan satu minggu setelah wisuda, lagi pula Wisuda Mara tinggal satu bulan lagi. Bagaimana?" ujar Agus lagi, ia bersikap seperti seorang Papah bagi Mara meskipun ia belum menikah dengan Rani namun kasih sayangnya sudah ia salurkan pada keluarga itu.
"Setuju.." jawab semua orang yang ada di sana termaksud Regar yang sangat bahagia, sedangkan Mara hanya tersenyum. malu dalam tundukannya.
Hari makin larut kedua keluarga itu harus berpisah. Agus sudah lebih dulu pulang karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan agar nanti saat acara pernikahan calon anaknya ia bisa hadir dan menyaksikannya.
"Pamit dulu Ran.." ujar Syakira memeluk Rani sahabatnya dan sebentar lagi akan menjadi besannya.
"Ya, hati hati.." jawab Rani.
"Syakira dan yang lain sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil kecuali Regar yang masih berbicara dengan Mara seolah ia tak ingin melepaskan pandangannya dari gadisnya.
"Kak, udah di tunggin itu.." ucap Mara saat melihat Regar yang masih berdiri di depannya.
"Hah, rasanya satu bulan sangat lama.." ujar Regar membuang nafasnya kasar.
"Pulang dulu, sampai ketemu lagi calon istri.." goda Regar membuat wajah Mara memerah seketika. Rani yang melohat anaknya di goda meskipun dengan calon suaminya sendiri tapi ia tak terima dan malah memberikan tatapan tajam pada Regar yang segera berjalan cepat menuju mobilnya.
"Dah calon Mamah..." ucap Regar sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya kemudian segera menghidupkan mobil yang ia kendarai sendiri dan melajukannya ke jalanan yang mulai sepi.
"Dasar calon mantu gak ada akhlak.." cecar Rani menatap tajam ke arah mobil yng di naiki Regar.
"Mahhh..." Mara memeluk Mamahnya dengan senyuman kebahagiaan.
"Hah, untung aja anakku bahagia sama dia kalo enggak udah Mamah tendang tuh.." kesal Rani, namun seketika luluh dengan senyuman dari anaknya yang terlihat sangat bahagia.
("Semoga selalu bajagia sayang.") batin Rani membelai punggung anaknya yang masih memeluknya dari samping. Merekapun segera masuk untyk beristirahat.
Lanjut up.
__ADS_1
Makasih orang baik...
🙏🙏🙏