Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Kekecewaan Wulan


__ADS_3

Wulan pulang dengan kesal, ia menghentak hentakkan kakinya ketika memasuki Rumah mewah milik Papahnya sambil terus mengomel sendiri.


"Ahhhh..." teriaknya saat menaiki tangga.Bi Sumi hanya memperhatikan anak majikannya dari kejauhan dan segera menghubungi non Risa agar segera pulang.


Dikamar, Wulan melempar semua barang yang ada di dalam kamarnya bahkan ia melemparkan foto Arka yang diam diam ia ambil saat Arka tengah bermain basket dan itu sangat tampan.


Prankk...


Suara keras dari kamar Wulan mengundang perhatian semua pekerja yang ada di rumah itu.


"Bi, gimana ini saya takut Non Wulan melakukan sesuatu.." ujar pembantu Rumah Tangga takut jika terjadi sesuatu dengan anak. majikannya, karena jika itu sampai terjadi mereka berdua juga pasti akan di salahkan..


"Sebentar lagi Non Risa pulang.." jawab Bi Sumi tak kalah panik karena mendengar teriakan dari kamar Wulan dan tangisan yang cukup kencang.


"Bi.." panggil Risa yang berlari menaiki tangga dengan tegesa gesa. Setelah di telpon Bi Sumi, Risa segera pulang karena memang pekerjaannya di Cafe sudah selesai namun ia tak jadi pergi ke kampus karena khawatir dengan keadaan adiknya.


"Wulan mana Bi?" tanya Risa saat ia sudah tiba di hadapan Bi Sumi dan pembantu yang lain, dengan nafas yang masih ngos ngosan. Bi Sumi hanya menunjuk ke arah kamar Wulan.


"Wulan buka Dek! Kakak mau bicara!" ujar Risa lembut sambil mengetuk pintu kamar Wulan yang terkunci dari dalam.


"Wulan, Kakak boleh masuk ya!" ucap Risa lagi namun belum ada jawaban dari dalam dan hnya terdengar suara tangis dari Wulan.


"Wulan sayang, Kakak mau bicara! tolong buka pintu nya ya?" Risa makin panik, pasalnya Wulan memiliki riwayat jantung lemah hingga ia tak boleh kelelahan ataupun sedih yang berlebihan seperti saat ini. Wulan tak menjawab, namun ia membuka kunci kamarnya hingga Risa bisa masuk ke dalam dan melihat semua benda milik adiknya hancur berantakan dan berserakan di setiap sudut kamarnya.


"Astagfirullah.." ucap Risa pelan, kemudian menghampiri adik nya yang sedang duduk di atas kasur sambil menutup wajahnya dengan babtal dan menangis.


"Wulan, kenapa Dek?" tanya Risa ketika ia sudah duduk di samping adiknya yang langsung memeluk dirinya erat dan menangis sejadi jadinya. Risa tak lagi bertanya, ia hanya membiarkan Wulan menangis dalam pelukannya agar hatinya sedikit lebih tenang dengan begitu Wulan bisa menceritakan segala hal padanya.


"Kamu kenapa Dek?" tanya Risa saat melihat Wulan yang sedikit lebih tenang meski air mata masih mengalir dari matanya yang indah.


"Kak..." Wulan melepaskan pelukannya dan mencoba mengatur nafasnya.


"Wulan, benci Kak! Wulan benci Arka.." ujar nya pelan namun Risa masih mendengar apa yang di katakan adiknya.


"Arka?" tanya Risa tak mengerti


"Wulan, Wulan suka sama Arka Kak." ujar Wulan sesenggukan.


"Tapi Arka gak suka sama Wulan, bahkan dia sampai pindah sekolah cuma karena gak mau ketemu sama Wulan lagi.." jelasnya


"Apa Wulan gak pantes buat di cintai! seburuk itukan Wulan di mata Arka sampai dia harus pergi tanpa memberitahukan pada Wulan Kak! Kenapa Kak? kenapa Arka jahat banget sama Wulan.." terangnya merasa sakit di dadanya.


"Rasanya sakit banget Kak..." lirih Wulan sedih.


"Dek..." Risa tak bisa berkata apapun, ia hanya memeluk adiknya yang terlihat sangat rapuh sambil mengusap punggung Wulan dengan penuh kasih sayang, bahkan kini Risapun sudah menangis mendengar penuturan adiknya.


"Sakit Kak, sakit banget rasanya.." ucap Wulan semakin mengencangkan pelukannya pada Risa..


Sepersekian detik berikutnya, Wulan tak sadarkan diri dalam pelukan Risa yang langsung panik karena pelukan adiknya mengendur tiba tiba.

__ADS_1


"Wulan..." panggil Risa menghoyangkan tubuh adiknya yang langsung jatuh ke atas kasur.


"Bi Sumii..." teriak Risa panik melihat kondisi adiknya yang sudah tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat. Mendengar teriakan anak majikannya, Bi Sumi segera berlari menaiki tangga hingg tiba di kamar Wulan.


"Non.." ucap Bi Sumi tak kalah kaget melihat kondisi salah satu anak majikannya.


"Bi, panggil Pak Supri, kita bawak Wulan ke Rumah Sakit." ucap Risa, Bi Sumi segera turun lagi ke bawah dan memanggil Supir pribadi Wulan untuk menggendong anak. majikan mereka ke mobil dan membawanya ke rumah Sakit.


"Dek bertahan sayang..." lirih Risa saat mereka sudah berada di mobil dengan Wulan dalam pangkuannya. Risa yang begitu panik bahkan lupa mengabari Papah mereka, ia terus menangis karena Wulan tak kunjung sadar.


"Dek, bertahan ya!" lanjut Risa mengelus wajah adiknya yang terlihat makin pucat.


Setengah jam perjalanan mereka sampai di Rumah Sakit milik Regar.


"Dokter..." teriak Risa saat mereka baru tiba. Semua orang yang mengenali Risa juga Wulan sebagai anak dari pemilik Rumah Sakit itu pun segera berlarian ke arah nya dan membantu membawa Wulan ke ruang ICU.


Risa sangat khawatir, ia terus mondar mandir di depan ruang ICU menunggu Dokter yang merawat adiknya.


"Dok, adik saya gimana?" tanya Risa cepat saat melihat Dokter keluar dari ruang ICU


"Bisa ikut ke ruangan saya!" ucap Dokter dan langsung di anggukan kepala oleh Risa kemudian mengikuti langkah Dokter itu menuju ruangannya.


"Apa yang terjadi Dok?" tanya Risa saat mereka sudah di ruang milik Dokter yang menangani Wulan.


Dokter itu menarik nafasnya dalm dan menghembuskannya secara kasar bahkan Risa bisa mendengar dan mulai khawatir dengan apa yang akan Dokter itu katakan padanya.


"Saya sudah pernah bilang, jangan sampai Wulan mengalami sesuatu yang membuat jantungnya semakin lemah karena ity akan sangat berbahaya.." jelas Dokter di hadapan Risa serius.


"Apa yang harus saya lakukan Dok!" lirih Risa menangis.


"Ris, kamu jangan khawatir aku pasti akan merawat Wulan sebisaku.." ucap Dokter menatap sedih melihat Risa yang sudah menangis.


"Makasih Dok..." ucap Risa juga menatap Dokter di depannya


"Panggil saja Fahri, jika kita hanya berdua.." ujar Dokter yang bernama Fahri menatap Risa yang segera mengangguk.


"Aku permisi Fa.." pamit Risa hendak meninggalkan ruangan Dokter Fahri, namun dengan cepat Fahri mengenggam erat tangan Risa dan menarik ke dalam pelukannya. Awalnya Risa terkejut dengan perlakuan Dokter Fahri padanya, namun iapun tak menolak dan justru membalas pelukan Fahri hingga ia kembali menangis dalam pelukan Dokter Fahri yang ternyata menaruh hati padanya.


"Menangislah Ris, aku akan selalu ada untuk kamu!" ucap Fahri mengelus rambut panjang Risa.


"Hmm.." jawab Risa semakin mengeratkan pelukannya. Hingga beberapa menit mereka dalam posisi itu, hingga Risa tersadar jika ia belum menghubungi Papahnya dan memberi kabar jika Wulan kembali masuk ke Rumah Sakit.


"Aku belum menghubungi Papah.." ucap Risa. melepas pelukannya dengan Fahri.


"Hubungilah..." ujar Fahri..


"Hm, kalo gitu aku ke ruangan Wulan.." ucap Risa menatap Dokter Fahri dan tersenyum.


"Ya.." Fahri juga tersenyum ke arahnya. Risa segera kembali keruangan Wulan yang sudah di pindah ke ruang rawat VVIP.

__ADS_1


"Dek, bangun sayang! Kakak di sini..." ucap Risa pelan memegang tangan adiknya yang sedah di pasang alat infus.


"Dek, Kakak rindu sama keceriaan kamu..." Risa mencium kening adiknya cukup lama dan meneteskan air mata hingga mengenai wajah Wulan.


"Wulann..." panggil Regar saat ia baru tiba dan masuk ke dalam ruang rawat Wulan.


"Nak..." ujar Regar juga sudah meneteskan air matanya saat melihat kondisi putrinya yang sangat memprihatinkan.


"Wulan kenapa Ris?" tanya Regar menatap Risa yang sudah berdiri di samping Regar.


"Risa juga gak tahu Pah, tapi Bi Sumi bilang kalo sejak pulang sekolah Wulan marah dan menangis hingga menunci diri di dalam kamar." jelas Risa, Regar mendengarkan dan tak mencela sedikitpun.


"Pas Risa pulang, Risa lihat keadaan kamar Wulan yang udah berantakan bahkan Wulan nangis hingga tak sadarkan diri. Karena panik Risa langsung bawak Adek ke Rumah Sakit Pah. Maaf Risa gak kabarin Papah, karena Risa terlalu panik dan khawatir sama keadaan Wulan.." lanjut Risa menunduk merasa bersalah karena tak memberitahukan pada Papahnya. Regar terdiam sesaat, kemudian ia memeluk Risa dan mencium pucuk kepalanya. Risa hanya menangis mendapatkan kasih sayang dari Papahnya meskipun mereka bukanlah Ayah dan Anak kandung tapi karena Risa tumbuh di hadapannya membuat Regar menyangi Risa layaknya anak kandung.


"Maaf, Papah sudah membentak Risa.." ujar Regar juga merasa bersalah karena sudah membenatk anaknya.


"Hmm.." jawab Risa mengangguk.


"Tapi, kenapa Wulan bisa semarah dan sedih seperti itu hingga membuat dia samapi kayak gini?" tanya Regar saat mereka sudah duduk di tepi ranjang Wulan.


"Risa gak tahu pasti Pah, tapi Risa dengar kalo Wulan suka sama salah satu temannya.."


"Tapi orang yang Wulan suka malah pindah dari sekolah itu, bahkan Wulan gak di beritahu.." ujar Risa


"Apa?" Regar terkejut mendengar penjelasan Risa. Seorang Wulan Bramantyo di tolak oleh seorang pria..


"Siapa anak itu! berani sekali dia menolak putri ku." ucap Regar juga emosi.


"Hmm..." Risa berfikir keras mencoba mengingat nama yang Wulan sebut saat di rumah sebelum ia pingsan.


"Ar... "


"Arka, iya Arka namanya.." lanjut Risa setelah mengingat nama orang yang di sukai Wulan. Regar menatap Risa tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Arka!" ujar Regar memgulang nama yang di sebut anaknya, Risa hanya mengangguk. Regar melemas, tubuhnya seakan hancur bak di sambar petir berkali kali lipat pun hatinya terasa di cabik cabik. Regar menyandarkan tubuh nya ke sandarn kursi yang ia duduki sambil memejamkan mata, setes dua tetes air mata jatuh dari pelupuk matanya yang masih terpejam.


"Pah..." panggil Risa saat melihat Regar yang meneteskan air mata.


("Tuhan, kenapa harus anak anakku, mengapa harus mereka yang saling menyakiti..") batin Regar


("Mereka berdua bersaudara, dan justru saling menyakiti tanpa mereka tahu jika mereka adalah saudara..") Regar sangat hancur dan terpukul mengetahui jika salah satu anaknya justru menyukai Kakaknya sendiri. Memang bukan salah Wulan karena ia tak tahu jika Arka adalah saudaranya, dan bukan salah Arka karena mungkin iapun belum tahu jika Wulan adalah adiknya, tapi Regar! meskipun sebenarnya Arka sudah mengetahui segalanya, sebab itu lah ia memilih menjauh dari keluarga Regar.


"Maafkan Papah Nak..." lirih Regar menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Papah kenapa?" tanya Risa.


"Papah titip Wulan sebentar, Papah ada urusan.." ucap Regar tak menjawab pertanyaan anaknya, Risa hanya mengangguk dan memperhatikan Papahnya yang sudah keluar dari ruangan.


Jangan lupa. like dan komen yng mendukung ya..

__ADS_1


Makasih orang baik....


🙏🙏🙏


__ADS_2