
"Muntahkan semua Nak..." ucap Dokter Karina lembut sambil mengusap punggung Wulan.
Saat ini, Wulan tengah menjalani pengobatan tradisional dari Dokter Karina di bantu dengan Suster yang selama ini menjaga dan merawatnya. Wulan baru saja di berikan obat obat tradisional, dan beberapa saat setelah ia minum Wulan kembali muntah mengeluarkan makanan dan cairan yang baru saja ia makan dan minum pagi tadi.
"Akhhh, sakit Dok!" ringis Wulan merasa sakit dan panas di bagian dadanya, Wulan memegang dadanya hingga ia menangis menahan sakit.
"Itu reaksi obat yang baru saja kau minum, tapi ini hanya sebentar. Tahan lah..." ucap Dokter Karin membantu Wulan kembali berbaring di ranjangnya, namun baru saja ia meletakkan kepalanya di bantal perutnya kembali bergejolak dan ia kembali muntah.
"Wekk, huwekkkk...." Wulan merasa sangat lemas sekarang, ia tak mampu lagi menopang tubuhnya hanya untuk duduk, jika saja tak ada Suster yang dengan sigap menahan tubuhnya mungkin Wulan sudah jatuh ke bawah.
"Sakit sekali Dok...." lirih Wulan lagi meremas bagian dadanya.. "Akhhhhh, sakitt.... Wekkkk..." Wulan kembali muntah, dan setelah muntahan terakhirnya ia tumbang dan tak sadarkan diri..
"Baringkan..." perintah Dokter Karina pada Suster yang menopang tubuh Wulan.
"Baik Dok.." jawab Suster segera membaringkan Wulan dengan hati hati.
"Dia sangat kuat, saya yakin anak ini pasti bisa sembuh..." ucap Suster memuji Wulan yang cukup kuat hingga bisa bertahan sampai beberapa menit setelah meminun obat dari Dokter Karina, karena selama ini ia selalu melihat pasien pasien Dokter Karina yang akan langsung tumbang beberapa detik setelah meminum obat yang sama.
"Hmm, saya tahu dia memang anak yang kuat terlebih ada banyak orang yang sangat menyayanginya termaksud cucuku.." jawab Dokter Karina tersenyum tipis mengingat betapa sayangnya Arka pada adiknya ini, bahkan terlihat begitu posesif.
"Dokter benar, Tuan Arka sangat menyayangi Nona Wulan..." ujar Suster juga tersenyum tipis, mengingat bagaimana Arka selalu menjaga adiknya..
Dokter Karinapun keluar dari ruangan Wulan, ia akan menemui Regar yang pasti sedang menunggu di depan. Suster pun sstelah membersihkan bekas muntahan Wulan, ia juga segera keluar menuju ruang obat.
"Dokter, anak saya tadi teriak!" tanya Regar panik sebab ia bisa mendengar teriakan kesakitan Wulan.
"Tidak apa, iru karena efek obat yang dia minumdan itu hnya bersifat sementara saja." jawab Dokter Karina tenang.
"Sekarang dia sedang beristirahat, tadi dia pingsan namun itu biasa dan sebentar lagi akan segera sadar.." lanjut Dokter Karina dan Regar hanya mengangguk mengerti meski rasa cemasnya tak bisa hilang.
"Tenanglah Tuan, putri anda cukup kuat dan saya yakin putri anda akan segera pulih karena semangatnya begitu besar..." ucap Dokter Karina memberikan semangat untuk Regar, ia tersenyum hangat dan menepuk pundak Regar yang hanya bisa mengangguk sambil menunduk.
"Terimakasih Dok..." ucap Regar tulus dan mengangkat kepalanya serta mencoba tersenyum sebaik mungkin.
Dokter Karina kembali tersenyum tipis. "Say permisi Tuan, setelah putri anda sadar baru anda bisa menemuinya.." ucap Dokter Karina sebelum pergi dan Regar kembali mengangguk mengerti. Dokter Karina meningfalkan Regar yang kembaki duduk di kursi yang ada di depan ruangan Wulan.
"Papah yakin kamu kuat Nak..." lirih Regar, ia menatap ke arah kakinya
"Papah akan selalu menemani Wulan di sini sayang, jadi berjuanglah Nak..." lanjutnya, suaranya semakin lemah dan bergetar rasa takut dan cemas jelas tak bisa ia hilangkan karena ia tahu bagaiman menderita anaknya saat harus meminum ramuan tradisional yang di berikan Dokter Karina karena ia pernah melihatnya sekali kemudian Dokter Karina menyuruhnya keluar...
Beberapa menit kemudian, Regar baru masuk ke dalam ruangan Wulan. Regar duduk di kursi dekat ranjang, ia memegang tangan Wulan dan menatap wajah anaknya yang kembali pucat lagi setelah menjalani pengobatan tadi.
"Air..." lirih Wulan lemah, namun Regar bisa mendengar ia segera mengambilkan air minum yang ada di meja dan memberikannya pada Wulan dengan sangat hati hati. Wulan yang masih terpejampun mulai minum hingga setengah gelas.
"Wulan, sayang..." ucap Regar mengelus pipi Wulan..
Wulan mulai membuka matanya pelan, dan saat sudah terbuka ia menoleh ke arah samping di mana Papahnya duduk. Wulan tersenyum tipis saat melihat wajah khawatir sang Papah.
__ADS_1
"Wulan baik Pah..." liroh Wulan, Regar mengangguk dengan mata berkaca kaca. Anaknya itu pasti akan mengatakan hal yang sama saat sadar.
"Papah tahu Wulan kuat sayang, Papah pasti akan selalu dampingi Wulan Nak..." ucap Regar, mencium kening anaknya lama.
"Makasih Pah, maaf ngerepotin Papah terus.." ujar Wulan. Regar menggeleng pelan ia menatap wajah anaknya dan tersenyum lembut.
"Apapun untuk Wulan Nak, akan Papah lakukan..." ucap Regar semakin mengeratkan genggaman tangannya. Wulan tersenyum, beruntung dirinya merasa begitu beruntung karena di kelilingi oleh orang orang yang sangat menyayanginya. Papah, Arka Kakaknya, Risa dan Kakak Iparnya juga Habibi, mereka adalah semangat Wulan.
"Pah, Wulan mau tidur lagi..." ucap Wulan mulai lemah karena efek obat yang masih ada..
"Tidurlah Nak, Papah akan di sini jaga Wulan.." ujar Regar kembali tersenyum hangat menatap anaknya yang mulai memejamkan matanya dan tersenyum tipis.
Wulan kembali tidur dan Regar tetap berada di sana karena akan menjaga anaknya hingga nanti bangun lagi karena pasti Wulan akan membutuhkan sesuatu. Sebenarnya ada Suster yang bisa menjaga Wulan, namun Regar tetap ingin menjaga anaknya sendiri dan ia ingin melihat langsung bagaiman perkembangan anaknya selama menjalani pengobatan tradisional yang di berikan oleh Dokter Karina, dan ia bisa melihat jika perkembangan putrinya sungguh sangat pesat membuat Regar merasa bahagia dan tenang.
"Cepat sembuh Nak! Papah dan Kak Ara akan selalu menantikanmu sayang..." gumam Regar mengusap pipi Wulan yang sudah terlihat agak normal karena aliran darahnya yang sudah sedikit membaik.
"Kamu anak yang kuat sayang, Papah yakin kamu bisa Nak..." lanjutnya, ia kembali mencium kening Wulan juga punggung tngan anaknya dengan sayang, sangat sayang.
Dari siang hingga malam Regar tak pernah meninggalkan Wulan lama, hanya saat ia akan membersihkan tubuhnya atau menerima telpon baik dari Sekretarisnya atau Arka yang selalu ingin tahu kabar adiknya.
Pagi hari Wulan baru bangun lagi, cukup lama namun saat bangun Wulan akan terlihat lebih cerah.
"Pah..." panggil Wulan pelan karena suaranya agak serak setelah kemarin ia teriak teriak menahan sakit.
"Ya Nak!" Regar mendekati Wulan, ia baru saja menerima telpone dari Sekertarisnya.
Regar tersenyum. " Bagaimana Papah bisa pulang jika tuan putri Papah masih di sini!" jawab Regar mencubit pelan hidung kecil dan mancung anaknya.
"Hmm, Papah..." rengek Wulan memegang hidungnya.
Regar semakin tersenyum lebar melihat anaknya yang merajuk. "Mau sesuatu?" tanya Regar lembut duduk di sisi ranjang dekat Wulan.
Wulan menggeleng. " Wulan mau cepet pulang Pah! Wulan mau kuliah lagi..." ucap Wulan sedih, pasalnya ia sudah sangat bosan berada di sana selama dua bulan ini, belum lagi ia harus meminum obat obat yang di berikan Dokter Karina hingga membuat dadanya terasa sangat sakit dan panas walau setelahnya ia memang merasa jika jantungnya mulai tarasa nyaman dan tidak berdetak sangat cepat seperti biasanya.
"Sebentar lagi kamu bisa pulang.." sahut Dokter Karina yang tiba tiba masuk membuat kedua orang di sana menoleh dan menatap ke arahnya.
"Benarkah Dok?" tanya Wulan dengan wajah ceria.
"Tentu saja, selama kamu mau minum obat obat ini maka akan saya pastikan Wulan pasti akan sembuh dan bisa kuliah lagi bersama Arka dan pacar kamu itu..." jawab Dokter Karina di sertai dengan godaan.
Wulan tersenyum malu. "Bibi bukan pacar saya Dok, dia hanya teman.." ucap Wulan namun senyumnya justru mengembang saat menyebut nama Habibi
Dokter Karina tersenyum tipis, ia meletakan obat obat yang baru saja ia racik di atas meja. "Benarkah?" tanya Dokter Karina semakin menggoda membuat Wulan semakin merasa malu hingga wajahnya memerah. Regarpun ikut tersenyum melihat tingakah malu anaknya.
"Dokter, dia hanya teman..." jawab Wulan sedikit merengek agar kiranya Dokter Karina tak menggoda dirinya lagi.
Dokter Karina semakin tersenyum lebar. "Ah ya, mungkin sekarang teman tapi nanti tentu saja tidak.." ucap Dokter Karina mencubit pipi Wulan yang mulai sedikit agak berisi.
__ADS_1
"Tentu saja, asal jangan sampai ketahuan Arka..." sahut Papah Regar tersenyum. Wulan tanpa sadar mengangguk membuat Dokter Karina juga Regar tertawa kecil melihatnya. Wulan yang sadarpun menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Papah, Dokter..." rengek Wulan yang semakin merasa malu...
"Baiklah, sekarang kamu harus minum obat ini.." Dokter Karina memberikan obat yang biasa Wulan minum ke hadapannya. Wulan menjauhka tangannya dari wajah ia menatap nanar pada gelas kecil yang berisi obat ramuan. Wulan menelan salivanya dengan susah payah, ia menatap Papahnya kemudian beralih pada Dokter Karina yang mengangguk.
"Bismillah..." lirih Wulan, iapun segera minum dengan di bantu oleh Dokter Karina.
"Pahit..." lirih Wulan merasa pahit, bahkan lebih pahit dari yang biasa ia minum..
"Habiskan, dan langsung telan.." perintah Dokter Karina, Wulan menatap Dokter Karina sejenak kemudian berusaha menelan semuanya.
Beberapa menit setelahnya, Wulan kembali merasa mual dan pusing bahkan wajahnya kembali memucat.
"Dok!" Regar tak tega melihat kondisi putrinya, ia terus berada di sisi anaknya sambil mengusap punggung Wulan yang mulai memuntahkan semua isi perutnya.
"Huwekkkk, wekkkkkk, wekkkk..."
"Pahhh, akhhhh... sakittt..." lirih Wulan kembali merasa sakit dan panas di bagian dadanya bahkan jauh lebih sakit dati sebelumnya...
"Akhhhh, sakit Pah...hiks...hiks...." Wulan merasa jika hidupnya akan berakhir sekarng, pandangannya berkunang kunang. Wulan kembali muntah, dan setelahnya ia pun kembali pingsan dalm pelukan Regar.
"Wulan..." panik Regar menatap wajah anaknya yang semakin pucat.
"Tidak apa Tuan, baringkan..." ujar Dokter Karina tenang, ia segera memerintahkan Suster untuk membersihkan bekas muntahan Wulan juga gelas obat.
Regar mengikuti perintah Dokter Karina dan membaringkan anknya dengan sangat hati hati dan telaten. Rasa khawatir juga cemas kembali merasuki hati juga perasaannya.
Regar sebenarnya tak boleh berada di sana, namun karena Wulan ingin jika Papahnya bisa mendampingi maka Dokter Karina pun memberikan izin.
"Saya memberikan obat dengan efek yang lebih karena itu akan sangat cepat mengatasi kanker Wulan yang sudah semakin mengecil, dan kemungkinan Wulan hanya perlu beberap kali lagi saja meminumnya maka saya pastikan jika kankernya akan segera sembuh." ucap Dokter Katina memberikan penjelasan agar Regar tak merasa begitu khawatir.
"Tapi, setelah anda dan putri anda kembali ke kota, akan lebih baik jika kembali di periksakan agar semakin membuat anda yakin Tuan.." lanjut Dokter Karina tersenyum tipis.
Regar mengangguk. "Baik Dok, akan saya lakukan semua yang and katakan.." jawab Regar tanpa keraguan.
Dokter Karina kembali tersenyum tipis. "Saya permisi.." Dokter Karinapun meninggalka Wulan yang masih pingsan bersama Regar, ia akan kembali meracik obat untuk di minum Wulan besok karena setelah racikannya selesai maka harus menunggu satu hari baru bisa di minum.
Regar kembali menatap anaknya, ia begitu kasihan saat harus meliha Wulan yang kesakitan saat menjalani pengobatan tradisional nya, namun tak ada cara lain dan ia hanya bis berharap setelah semua penderitaan anaknya, Wulan akan bisa sembuh total dan bisa beraktivitas seperti biadanya lagi sesuai dengan keinginan anaknya.
"Papah yakin Wulan kuat sayang! bertahan ya Nak, sedikit lagi..." gumam Regar kembali menggenggam tangan anaknya kuat tanpa mengalihkan pandangannya pada Wulan.
Lanjut lagi....
Makasih orang baik...
😊🙏🙏
__ADS_1