Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Masa Lalu Mamah Maurin dan Habibi


__ADS_3

"Bagaimana Hans?" tanya Maurin menatap serius Asisten nya Hans.


Hans tersenyum miring, ia meletakan amplop coklat di atas meja kerja Maurin dan masih mempertahankan senyum miringnya. Maurin segera mengambil amplop di hadapannya, ia mulai membuka perlahan, seketika matanya membuka lebar tak percaya akan yang ia lihat saat ini, Sorot mata nya memancarkan kemarahan dan kepedihan yang mendalam.


"Hans, ini!" ucap Maurin meyakinkan penglihatannya, ia menatap Hans dengan penuh keterkejutan.


Hans mengangguk, ia juga sempat terkejut sebelumnya saat mengetahui hal ini. "Aku bahkan sempat tak mempercayai hal ini." jawab Hans juga tak menyangka akan apa yang ia dapatkan.


"Aku tak menyangka jika akhirnya kami harus kembali berurusan dengan pria berengsek ini lagi.." ucap Maurin memejamkan matanya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya.


"Benar, dan sekarang anak nya justru ingin menyakiti keponakan ku.." ucap Hans, ia duduk di hadapan Maurin yang masih dalam posisi yang sama.


"Entah mengapa kami harus berurusan lagi dengan mereka padahal aku sudah memberikan apa yang mereka minta dulu bahkan kami sudah pergi jauh dari kehidupan mereka..." ujar Maurin merasa jika hidup selalu saja mempermainkan dirinya juga putranya.


"Tenang lah, aku sendiri yang akan menghabisi mereka jika sedikit saja mereka menyentuh Habibi.." ucap Hans tanpa keraguan menatap serius Maurin yang tersenyum tipis mendengar ucapannya.


"Terimakasih Hans, kamu selalu membantu keluarga ku selama ini.." ucap Maurin tulus.


Hans mengangguk, ia juga tersenyum tipis. "Kalian sudah aku anggap seperti keluarga, bahkan aku pun sangat menyayangi Habibi seperti putraku sendiri bahkan kau tahu sendiri jika istriku lebih menyayangi Habibi di banding putra kami sendiri.." jawab Hans tersenyum lembut menatap Maurin yang mengangguk setuju karena ia juga tahu sebarapa besar kasih sayang istri Hans untuk putra nya.


"Baiklah, aku akan kembali ke ruangan ku.." ucap Hans beranjak dari duduk nya. Maurin mengangguk,


Hans menundukkan sedikit wajahnya dan meletakkan tangannya di dada lalu berjalan mundur beberapa langkah baru lah ia berbalik dan meninggalkan ruangan Maurin yng kembali memikirkan masa lalu yang kembali datang di kehidupannya juga putra nya.

__ADS_1


"Kenapa harus mereka lagi!" gumam Maurin kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


Maurin menghembuskan nafas berat, ia sungguh merasa lelah akan masalah ini dan bahkan sekarang anak nya yang di incar.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku harus memberitahukan hal ini pada nya yang jelas jelas sudah tak peduli pada kami!.." lanjut Maurin kembali berfikir. Maurin kembali menghembuskan nafasnya kasar, ia memejamkna mata nya cukup lama lalu membuka nya perlahan.


"Apapun itu, selama anak itu tak menyentuh anak serta calon menantuku maka aku tidak akan bertindak dan akan melihat sejauh mana anak itu akan bertindak.." ucap Maurin. Ia memperbaiki duduk nya lalu kembali fokus pada pekerjaan yang sempat ia abaikan setelah kecelakaan Habibi beberapa hari yang lalu.


Beberapa hari berikutnya, keadaan mulai membaik setelah Hans membuat peringatan pada orang yang sempat membuat Habibi terluka karen kecelakaan. Namun, ketenangan ini bukan lah selama nya melainkan awal dari kekacauan dan Maurin sudah memprediksikannya dan sudah menyiapkan diri untuk terus melindungi putra nya.


Maurin tak akan membiarkan orang yang selama ini sudah mengabaikan mereka bahkan meninggalkan mereka begitu saja demi selingkuhan yang ternyata juga sudah memiliki anak dari selingkuhan nya.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang Maurin?" tanya Hans saat mereka duduk berdua di ruangan Maurin.


"Kau memang selalu satu langkah lebih maju Maurin.." ucap Hans bernafas lega.


Maurin tersenyum tipis, ia membalik kan tubuhnya menghadap Hans...


"Aku hanya tak ingin anakku kembali terluka karena masa lalu ku bersama pria brengsek itu, dan aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti putraku juga calon mantu ku." ujar Maurin tanpa ada keraguan sedikitpun, justru dari sorot mata nya terpancar kekeceawaan juga penyesalan.


"Aku bahkan sempat mengabaikan putra ku, dan terus saja bepergian meninggalkan nya hanya karena sakit hati yang aku rasakan, namun aku lupa bahwa bukan hanya aku yang terluka tapi juga anak ku.."lanjut Maurin menyesal akan sikap nya dahulu yang selalu mengabaikan putra nya.


Hans mengangguk mengerti akan perasaan Maurin, karena selama ini dirinya lah yang selalu menemani wanita itu juga putra sematang wayang nya Habibi.

__ADS_1


"Baiklah, lakukan apapun asalkan jangan sampai membahayakan dirimu sendiri Maurin, dan jika kau membutuhkan bantuan ku maka beritahu saja aku.." ucap Hans tak lagi bisa mencegah wanita di hadapan nya. Maurin hanya mengangguk dan tersenyum tipis menatap pria di hadapan nya yang selama ini selalu mendampingi diri nya.


"Aku keluar dulu, dan akan terus memantau pergerakan mantan suami mu juga anak nya.." ujar Hans beranjak dari tempat nya dan meninggalkan Maurin yang kembali mengangguk menatap kepergian Hans.


Maurin tak bisa tidur beberapa hari belakangan ini, ia terus saja memikirkan tentang mantan suami juga anak dari mantan nya itu, kenapa mereka tak pernah bisa membiarkan kehidupan diri nya juga putra nya merasa aman dan selalu saja mengusik mereka berdua. Maurin hanya tak habis fikir saja, karena selam ini pun mereka selalu menghundar dan bahkan memilih pergi dari kehidupan mantan suami juga keluarga baru dari mantan suami nya itu, tapi kini justru mereka yang kembali mengusik ketenangan diri nya juga Habibi putra nya.


"Tak akak aku biarkan kau menyakiti putra ku lagi, dan akan aku pastikan kalian akan menyesal jika sampai menyentuh anakku, karena kalian akan langsung berurusan dengan ku.." gumam Maurin menatap ke arah luar jendela kamar.


Maurin masih terjaga padahal ini sudah sangat larut bahkan burung hantu sudah berdendang ria di atas atap rumah, namun seperti nya wanita itu masih belum memejamkan mata nya dan masih ingin duduk di dekat jendela padahal malam itu cuacanya cukup dingin hingga terasa sampai ke tulang, akan tetapi Maurin sama sekali tak merasakan nya dan tetap setia pada lamunan panjangnya.


"Menagapa kau harus kembali lagi? seharusnya kau tetap di Belanda bersama dengan keluarga mu itu!" ucap Maurin, dada nya kembali sesak saat mengungat pengkhianatan suaminya dan ternyata selama ini bukan diri nya yang di madu melainkan ia lah madu dari wanita yang ternyata istri dari mantan suami nya dahulu.


"Kau telah menipuku juga orang tua ku, dan tak akan aku biarkan kalian menyentug keluarga ku lagi.." ucap Maurin berapi api, mata nya menatap tajam ke arah luar jendela.


"Aku pasti akan bertindak tegas jika sampai kalian menyentuh orang orang yang aku sayangi..." lanjut Maurin, kedua tangannya mulai terkepal erat mata nya semakin tajam menatap lurus dan memerah, wanita itu saat ini terlihat sangat menyeramkan.


Lanjut lagi...


Slow up ya guys, susah banget sinyal nya apa lagi kalo lagi mati lampu,, ya ampun menderita sekali lah....😕, tapi akan selalu di usahakan buat terus up kok....


Makasih yang selalu setia menunggu kelanjutan kisah mereka....


😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2