
Hari hari berikutnya berjalan dengan baik. Kondisi Syakira yang juga semakin membaik semakin menambah kebahagiaan keluarga kecil nan hangat mereka.
Arka yang sedang sibuk karena akan menghadapi ujian kelulusanpun tak pernah absen untuk sekedar menemui adik adiknya, ya, Baby Daneen juga Wulan. Arka selalu bersikap. adil untuk kedua adiknya walaupun Wulan yang tidak tinggal satu atap dengannya, akan tetapi ia tetap menjaga adiknya dari jarak jauh.
Di sisi lain, di kediaman Ayah kandungannya Arka. Wulan sedang gusar, ia mondar mandir sejak tadi di kamarnya, sudah hampir dua hari ini ia selalu merasa gelisah dan cemas akan tetapi ia sendiri tak mengerti akan kecemasannya.
"Apa ini! kenapa perasaanku dua hari ini gak tenang ya?" pikirnya, ia sedang bermonolog dengan dirinya sendiri sambil terus mondar mandir di depan kasurnya dengan tatapan kosong.
tok tok...
"Wulan..." suara Papah Regar yang memanggil namanya mengagetkan Wulan seketika dan membuyarkan segala lamunannya.
"I-iya Pah..." jawab Wulan sedikit berteriak namun maaih tetap berdiri di tempatnya tanpa berniat membuka pintu kamarnya.
"Makan malam Nak, sudah dua hari ini kamu gak makan malam bersama Papah.." ucap Regar, ia sedikit khawatir akan sikap anaknya yang sudah dua hari ini tak pernah hadir untuk sekedar sarapan ataupun makan malam dan melihat jika putrinya selalu mengurung diri di dalam kamar.
Wulan sedang libur sebelum ujian nasional nanti, sudah hampir tiga hari ini sekolahnya libur dan baru dua hari belakangan ini gadis itu terus mengurung diri di kamar.
"I-ya Pah, na-nti Wulan nyusul.." jawab Wulan terbata, gadis itu masih terdiam di tempatnya.
Regar tak bisa memaksa agar putrinya mau membukakan pintu, sebab ia juga paham jika saat ini Wulan sudah semakin dewasa. dan memiliki privasinya sendiri.
Reagr membuang nafas beratnya, dan berlalu dari sana. "Papah tunggu ya Nak... " ujar Regar dan berlalu pergi dari sana tanpa menunggu jawaban dari anaknya.
Wulan menghela nafas lega setelah kepergian sang Papah, ia terduduk di kasurnya yang berukuran king siza. Wulan mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya, sungguh gadis itu semakin merasa cemas dan khawatir akan tetapi setiap kali ia mencari jawaban dari kecemasannya tetap saja tak menemukan jawabannya.
Wulan pasrah, iapun segera keluar dari kamarnya setelah membersihkan dirinya dan berusaha untuk tetap bersikap sebagai mana biasanya agar Papah Regar tak merasa khawatir padanya.
"Malam Pah.." sapa Wulan dengan senyum manisnya, walau agak sedikit di paksakan karena hatinya selalu merasa tak nyaman juga jantung yang sejak dua hari belakangan ini selalu berdegup tak sesuai dengan iramanya.
"Malam..." jawab Papah menatp putrinya yang sudah duduk di tempatnya dengan senyum yang terus mengembang membuat perasaannya sebagai Papah sedikit lega.
Wulan dan Regar mulai makan malam dengan tenang, tak ada obrolan dari keduanya karena menikmati makan malam mereka.
"Pah, Wulan langsung ke kamar ya, soalnya Wulan mau belajar kan besok udah masuk dan ujian.." jelas Wulan mencoba menghindari Papahnya dengan alasan ujian.
__ADS_1
Paoah Regar diam sejenak membuat Wulan agak canggung, namun beberap detik kemudian Regar tersenyum dan mengangguk.
"Jangan terlalu malam tidurnya Nak.." pesan Regar.
Wulan yang merasa legapun segera mengangguk dan tersenyum, ia mencium pipi Papahnya dan segera naik ke lantai atas lalu masuk ke dalam kamarnya tak lupa Wulan menguncinya dari dalam.
"semoga kamu baik baik aja Nak!" gumam Regar menatap kamar anaknya yang baru saja tertutup setelah Wulan masuk ke dalam.
Wulan yang sudah berada di kamaroun tak serta merta belajar karen sebenarnya itu hanya sebagai alasannya saja agar bisa kembali ke kamarnya dengan cepat setelah makan malam tadi.
"Ada apa ini! kenapa juga jantungku selalu berdetak tak karuan seperti ini! juga perasaanku yang selalu merasa tak nyaman!" gumamnya, ia memegang dadanya yang detak jantungnya cukup kuat hingga bisa ia rasakan di telapak tangannya.
"Ya Tuhan, semoga saja tak ada hal buruk yang akan menimpa orang orang yang ku sayangi juga diriku sendiri." lirih Wulan, ia menengadahkan tangannya juga sedikit mendongakkan kepalanya menatap lngit langut kamarnya.
Wulan tak bisa tidur, padahal hari sudah hampir masuk tengah malam namun matanya masih enggan untuk terpejam. Ia melihat handponenya yang terletak di atas nakas sejak dua hari ini pun Wulan sangat jarang memegang atau memainkan benda canggih itu karena terllu larut akan perasaannya yang selalu merasa tak nyaman.
"Arka, Habibi..." gumamnya, dahinya mengkerut manatap nama yang tertera di layar handpone miliknya. Ada 120 panggilan dari Arka Kakaknya yang sejak dua hari ini selalu menghubunginya namun tak pernah ia pedulikan karena ia sengaja mensilent suara hpnya, sehingga Arka mengirimkan beberapa oesan kepadanya yang juga tak pernah ia baca. Sama ssperti Arka, Habibipun terus saja menghubunginya meski tak sebanyaka Arka namun ia juga melakukan hal yang sama dan mengirim. pesan yang juga tak di baca ataupun di balas oleh.
Wulan menepuk jidatnya saat mihat panggilan dati Kakak juga Habibi yang beberapa bulan ini semakin dekat dengannya walau belum jadian akan tetapi Wulan dan Habibi sudah sangat dekat, apalagi sejak sebulanan ini tak bisa antar jemput dirinya karena Bundanya yang sakit hingga Habibilah yang selalu menjemput juga mengantarkannya pulang.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab Wulan tanpa membalas dengan ketikan.
"Maaf ya, Kakak belum bisa anter jemput kamu kemarin tapi mulai besok Kakak akan mulai antar jemput kamu lagi.." pesan Arka, Wulan masih setia dengan senyimnya ia kembali membuka pesan berikutnya.
"Hei, kmu baik baik aja kan! kenapa telpon Kakak gak di angkat! marah kah sama Kakak?" pesan pertanyaan dari Arka, Wulan hanya menggeleng kemudian membuka pesan berikutnya.
"Wulan kenapa gak akan telpon Kakak dari kemarin? marah ya sama Kakak karena gak bjsa jemout kamu! maaf ya, Kakak sibuk banget kan Wulan tahu Bunda lagi sakit.." Wulan kembali menggelengkan kepalanya, senyumannya pudar tat kala ia membaca pesan Kakaknya yang berfikir jika dirinya marah padahal bukan itu alasannya tak sampai mengangkat atau membalas pesannya.
"Kamu kenapa sih dek? Kakak jadi merasa bersalah nih kalo kamu gak mau angkat atau balas pesan Kakak..." Arka menyertakan emot sedih dan menagis membuat hati Wulan merasa bersalah karena sudah mengabaikan Kakaknya.
Wulan menghela nafasnya berat seolah ia sedang mengeluarkan bebannya dri hembusan nafasnya. Wulan wulan mengetik sesuatu di sana mencoba membalas pesan pesan dari Kakaknya agar Arka tak semakin salah paham akan sikapnya ini.
"Maaf Ka, Wulan lagi fokus belajar.."
__ADS_1
"Wulan gak marah sama Arka, cuma memang sengaja gak pegang hp aja selama dua hari ini karena mau fokus sama pelajaran biar nanti hasilnya bagus kan malu kalo Wulan dapet nilai kecil!" pesan balasan Wulan untuk Kakaknya. Ia segera mengirimkan peaannya pada Arka dan sstelah terlihat centang dua di sana, Wulan beralih pada pesan dari Habibi.
"Hai..."
"Lagi apa? kok telpon gue gak di angkat! sibuk ya!"
"Sibuk banget deh kayaknya, sampe wa gue aja gak di baca apa lagi di bales nih! hehehe..."
"Maaf" lirih Wulan, ia kembali membuka pesan dari Habibi.
"Hah, kayaknya lagi sibuk banget deh! padahal tadinya gue mau ajak loe jalan dan padahal gua dah minta izin juga sama Arka tapi kayaknya gagal total soalnya cewek yang mau di ajak malah sibuk." Habibi menyertakan emot sedih karena sejak kemarin telpon juga pesannya tak ada yang di jawab atau di baca apalagi di balas.
"Ya udahlah, loe istirahat jangan capek capek jangan kayak Arka noh yang sibuk banget belajar ampe lupa ama temennya yang juga jomblo dan sedih gara gara pujaan hatinya gak bales pesannya." Wulan tersenyum membaca pesan Habibi berikutnya, ia menggelengkan kepala.
Habibi memang sudah menyatakan perasaannya pada Wulan, namun gadis itu belum menjawab dan memberikan kepastian pada Habibi yang setia menunggu jawabannya.
"Maaf, gue emang lagi sibuk belajar sih soalnyakan bentar lagi ujian.." balas Wulan.
"Gua sengaja gak pegang hp supaya fokus sama pelajaran, kan loe tahu Kakak gua pinternya kayak apa dan gue gak maulah kalah dia walaupun tetep aja gue gak apa apanya di bandingkan ama Arka yang genius itu.." lanjut Wulan, ia menyertakan emot tersenyum dan menampakkan gigi.
Setelah selesai membaca dan membalas singkat pesan pesan dari dua laki laki yang selama dua hari ini menunggu kabarnyapun segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya..
"Hahhh...." helaan nafas berat kembali terdengar, Wulan memejamkan matanya lama kemudian membukanya perlahan, ia meletakkan telapak tangannya ke depan dadanya lagi dan detakannya masih sama seperti sebelumnya terlalu berdegup kencang di sertai dengan perasaan tak nyaman.
"Semoga ini hanya perasaan aja, walaupun aku juga gak tahu perasaan apa ini..." lirih Wulan, ia segera memperbaiki posisi baringnya dan segera memejamkan matanya yang sudah agak berat. Beberapa menit berikutnya, akhirnya Wulan bisa tidur walaupun tak bisa begitu nyenyak karena setiap sejam atau dua jam sekali Wulan selalu terbangun dan baru bisa tidur lagi setengah berikutnya, hingga subuh menjelang Wulan baru bisa tidur dengan nyenyak sampai pagi menjelang dengan begitu lagi lagi Wulan tak ikut sarapan bersama dengan sang Papah yang sebelumnya sudah membangunkan putrinya....
Lanjut up....
Ngetik sambil mikir buat kelanjutannya besok, Wulan yang punya perasaa aneh tapi gak tahu perasaan apa dan untuk siapa? bahkan Author juga gak tahu soalnya....
😊😀😁😂
Makasih ya, masih selalu setia sama karya Author Diani satu ini, semoga selalu suka sama cerita cerita mereka dan selalu menantikan kisah selanjutnya....
Makaaih Orang Baik....
__ADS_1
😊🙏🙏