Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Kemenangan Tim Arka dan Bantuan Kalisa


__ADS_3

Dua bulan setelah kecelakaan Arka, sekolah mengadakan lomba antar sekolah dan melibatkan tim basket Arka yang populer di sekolah mereka untuk berpatisipasi dengan harapan mereka bisa memenangkan pertandingan yang hampir tiap tahunnya di menangkan oleh sekolah sebelah.


Arka serta para timnya sedang berada di lapangan basket, mereka akan melawan tim sekolah sebelah yang hampir 2 tahun ini selalu menjadi juara setiap kali ada perlombaan antar sekolah.


"Ka, kita harus menang.." ucap Bibi di samping Arka yang sedang mempersiapkan diri


"In syaa Allah..." jawab Arka


"Kalo kita sampe kalah, gue bakal malu setengah mati." ujarnya lagi menutup wajah.


"Kalo kita kalah setidaknya kita sudah berusaha." jawab Arka. menepuk pundan Bibi yang langsung mendongak menatap Arka yang sudah berdiri di hadapannya.


"Masalahnya, mereka pasti bakalan ngehina kita kalo sampe kita kalah, secara sekolah mereka udah menang 2 thn berturut-turut.." jawab teman mereka satu nya


"Benar Ka." lanjut yang lainnya


"Ok, kita akan berusaha untuk menang, jadi kita harus bisa kompak." titah Arka sambil mengarahkan tangannya ke atas di ikuti yang lainnya.


"Kitaaa bisa." teriak Arka yang lain pun mengikuti kata-kata Arka. Mereka keluar dari ruang ganti dan menuju lapangan tempat mereka akan merubah kemenangan menjadi milik mereka tahun ini. Semoga!, kebetulan lomba di lakukan di sekolah mereka tahun ini. Para wanita yang melihat tim Arka yang baru keluar segera berteriak memberi semangat.


"We love you Arka...." teriak Melda dan Sasya berbarengan. Kalisa yang melihat kedua sahabatnya yang sangat mengidolakan Arka hanya memutar bola matanya malas. Ia sebenarnya terpaksa duduk dan menonton pertandingan basket karena sahabt-sahabatnya yang memaksa. Jika tidak mungkin saat ini dia sedang berada di kantin atau perpus, bukan untuk. membaca melainkan tidur.


"Arka.. Arka... Arka..." teriak. yang lain memeberi semangat.


"Ternyata lo banyak penggemar ya!" ledek kapten dari tim sebelah yang langsung mendekat ke arah Arka dan teman-temannya. Arka hanya diam, ia sama sekali tak terpancing dan merespon ucapan orang di hadapannya. Arka justru berjalan melewati menuju tempatnya.


"Sial, lihat aja gue pasti bakalan hancirin kepercayaan diri lo." batinnya tersenyum licik.


Pertandingan di mulai, Arka sudah memperlihatkan bakatnya dengan memasukkan bola ke tempat lawan hingga tim sebelah ketinggalan jauh di pertengahan waktu.


"Sial, kita harus buat strategi." ucap Kapten membisikkan sesuatu ke pada timnya.


"Arka, lo harus hati-hati!" ujar Bibi sedikit khawatir


" Kenapa?" tanya Arka tak mengerti


"Lo liat, mereka pasti lagi merencanakan sesuatu buat lo." jawab Bibi di ikuti yang lain dengan mengangguk


"Hmm." ucap Arka ikut memperhatikan lawannya


Pertandingan kembali di mulai, dan saat menit-menit terakhir tim musuh melakukan rencana nya untuk menjebak Arka, mereka mengepung Arka dan membuatnya terjatuh hingga lututnya terluka cukup parah.


"Akhhh..." teriak Arka kesakitan saat ia terjatuh dan berguling beberapa kali.


"Woyyy..." teriak Habibi menunjuk kapten dan juga tim musuh.


"Sorry..." ucapnya dengan senyuman smirknya.


"Lo sengaja kan?" ujar teman Arka yang lain.


"Lo gak papa Ka?" tanya Bibi memopong Arka ke pinggir lapangan.

__ADS_1


"Kayaknya aku gak bisa ikut pertandngan lagi deh." jawab Arka sedih karena di menit terakhir ia harus berhenti.


"Gak masalah, gue dan yang lain pasti akan menang." ucap Bibi menatap tajam ke arah tim musuh yang senyum-senyum bahagia karena rencana mereka berhasil untuk menjatuhkan Arka.


"Sini gue obatin luka lo!" ucap seorang wanita yang sudah duduk di hadapan Arka sambil membawa kotak obat.


"Lo..." ucap Bibi terputus


"Diem gak, gue lagi ngobatin luka temen lo." ucap gadis di hadapan mereka membuat Bibi terbungkam. Arka memperhatikan gerakan tangan yang sangat telaten gadis di hadapan nya, namun terkadang matanya melirik wajahnya.


"Sudah selesai.." ucapnya tersenyum kemudian berdiri.


"Tu..yunggu, ini maksud lo apa pale baju kek kita?" tanya Bibi memperhatikan gadis di samping nya yang sudah siap dengan baju yang sama seperti yang mereka pakai.


"Mau mainlah, masa iya gue mau joget." jawabnya seloyor, membuat Arka dan Bibi membulatkan mata mereka.


"Tapi..."


"Gue dah izin sama Pak Agus, dan gue juga di izinin kok." ucapnya kemudian berlari ke arah lapangan.


"Dah, sana. Semangat." ucap Arka tersenyum memberi semangat.


Pertandingan kembali di mulai, awalnya tim lawan tak setuju jika di tim Arka ada wanitanya, namun tak ada peraturan yang mengatakan jika wanita tidak boleh ikut bermain, jadi mereka hanya bisa pasrah dan melanjutkan pertandingan dengan hati dongkol.


"Kalisaaaa, semangat." teriak Melda


"Go, Kalisaaaaa.." teriak Sasya. Kalisa hanya tersenyum sambil menunjukan jempolnya ke arah kedua sahabatnya di atas yang sedang menonton.


"Yes..." teriak tim Arka serempak. Arka tersenyum melihat kebahagiaan timnya.


"Kan gue dah bilang kita pasti menang." ucap Kalisa di samping Arka.


"Hmm, makasih dah mau gantiin aku." ujar Arka tulus memandang Kalisa yang kebetulan juga memandang ke arahnya. Beberapa detik mata mereka saling pandang, hingga Arka yang lebih dulu memutusnya dengan menoleh ke arah Bibi yang sedang berlari ke arahnya.


"Kita menang Ka!" ucap Bibi bahagia sambil memeluk sahabatnya yang sedanh terluka.


"Aw..." lirih Arka saat tangan Bibi menekan lukanya.


"Eh, maaf-maaf gue lupa." ucapnya sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal sama sekali.


"Sorry, gue dan tim gue salah." kapten tim lawan yang kalah mendekat ke arah Arka dan mengulurkan tangannya.


"Gak papa." jawab Arka tersenyum menyambit uluran tangan mereka satu persatu.


"Lo gak dendam gitu?" tanya Kalisa heran, jelas-jelas mereka udah buat Arka jatuh hingga luka parah kayak gitu. Habibipun setuju dengan pertanyaan Kalisa


"Gaklah, ngapain juga harus dendam." jawab Arka tersenyum.


"Ah, gak asik lo..." ucap Bibi.Arka hanya tersenyum menanggapi pernyataan sahbatnya itu.


"Gue duluan.." ujar Kalisa berdiri kemudian berjalan ke arah ruang ganti.

__ADS_1


"Tuh, cewek hebat juga main basket gue sampe gak bis berkata-kata..." jujur Bibi kagum


"Hmm, tuh bisa berkata-kata.." ucap Arka tersenyum ledek.


"Ah, lo mah kan itu hanya umpamaan doang." Bibi memukul lengan Arka yang langsung tertawa.


"Kalisaaa, lo emang the best.." ucap Melda saat mereka sudah di kelas.


"Iya, Kalisa emang yang terbaik." lanjut Sasya


"Yalah, Kalisa gitu..." ucap Kalisa, mereka bertigapun tertawa puas dan berhenti saat kelas sudah mulai terisi oleh siswa yang baru berdatangan.


Jam pelajaranpun berakhir, semua siswa berhamburan keluar dari gedung sekolah. Arka yang di bopong Bibi berjalan tertatih menuju gerbang sekolah.


"Paman.." panggil Arka saat ia melihat Pamannya yang sudah menunggu di depan pagar dengan motor gede miliknya.


"Arka, kaki kamu kenapa?" tanya Regar khawatir


"Biasa main basket terus jatuh." jawab Arka segera sebelum sahabatnya itu yang bercerita.


"Ya sudah kita pulang, nanti di rumah di obatin lagi." ujar Regar membantu keponakannya naik ke motor.


"Kami duluan ya Bi." ucap Arka dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Bibi, beberapa detik berikutnya jemputannyapun sudah tiba, ia segera masuk ke dalam mobilnya dan menuju pulang ke rumah.


"Assalamualaikum Kak..." teriak Regar membuat seisi rumah keluar


"Ya ampun Arka kaki kamu kenapa Nak?" tanya Syakira panik melihat kaki anaknya yang terluka cukup parah.


"Jatuh Bun pas main bsket." jawab Arka santai sambil berjalan masuk ke dalam rumah di bantu Regar. Maira segera berlari ke dalam untuk mengambil kotak obat kemudian memberikannya pada Syakira.


"Ya ampun luka nya besar banget, kita ke rumah sakit aja ya Nak!" ucap Syakira saat membuka perban di kaki anaknya yang terlihat luka cukup besar di sana


"Gak usah Bun, di obatin di sini aja." jawab Arka


"Tapi..." ucap Syakira mulai menangis


"Bunda, Arka gak papa ini cuma luka biasa." ucap Arka mencoba menenangkan Bundanya yang khawatir. Syakira menatap Arka yang tersenyum. Ia segera mengobati luka putranya dengan sangat hati-hati dan telaten.


"Shhhh..." lirih Arka saat Bundanya memberikan obat merah ke kakinya yang terluka.


"Sakit!" tanya Syakira menatap wajah anaknya yang terlihat meringis.


" Sedikit.." jawab Arka mencoba tersenyum.


"Lain kali hati-hati ya Nak." ucap Syakira, Arka kembali tersenyum menatap Bundanya yang begitu peduli dan menyayanginya. Ia mendekati Syakira kemudian memeluk serta mencium pipi kanannya.


"Bunda, Arka gak papa, anak laki-laki kan gak boelh manja biar Arka bisa selalu jagain Bunda." tutur Arka menatap Bundanya. Mendengar perkataan putra kesayangannya, Syakira sangat terharu ia memeluk putranya dengan penuh kasih dan sayang, ia sangat bangga memilik anak seperti Arka.


"Makasih Nak." jawab Syakira mencium seluruh wajah putranya, hingga Arka merasa geli dan menghindari sang Bunda yang langsung tersenyum. Regar dan Mairapun hanya bisa tertawa melihat kelakuan kedua orang di hadapan mereka.


makasi, makasi, makasih orang baik...

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2