
Seperti kesepakatan sebelumnya, Arka dan Habibi harus kembali ke kota dan kembali kuliah karena Wulan sudah sadar.
"Yah, apa gak bisa Arka di sini sebentar lagi! Arka mau lihat adek ngejalani pengobatannya Yah!" rengek Ark, untuk pertama kali pemuda itu merengek ada Regar membuat hati Regar terenyuh namun ia tetap pada pendiriannya.
"Gak bisa, kalian udah dua bulan gak ikut pelajaran.." ucap Regar menolak keinginan anaknya. Arka dan Habibi cemberut, mereka berdua kompak membujui Regar namun sayang keduanya tetap harus pulang lebih dulu dan tak bisa menemani Wulan menlanjutkan pengobatannya.
"Ka..." panggil Wulan saat melihaf Kakaknya sedih
Arka menoleh pada Wulan, ia berjalan dan duduk di tepi ranjang karena Regar duduk di kursi.
"Nanti kalo gue sembuh loe harus bawak gue ke tempat itu lagi ya!" ucap Wulan dan Arka segera mengangguk dan tersenyum tipis.
"Asti dek, kemanapun kamu mau pergi Kakak pasti siap buat anterin Wulan. hmm..." ujar Arka mengelus pucuk kepala Wulan sayang. Gadis itu hanya mengangguk saja dan memberikan senyum termanisnya.
Habibi sejak tadi hanya diam saja, ia tak ingin mengganggu interaksi antara Kakak dan Adik walaupun ia juga ingin mengucapkan kata perpisahannya pada Wulan.
"Bi..." Wulan sedikit memiringkan kepalanya agar bisa melihat Habibi yang berdiri tepat di belakang Arka.
Habibipun melakukan hal yang sama hingga mata keduanga bertemu. Wulan tersenyum ia menggoyangkan tangannya memanggil Habibi agar mendekat ke arahnya sedang Arka segera berdiri dan bergeser ke samping Ayahnya agar Habibi dan Wulan bisa saling bicara.
Habibi melngkah maju mendekati Wulan, dan duduk di sisi ranjang di dekat kaki gadis itu dan terus menatap wajah Wulan juga senyumannya yang selalu terbayang bayang di kepalanya.
"Lan gue-"Habibi menggantung ucapannya, ia bu bingung sekarang.
"Bi, makasih loe baik banget sama gue! dan loe maukan tunggu gue sebentar lagi?" tanya Wulan dengan senyum hangat menatap Habibi.
Habibi mengangguk dengan cepat. "Tentu Lan, gue pasti akan selalu nungguin loe kapan pun itu.." jawab Habibi tanpa ragu dan serius.
Wulan tersenyum cerah. "Makasih, gue harap loe bakalan setia buat tunggu gue kembali..." ucap Wulan dan Habibi kembali mengangguk juga tersenyum membalas senyuman Wulan.
Wulan sedikit memajukan tubuhnya, ia mengarahkan bibirnya ketelinga Habibi yang juga sedikit memajukan kepalanya. Arka mengerutkan keningnya menatap kedua orang di hadapannya, ingin bertindak tapi tangannya di tahan oleh Ayah jadilah dirinya hanya bisa melihat dengan kesal.
'Apa yang mereka bicarakan?' batin Arka bertanya, ia tak pernah melepas pandangannya dari Habibi dan Wulan yang masih berbisik dan tak bisa ia dengar semakin membuat kesal saja.
__ADS_1
"Gue tunggu Lan..." ucap Habibi tersenyum cerah setelah Wulan memundurkan wajahnya dari telinga Hbibi begitupun sebaliknya. Keduanya saling tatap dan melempar senyum hangat membuat Arka semakin cemburu dan kesal saja.
"Sudah!" ujar Arka dengan wajah kesal.
Habibi dan Wulan menoleh pada Arka mereka sama sama tersenyum tipis karena tahu jika pemuda itu pasti sedang cemburu karena adiknya dekat dengan pria lain. Habibipun segera beranjak dari sana dan berjalan ke samping Arka yang meliriknya sekilas.
"Kami pulang Yah, jangan lupa buat terus kasih kabar ke Arka aja..." ucap Arka menekan kalimat terakhirnya sambil melirik Habibi yang kembali tersenyum tipis begitupun dengan Wulan dan Regar yang kangsung mengangguk.
"Assalamualaikum..." Arka mencium punggung tangan Ayahnya di ikuti oleh Regar.
"Kakak pulang dulu dek, dan nanti kalo kamu sembuh jangan terlalu dekat sama buaya.." ujar Arka kembali menyindir Habibi yang sama sekali tak tersinggung justru dirinya sedang menahan tawa setelah mendengar sindiran dari Arka.
"Ya Ka, loe tenang aja.." jawab Wulan tersenyum lembut, ia menatap Arka kemudian melirik Habibi sekilas. Arka mencium kening Wulan sejenak kemudian berjalan menjauh dari sana, Habibi tak lagi berpamitan. pada Wulan ia hanya melempar senyum juga tatapan hangat begitupun Wulan.
Kedua pemuda itupun meninggalkan Wulan dan Regar di sana. Mereka akan kembali ke kota dan mulai berkuliah lagi setelah dua bulan keduanya izin untuk menemani Wulan di sana.
"Oma, Arka pamit ya yitip Wulan dan tolong bantu Wulan buat sembuh!" ucap Arka.
Oma tersenyum. "Tentu Nak, kamu jangan khawatir Wulan pasti sembuh karena dia memang anak yang kuat." jawab Oma membuat hati Arka tenang dan lega untuk meninggalkan adiknya di sana bersama Omanya untuk melanjutkan pengobatan.
Selama perjalanan di mobil, Arka maupun Habibi sama sama diam keduanya sedang hanyut dalam fikiran masing masing. Arka memilih tidur di mobil karena semalam ia memang agak kurang tidur sebab ia menjaga Wulan yang batu saja menjalani pengobatan tradisional pertama setelah sadar dan tubuh gadis itu kembali melemah setelahnya, namun paginya Wulan sudah kembali segar bahkan jauh lebih baik.
Habibi sendiri kembali memikirkan perkataan gadianya beberapa saat yang lalu membuat ia terus tersenyum sambil menatap ke luar jendela mobil menampakkan persawahan yang indah juga beberapa orang yang sedang memanen padi juga jagung di sana serta seorang anak yang menggembala domba sambil bermain seruling dengan nada yang begitu indah. Habibi sengaja membuka kaca mobilya sejak perjalanan hingga ia bisa melihat dan mendengar dengan jelas.
"Indah." gumam Habibi terus memperhatikan setiap tempat yang mereka lalui karena sebelumnya saat mereka datang ketiganya malah memilih tidur karena lelah.
"Lan, gue pasti akan tunggu loe dan gue akan selalu setia sama loe karena gue yakin kalo gue cuma mencintai loe dan bukan orang lain..." ucap Habibi pelan, ia menghirup udara segar di sana dan mengeluarkannya secara perlahan dengan mata terpejam.
"Gue tunggu loe kembali Lan, dan gue harap. loe segera kembali..." lanjutnya kembali membuka mata dan melihat sawah sawah yang tergantikan dengan kebun karet milik penduduk setempat juga tak jauh dari sana ada pabrik untuk menholah getah getah yang di panen oleh warga di sana.
Habibi kembali tersenyum, ia begitu nyaman berada di sana dan tak. menyangka jika di pulau itu ternyata sangat indah dan asri membuat ia merasa nyaman berlama lama di sana.
"Sayang, gue gak sempet jalan jalan dulu selama di sinj, dan baru tahu kalo ternyata di sini tempatnya indah kek gini!" sesal Habibi.
__ADS_1
"Lain kali gue harus ke sini lagi dah, tapi sekalian sama pujaan hati...ups..." Habibi menutup mulutnya saat sadar jika di sebelahnya ada Arka, Habibi menoleh ke sampingnya dan melihat Arka yang masih tidur dengan pulas. Habibi sontak mengelus dadanya dan bernafas lega.
"Syukur deh dia tidur..hehe.." ucap Habibi tersenyum lega, ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil dan terus menatap hamparan perkebunan karet yang tinggi hingga mobil yang mereka naiki berhenti di sebuah lapangan kosong dan lebar.
"Ka bangun woy, dah sampe nih..." Habibi mengguncang tubuh Arka pelan.
Arka mengerjapkan matanya beberapa kali, ia menoleh ke arah Habibi yang hendak turun dan kembali membalikkan tubuhnya menatap Arka yang belum beranjak juga.
"Woy, loe mau balik kagak sih?" teriak Habibi.
Arka mengangguk saja, dan segera membuka keluar setelah di bukakan pintu mobil oleh pengawalnya.
"Silahkan Tuan Muda..." ucap pengawalnya sopan dengan wajah yang ssdikit di tundukkan.
"Terimakasih paman.." ucap Arka, ia masih kurang nyaman di perlakukan seperti Tuan Muda namun ia juga tak bisa menolak. karena itu adalah keingin Papahnya Rangga yang pasti ingin selalu melindungi anak anaknya.
Arka dan Habibi segera masuk ke dalam helikopter milik Rangga setelah tadi malam di beri tahu oleh Regar jika Arka dan Habibi akan kembali esok hari hingga Rangga tadi pagi mengirim helikopter pribadinya untuk menjemput anak juga sahabat putranya itu.
"Gue bener bener salut sama Papah loe Ka, dia beneran sayang banget sama loe kek nya.." ujar Habibi semakin mengagumi sosok Rangga yang menjadi panutannya kini.
Arka tersenyum ia pun merasakan hal yang sama, namun tak bisa ia ungkapan dengan kata kata akan tetapi saat nanti ia sampai pasti akan ia ungkapan segaka isi hatinya pada sang Papah yang sudah menyayangi dirinya bahkan menjadikannya sebagai Tuan Muda.
Helikopter mulai meninggalkan pulau kecil itu menuju ke kota, Arka dan Habibi sama sama melihat ke arah yang sama dan berharap jika Wulan bisa segera pulih dan kembalj ke kota bersama dengan mereka.
'Gue tunggu loe di sana Lan...' batin Habibi tersenyum tipis memandang hamparan pohon karet yang masih bisa ia lihat.
'Kakak tunggu di rumah dek...' kali ini batin Arka, ia juga memandangi hamparan pohin karet yang hampir tak terlihat karena helikopter yang semakin tinggi dan menjauh...
Kedua pemuda itu sama sama saling diam. lagi, dan memilih untuk tidur di sana. Arka melanjutkan tidurnya dan Habibi ikut tidur karena melihat Arka yang kembali tidur....
Lanjut nih...
makasih
__ADS_1
😊🙏🙏