
Waktu terus bergulir, hari berganti minggu, minggu di gantikan bulan dan bulan telah berganti tahun. Sudah lebih dari 4 tahun berlalu, dan ada banyak perubahan.
Setiap tahu Wulan bersama kedua sahabat nya selalu datang ke tempat tempat yang mungkin saja di datangi Kalisa, namun sampai saat ini pun mereka belum bisa menemukan gadis yang di tunggu Arka.
"Kak..." panggil Wulan saat melihat Arka melamun.
Arka tak merespon panggilan Wulan, ia masih sibuk dengan dunia nya sendiri.
"Kak, loe denger gue gak sih dari tadi ngomong?" tanya Wulan sedikit kesal karena sejak tadi ia bicara namun lawan bicara nya sama sekali tak memperhatikan diri nya.
"Hmmm..." gumam Arka menoleh tanpa ekspresi semakin membuat Wulan kesal.
"Haaaahhhh, dahlah gue mau masuk kamar aja.." Wulan beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Arka yang bingung sambil menatap punggung adiknya yang menaiki tangga menuju kamar.
"Kenapa?" gumam Arka bertanya sendiri dengan alis berkerut.
"Loe keterlaluan Ka, adek loe cuma mau minta pendapat loe sebagai Kakak tapi loe malah sibuk sama lamunan loe sendiri.." sahut Habibi yang baru saja kembali dari toilet.
Sebenar nya Wulan sejak tadi meminta pendapat Arka tentang konsep pernikahan nya yang sekitar dua bulan lagi akan di laksanakan, namun yang di mintai pendapat malah bengong dan tak menggubris setiap ucapan nya.
Habibi duduk di sebelah Arka yang baru menyadari kesalahan nya, ia terlihat cukup menyesal dan merasa bersalah.
"Sudah lebih 4 tahun Ka, tapi loe masih belum bisa lupain Kalisa..." ucap Habibi menggelengkan kepala nya pelan.
Arka terdiam memang benar jika sampai saat ini ia belum bisa melupkan Kalisa cunta pertamanya, dan masih berharap akan menjadi cinta terakhirnya.
"Gue tahu segalanya, bahkan loe harus tahu kalo Wulan juga sudah berusaha buat nemuin Kalisa tapi..." Habibi menggantung ucapan nya setelah teringat sesuatu.
Arka menautkan alisnya menatap Habibi yang membuang muka ke arah lain. "Bi!" gumam Arka dengan nada dingin.
Habibi menghela nafas panjang kemudian kembali menatap Arka yang juga menatapnya penuh tanya.
__ADS_1
"Ya, Wulan sudah berusaha selama ini buat nyari Kalisa bahkan setiap tahun dia akan pergi ke tempat yang kemungkinan Kalisa berada di sana, namun sampai saat ini pun masih belum ada kemajuan..." jelas Habibi tak bisa lagi menutupi.
Arka sangat terkejut akan cerita Habibi tentang adik nya yang ternyata begitu perduli padanya dan itu membuat diri nya semakin merasa bersalah pada adiknya.
"Wulan selalu merasa sedih setiap lihat loe murung, bahkan loe juga tahu kan kalo gue sama Wulan sempat saling salah paham karena sesuatu saat Wulan pergi ke German..." lanjut Habibi yang juga merasa bersalah pada calon istrinya.
"Hmmm..." gumam Arka masih syok namun wajahnya tetap terlihat dingin.
"Kalo bukan karena Kana waktu itu, mungkin gue udah melakukan kesalahan fatal dan menghancurkan perasaan Wulan waktu itu..." Habibi geleng geleng kepala saat mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat Wulan bersama Kana izin berlibur ke luar negri namun Fatimah yang tak bisa ikut karena ada kepentingan lain. Keduanya ke sana bukan hanya berlibur, akan tetapi demi misi mencari Kalisa.
"Sial! aku sudah sangat keterlaluan..." gumam Arka kesal akan diri nya sendiri, Arka mengusap wajahnya kasar, lalu ia menatap ke arah kamar Wulan yang sudah tertutup rapat.
"Loe harus minta maaf sih, inget Ka sebentar lagi Wulan akan jadi istri gue dan setelah itu loe gak akan bisa sesuka hati ketemu sama dia..." lanjut Habibi dengan candaan namun sedikit ada ancaman di sana.
Arka kembali mengerutkan keningnya mendengar ucapan Habibi yang malah tersenyum mendapat tatapan tajam dari calon Kakak ipar nya itu.
"Ok, gue balik dulu..." ujar Habibi beranjak dari duduknya, ia membenarkan kemeja yang di kenakan kemudian menatap Arka yang masih duduk.
"Ya, tentu saja, bukan hanya minta maaf tapi juga terima kasih..." gumam Arka kembali menatap kamar Wulan. Arka memejamkan matanya sejenak, kemudian ia juga beranjak dari sana menuju kediaman Papah Rangga dan Bunda nya Syakira.
......................
Di tempat lain, Farry bersama dengan Safira masih saling bertengkar karena mereka yang juga baru saja melaksanakan pernikahan.
"Sial, seharusnya gue menikah sam Aulan dan bukan loe..." teriak Farry kesal sambil memukul dinding kamar hotel.
Bukan hanya Farry yang kesal, akan tetapi Safira. "Dan seharusnya gue nikah sama Arka..." ucap Safira melirik tajam ke arah Farry.
"Ini semua karena loe yang gak becus ngurus adek loe itu..." lanjut Safira kesal, ia masih memakai gaun pengantinnya dan duduk di sisi ranjang dengan riasan yang masih melekat di wajahnya.
"Sialan loe, jadi loe nyalahin gue hah!" teriak Farry semakin kesal. menatap tajam Safira yang bukan nya takut justru membalas tatapan pria yang kini sudah menjadi suami nya.
__ADS_1
"Gue gak nyalahin loe, tapi seharusnya loe bisa ngurus adek loe itu dan gue bisa lancarin rencana gue waktu itu..." ujar Safira ikut berteriak bahkan ia sampai berdiri dan menunjuk Farry tepat di wajahnya menggunakan telunjuknya yang lentik.
Farry semakin emosi karena di tunjuk oleh Safira, diri nya tak menyangkal akan hal itu hanya saja ia merasa sangat terhina di tunjuk oleh seorang wanita yang tak lain adalah istrinya kini.
Farry mendekati Safira dengan kemarahan nya, ia meraih lengan Safira dan memegang nya cukup kuat hingga gadis itu merasa sakit di bagian lengannya yang mulai memerah.
"Akkkkhhh, sakit brengsek..." teriak Safira merasakan sakit dan berusha melepaskan diri dari Farry.
"Loe cewek lemah jangan pernah nunjuk gue..." ucap Farry menatap tajam Safira dan melemparnya cukup kuat hingga jatuh ke atas kasur yang sudah di hias begitu indah oleh Kana juga Wulan langsung.
Safira mengusap lengan nya yang memerah terlihat jelas karena ia memakai gaun yang tak berlengan memang.
"Gue pasti bakal bales loe, brengsek..." gumam Safira kembali berdiri dan secepat kilat berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Farry hanya diam, ia tak menggubris gumaman Safira meski mendengarnya dan saat gadis itu telah masuk ke dalam kamar mandi, Farry kembali memukul meja yang ada di dalam kamar itu cukup kuat.
"Ahhhhh, sial sial sial, gue gak akan biarkan kalian bahagia..." teriak Farry melampiaskan kekesalan nya.
"Kana, loe akan terima akibatnya karena sudah merusak rencana gue untuk dapetin Wulan.." lanjutnya semakin berapi api, tatapan nya begitu tajam.
Di dalm kamar mandi, Safira oun melakukan hal yang sama, saat ini ia sedang mengutuk siapaoun yang telah menrusak rencana nya untuk bisa mendapatkan Habibi.
"Gue pasti akan balea kalian semua, dan gue pastikan kalian akan menyesal...ahhhhhh..." teriak Safira, ia memukul air yang ada di dalam bathup hingga air nya tumpah tumpah.
"Gue sekarang malah terhebak sama cowok brengsek dan kasar kayak Farry...." lanjutnya, sejenak ia menatap ke arah pintu kamar mandi memikirkan nasibnya yang harus menikah dengan pria macam Farry yang terlihat kasar.
Merasa frustasi, Safira memejamkan mata nya sejenak kemudian ia menarik nafas dalam lalu menghembuskan secara perlahan barulah ia sedikit merasa agak lebih tenang dan melanjutkan ritual mandi nya.
Lanjut up....
Makasih....
__ADS_1
😊🙏🙏