Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Harapan!


__ADS_3

'Karena Author masih mikirin kisah cinta Kalisa dan Arka, jadi kita lanjut ke Paman Regar sama Mara dulu ya...'


Regar sedang sibuk sibuknya mengurus Cafe yang kini semakin maju berkat usaha dan kerja keras, bahkan ia sudah memiliki saham di Cafe itu hingga lebih dari lima puluh persen.


"Re..." panggil Maira saat melihat adiknya belum tidur dan masih menatap layar laptopnya padahal sudah larut malam.


Maira terbangun dati tidurnya saat ia haus dan hendak mengambil minum, namun saat ia melewati ruang tamu terlihat Regar yang masih bekerja di rumah.


"Ya Kak sebentar lagi selesai..." jawab Regar menatap Maira yang membuatkan teh hangat untuknya dan meletakan di atas meja.


"Makasih Kak.." ucap Regar tulus sambil tersenyum menatap Kakaknya yang sudah duduk di hadapannya.


"Re..." panggil Maira lagi


"Ya Kak.." jawab Regar namun matanya masih terfokus pada laptop yng masih menyala sedang jari jarinya masih sibuk dengan keyboard.


"Kapan kamu menikah? Apa Mara belum memberi kamu jawaban?" tanya Maira.


Sudah cukup lama Regar menunggu Mara namun belum ada tanda tanda jika gadis itu akan menerimanya.


Regar berhenti dari aktivitasnya kemudian menatap sang Kakak dengan tatapan tak bisa di artikan, namun ia mencoba tersenyum dan memberikan alasan mengapa Mara masih belum memberi jawaban.


Regar juga sudah mengatakan perasaannya pada Mara, bahkan ia juga telah melamar gadisnya di depan Maira, Syakira, Arka, Rangga bahkan Rani, namun Mara masih belum memberikan jawaban dan meminta waktu sampai ia lulus dan wisuda.


"Kakak kan tahu Mara mau nunggu lulus dan wisuda dulu baru bisa jawab lamaran Regar.." jawab Regar, meskipun dalam hati ia juga sangat takit jika nanti akan di tolak padahal ia sudah menunggu cukup lama.


"Haaaahh, jika nanti ternyata Mara menolak kamu gimana Dek?" tanya Maira, ia mewanti wanti jika saja nanti Mara akan menolak dirinya.


Regar terdiam sesaat, ia mencerna ucapan sang Kakak yang kemungkinan terjadi bahkan ia juga sudah memikirkan hal itu.


"Apapun nanti jawaban dan keputusan Mara, Regar akan berusaha buat nerima Kak, lagipula itu hak dia buat terima atau nolak Regar setidaknya aki sudah berjuang sejauh ini..." jawab Regar, ia kembali mencoba tersenyum dan terlihat biasa saja karena tak ingin membuat Kakaknya sedih atau sampai kepikiran karena Maira masih dalam tahap kesembuhannya.


"Ya, tapi Kakak harap Mara bisa menerima kamu Dek, karena Kakak tahu bangetxperjuangan kamu buat gadis itu.." ujar Maira memegang tangan Regar yang kembali menyunggingkan senyumanan ke arah Maira.


"Ya sudah Kakak mau lanjut tidur, kamu jangan malam malam tidur nya besok harus kerja.." Maira segera beranjak dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Regar yang kembali memikirkan segala yang di katakan Kakaknya barusan.


"Benar, apapun jawaban Mara nanti aku memang harus bisa menerimanya." ujar Regar, ia menutu laptopnya karena fikirannya saat ini sudah tak bisa berfikir jernih takut malah pekerjaannya berantakan.


"Sebaiknya aku memang tidur.." lanjutnya kemudian mengahabiskan teh dalam gelas dan berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


"Ahhhh..." Regar menghempaskan tubuh nya ke kasur empuk di kamarnya..


Sejenak ia memejamkan mata mencoba memperbaiki fikiran juga hatinya yang mulai merasa gelisah.


"Lelah hati lelah fikiran.." ujarnya masih memejamkan mata, tanpa sadar Regar malah tertidur dengan kaki yng masih menggantung di pinggiran kasurnya.


Pagi menjelang, Regar sudah bangun dan bersiap dengan jas berwarna abu selaras dengan celananya. Regar segera keluar kamar setelah ia memasukkan semua barangnya untuk pergi ke Cafe.


"Pagi Kak!" sapa Regar saat melihat Maira yang sedang menata makanan di atas meja makan.


"Pagi." jawqb Maira tersenyum menatap Regar yang terlihat berbeda sedikit


"Kenapa?" tanya Regar saat melihat tatapan Maira padanya


"Mau ketemu Mara ya?" bukan menjawab Maira malah balik bertanya. Regar hanya senyum sambil mengangguk.


"Tumben sekali, biasanya kamu yang selalu inisiatif buat ketemu dia sampe. nyusulin ke kampusnya!" selidik Maira, ia cukup penasaran dengan kisah cinta Adiknya itu.


"Entah, tapi Mara mau bicara sesuatu jadi Regar mau jemput dia hari ini.." jawab Regar tangannya sibuk mengambil nasi gireng juga telur mata sapi di hadapannya kemudian melahapnya dengan cepat.


"Oh..." Maira hnya ber oh ria sambil manggut manggut.


"Pelan pelan Re!" tegus Maira dan benar belum dua detik Regar sudah keselek, cepat cepat ia mengambil minum di hadapannya dan meminumnya hingga tandas..


"Tuh kan, baru aja di bilangin udah keselek.." ucap Maira sedikit kesal, Adiknya ini sedikit susah di atur.


"Ya Kak.." jawab Regar senyum senyum, ia kembali melanjutkan makannya dengan lelan hingga selesai.


"Regar berangkat Kak.." ucap Regar mencium pipi Maira.


"Hmm, hati hati kamu..." Maira mengantar Regar hingga depan pintu kemudian kembali masuk ke dalam rumah saat mobil yang di naiki Adiknya sudah keluar dari pekarangan rumah mereka.


Regar sudah setengah jalan menuju rumah Mara, ia merasa jantungnya selalu berdetak cepat karena gugup.


"Haish, jantung ini gak bisa di ajak kompromi.." ujarnya sambil memegang dadanya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang stir mobil.


Satu setengah jam Regar sudah sampai di depan Rumah Mara dan Rani, ia tak turun dan hanya membunyikan klakson dan tetap duduk anteng di dalam mobil.


"Mah, Kak Regar udah dateng Mara berangkat dulu ya.." Mara mencium tangan Rani dan beralih ke pipi kanan dan kirinya kemudian keluar rumah dan masuk ke dalam mobil di samping Regar yang langsung tersenyum hangat menyambutnya.

__ADS_1


"Kita mampir ke Cafe dekat sini dulu Kak.." ujar Mara saat mereka sudah di jalan dan meninggalkan rumah Rani. Regar hnya mengangguk dan fokus menyetir hingga ia memarkirkan mobilnya di Cafe yang di maksud Mara.


"Kak..." panggil Mara saat merwka sudah duduk di salah satu kursi cukup jauh dan sepi dekat kaca.


"Hmm..." jawab Regar hanya berdehem sambil menunggu ucapan Mara selanjutnya, bahkan ia sudah menatap Mara meskipun yang di tatap sama sekali tak membalas tatapannya.


"Aku, aku..." Mara bingung harus mengatakan apa pada Regar sedangkan kata kata yang sudah oa rangkai saat di rumah hancur lebur saat sudah berhadapan dengan pria tampan di hadapannya kini.


"Kamu mau jawab lamaran aku?" tanya Regar mencoba meringankan Mara.


"hmm.." jawab Mara masih menunduk.


"Kalo gitu biar aku ulangi lamaran aku dan kmu bisa menjawabnya.."


"Mar, aku jatuh cinta sama kamu sejak pandangan pertama dan aku ingin lebih serius denganmu. Apakah kamu mau menikah denganku dan hidup bersama dengan aku?" tanya Regar kembali mengungkapan perasaannya pada Mara dan melamarnya.


Mara terdiam sejenak, ia kini sudah berani menatap mata Regar yang juga menatap ke arahnya dengan penuh pengharapan.


"Jadi kamu mau atau gak?" Mara masih terdiam


"Apapun jawaban kamu aku terima, jika kamu menerima aku akan langsung melamar kamu dan kita akan menikah setelah kamu wisuda.."


"Tapi jika kamu menolak, aku gak papa dan mungkin kita akan sedikit menjauh karena kamu pasti tahu perasaan aku ke kamu Mar.." Regar sangat serius dengan perkataannya. Mara masih terdiam menatap Regar namun fikirannya mencoba mencerna semua perkataan Pria tampan yang sudah sangat berjuang untuk bisa mendapatkan hatinya.


"Kak aku..." lagi Mara tak mampu melanjutkan ucapannya ia kembali menunduk matanya yang sejak tadi sudah berkaca kaca tumpah seketika dalam tundukannya.


Regar terdiam melihat Mara yang sudah terisak, ia bisa melihat dari tubuh Mara yang bergerak pelan.


"Katakanlah aku akan terima semua keputusan kamu!" ujar Regar pasrah....


Lanjut up...


Kita ke Regar sama Mara dulu....


Makasih yang dah mampir, jangan lupa like sama dukungannya ya....


Makasih orang baik....


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2