
Rumah sakit kembali ramai dengan kedatangan keluarga Syakira, Paman dan Bibi sudah lebih duku sampai dari Agus dan Rani sedang Maira juga Arka masih di jalan.
"Maira belum sampai Nak?" tanya Paman pada Syakira
"Belum, mungkin sebentar lagi." jawab Syakira seadanya. Tak berapa lama Maira dan Arka sudah tiba di RS dan segera menuju ke ruangan Regar.
"Sya gimna perkembangan Regar?" tanya Maira setelah ia sampai dan melihat sudah begitu banyak orang
"Masih belum ada perubahan Kak.." jawab Syakira, namun ia tak menceritakan kebenarannya pada Maira karena takit jika nanti Maira akan mengalami syok berat dan mengakibatkan Kakaknya itu malah drop.
"Ya Allah..." lirih Maira menjatuhkan tubuhnya ke kursi samping Syakira.
"Kak, yang sabar aku yakin Regar pasti kuat.." Syakira mengelus punggung Kakaknya
"Semoga Dek.." Maira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahkan Maira tak bisa tidur semalam karena selalu memikirkan kondisi adiknya.
"Sya aku izin masuk dulu ya, mau kasih baju ganti buat Mara.." izin Rani dan segera masuk setelah Syakira mengangguk dan sedikit tersenyum ke arahnya.
"Mas aku masuk bentar.." Agus hanya mengangguk dan tersenyum
Rani segera membuka pintu dan terlihat anaknya yang sudah kembali duduk di samping Regar dengan wajah yang juga sedikit pucat, ia tak pernah melepas genggamn tangannya pada Regar.
"Mara..." panggil Rani, karena putrinya sama sekali tak mendengar saat ia membuka pintu bahkan Mara tak merasakan jika Mamahnya sudah berdiri twpat di sampingnya.
"Mamah..." Mara menoleh sejenak ke arah Mamahnya kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Regar
"Kamu mandi habis itu ganti baju ya Nak, biar Mamah yang jaga Regar di sini sampai kamu selesai.." Rani mencoba merayu anaknya, Mara terdiam sejenak kemudian mengambil tas kecil dari tangan sang Mamah dan masuk ke kamar mandi tanpa ada kata yang ia ucapkan.
"Re, kamu lihat apa yang sudqh kamu lakukan pada putriku! kamu bilang kamu akan membuatnya bahagia tapi apa ini Regar!" ujar Rani mengajak Regar bicara meskipun ia tahu jika ucapannya tak akan pernah di reapon oleh awan bicaranya. Air mata Rani jatuh dan segera ia hapus kasar karena pintu kamar mandi yang mulai terbuka pertanda jika Mara sudah selesai.
"Makasih Mah.." ucap Mara tulus ia kembali duduk di tempatnya dan menggenggam tangan Regar seperti biasa.
Rani tak mampu berkata kata lagi, ia sangat kasihan dengan kondisi Mara yang seperti ini. Rani segera keluar dari sana karena tak mampu lagi menahan air matanya.
"Mas.. hiks hiks hiks. ku mohon tolong bantu Regar agar bisa segera bangun.." lirih Rani memeluk Agus saat ia sudah berada di luar.
"Aku janji akan melakukan apapun demi Mara Ran, tenanglah..." Agus mengelus pucuk kepala Rani dengan sayang.
Maira merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan mengenai kondisi adiknya.
"Sya, kalian menyembunyikan sesuatu dari Kakak?" tanya Maira menatap Syakira dan Rangga bergantian.
Syakira gelagapan, ia takut jika mengatakan kebenaran pada Kakaknya apa mungkin Maira bisa menerima dengan baik. Syakira menatap Rangga yang hanya bisa mengangguk pertanda jika memang Syakira harus mengatakan kebenarannya.
"Kak..." panggil Syakira lemah menatap lekat sang Kakak yang tengah menunggu kata kata darinya
"Regar, Regar koma dan gak bisa di pastikan sampai kapan ia akan bangun..." penjelasan Syakira barusan benar benar sangat mengejutkan Maira, matanya melotot sempurna wajahnya seketika berubah pucat dan sekian detik berikutnya Maira sudah tak sadarkan diri.
"Kakak...." teriak Syakira panik Rangga dan Paman segera mengangkat Maira ke ruang ICU agar ssgera mendapatkan pertolongan.
Mereka semua menunggu dengan panik, belum selesai masalah Regar sekarang di tambah dwngan Maira yang kembali drop.
"Mas, aku takut Kak Maira. hiks hiks..." tangis Syakira akhirnya tumpah, ia tak mampu lagi menahannya sejak tadi. Rangga segera memeluk Syakira ia hanya bisa memberikan semangat bagi istrinya.
__ADS_1
"Bunda, kita sama sama berdoa semoga YmTante dan Paman segera pulih.." ujar Arka juga tak kuasa melihat sang Bunda.
"Aamiin Nak.." jawab Syakira semakin menenggelamkan kepalanya di dada sang suami.
"Keluarga pasien atas nama Maira?" tanya Dokter saat keluar dari ruang ICU
"Ya Fok saya Pamannya.." jawab Paman cepat
"Begini Pak, jadi keponakan Anda mengalami syok yang berat dan sepertinya sebelumnya juga sudah pernah mengalami hal yang sama dan itu sangat berbahaya, untunglah cepat di tangani.." jelas Dokter sambil geleng geleng membaca riwayat pasiennya.
"Jadi gimana kondisinya sekarang Dok? apa kami bisa melihatnya?" tanya Paman. mencoba tetap tenang
"Keadaannya sekarang sudah baik, hanya saja belum bisa di jenguk karena harus di pindah ke ruang rawat." Paman hanya mengangguk mengerti.
"Kalau begitu saya permisi." Dokter segera meninggalkan keluarga pasien.
"Maira biar Paman dan Bibi yang urus, kamu fokus sama Regar saja." ujar Paman mengelus kepala Syakira.
"Ya Paman.." jawab Syakira. Rangga dan Syakira kembali ke ruang rawat Regar dan melihat jika Agus tengah menelfon seseorang sementara Rani duduk bersandar di kursi panjang depan ruang rawat.
"Ran..." panggil Syakira yang juga duduk di sampingnya. Rani hanya menoleh melihat Syakira yang sudah berada di sampingnya
"Gimana Kak Maira?" tanya Rani khawatir
"Sudah baik, hanya perlu perawatan yang intensif." jawab Syakira sedih.
"Sabar ya Sya, aku tahu cobaan ini berat buat kamu kedua saudara kamu sama sama masuk Rumah Sakit." ujar Rani mengelus lengan Syakira.
"Makasih Ran.." Syakira berusaha tersenyum meskipun air matanya tak bisa di tahan.
"Aku sudah bicara pada Dokter Erick agar beliau mau membantu penyembuhan Regar." ucap Agus dengan raut wajah seriusnya.
"Dokter Erick?" Rangga mengulang nama yang di sebutkan Agus barusan
"Iya, Dokter Erick." jawab Agus menatap Rangga yang terlihat terkejut
"Baguslah jika memang Dokter Erick bisa membantu itu akan sangat berguna bagi Regar, aku yakin..." lanjut Rangga tersenyum karena iapun sangat mengenal Dokter Erick hanya saja ia tak sampai kefikiran untuk meminta bantuannya.
"Kamu juga mengenal Dokter Erick?" tanya Agus
"Ya, kebetulan dia sahabatku sejak SMA, hanya saat lulus dia langsung berangkat ke Jerman untuk lanjut study di sana." jawab Rangga. Agus sedikit terkejut namun ia hanya mengangguk kemudian kembali menatap Rani.
"Mara belum makan?" tanya Agus
"Belum, dia gak mau makan Mas aku takut nanti malah dia yang sakit.." ujar Rani melas.
"Biar aku yang membujuknya.." ucap Agus dan berdiri dari sana masuk ke ruang rawat Regar.
"Mara..." panggil Agus berjalan mendekati Mara yang menoleh sekilas ke arahnya
"Kamu belum makan?" tanya Agus yang berdiri di smpingnya sambil mengelus pucuk kepala Mara.
"Gak laper Om.." jawab Mara, suaranya sedikit serak
__ADS_1
Agus tersenyum, kemudian ia duduk di atas ranjang di sebelah kaki Regar kemudian mentap Mara dan Regar bergantian.
"Kamu lihat calon istri nakalmu ini, dia malas sekali makan.." ujar Agus seolah tengah bicara dengan Regar. Mara memperhatikan Agus dengan dahi yang mengkerut seolah menunggu hal apa lagi yang akan di katakan.
"Rasanya Om ingin sekali mencubit dan menjewernya.." Agus menatap Mara yang sedikt tersenyum karena tingkahnya
"Tidak tidak, kamylah yang harus Om jewer karena sudah membuat putriku malas makan.." lanjutnya hendak menjewer telinga Regar yang tak mungkin bisa melawan. Mara segera menarik tangan Agus, ia sudah terlihat tersenyum karena ulahnya.
"Om..." lirih Mara menjauhkan tangannya dari Regar. Agus cukup puas dengan senyuman Mara meskipun tak seperti senyumannya yang biasa tapi itu cukup baginya.
"Ok, Om gak jadi jewer tapi kamu harus makan!" ancam Agus dengan nada candanya, Mara terdiam sejenak menata Regar di depannya barulah ia mengangguk setuju. Dengan cepat Afus mengambil posisi dan membuka bungkusan nasi yang Rani bawakan untuk Mara kemudian menyuapinya meskipun awalnya Mara menolak namun akhirnya pasrah dan mulai makan hingga nasi dalam bungkusan itu habis tak tersisa tanpa ia sadari.
"Bagus, anak pintar.." puji Agus mencubit pipi Mara yang kembali tersenyum tipis ke arahnya.
"Makasih Om..." ujar Mara tiba tiba menangis. menatap Agus di hadapannya
"Jangan nangis, Om akan lakukan apapun untuk kalian, Om janji.." ucap Agus memeluk tubuh Mara yang kembali berhmgetar karena tangisnya.
Rani dan Syakira yang sejak tadi mengintip sangat terharu dengan pemandangan yang mereka lihat tak menyangka jika Agus bisa membuat Mara tersenyum setelah sejak kemarin ia hanya menangis saja bahkan Mara mau makan sampai habis.
"Bersyukur Mara bisa mendapatkan Papah seperti Agus Ran.." ujar Syakira jujur
"Ya, aku juga sangat bersyukur di pertemukan dengannya lewat Mara Sya.." jawab Rani di sela sela tangis haru nya.
Syakira dan Rani kembali ke kursi, mereka menunggu Agus yang keluar dari ruangan Regar
"Jadi aku Ayah yang gak baik buat Arka sayang?" tanya Rangga berpura pura ngambek karena istrinya malah memuji laki laki lain.
"Aku tahu betapa sayangnya kamu dengan Arka, jadi aku tak perlu meragukan itu.." jawab Syakira tersenyum melihat sikap suaminya begitupun Rani yang bisa tersenyum karena Rangga, dan memang itulah tujuannya membuat kedua wanita itu tersenyum meskipun sedang dalam keadaan seperti ini.
Diam diam Rangga mengirim pesan pada Erick sahabatnya yang ia ketahui masih di luar negri dan bagaimana mungkin ia bisa menyetujui permintaan Agus.
'Kamu kenal Agus?' pesan singkat yang dikirim Rangga pada Dokter Erick
'Agus?' tanya Erick sedikit ragu
"Ya, Agus yang meminta kamu untuk merawat calon menantunya?' balas Rangga
"Oh, Agus Utomo tentu aku mengenalnya. Kenapa?' Erick balik bertanya
'Tidak, apa kalian teman?' Rangga masih sangat kepo
'Hmm, tidak juga hanya saja dulu dia pernah membantu keluargaku dari krisis perusahaan yang hampir bangkrut..' jawab Erick.
'Baiklah, akuoun menunggu kedatanganmu ke Indonesia karena orang yang akan kamu rawat adalah adik iparku, dan ya jangan sampai mengecewakan ku Erick.." balas Rangga kemudian mereka mengakhiri pesan pesanan mereka.
("Jadi itu mengapa Erick menyetujui permintaannya dengan sangat mudah") batin Rangga, namun ia tersenyum karena setidaknya Agus bisa membawa Dokter terbaik yang ia tahu walaupun sebenarnya itu juga hal yang mudah baginya namun entah mengapa otaknya tak berfungsi sehingga tak sampai mengingat sahabatnya yang seorang Dokter Hebat.
Nih kelanjutannya..
Keknya bakal panjang nih season nya Regar dan Mara! pantengin aja terus lah ya, jangan sampe kelewatan... hi hi hi
makasih yang dah mampir baca, tapi jangan lupakan like sama dukungannya ya biar Author tambah semangat berjuangnya....
__ADS_1
Makasih orang baik....
🙏🙏🙏