
Wulan yang mulai bosan terkurung di kamarnya karena saat ini ia tak boleh pergi sekolah oleh Kakak juga Papah nya yang selalu mengamati dirinya.
"Dek makan yok, habis itu minum obatnya!" ucap Risa saat masuk ke dalam kamar adiknya.
"Wulan gak makan dan minum obat!" ujar Wulan dengan wajah ngambeknya.
"Kenapa sayang?" tanya Risa duduk di samping adiknya
"Wulan mau makan dan minum obat, tapi dengan satu syarat!" jaqabnya menatap Risa yang diam mendengarkan adiknya
"Wulan mau sekolah, Wulan bosen Kak di kirung di kamar terus padahalkan Wulan udah sehat.." lanjutnya dengan manja menggoyangkan lengan Risa yang langsung tersenyum lembut.
"Baiklah, tapi Wulan harus makan dan minum obat dulu, baru nanti Kakak bicarain sama Papah. hmm.." ujar Risa merayu adiknya yang langsung tersenyum dan mengangguk. Risapun menyuapi bubur yang ia masak sendiri ke pada adiknya dengan sayang hingga bubur dalam mangkuk itu habis tak tersisa, baru setelahnya Wulan meminum obat langsung dari tangan sang Kakak.
"Janji ya Kak..." ucap Wulan
"Ya, istirahat..." Risa menyelimuti Wulan dan mencium keningnya barulah ia keluar kamar me uju ruangan Papah mereka.
tok tok tok...
"Pah, Risa boleh masuk?" tanya Risa saat sudah di depan pintu ruang kerja sang Papah.
"Masuk sayang." jawab Regar tersenyum menyambut anak sulungnya saat Risa sudah masuk dan duduk di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Regar, karena tak biasanya Risa datang ke tempat kerjanya.
"Pah, besok Wulan udah bisa sekolah kan! kasihan dia udah seminggu ini di rumah dan hanya di kamar saja." ucap Risa dengan wajah memelas karena kasihan dengan adiknya
"Tadi juga dia gak mau makan dan minum obat, tapi Kakak udah rayu dan janji buat ngomong ke Papah kalo besok dia bisa sekolah lagi.." lanjut Risa menunduk takut jika Papahnya marah, namun Regar justru tersenyum, ia bangga pada anak anaknya yang bisa saling menyayangi meski mereka bukanlah adik dan Kakak kandung.
"Tentu Nak, besok Wulan sudah bisa sekolah dan Papah yang akan mengantarnya langsung.." jawab Regar mengusap pucuk kepala Risa yang segera mengangkat kepalanya dan menatap Regar dengan bahgia.
"Makasih Pah.." ucap Risa tersenyum
"Risa keluar dulu Pah..."
"Hmm.." Risapun keluar dari ruangan Regar dengan hati lega...
("Semoga aku bisa bertemu dengan putraku Arka...") batin Regar saat Risa sudah keluar dari ruangannya. Regar tahu nama Arka dari guru yang mengantar Wulan ke Rumah Sakit waktu itu, sedangkan ia tahu jika Arka adalah putranya dari Dokter yang mengatakan jika ada anak laki laki yang mengaku sebagai Kakak dari Wulan demi mendapatkan informasi kesehatan anaknya. Dari situlah Regar menyimpulkan jika Arka adalah orang yang di maksud Dokter yang merawat putrynya.
Keesokannya, Wulan sudah siap dengan seragam sekolahnya dan segera turun kebawah untuk sarapan bersama dengan Papah juga Kakaknya yang sudah menunggu di meja makan.
"Wah, Bidadari Papah cantik sekali..." puji Arka saat melihat anaknya yang baru tiba dan duduk di sampin kanannya karena Risa duduk di samping kiri Regar.
"Makasih Pah..." jawab Wulan bahagia, akhirnya ia bisa kembali ke sekolah dan bisa bertemu dengan Arka penyelamatnya.
"Makan yang banyak Dek!" ujar Risa mengambilkan nasi goreng serta lauknya ke piring Wulan.
"Makasih Kak.." Wulan terus tersenyum membuat Papah dan Kakaknya ikut bahagia.
Sudah seminggu ini Risa tinggal di rumah Regar karena ia ingin merawat adiknya, Risa juga sudah izin pada Syakira tidak bisa masuk kerja hingga adiknya sembuh, dan hari ini rencananya ia akan kembali bekerja karena merasa Wulan sudah lebih baik.
"Dah Kak..." Wulan melambaikan tangannya pada Risa yang mengantar mereka hingga depan pagar.
"Dah.." Risa pun membalas lambaian tangan adiknya dan tersenyum lembut hingga mobil yang di naiki oleh Paah juga adiknya itu menghilang dari pandangannya. Tak berapa lama, ojek online yang sebelumnya memang sudah ia pesanpun datang.
"Mbak Risa ya?" tanya supir ojek. online yang ia pesan saat sudah di hadapan Risa.
__ADS_1
"Ya Pak." jawab Risa, ia segera naik ke motor setelah mengenakan helm yang di berikan Pak ojek padanya.
...****************...
Arka sudah siap pergi ke sekolah, ia berpamitan pada Syakira juga Maira yang berdiri di depan pintu sedangkan Regar sudah lebih dulu berangkat ke Cafe karena ada urusan mendadak.
"Arka berangkat Bun, Tan. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab Syakira juga Maira bersamaan. Arka menaiki motornya dan segera melajukannya menuju sekolah..
"Sya juga berangkat Kak!"
"iya, hati hati Dek.."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam.."
Syakirapun berangkat dengan mobil. Tinggalah Maira di rumah sendiri, ia segera masuk ke dalam dan membereskan sisa makanan juga mencuci piring bekas mereka sarapan.
Satu jam Arka baru tiba di sekolahnya, ia segera memarkirkan motornya dan berjalan menuju kelas dengan gaya collnya seperti biasa hungga setiap siswi yang melihat dirinyapun langsung jatuh hati.
"Eh, itu anak baru gak sih! ya ampun ganteng banget..." bisik salah seorang siswi pada temannya di sebelah saat melihat Arka melewati mereka.
"Iya ganteng banget, sumpah.." bisik yang lain setuju dengan ucapan temannya. Hingga sepanjang lorong selalu saja ada yang membicarakan ketampanan Arka, namun ada juga yang iri dengan nya.
"Wey...." teriak sahabta Arka saat masih SMP tepat di hadapannya. Arka hanya tersenyum dan terus berjalan ke arah Habibi
"Wah, gak nyangka gue loe beneran pindah dari sekolah loe yang keren itu..." ucap Habibi menepuk pundak Arka saat ia sudah di sampingnya.
"Gue yang pengen sekolah ke sana, eh malah loe yang pindah ke sini.." lanjutnya tak percaya dengan keputusan sahabatnya itu meninggalkan sekolah sebelumnya.
"Taoi gue seneng sih, kita bisa kumpul lagi.." ujar Habibi merasa bahagia.
"Ya, itu karena kamu bisa pinjem buku tugasku lagi kan!" ucap Arka menatap sahabatnya yang langsung tersenyum.
"Heh, iya sih..." jawabnya sambil cengengesan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
"Dasar..." ucap Arka pelan.
Merekapun sampai di kelas, Arka yang murid barupun di persilahkan untuk memperkenalkan diri di hadapan teman sekelasnya yang baru.
"Aku Arka, salam kenal dan semoga kita bisa berteman.." ucap Arka saat sudah berdiri di hadapan semua siswa di kelasnya.
"Arka, boleh gak jadi pacar kamu?" teriak siswi paling depan hingga di soraki oleh siswa dan siswi lain. Arka hanya tersenyum tipis
"Arka, boleh mintak no hp gak?"teriak siswi lain dari arah belakang, namun Arka hanya tersenyum menanggapi perkataan siswi yang tertarik padanya.
"Sudah Bu.." ucap Arka
"Kamu boleh kembali duduk.." perintah Bu guru, Arka kembali ke kursinya di samping Habibi dan pelajaran pun di mulai hingga jam istirahat tiba.
"Kantin!" ajak Habibi yang sudah berdiri, Arka hnya mengangguk dan merekapun berjalan menuju kantin.
"Ka, Sasya sama Melda juga sekolah di sini." ucap Habibi saat mereka sudah duduk di salah satu kursi pojok di kantin sambil menunggu pesanan mereka datang. Arka hanya mendengarkan.
"Mungkin bentar lagi mereka keluar.." lanjutnya, mengambil makanan yang sudah datang dan mulai menyantapnya.
__ADS_1
"Habibi..." teriak siswi dari arah belakan Arka.
Habibi hanya melambaikan tangannya ke arah dua gadis di belakang Arka yang segera berjalan ke arahnya.
"Arka.." Sasya yang pertama sadar jika Arka ada di sanapun terkejut.
"Eh, Arka loe di sini!" tanya Melda ikut kaget melihat Arka bersama Bibi.
"Dia pindah sekolah, dan sekelas sama gue.." jawab Habibi saat sudah menelan bakso yang ia kunyah sejak tadi.
"Kok bisa?" Tanya melda makin penasaran dan duduk tepat di samping kanan Arka dan Sasya di sebelahnya.
"Ya, bisalah Arka gak bisa jauh dari gue.." jawab Habibi pede. Arka hanya tersenyum menfengar penuturan dari sahabatnya.
"Huhh,, kepedean loe..." teriak keduanya bersamaan. Merekapun tertawa bersama.
"Sayang ya, Kalisa gak bisa gabung.." ucap Melda sedih mengingat sahabatnya satu itu yang cerewet tapi baik.
"Hmm, kangen deh bahkan kita gak bisa menghubungi dia.." lanjut Sasya juga sedih.
"Sudah, nanti kalo sudah waktunya dia pasti balik.." ucap Bibi menenangkan kedua gadis di hadapannya.. Arka hanya jadi pendengar, jujur iapun sangat rindu pada Kalisa bahkan dia juga tak pernah berkomunikasi dengannya dan ia juga tak tahu apakah Kalisa bisa mempertahankan hatinya untuk Arka atau mungkin sekarang Kalisa sudah punya yang lain, entahlah! tapi yang jelas saat ini Arka masih terus menunggu Kalisa dan menjaga hatinya hanya untuk Kalisa. Jodoh atau gak itu urusan belakang, tapi yang ia tahu mereka. sama sama punya perasaan yang sama dan itu yang masih Arka jaga sampai saat ini.
("Aku masih menunggu kamu Kalisa..") batin Arka.
Arka tersadar dari lamunannya saat mendengar Habibi memanggilnya hungga beberapa kali.
"Ka, loe ngelamun! ngelamunin apaan sih?" tanya Habibi yang agak kesal karena hampir tiga kali ia memanggil Arka namun tak di respon.
"Mikir, gimana ngabisin bakso sebanya ini!" jawab Arka mencari alasan sambil mengangkat mangkuk baksonya yang masih utuh.
"Sini gue bantuin.." ucap Habibi mengambil sebagian bakso Arka dan memindahkan ke mangkuknya yang sudah kosong.
"Dasar perut karet..." ledek Melda
"Karet mobil.." lanjut Sasya, mereka berduapun tertawa sedang Arka hanya tersenyum melihat tingkah Habibi yang terus makan tanpa memperdulikan kedua gadis yang sedang meledeknya.
Setelah selesai di kantin, mereka berempat kembali ke kelas masing masing dan memulai pelajaran berikitnya hingga jam pulang sekolah.
"Dah sampe ketemu besok.." ucap Melda pada Arka dan Habibi yang masoh di parkiran. Melda dan Sasya pulang bersama karena rumah mereka berdua berdekatan.
"Loe bawak motor Ka?" tanya Habibi saat melihat Arka yang mengeluarkan motor gedenya dari tempat parkir.
"Wah keren..." puji Habibi kagum setelah melihat motor Arka..
"Mau ikut?" tanya Arka setelah menggunakan helmnya dan naik ke atas motor dengan gagah.
"Besok. deh, soalnya gue juga bawak mobil noh.." jawab Habibi menunjuk kendaraannya yang masih terparkir dengan rapi di parkiran mobil.
"Oh, duluan deh kalo gitu.." ucap Arka mulai menghidupkan motornya dan melajukannya hingga ke jalanan.
"Besok gue ikut loh, jemput gue ke rumah bro.." teriak Habibi saat Arka mulai keluar dari pagar sekolah. Arka hanya memberikan jarinya yang berbentuk O pada Habibi tanpa menoleh.
Di tempat lain, Regar sangat kecewa karena gagal bertemu dengan Arka, karena ternyata dia sudah lebih dulu pindah ke sekolah lain. Regar segera kembali ke kantornya dan melampiaskan kemarahannya pada sekretaris yang juga sahabatnya sejak dulu, bahkan sejak ia masih bujangan hingga menduda sekarang.
Lanjut Up....
Makasih yang udah mampir baca, jangan lupa likenya dan komennya yang mendukung ya, biar author terus semangat...
__ADS_1
Makasih orang baik....
🙏🙏🙏