Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Perhatian Papah Rangga


__ADS_3

Syakira dan Rangga sedang menikmati masa bahagia merawat buah cinta mereka yang semakin lucu dan menggemaskan.


"Anak Bunda, lucu banget sih! mirip banget sama Kakak waktu kecil.." Syakira mencubit pelan kedua pipi anaknya, ia juga menciumi seluruh wajah putrinya dengan gemas.


"Mirip Papah juga dong pasti!" sambut Rangga yang baru saja kembali dari kantornya dan melihat istri juga putrinya sedang bercanda ria di ruang tamu dengan Daneen yang di baringkan di bawah beralasan kasur tipis.


Syakira menoleh pada Rangga yang sudah duduk di sampingnya kemudian memberikan kecupan singkat di bibir istrinya juga mencium wajah anaknya yang tersenyum geli karena kumis Rangga yang tipis dan tajam.


Syakira tersenyum melihat putrinya yang tersenyum geli. "geli dia Mas, tuh kumismu udah mulai panjang.." ucap Syakira mengelus bagian atas bibir suaminya.


"Kayaknya harus di cukur, soalnya kamu juga pasti bakalan geli nanti!" gumam Rangga namun masih bisa di dengar oleh Syakira dan Arka yang baru saja keluar dari kamarnya dan berjalan menuju keluarganya.


"Khemm, Pah inget ada anak bujangnya yang jomblo di sini!" tegur Arka, ia segera duduk di sisi lain Daneen dan mengambil bayi mungil itu ke dalam gendongannya lalu duduk di atas sofa sambil mengajak adik kecilnya bermain.


Syakira tersenyum malu, ia menepuk lengan suaminya dan ikut duduk di sofa dengan wajah yang bersemu merah. Syakira menatap anaknya, dan diapun setuju jika kini putranya itu memang sudah sangat dewasa apalagi sebentar lagi anaknya itu akan segera lulus dari SMA.


'Kamu memang sudah semakin dewasa Nak!' pikir Syakira, ia masih fokus menatap putranya yang sudah ia besarkan dengan penuh kasih sayang, beruntung dahulu dirinya tak merasakan kesulitan baik saat mengandung ataupun membesarkan putranya sendirian tanpa adanya sosok suami di sisinya.


"Sayang.." panggilan lembut dari Rangga membuyarkan lamunan Syakira dan segera menoleh pada suaminya, ia memberikan senyuman lembut dan hangat.


"Kenapa?" tanya Rangga, ia merangkul pundak sang istri yang kembali menatap kedua anak mereka yang duduk tepat di hadapan keduanya.


"Gak, cuma gak nyangka aja sekarang Arka udah semakin dewasa dan sebentar lagi akan lulus SMA.." jawab Syakira, ia tersenyum tipis menatap suaminya sekilas yang juga tersenyum ikut memperhatikan anak anaknya.


"Hm, Arka memang sangat tampan bahkan aku merasa iri akan ketampanannya sekarang!" canda Rangga membuat Syakira tertawa kecil hingga Arka menoleh pada kedua orang tuanya yang sejak tadi membicarakan dirinya.


"Arka memang sudah tampan dari dulu Pah, bahkan Arka jauh lebih tampan dari Papah.." sahut Arka membuat Syakira semakin tetawa beda dengan Rangga yang memutar bola matanya malas mendapati jawaban kepedean dari anak sambungnya.


"Jelas Papah lebih tampan karena bisa dapetin Bunda kamu!" jawab Rangga tak mau kalah.


Arka mengernyitkan dahinya menatap Papahnya yang memeluk pinggang ramping Bundanya.


"Ya, mungkin Bunda kasihan sama Papah yang sudah menunggunya lama.." Arka tersenyum sinis, ia tak mau kalah dari sang Papah. Rangga mencebikkan bibirnya menatap malas pada Putranya yang semakin tersenyum karena tak lagi mendapat sahutan dari Papahnya.


Syakira justru semakin tetawa, ia menatap wajah kesal suaminya dan mengusap lengannya seolah memberikan semangat, namun bagi Rangga elusan itu justru membuatnya semakin kesal apalagi melihat tawa yang menggelegar dari sang istri juga senyum miring dari anaknya.


"Ck! kalian berdua selalu saja kompak untuk menyerang pria tampan ini..." kesalnya, ia segera berdiri dan berlalu pergi meninggalkan anak dan Ibu di ruang tamu dengan Daneen yang masih berada dalam gendongan Arka.


Syakira dan Arka saling pandang setelah Rangga sudah tak lagi terlihat di pandangan mereka. Sekian detik berikutnya keduanya salin melempar senyum.


"Bunda naik dulu ya, titip Daneen.." ucap Syakira ia segera bangkit dari duduknya untuk menyusul suaminya yang sudah masuk ke dalam kamar mereka dengan wajah kesal. Arka hanya mengangguk tanpa menghilangkan senyuman dari wajah tampannya.


"Mas..." panggil Syakira saat ia sudah membuka pintu kamar dan mulai masuk ke dalamnya. Syakira menyisiri setiap tempat di kamar itu, namun tak menemukan suaminya.


"Kemana Mas Rangga!" Pikir Syakira, namun matanya seketika melebar saat seseorang memeluknya dari arah belakang.


"Ah! Mas kamu buat aku kaget.." ucap Syakira sedikit menolehkan kepalanya ke belakang di mana Rangga sudah meletakan dagunya di atas pundak Syakira.


"Kamu kenapa?" tanya Syakira, ia membalik tubuhnya hingga kini berhadapan dengan suaminya yang kembali menjatuhkan kepalanya di atas pundak Syakira sambil sesekali ia mencium ceruk lehet sang istri membuat Syakira merasa geli apalagi kumis tipis sang suaminya yang langsung menyentuh kulitnya.


"Mas, geli ah.." Syakira menggeser kepalanya sedikit, bukan menolak akan tetapi ka sungguh merasa geli. Rangga tersenyum nakal bukannya berhenti ia malah semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang iatri yang mulai kegelian lagi dan berusaha melepaskan diri dari suaminya.


"Mass, geli..." Syakira mendorong dada suaminya namun bukannya lepas tapi Rangga semakin mengeratkan pelukanya di pinggang istrinya hingga tubuh mereka semkin menempel.


Perlahan Rangga membawa istrinya yang terus memberontak ingin lepas ke sisi ranjang dan menjatuhkan tubuh mereka di sana sehingga kini tubuh Syakira sudah berada di bawah sang suami yang menatapnya nakal.


"Kamu mau memper-kosa aku ya!" Rangga tertawa terkiki mendengar penuturan istrinya, bagaimana bisa ini di katakan pemer-kosaan sedangkan mereka adalah suami istri yang sah bahkan sudah memiliki anak.


"Bagaimana aku memper-kosa istriku sendiri sayang!" bisik Rangga di telinga Syakira yang mulai merasa meremang atas perlakuan suaminya.


'Benar, kami suami istri!' pikir Syakira, ia tersenyum malu atas ucapannya sendiri dan segera menutup wajahnya dengan kedua tangan membuat Rangga semakin gemas dan gejolak kelelakiannya semakin meningkat, maklum sejak Syakira koma sampai hampir beberapa bulan ini mereka belum melaksanakan ibadah lagi karena kondisi Syakira yang masih lemah.


"Mas mau kamu hari ini sayang! boleh!" izin Rangga, ia menatap istrinya yang masih terlihat malu malu kucing dengan wajah yang sudah memerah. Syakira hanya mengangguk, jujur iapun rindu akan sentuhan lembut sang suami.


"Daneen!" ucap Syakira sebelum Rangga mencium bibirnya.


"Ada Arka, biar dia urus adiknya dulu dan kita bisa melepas rindu... hmm.." ujar Rangga dengan suara seraknya karena sedang menahan gejolak naf su.


Syakira yang tampak berfikir di kejutakan dengan Rangga yang sudah mencium bibirnya dengan ganas seolah telah sangat haus akan hal itu.


Syakira yang mulai terbuaipun membalas ciuman panas sang suaminya hingga ia merasa nafasnya mulai habis, Syakira menekan dada suaminya yang segera melepas pagutan mereka dan membiarkan sang istri menghirup nafas sebanyak yang ia bisa.


Rangga yang sudah terbawa suasana segera melepas jas juga bajunya yang masih menempel di badan, ia melemparkan asal dan kembali mencium bibir dan seluruh wajah istrinya tak lupa ia memberikan tanda di setiap tubuh istrinya yang sudah polos entah sejak kapan.


"Aku mulai ya!" Rangga kembali meminta izin pada Syakira yang memberikan anggukan kepala dengan wajah yang semakin memerah. Rangga tersenyum, sekilas ia mencium bibir juga kening istrinya barulah ia memulai penyatuan mereka.


Cukup lama pergulatan keduanya hingga terdengar erangan dari sepasang suami istri yang sudah lama tak menyatu. Rangga ambruk di sisi istrinya, ia membawa Syakira yang masih mengatur nafas ke dalam pelukannya dan mencium pucuk kepala sang istri dengan penuh cinta.


"Istirahatlah, kamu pasti capek.." ujar Rangga dengan suara berat karena rasa lelah juga nikmat menjadi satu membuat hatinya merasa sangat senang dan bahagia tentunya.

__ADS_1


"Hmm." jawab Syakira yang kini sudah memejamkan matanya karena kelelahan, bagaimana tidak suaminya itu sampai beberapa ronde menggagahinya membuat ia sangat kelelahan saja.


Rangga tersenyum saat ia merasakan deru nafas Syakira yang mulai teratur, itu berarti sang istri pasti sudah tidur. Rangga kembali mengecup pucuk kepala Syakira, dan iapun ikut terlelap di sana sambil terus memeluk Syakira.


"Ah! Papah dan Bunda pasti sedang bersenang senang, itu sebabnya aku di suruh momong Baby Daneen.." ucap Arka, wajahnya begitu kesal karena sudah hampir 3 jam Papah juga Bundanya tak kunjung keluar dari kamar sehingga ia harus menjaga adiknya dan membuatnya tidur. Bukan tak ikhlas! hanya saja Arka merasa kesal saja sebab Arka tahu apa yang sedang terjadi di atas sana membuat jiwa laki lakinya sedikit bangkit.


"Kakak anter ke kamar ya sayang!" gumam Arka menatap adiknya yang sudah tertidur dalam gendongannya dengan sangat nyaman karena memang Arka sering menidurkan bayi mungil itu saat Bundanya dalam mode kelelahan apalagi tubuh Syakira yang masih belum pulih sepenuhnya.


"Tidur yang nyenyak sayang..." bisik Arka, ia menyelimuti adiknya barulah ia keluar dari sana untuk menuju kamarnya sendiri.


Arka hendak ke kamarnya, ia melewati kamar Papah juga Bunda yang masih tertutup rapat. Arka tersenyum miring, timbul ide jahil di kepalanya.


tok tok tok...


"Pah Bun cepat keluar Baby Daneen nangis terus tuh, kayaknya sakit.." teriak Arka dengan nada panik sambil terus mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya. Hingga beberapa kali Arka melakukan itu barulah pintu itu terbuka lebar menampakan wajah cemas dan khawatir dari dua insan yang baru saja memadu kasih sampai lupa jika saat ini mereka masih berselimut karena panik mendengar teriakan putra mereka.


Arka tercengang menatap keduanya yang masih terbalut selimut. Syakira yang sudah sadar jika sedang di kerjaipun segera menutup wajahnya dengan selimut yang mereka pakai sedangkan Rangga yang masih belum sadar terus menatap Arka dengan tatapan bodohnya.


Seketika Arka tertawa terbahak bahak melihat tingkah konyol kedua orang tuanya itu, jujur Arka tak menyangka jika kedua orang di hadapannya kini akan keluar dengan kondisi seperti ini.


"Ha ha ha..." tawa Arka, bahkan ia sampai memegang perutnya karena keram. Syakira menarik suaminya untuk kembali masuk ke dalm kamar mereka lalu menutup pintu kamar cepat tak lupa ia melayangkan tatapan tajam pada putranya yang entah sejak kapan memiliki sifat jahil seperti ini.


Arka menahan tawanya saat melihat tatapan sang Bunda hingga pintu itu kembali tertutup iapun meneruskan tawanya dan segera menuju kamarnya sendiri.


Rangga masih bingung dan linglung karena setelah ia kembali di tarik oleh Syakira untuk masuk ke dalam kamar lagi.


"Kenapa?" tanya Rangga dengan wajah polosnya membuat Syakira geram dan memukul lengan suaminya.


"Arka ngerjain kita Mas! kamu gak sadar tadi dia ketawa kayak gitu!" jelas Syakira membuat Rangga tercengang dan membuka mulutnya lebar dengan mata terbuka lebar. Syakira sendiri masih merasa malu.


"Anak itu! sejak kapan dia jadi jahil kayak gitu!" pikir Rangga setelah ia menetralkan dirinya yang tak menyangka jika putra mereka yang terlihat dingin dan cuek itu akan melakukan hal seperti tadi. Syakira mengedikkan bahunya dengan wajah yang masih bersemu merah.


"Aku mau mandi..." Syakira membuyarkan lamunan Rangga yang masih heran akan anak sulungnya.


"Bareng!" teriak Rangga segera menyusul langkah istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi dan segera menguncinya dari dalam sebelum Rangga mengejarnya.


"Gak mau, bukannya mandi kamu nanti malah memper-kosa aku lagi..." jawab Syakira dari dalam kamar mandi, Rangga mendengus kesal karena mendapat tolakkan dari istrinya hingga ia harus menunggu sampai Syakira keluar.


Hingga satu jam lamanya, Syakira baru keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai handuk sebatas lutut dan di kepalanya juga.


"Sayang..." Rangga menatap istrinya yang terlihat sangat menggoda iman, ia menelan salivanya dengan susah payah menatap Syakira dari atas hingga bawah.


"Gak. lagi ya Mas! lihat sudah hampir maghrib!" tegas Syakira menunjuk jam dinding di kamar mereka dengan telunjuknya tanpa mengalihkan pandangannya dari suaminya. Rangga mengikuti gerakan tangan Syakira, ia kembali mendengus kesal melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 17.55. Rangga yang tadinya akan menerkam istrinya lagi beralih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Syakira tersenyum melihat wajah kecewa suaminya, akan tetapi ia juga merasa lega karena ia tahu jika sampai pergulatan mereka terjadi sudah pasti akan butuh waktu yang sangat lama.


Syakira buru buru mengganti bajunya, ia juga sudah wudhu tadi setelah mandi dan kini sudah bersiap dengan mukenah yang melekat di tubuhnya. Syakira sedang menyiapkan sajadah untuk nya juga Rangga karena mereka akan melaksanakn sholat maghrib bersama.


"Udah Mas!" tanya Syakira tersenyum menatap Rangga yang baru keluar dengan handuk yang ia lilitkan di pinggang.


"Hmmm..." jawab Rangga segera memakai baju koko serta sarung yang sudah di siapkan istrinya kemudian mulai mengambil tempat di depan Syakira sebagai imam untuk memipin sholat maghrib mereka.


Hening dan khitmad saat keduanya sedang menghadap sang Khalik, hingga selesai.


"Terimakasih ya Allah, atas segala nikmat yang telah Engkau beri pada keluarga hamba dan terima kasih Engkau telah memberikan suami yang begitu mencintai hamba karena-Mu.." doa Syakira setelah mereka selesai sholat, ia menatap punggung suaminya yang juga sedang memanjatkan doa.


Rangga berbalik dan duduk bersila mengahadap Syakira yang segera menyambut tangan suaminya lalu mencium punggung tangan itu cukup lama. Ranggapun mengusap kepala istrinya dan setelah Syakira mengangkat kepalanya, Rangga mencium keningnya dengan penuh cinta.


"Mas bahagia sekali, semoga kita bisa selalu bersama hingga hari tua nanti sayang!" ucap Rangga membawa sang istri dalam pelukannya.


"Aaminn..." jawab Syakira, ia meletakan tangannya di dada sang suami.


Setelah puas berpelukan setelah menjalankan ibadah mereka, keduanya segera keluar dan turun kebawah menuju ruang makan di mana ternyata Arka sudah menunggu keduanya dengan wajah yang kembali kesal karena sudah sangat lapar.


"Dasar anak nakal!" Rangga mengetuk kepala Arka yang tak sadar akan kehadiran kedua orang tuanya. Arka memegang kepalanya, ia menatap malas pada sang Papah yang sudah duduk di tempatnya sedang Syakira yang hanya tersenyum malu karena kejadian tadi sore.


"Salahnya dari tadi gak keluar keluar, Arka malah di tinggal berdua aja sama Daneen, kan kesel!" jawab Arka dengan wajah kesalnya, entah mengapa Rangga merasa putranya ini sedikit cerewet berbeda saat di luar yang akan memasang wajah dingin dan cuek. Rangga hanya menggelengkan kepalanya.


Rangga tak lagi menjawab, ia segera makan dengan tenang setelah Syakira mengambilkan makanannya. Arka hanya berdecak kesal menatap Papah yang terlihat tenang tenang saja sambil terus menyantap makan malam mereka, beda dengan Bunda yang masih malu terhadapnya.


Arkapun segera makan dengan tenang, meski masih kesal namun ia tak berniat untuk melanjutkannya terlebih setelah ia melihat Bunda yang masih malu akan kejadian barusan membuat Arka sedikit merasa tak enak karena sudah mengganggu privasi orang tuanya.


"Kapan mulai ujian?" tanya Rangga, kini mereka sudah berada di ruang tamu dan duduk berdampingan dengan Putra sulungnya, sedang Syakira sedang berada di kamar Baby Daneen karena tadi terbangun dan menangis.


"Besok Pah.." jawab Arka, ia melirik Papahnya sekilas dan beralih menatap layar tv yang besar di hadapan mereka.


"Hmm..." dehem Rangga tak menoleh.


"Setelah ujian, Arka sudah tentukan akan lanjut kuliah di mana?" Rangga kembali bertanya, kali ini ia menatap wajah anaknya yang juga menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Arka rencananya akan ambil jurusan kedokteran di universitas Nusa Bangsa Pah, dan sudah mengajukan SBMPTN sejak beberapa waktu lalu." jawab Arka, wajahnya terlihat ada keraguan saat mengatakan itu takut jika Papahnya tersinggung.


Rangga terdiam sejenak, ia masih menatap anaknya dengan seksama. Sekian menit berikutnya, Rangga memberikan senyuman hangat membuat hati Arka lega seketika.


"semoga lulus, tapi kalopun tidak Papah pasti akan membiayai kuliah Arka sampai selesai sesuai dengan keinginan Arka." ujar Rangga dengan senyum tipis, ia beralih menatap layar tv setelah mengatakan itu.


"Aamiin, makasih Pah.." ucap Arka tulus dan ikut mengalihkan pandangannya ke arah layar tv yang sedang menampilkan acara bola kesukaan keduanya. Arka tersenyum tipis sungguh ia merasa sangat beruntung mendapat Papah sambung yang sangat baik juga menyayanginya.


Hingga satu jam keduanya di sana dan acara bola yang sejak tadi mereka tontonpun berakhir. Rangga kembali menatap Arka.


"Kapan pengumumannya?" Rangga kembali bertanya, padahal tadi Arka fikir jika Papahnya itu sudah tak ingin bertanya lagi dan ia akan kembali ke kamarnya.


"Hmm, mungkin setelah ujian Pah.." jawab Arka tak yakin sebab iapun belum tahu tepatnya. Rangga mengangguk angguk mendengar jawaban anaknya.


"Semoga anak Papah sukses, bukan hanya dunia tapi juga akhiratnya." ujar Rangga, ia menepuk nepuk pundak Arka yang tertegun menatap Papahnya yang tersenyum.


"Dan semoga bisa segera mendapatkan pendamping hidup yang baik.." lanjutnya, mendengar perkataan terakhir Papah Rangga membuat Arka sadar dan mengerucutkan bibirnya tak suka. Arka mengalihkan pandangannya ke sisi lain, Rangga tersenyum tipis. melihat tingkah anaknya yang selalu saja seperti itu saat ia menyinggung masalah hati atau wanita.


"Arka masih fokus sama pendidikan Arka Pah, dan belum kepikiran tentang itu.." jawab Arka ketus, ia melipat kedua tangannya di depan dada dan tetap tak mengalihkan pandanganya dari Papah Rangga.


"Ya, meski Papah rasa kamu seperti sedang menunggu seseorang, sebab itulah kamu belum membuka hati lagi!" ujar Rangga santai juga mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Arka mengerutkan keningnya menatap Papah Rangga yang masih tersenyum tipis, ia tak menyangka jika Papahnya akan sepeka itu tentang dirinya.


Tatapan tak menyangka Arka layangkan pada sang Papah. "Ma-maksud Papah!" ucap Arka terbata masih merasa aneh dengan perkataan Papahnya.


"Kamu tahu betul apa yang Papah maksud Nak!" jawab Rangga sedikit menoleh dan menatap anaknya dari ekor matanya.


"Papah tahu siapa yang Arka tunggu?" Arka semakin merasa penasaran akan Papahnya yang tahu tentang dirinya hingga masalah ini padahal ia hanya bicara pada Habibi saja tentang gadis yang ia tunggu sampai saat ini.


Rangga tersenyum simpul mendapat pertanyaan dari anaknya, tentu saja ia tak tahu. "Bagaimana Papah tahu! sedangkan kamu gak pernah cerita!" jawab Rangga menggelengkan kepalanya.


Arka tersenyum masam, benar bagaimana Papahnya bisa tahu akan hal itu ia pun beralih menatap ke arah depan.


"Papah hanya tahu jika saat ini Arka sedang menunggu seseorang, terlihat jelas dari matamu Nak.." lanjutnya kembali menatap anaknya dengan posisi tubuh yang miring.


"Hmm, Papah memang selalu tahu akan Arka.." jawab Arka juga menatap Papahnya dengan posis tubuh yang miring. Keduanya saling melempar senyum hangat.


Syakira yang sejak tadi berada di sana setelah ia bisa menenangkan putrinya yang kembali tertidur, namun ia tak berniat untuk mengganggu pembicaraan antara anak Dan Papah pun hanya diam di tangga sambil terus mengamati dan mendengar pembicaraan keduanya, sungguh Syakira sangat merasa beruntung. karena Rangga suaminya, sangat peka akan putranya bahkan lebih peka dari pada dirinya sebagai Bunda Arka..


'Terimakasih Mas..." batin Syakira tersenyum haru akan sikap suaminya yang juga selalu memperhatikan anaknya. Syakirapun mendekati dua laki laki yang masih saling senyum dan duduk di antara keduanya.


"Sayang..." gumam Rangga menatap istrinya yang baru duduk di tengah tengah mereka dengan senyum manis.


"Sayang tolonglah! jangan tersenyum seperti itu!" lirih Rangga, dengan nada manja membuat Arka menghilangkan senyumannya dan tergantikan dengan wajah malas juga kesalnya, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apa sih Mas, gombal mulu gak lihat apa ada Arka.." sungut Syakira memukul perut suaminya yang malah tersenyum tipis melihat wajah anaknya yang tak bersahabat sama sekali.


"Kalo gitu kita ke kamar aja buat manja manjanya!" ajak Rangga berbisik namun cukup kuat hingga Arka masih bisa mendengarnya.


Arka semakin mencebikkan bibirnya ia tahu betul jika Papah Rangga sedang memanas manasinya. Arka melirik ke arah Papah juga Bundanya yang kini sudah tersenyum malu.


"Arka ke kamarlah, males jadi nyamuk di sini!" cecar Arka segera berdiri dan beranjak dari sana tanpa menunggu jawaban dari dua orang yang menatap kepergiannya dengan senyuman.


"Kamu nih Mas, suka banget godain anak sendiri..." tegur Syakira, namun ia juga tersenyum.


Rangga melebarkan senyumannya, ia merangkul pinggang istrinya dan menariknya hingga kini berada dalam pelukannya. "Sekali kali gak papa lah.." ucap Rangga mengecup kening Syakira membuat wanita itu kembali merona karena perlakuan manis sang suami.


Arka yang tadi sudah pergi namun belum sepenuhnya meninggalkan tempat itu pun kembali berbalik dan mendengar ucapan orang tuanya. Arka menyunggingkan senyuman tipis di sana menatap punggung kedua orang tuanya yang saling berpelukan. Hatinya terasa begitu lega melihat kebahagiaan Bunda, dan melihat perlakuan manis yang selalu di berikan oleh Papah sambungnya terhadap wanita yang sangat ia sanyangi itu.


"Syukurlah Bunda sudah bahagia sekarang, dan semoga selalu bahagia.." gumamnya.


"walaupun aku yang harus selalu merasa jadi korban akan kemesraan mereka sih!" pikir Arka, namun ia hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum yang semakin merekah. Arka melanjutkan langkahnya menuju kamar dan menghilang di balik pintu yang sudah ia tutup dengan rapat tak lupa ia kunci dari dalam.


Syakira dan Ranggapun segera masuk ke dalam kamar. Keduanya melaksanak sholat isya berjamaah kemudian mulai melakukan olahraga malam yang menggairahkan di atas ranjang. Syakira yang kelelahan langsung tertidur di pelukan Rangga setelah pergulatan yang memakan waktu hingga 2 jam lamanya padahal tadi sorepun Rangga sudah menggagahi tubuh istrinya hingga kelelahan.


cup...


Rangga mengecup pucuk kepala istrinya lama kemudian iapun ikut tertidur sambil terus memeluk sang istri yang sudah berkelana di alam mimpinya.


Sedang di kamar Arka....


"Aku masih menunggu kamu Kalisa Hanum Bramantyo...." lirih Arka yang belum bisa tertidur setelah ia sholat isya dan tengah duduk di dekat jendela kamarnya.


Lanjut up....


Semoga selalu suka ya sama cerita cerita keluarga Syakira yang baru juga kehidupan Arka yang senantia menanti pujaan hatinya juga ada Wulan yang masih belum menemukan jawaban dari kecemasannya....


Pokoknya semoga selalu suka dan pantengin terus kisah kisah mereka....


Makasih orang baik....

__ADS_1


😊🙏🙏


__ADS_2